POV RICHARD
Dokter Willson pasti berkata bohong jika beberapa pasien koma mampu mendengar orang di sekitarnya. Lihatlah, Queensha hanya diam menghadapi sikapku. Saat aku marah biasanya wanita itu tersenyum tapi sekarang tak lebih dari mayat hidup, itulah kenyataannya dan aku salah menganggap Queensha akan sadar.
Kepalaku seperti di hantam palu, aku tak bisa berpikir jernih. Apa perjuanganku selama lima tahun ini sia-sia? Apa aku harus menuruti saran dokter Willson untuk berhenti berharap dan membiarkannya tenang di alam lain. Hatiku terasa perih bagaikan di sayat pisau bertubi-tubi. Kenapa rasa bersalahku masih saja menghantui. Tidak bisakah aku hidup tenang tanpa rasa penyesalan.
Tangisku pecah meringkuk di lantai bagai anak kecil yang kehilangan arah, aku mengingat masa kecilku saat di tinggalkan oleh Madellin, dia pergi untuk selamanya dan aku hanya sendirian. Tak ada yang mau menerimaku kecuali kakek.
Aku berdiri mendekati troli tempat makan Viona lalu menendangnya hingga terjungkal, kemudian memecahkan piring yang tersisa.
"Kita akan lihat Queen apa kau akan sadar setelah aku membuat keributan di kamarmu ini? Kau masih ingatkan, kau tidak suka kamar berantakan dan hari ini aku akan membuatnya jadi berantakan. Dan kau harus bangun, Queen. Aku tidak bisa hidup tanpamu," raungku kesakitan menginjak-nginjak pecahan piring lalu mendekati istriku dan berbicara sendirian memarahinya.
Lagi-lagi tak ada pergerakan, aku benar-benar kesal dengan Queensha. Bertahun-tahun aku memendam kesakitan ini dan Queensha hanya tidur pulas di atas ranjang. Tolong aku, Tuhan! Aku tidak ingin hidup seperti ini menanggung dosa karena kesalahanku.
Pintu kamar tiba-tiba terbuka, kulihat sosok Dave yang menjulang tinggi menegang, di belakangnya ada Lilia yang ingin masuk ke kamar ini tapi kuhentikan.
"Jangan masuk, Lilia! Aku ingin kau di luar saja," teriakku terus memandangi Lilia yang mundur perlahan.
Dave menutup pintu kamar wajahnya cemas sekali. Serpihan piring yang berserakan di lantai ku genggam erat sampai merobek kulitku mengeluarkan darah.
"Hentikan, Tuan! Apa yang anda lakukan ini berbahaya sekali," sahut Dave menyibakkan tanganku untuk melepaskan pecahan itu.
"Aku ingin rasa sakit hatiku hilang Dave. Kau tahu, Queensha adalah mayat hidup yang berusaha kupertahankan. Padahal mungkin saja dia ingin pergi dengan tenang. Karena ego, aku terus menahannya tak ingin kehilangan Queensha." Suaraku sudah parau akibat menangis, tapi Dave hanya melihat sisa-sisa air mata yang masih menempel di pipiku.
"Tuan, sadarlah Nona masih hidup dia masih bertahan untuk anda. Nona wanita yang kuat, dia tidak mungkin semudah itu untuk menyerah." Suara Dave membuatku sadar akan sakit hati yang kurasakan.
"Tidak, Dave. Cepat atau lambat Queensha akan pergi meninggalkanku, kau tahu dia salah satu pasien koma yang tak bisa mendengar suara apalagi mendapatkan respon. Kesempatan Queensha untuk pulih hanya satu persen dan hal itu tidak mungkin," jawabku tidak percaya apapun lagi. Air mata menderas di pipi seolah kehilangan semangat.
"Dengarkan saya Tuan, apa anda masih yakin dengan keajaiban satu persen? Angka itu masih bisa menjadi keajaiban. Dokter bukan Tuhan yang bisa menentukan hidup dan mati seseorang. Nona pasti akan bertahan dan anda harus kuat menghadapi semua ini." Dave menepuk punggungku dan memberi saran agar aku tidak menyerah.
Kata-katanya menohok begitu dalam. Tubuhku seolah terbakar oleh semangat. Bukankah Dave benar aku tidak boleh menyerah sampai di titik penghabisan napas istriku.
Aku pria yang terlalu sensitif mengenai Queensha, sedikit saja dia terluka maka aku akan marah dan bersiap menghajar siapapun yang tak becus menjaga istriku. Rasa bersalah membuatku semakin dingin dan tak ingin orang lain menyakiti Queensha.
"Bereskan kekacauan ini, Dave. Lalu telepon dokter Willson untuk menjaga Queensha malam ini," ucapku akhirnya meninggalkan Dave.
"Tuan ... Tuan Anda mau ke mana?" Kudengar pertanyaan Dave dari jauh tapi ku abaikan. Tujuanku hanya satu memberi hukuman Viona. Semua yang terjadi adalah salahnya, dan dia harus membayarnya.
Tidak jauh dari kamar Queensha, kulihat Viona bersandar di dinding. Saat aku mendekat dia ketakutan wajahnya tampak pucat.
Aku meraih pergelangan tangan menyeret Viona agar mengikuti langkahku. Kekuatan yang kumiliki tak sebanding dengannya membuat wanita itu meringis kesakitan.
"Tuan, lepaskan tanganku. Kau ingin membawaku kemana?" tanya Viona suaranya terdengar panik tidak mengerti tindakanku selanjutnya.
"Jangan banyak bicara! Wanita sepertimu harus di beri pelajaran agar tak berbuat kekacauan lagi. Kau sudah membuatku marah," jelasku padanya. Api kemarahan seolah berkobar di ujung kepalaku.
"Tidak, jangan hukum aku, Tuan. Aku tidak sengaja melakukannya." Kudengar Viona memohon. Air matanya tumpah tidak mau mengikuti perintahku.
"Setiap kesalahan harus di bayar dengan hukuman. Dan aku tidak suka orang membuat Kesalahan. Rasakan akibatnya karena tak menuruti perintahku." Aku benar-benar tidak peduli pada suara tangisannya. Rasa amarah tak bisa hilang begitu saja jika aku tak menghukumnya.
Sesampainya di gudang, aku mendorong Viona masuk hingga wanita itu terjatuh ke lantai. Aroma busuk di dalam sini membuatku mual, gudang di rumahku sudah lama tidak terpakai. Banyak tikus dan kecoa bersarang berjalan kesana kemari.
Viona menjerit ketakutan saat tikus tiba-tiba lewat di depannya. Ruang ini salah satu tempat penyiksaan bagi siapa saja yang membuatku marah.
"Selamat bersenang-senang dengan para serangga, Viona," ucapku akhirnya mengunci pintu dari luar. Suara gedoran pintu dari dalam mengganggu telingaku. Suara tangis Viona tidak berhenti memanggil namaku meminta pertolongan.
"Tuan Rich, tolong keluarkan aku dari sini,"
"Tolong ... Tolong ...." Entah kenapa jiwa psikopatku menguasaiku. Aku senang melihatnya menderita meraung meminta tolong.
"Aku akan membuka pintunya jika kau sudah pingsan." Jawabanku itu semakin menambah tangis histeris Viona.
"Buka pintunya Tuan Rich, ingatlah aku ini istrimu," ancaman itu berhasil membungkam mulutku sesaat. Apa-apaan Viona ini, kenapa dia ingin membongkar rahasia kami.
"Tutup mulutmu, Viona. Jika ada orang lain yang mendengarnya aku akan mencincangmu."
"Jika kau tak mau menganggapku sebagai istri. Maafkan kesalahanku sebagai seorang sahabat. Apa kau tega mengurung sahabatmu sendiri di dalam sini?" Tawaran itu membuat hatiku mulai goyah atas segala rayuannya untuk membuka pintu.
Mataku menangkap sosok pria yang berjalan ke arahku, siapa lagi kalau bukan Dave.
"Haruskah aku membantu anda untuk menyiksanya dengan hukuman cambuk," tawar Dave memberikan ide gila. Dave memang pria yang sulit di mengerti jalan pikirannya.
"Tidak perlu, ini sudah cukup. Setelah jam dua belas malam buka pintu dan keluarkan, Viona."
"Aku ingin keluar mencari angin segar yang bisa menghilangkan sakit kepalaku." Aku melemparkan Dave kunci gudang lalu ia menangkap dengan kedua tangan.
"Baik, Tuan."
"Kau sudah menghubungi dokter Willson, Kan? Biarkan tua bangka itu menjaga Queensha malam ini." Tanyaku padanya meminta jawaban. Aku ingin menghabiskan malamku di tempat yang bisa menghilangkan segala kekalutan yang menyerang mentalku.
"Sudah, Tuan." Dave memang tidak pernah mengecewakanku selalu memuaskan.
"Jangan mengikutiku kemana aku pergi! Atau kau akan potong gaji seratus persen," ancamku menakutinya.
Dave tersenyum mendengarnya, andai saja aku bisa menjadi kejam padanya. Itu mustahil, Dave adalah sahabatku yang sempurna. Selama Dave bersamaku, pria itu selalu menjadi apa yang kumau bahkan tugas tersulit pun ia mampu menyelesaikannya.