Arisha mengerjap-ngerjapkan matayadengan cepat. Sebuah sentuhan lembut di kepalanya membuat ia baangun dair tidurnya. Gadis itu mengangkat kepalanya dari sisi ranjang. Setelah mengkondisikan penglihatannya yang mulai fokus, barulah ia menyadari bahwa ayahnya sudah sadar. Arisha tersenyum melihat ayahnya sudah bangun. Ia segera melirik jam tangannya. Sudah jam setengah enam pagi. “Papa udah bangun? Papa butuh apa? Ada yang bisa aku bantu?” Rayhan menggeleng pelan. Laki- laki yang sudah berusaia lebih dari setgah abad itu menatap puterinya dengan sendu. “Kamu semalaman jagain Papa?” tanya Rayhan lirih. “Iya. Gantian sama Mama. Aku nggak tega kalo Mama harus nginep lagi di rumah sakit. Jadi kusuruh aja Mama pulang.” “Kenapa malah tidur di kursi begini?” Arisha

