Gimana?” Rahayu menaik-naikkan sebelah alisnya, “sesuai sama perrmintaan kamu kan?” Jelita yang sedang duduk di kursi roda menatap cermin di depannya. Bayangan yang terpantul dari dalam cermin itu sama-sama tersenyum. “Ini baru yang pertama. Untuk bisa benar-benar sesuai dengan apa yang kamu mau, kita perlu beberapa kali tahapan lagi. Tapi nggak bisa langsung. Perlu jeda beberapa minggu sebelum tahapan operasi berikutnya.” Jelita tersenyum. “Terima kasih banyak, dok. Ini sudah sangat membantu. Saya rasa nggak perlu untuk tahapan berikutnya...” “NO!” sergah Rahayu dengan keras. Beruntung hanya mereka berdua di ruangan itu, sehingga suara keras Rahayu tidak menganggu siapapun. “Aku nggak bisa biarin kamu Cuma sampai di tahap ini. Bisa- bisa Harlan misuh-

