POV VIONA Di sebuah club malam elit kota Jakarta, aku duduk di kursi pantry bar mendengarkan dentuman suara musik disko di klub malam. Aku menatap ke arah pria serta wanita meliuk-liukkan badannya lalu seorang wanita menerima uang yang diberikan oleh para pria haus akan belaian. Mataku meneguk minuman wine dan menghisap rokok. Aku menghembuskan asap nikotin kemana-mana. Aku mengamati mereka yang masih berjoget dengan senang seolah melepaskan beban yang kian mengganjal di hatinya. Ini kali pertama aku memasuki tempat yang terhina di mata orang lain. Hatiku sakit setelah pulang dari rumah sakit. Dave menyuruhku pulang tapi aku tak mau. Butuh beberapa waktu menghilangkan luka yang terus melebar di dadaku. Perlahan air mata jatuh, aku mencoba meredam isak tangisku agar tidak terlihat rapuh

