Pendahuluan
"Meira,baru datang?"
sebuah suara menyapa Ocha dari gerai sebelah.
Meira menoleh dan mengangguk sambil tersenyum.
Sudah hampir 5 hari ini Ocha dan benerapa temannya mendapat tugas mewakili kantor mereka di Banking Galery Expo di sebuah mall di Surabaya.
yang menyapa barusan adalah Adi,dari salah satu Bank BUMN di Indonesia. Sejak awal berkenalan,sepertinya Adi langsung mulai pedekate,sedangkan Ocha sendiri sering menjaga jarak. Malam ini adalah malam terakhir Expo,jadi malam ini akan ada lebih banyak yang bertugas karena setepah selesai nanti mereka harus pqcking barang-barang.
"Bagaimana?Besok sore bisa?" tanya Adi tiba² saat mereka sama² bertugas di depan booth masing².
"Tapi hanya datang saja kan?Aku ga janji apapun" jawab Ocha ragu².
Adi mengangguk,"Iya,datang saja. Kita jalani saja"
Ocha sudah akan menyanggah jawaban Adi tapi qda beberqpa pengunjung yang mulai mendatangi booth mereka.
Sebenarnya Ocha ingin menolak undangan Adi untuk datang di acara ulang tahun adiknya. Tapi Amel,sahabat Ocha memdesaknya untuk mencoba mulai membuka hati.
"Sampai kapan kamu kaya gini terus,Cha?"
Ocha mengangkat bahunya
"Kamu tau sendiri kan,aku bukannya ga mau membuka hati.Tapi ga bisa"
Amel memperhatikan raut wajah Ocha yangtak berdaya. Digenggamnya kedua tangan Ocha
"Cobalah terima undangan Adi,sambil kita lohat nanti apa yang terjadi" katanya pelan
"Kalaupun nanti kamu tetap masih ga bisa,setidaknya kamu sudah mencoba dan kamu ga memberikan harapan ke Adi" lanjutnya
Ocha mengangguk.
Sebenarnya Amel tau betul apa yang terjadi pada Ocha. Amel juga turut merasakan apa yang dirasakan Ocha,bahkan lebih rmosi daripada Ocha.
*Flash Back*
Amel dan Ocha bersahabat sejak mereka kecil dulu. Kebetulan orang tua mereka sering ditugaskan di kota yang sama,jadi mereka berdua sering gantian menginap. Bahkan saat orang tua Ocha pindah tigas ke kantor pusat saat Ocha kelas 1 SMA,,Ocha memilih untuk tinggal bersama keluarga Om Danu,orang tua Amel yang kebetulan pindah tugas ke Surabaya menggantikan jabatan papa Ocha.
2 kakak Ocha sudah kuliah di Kota Pelajar, Ocha punya 2 kakak laki²,Amel punya 3 kakak laki².
Mereka berdua berangkat sekolah naik angkot atau nebeng salah satu abang Amel bila kebetulan jam masuknya bareng.
Meskipun papa mereka pejabat,tapi mereka selalu dididik untuk sederhana dan mandiri.Ga ada fasilitas diantar sopir pribadi.
Semuanya berjalan seperti biasa. Tidak ada yang istimewa antara Ocha dengan keluarga Om Danu,karena mereka pun menganggap ocha seperti putri mereka sendiri.
Semua berubah saat Bram,abang nmr 3 Ocha hendak melanjutkan study ke UK karena lolos tes beasiswa.Bram memang yang paling penndiam,ga pernah ngerjain adik²nya,tapi paling protektif ke adik²nya.
Saat berpamitan,ada yang berbeda ketika Bram memeluk Ocha.Bram memeluk Ocha sedikit lebih erat,ada sedikit kabut di matanya.Dan seolah merasakan hal yang sama,d**a Ocha pun tiba² merasa sesak,ada rasa sedih yang dalam.Tapi Ocha masih berpikir positif,mungkin karena mas Bram mau oergi jauh,jadi sedih.
Ketika mereka sampai di rumah setelah mengantar Bram ke bandara,Ocha mendapati sebuah novel lesukaannya di meja di kamarnya. Dibukanya lembatan tengah novel,karena berasa seperti ada pembatasnya. Sebuah kartubkecil jatuh
Kartu kecil berwarna biru muda bertuliskan
"I will be back for you"
Seketika sesak yang dirasakan Ocha sedari tadi seakan meledak,kaki pun terasa lemas hingga Ocha terduduk di lantai menangis sambil mendekap novel di dadanya.
Amel yang mendengar isakan Ocha menerobos masuk,dihampirinya Ocha yg tersedu di lantai.
"Kenapa,Cha?" tanyanya pelan
Ocha tersedu tak menjawab,diberikannya nobel itu pada Amel yang segera menemukan kertas kecil yang terselip. Seketika Amel tau apa yang terjadi,hatinya turut merasakan kesedihan Ocha.Dipeluknya sabahatnya itu erat,air matanyapun turut menetes pelan.
"Ada ap.." mas Bayu,kakak nmr 2 Amel muncul di pintu. Melihat kedua sahabat itu berpelukan sambil menangis. Matanya bertanya pada Amel yang langsung memberikan kertas kecil itu pada kakaknya.
Mas Bayu menggeleng²kan kepalanya. Adik nmr 3 nya itu memang jenis introvert akut.
Diapun ikut duduk di lantai,dan menenangkan Ocha
"Sudah,sebrengsek apapun Bram,dia pria sejati. Dia akan memenuhi janjinya" katanya pelan sambil mengusap kepala Ocha.
*Now*
"Aku antar pulang yuk" tawar Adi saat mereka berjalan di basement mall.
"Nggak usah,mas.Kan beda arah,aku pulang ke rumah Tanteku di Sidoarjo" tolak Ocha
"Lho Sidoarjo di mana?Aku juga pulang ke Sidoarjo" jaeab Adi
Ocha meringis,waduh..salah strategi ternyata.
"Di perumahan Surya Land,mas" jawab ocha berharap titik lokasi mereka berbeda jauh
"Kebetulan mamaku juga di situ,ayuk bareng aja..Di cluster apa?Aku di Manhattan"
yasudahlah,akhirnya Ocha nyerah..Cluster Manhattan cuma sebelahan dengan Cluster Venice tempat tinggal tante Maya,mamanya Amel.
"Kenapa ga kita jalani saja,Mei?" tanya Adi membuka pembicaraan saat mobil Adi sudah membelah jalanan di Surabaya.
Sejujurnya,ini adalah alasan mengapa Ocha ga mau pulang bareng Adi.
"Alu ga bisa,mas. Nanti dibilang aku PHP" jawab Ocha
"Kamu menunggu seseorang?"
Ocha mengangguk.
"Sampai kapan kamu mau menunggu?"
Ocha mengangkat bahunya,"Entahlah,tapi yang jelas untuk saat ini aku belum bisa"
Adi mengangguk pasrah. Lalu mengalihkan topik obrolan suoaya mereka bisa mengobrol dengan nyaman.
"Makasih banyak tumpangannya,mas" kata Ocha sesaatvsebelum turun dari mobil Adi.
Adi tertawa mengangguk,"Ga masalah,sekompleks ini kok" jawabnya
"Besok aku jemput jam 7 ya" katanya
Ocha mengangguk,lalu masuk ke halaman rumah tante Maya.
"Assalamu'alaikum" ucapnya ketika masuk ke rumah melalui pintu samping.
"Wa alaikumsalam..Naik apa kok cepet?"
Ocha mencium.punggung tangan dan kedua pipi tante Maya
"Dapat tebengan tan" jawabnya
"Ocha mandi dulu ya,tan" lanjutnya sambil naik menuju kamarnya
"Iya,setelah itu minum susunya ya" kata tante Maya.
Kalau pulang malam,Ocha hanya minum s**u sebelum tidur.Lagipula tadi sore juga sudah makan pas istirahat sholat maghrib.
Biasanya setiap akhir oekan,Ocha ganti²an nginep di rumah tante Maya atau tante Susi. Suami tante susi,om Bambang juga teman dekat orang tua Ocha setelah keluarga om Danu.Kebetulan mereka tinggal di Surabaya,sementara orang tua ocha memiliha tinggal di kampung halaman papa Ocha di Salatiga.
"Ocha kamu besok jadi ke acaranya Adi?" tanya Amel saat mereka berdua duduk di meja makan sambil nyeruput s**u.
Ocha mengangguk
"Di mana tempatnya?"
"Di De Roasters"
"Yang bener?" tiba² Amel.memajukan badannya.
Ocha mengangguk.
"Loh,besok aku juga ke sana..Ulang tahunnya Lita,kamu ga doundang?"
"Nggak" Jawab Ocha
"Atau jangan²..." Ocha menepuk jidatnya.
Amel tertawa keras
"Ada apa,sih?Anak perempuan berisik jam segini?" tegur tante Maya yang barubkeluar dari kamar.
"Ini,Ma..Ocha diundang teman barunya ke acar ulang tahun adiknya di Roasters,sedangkan ulang tahun Lita besok jiga di Rasters"jelas Amel
tante Maya terkejut,"Lhaaa,jangan jangaaan..."
Amel tertawa lagi
"Makanyaa,jangan² Lita adiknya Adi"
"Untuuuung dari awal aq sudah nolak dia,Meeel" kata Ocha sambil mengelus d**a.
Tante Maya ikut tertawa.
Mereka sudah tau banget,tante Ndari,ibunya Lita ga suka banget sama Ocha. Papa Lita juga sama² pensiunan dari Bank B** seperti orang tua Ocha dan Amel. Tapi menurut tante ndari,alm papa Lita dan alm papa Amel pensiunnya sebagai pejabat,tapi papa Ocha pasti bukan,karena melihat penampilan Ocha yg menurut tante Ndari biasa² saja dan ke mana² Ocha naik ojol,ga punya mobil pribadi.Jadi Ocha ga level sama mereka.
Lita pun ga beda jauh sama mamanya. Tapi yasudahlah,biar saja. Cuma,Ocha berusaha menghindari berurusan dengan tante Ndari.
eeh,ini malah kemungkinan besar tante Ndari adalah mamanya Adi.
Akhirnya Ocha datang ke acara ulang tahun bersama Amel. Ocha sudah beritahukan Adi kalau tidak usah jemput,karena Amel juga diundang. Lagipula Ocha menghindari kerusuhan yang bisa terjadi kalau nanti tante Ndari tau Adi menjemput Ocha.
"Mel,aku kok takut yaa" kata Ocha saat mobil Amel sudah terparkir manis di halaman de Roasters.
"Ga usah dipikirin,ada aku" jawab Amel
"Kan ada banyak orang,Mel"
Amel memberi kode supaya mereka turun.
Mereka masuk dan langsung meneui Lita yang berulang tahun.
Saat Ocha mengulurkan tangannya,Lita hanya melihatnya heran.
"Kan aku ga undang kamu?"
"Aku yang undang Meira",belum sempat Ocha dan Amel buka suara,tiba² ada suara di belakang mereka.
Tampak Adi berjalan menghampiri mereka. Sebetulnya Adi bisa dibilang ganteng juga,tapi karena Ocha belum bisa membuka hati ditambah ternyata Adi adalah anaknya tante Ndari,makan buat Ocha Adi masuk kategori biasa² saja. Hahaha
"Mas kok bisa kenal dia sih?" tanya Lita ga suka
"Orang baik² ya kenal di tempat baik². Yuk,masuk" jawab Adi sambil mengajak Ocha masuk.Ocha menggenggam tangan Amel erat.
"Yuk,aku kenalin mamaku" kata Adi
"Nggg...Nggak usah,mas..Sudah kenal kok sama tante Ndari" jawab Ocha enggan.
Amel masuk sambil menggandeng Ocha. Disambut dengan sapaan manis dari tante Ndari untuk Amel.
"Amel sudah datang,mama ga ikut,sayang?"
"Nggak,tante. Mama di rumah"
Tapi senyuman manis itu lenyao saat melihat Ocha.
"Ini Meira teman Adi,ma" kata Adi buru²
"oooh,jadi suoaya bisa masuk ke lingkaran kami,kamu deketin anakku?"
"Mama!" tegur Adi
sementara Ocha makin erat memggenggam.tangan Amel.
"Sudah,ga usah dekat² dia,nanti diporotin kamu sama dia" bantah tante Ndari.
Lalu tersenyum dan memggapai pundak Amel hendak mengajak masuk.
tapi Amel mengelak halus,"Kami permisi,tante" ucapnya sambil berbalik memgajak Ocha keluar bersamanya.
"Tapi,Amel..Tunggu..Mau ke mana?"
Amel tidak menggubris oanggilan Lita dan tante Ndari.
Adi mengejar mereka berdua sampai di parkiran.
"Tunggu,Meira" ditangkapnya lengan Meira.
Meira berbalik,tapi dia memgatakan sesuatu, Amel sudah berdiri di depannya.
"Ajari adik dan mama kamu sopan santun pada tamu" ucapnya pedas,lalu menarik Ocha untuk masuk mobil.
"Ya Allah,Meeel " desah Ocha ketika mobil mereka sudah melaju di jalan.
Amel memukul setir mobilnya geram
"Coba dia bukan orang tua dan bukan teman mama"
"Kamu juga pakai kenalan sama Adi"
"Lah,mana ku tau klo dia anaknya tante Ndari" protes Ocha
Mereka pun tertawa. Bener jiga sih,coba kalau Ocha tau Adi anaknya tante Ndari.Ga bakalan terima undangannya.
"Trus kita ke mana?" tanya Ocha
"Ngopi aja yuk?" ajak Amel disambut anggukan setuju Ocha.