Di dalam mobil Arisha tampak tidak bisa duduk tenang. Beberapa kali ia memuntir ujung roknya dengan jari-jarinya. Sesekali ia meremas-remas jemarinya seperti kebiasaanny kala tidak tenang. Wajahnya pun terus bergerak antara menunduk dan melihat pemandangan di luar jendela. Sementara Harlan yang duduk di sebelahnya nampak cukup tenang dengan membaca beberapa berkas yang memang sudh disiapkan oleh pengacara keluarga Rendell. Sambil mempelajari berkas-berkas itu, Harlan sesekali melirik Arisha yang jelas-jelas nampak tak nyaman duduk di dekatnya. “Kamu kenapa ?” “Kamu kenapa ikut?” Keduanya saling melemparkan tanya bersamaan. Harlan membulatkan mulutnya. “Kamu nggak suka kalo saya ikut di pertemuan ini?” “Bukan nggak suka. Tapi kan, kemaren kamu bilang, pihak Hugo

