Membuat Kesalahan

1155 Kata
POV RICHARD Tepat pukul lima sore aku tiba di pekarangan rumahku, matahari senja masih menyilaukan mata menembus kaca mobil. Kulihat bodyguard yang berjaga di pintu sedikit berlari menuju mobilku. Aku sengaja menunggunya membuka pintu. Tangannya membuka handle pintu dan membungkuk mempersilahkan aku keluar. Mereka semua tidak takut padaku tapi takut pada uangku. Semua bodyguard hanya bisa mengemis untuk selembar kertas, gaji yang kuberikan pada mereka sangat banyak. Aku menikmati kekayaan dengan mendapatkan pelayanan terbaik. Beberapa bulan saja, mereka mampu membeli sebuah rumah. Seperti inilah realita kehidupan. Orang-orang butuh uang untuk memenuhi kebutuhan sesuai keinginannya sendiri. Langkah kupercepat masuk ke dalam rumah dan aku melihat Lilia menyambutku berdiri tepat di bawah tangga. "Selamat datang, Tuan," sahut Lilia membungkukkan badan. "Hmmm," jawabku singkat ingin berlalu tapi kuurungkan. " Di mana Viona? Apa dia mengerjakan tugasnya dengan baik hari ini." Sambungku, menghentikan langkah memandangi Lilia yang terus saja menunduk ke bawah tak berani menatapku. "Iya, Tuan. Viona ada di dalam kamar menjaga Nona." "Baguslah, kuharap dia tidak membuat kekacauan di rumah ini." Aku menerka kemungkin terburuk yang akan terjadi. Dia adalah sahabatku sejak kecil, aku tahu benar bagaimana kelakuannya yang terkadang sedikit ceroboh jika sedang panik. "Tidak, Tuan. Semua baik-baik saja." Lilia melihatku sekilas lalu menundukkan pandangannya lagi. Kulanjutkan langkah menaiki tangga ingin menemui Queensha langsung. Baru beberapa jam saja berpisah, rasa rinduku sudah memuncak ingin berdua saja dengannya. Sore ini aku yang akan bertugas menjaga istriku dan membiarkan Viona istirahat. Aku rasa dia mungkin sangat lelah dengan tugasnya hari ini tak pernah ia kerjakan sebelumnya. Saat kakiku mendekat di depan pintu kamar dan bersiap membukanya, kulihat tubuhku masih berbalut jas lengkap dari kantor. Aku mundur lalu memutar badanku berbalik arah menjauh dari kamar Queensha. Kenapa aku bodoh sekali tidak menyadari bahwa aku belum membersihkan diriku dan ingin menemui istriku. Orang sakit rawan sekali terhadap kuman dan bakteri apalagi aku beraktifitas di luar yang tidak kuketahui di mana saja aku mendapatkan kuman. Kata dokter Queensha harus tetap steril dari gangguan makhluk mikroba itu. Kamarku dan kamar istriku jaraknya tidak jauh kira-kira 100 meter. Tidak butuh waktu lama sampai di tempat peristirahatanku, kuhirup aroma kamar berbau mint dan lavender bercampur. Aku suka sekali aroma ini bahkan aku tidak tanggung-tanggung membeli parfumnya di Paris. Sepatu hitam yang kupakai kubuka perlahan menaruhnya di rak kemudian melepas seluruh pakaianku dan meraih handuk berwarna putih menuju kamar mandi. Rasanya aku ingin berendam dengan aroma lavender kesukaanku, khusus untuk kamar ini tidak sembarang orang memasukinya kecuali Lilia dan Queensha. Itu pun Lilia hanya membersihkannya lalu keluar tanpa menyentuh barangku. Benar sekali aku tak suka berbagi pada orang lain apalagi ada orang yang menyentuh milikku tanpa izin dariku. Aku tidak akan segan-segan menghukumnya, didikan kakek yang disiplin menjadikanku anak yang penuh ambisi dan teliti. Aku beruntung mempunyai kakek Nelson yang mau merawatku sampai aku dewasa, tidak seperti Tomas orang yang paling kubenci di dunia. Dialah penyebab kesakitanku selama ini, aku benar-benar tak suka mendengar namanya di ucapkan oleh orang lain. Setelah semua sudah siap aku turun di bathtub menikmati air dingin menjalar di seluruh tubuhku. Terasa menenangkan pulang dari kantor melepaskan penat yang memenuhi isi kepalaku. Lima belas menit kemudian aku keluar dari kamar mandi menuju walk in closet mencari pakaian. Pilihanku jatuh pada kaos polos putih dan celana pendek selutut. Tanpa butuh waktu lama lagi aku pergi meninggalkan kamarku menuju Queensha, tidak sabar hati ini memeluk erat tubuhnya. Sesampai di depan kamarnya, aku membuka pintu pelan-pelan. Aku terlonjak kaget saat melihat Viona tiduran di sofa dengan tumpak piring di sampingnya. Tampak sisa-sisa makanan berserakan di sofa dan di atas troli. Aku geleng-geleng kepala, jorok sekali wanita ini. Dia makan seperti kucing rakus, apa aku salah menamakannya seperti itu? Lihatlah wajahnya tampak kelelahan tapi aku tak bisa memakluminya. Di kamar Queensha harus tetap steril dan tak boleh kotor. Viona mengacaukan segalanya dengan piring kotor yang berserakan. Amarah sudah di puncak kepala bersiap kulepaskan, ingin sekali aku memaki Viona tapi aku tahu Queensha ada di sini. Aku harus bisa mengendalikan diriku untuk tak membuat keributan. Aku berdehem beberapa kali memberi kode pada Viona untuk bangun, tampak dirinya menggeliat dan menggosok matanya. Dia terkejut melihatku berdiri di depannya, Viona yang ceroboh tak sengaja menyenggol piring bertumpukan di sampingnya. Prang! Suara piring itu terdengar nyaring, aku berlari ke arah Queensha menutup telinganya. Aku takut nyawa Queensha dalam bahaya jika terkejut mendengar suara berisik itu dan menyebabkan serangan jantung karena dokter Willson mengatakan pasien koma kadang bisa mendengar apa yang kita katakan. Kupandangi wajah istriku yang tak bergeming tak ada respon apapun. Apa dia mati? Aku mulai panik seperti orang gila. Aku kehilangan arah tak tahu apa yang harus kulakukan. "Queen ... Queen ... Apa kau mendengarku? Aku Richard suamimu," ucapku pelan tapi tak ada reaksi apapun. Aku berteriak marah menghampiri Viona, mataku merah menahan tangis dan amarah. Jika Queensha mati, aku akan membunuh wanita si pembuat onar itu. "Tuan, aku tidak sengaja menjatuhkan piring ini," jawabnya takut. Kulihat matanya mulai berkaca-kaca. Perubahanku sekarang pasti membuat dirinya ketakutan. "Kau menyakiti istriku. Kau membunuhnya, lihat! dia tak bergerak setelah mendengar suara bising di sini. Aku akan membunuhmu," umpatku kesal. Mendorong Viona sampai terpental di sofa. Di pikiranku Queensha sudah mati karena tak bergerak. Istriku itu mengabaikanku, pergi selamanya karena ulah Viona. "Bukan saya Tuan, Nona memang koma dia tak mati lihatlah dia masih bernapas." Viona membela. Tapi aku tak percaya pada wanita itu, mataku tidak mungkin salah menilai Queensha sudah meninggal. Lihatlah, dia tak mendapat reaksi apapun padahal suara piring ini begitu berisik. Aku mencengkeram kedua pipinya sangat keras sampai wanita itu menangis. Viona memang harus di beri pelajaran, akan kusayat kulitnya ini sampai tak ada lagi yang memujinya cantik. "Auhh, sakit sekali, Tuan. Tolong lepaskan aku! Nona masih hidup." Dia meronta dan lari ke dekat ranjang Queensha. Aku semakin marah kenapa wanita itu semakin berulah mendekati istriku. Dia pasti ingin melukainya lagi. Aku bergegas kesana ingin memberi Viona pelajaran dan menjauh dari istriku. Saat tanganku ingin melayang menampar pipinya, ia berteriak memberi penjelasan. "Tuan, Nona masih hidup. Dia tidak mati lihatlah detak jantungnya di komputer ini masih normal. Lihatlah, Nona masih bernapas." Kudengar suaranya parau karena menangis. Aku tersadar kembali menurunkan tanganku menatap komputer tidak jadi menamparnya. Detak jantung Queensha masih normal dan ia bernapas. Wajahku berubah pias, diam seribu bahasa. Apa aku sudah gila menganggap istriku mati? Queensha masih hidup, aku yang salah paham terlalu takut kehilangannya. Kutatap wajah Queensha masih sama seperti kemarin. Viona tidak berhenti menangis takut dekat-dekat denganku. Tubuhnya sedikit bergetar, dia mundur ke belakang menjaga jarak padaku. "Aku akan memberimu hukuman. Keluar dari kamar ini sekarang!" Perintahku padanya. Viona tanpa pikir panjang berlari keluar. Masa lalu kelam muncul di kepalaku berputar seolah-olah mengejek, aku muak menendang troli sampai terjatuh, pecahan piring berserakan di lantai. Queensha benar-benar mayat hidup. Aku baru tahu sekarang, Queensha tak mendengar apapun selama ini. Hatiku hancur tak ada harapan Queensha akan sadar. Aku menangisi diriku tak bisa menerima kenyataan pahit.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN