42. Renat Kenapa

1562 Kata

Abi memandang jauh ke langit malam di depannya. Aroma kopi yang menguar dari cangkir warna putih sudah menyapa indera penciuman Abi sejak lima belas menit lalu. Pria itu sendirian, mengingat istrinya tertidur lebih awal efek kelelahan. Abi tahu kalau pekerjaannya menumpuk, tapi ia terlalu lelah untuk mencurahkan perhatian pada berlembar-lembar kertas tinta hitam. Untuk sejenak, Abi ingin diam dan merasakan semuanya bersama hening. Dari lantai 17, Abi dapat melihat sorotan lampu-lampu terang ibukota. Terlihat indah dan menakjubkan. Kadang Abi berpikir, kenapa keindahan Jakarta begitu banyak menyimpan rahasia dan rasa sakit banyak orang. Kenapa tidak ada yang memiliki hidup seindah malam milik Jakarta. Yang dirasakan orang-orang seolah hanya pahit dari hidup sampai mereka berubah gila dan s

Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN