Author POV
Jangan mengusik ku! Karena aku punya kebencian yang mengerikan!
Salahkah jika aku ingin mempertahankan keutuhan rumah tangga ku?
Dosakah aku jika ingin membina sepenuhnya kehidupan anak- anakku?
Lantas...
Mengapa baru sekarang mereka bersuara?
Kemana mereka saat Apak Sofyan, ayahku menjodohkan kami? Ya menjodohkan ku dengan Atitah?
Mengapa baru sekarang mereka datang mengguncang rumah tangga kami?
Di saat kami telah memiliki dua putri kecil, pelengkap kebahagiaan keluarga kami...
Ya Rabb...
Apa ini...?
Sungguh terkadang aku muak dengan semua ini...
Tapi aku yakin dengan keputusan Apak, tak mungkin beliau menyatukan kami dalam ikatan rumah tangga, bila semua ini salah...
Berikan kami jalan keluar dari perkara yang menghimpit ini wahai Rabb...
Jika Engkau anugrahkan kami seorang putra, maka aku yakin jika rumah tangga kami ini bukan sebuah kesalahan...
Ya Rabb, dalam genggaman-Mu-lah solusi segala perkara, maka bimbinglah kami ke jalan yang Engkau ridhoi...
Rintihan batin Bram di penghujung malam, mengusik lelap Alisha kecil karena isak yang tercipta.
Gadis kecil itu dengan polosnya bangkit menuju pangkuan Bram, tepat ketika Bram bangkit dari sujudnya.
"Eh teteh dah bangun? Ini masih malam sayang... Nanti adzan subuh baru bapak bangunin teteh... Ayo bobo lagi" Bram meraih tubuh mungil yang tengah menggelengkan kepalanya itu.
"Bapak nangis? Bapak sakit? Mana yang sakit? Bapak jatuh ya...?" heran Alisha, saat menemukan jejak basah di wajah Bram.
Bram tersenyum, memeluk putri sulungnya semakin erat. Sesak semakin menyumbat dadanya.
Putri sulungnya ini begitu peka dengan sekitarnya. Perasaannya begitu halus. Tak tega melihat penderitaan yang terjadi di sekitarnya.
Seperti apa yang dilihat Bram sepulang dari pasar kemarin. Namun Bram berlagak seolah tak tahu menahu tentang perilaku putrinya itu.
Kenyataan itu menambah rasa harunya. Di kecupnya puncaknya kepala gadis kecilnya penuh rasa sayang. Bersama untaian do'a terbaiknya.
Ya Rabb...
Haruskah anak- anak kami sekecil ini mengecap pahitnya kehancuran ikatan pernikahan kami...
Sungguh aku bukanlah hamba-Mu yang saleh, namun ku mohon pertolongan-Mu demi mereka, buah hati kami...
Rintih Bram memeluk putrinya semakin erat, menengadahkan wajah, menahan bulir bening yang kembali merembes, menerobos di kedua matanya...
***
Alisha POV
Waktu berlalu tanpa ku sadari, karena memang saat itu aku sama sekali tak hiraukan perjalanan waktu, karena aku hanya asyik dengan dunia ku saja. Dunia masa kecil ku.
Sungguh hanya kami anak kecil di kompleks kontrakan itu. Namun cukup menambah riuh suasana.
Terkadang aku dan Elisya main di rumah si empunya kontrakan, menemani sepasang sosok renta menjalani hari- hari mereka.
Mereka meminta kami memanggilnya nenek Eha, dan kakek Odin.
Mereka tak dikaruniai anak, apalagi cucu, oleh karena itulah mereka selalu meminta kami bermain menemani mereka hampir setiap hari.
Melalui pintu penghubung yang tepat berada di sebrang pintu kamar kami, nenek Eha selalu menjemput kami setiap pagi.
Bermain di halaman rumah mereka yang cukup luas, aquarium besar dengan berbagai jenis ikan hias, menyambut kami begitu melewati lorong penghubung tadi.
Kolam- kolam hiaspun tak kalah membuat kami terpana. Di beberapa titik terdapat sangkar burung berbagai warna, dan jenis burung, entah apa nama dan jenisnya, sungguh kami tak tahu.
Nenek Eha mengajak kami memberi makan ikan- ikannya. Tentu kami girang bukan main.
"Ini kasih makannya jangan banyak- banyak, nanti ikannya kekenyangan dan mati.." Jelas Nenek Eha.
"Nek kenapa yang ini di pisah sendirian?" Tanyaku.
"Oh... Yang itu mau bertelur, mau punya anak..." Jelas Nenek Eha. Mencoba memilih redaksi kata yang mudah kami fahami.
"Mau puna bayi ya Nek..?" Sahut Sasa.
"Iya.., ikannya mau punya bayi.. Nah ini bayi- bayi ikannya..." jawab Nek Eha. Terkekeh, mungkin merasa geli dengan pilihan kata khas anak- anak.
"Nek, alou bapanah mana?" Tanya Sasa.
"Itu... Yang kecil, yang ekornya warna warni.. Itu bapaknya ikan..." tunjuk Nek Eha.
"Ko masih kecil? Masa di bilang bapak sih Nek?" Tanya ku mengernyitkan dahi, heran. Lagi-lagi Nek Eha terkekeh.
"Memang kalo yang di bilang bapak harus gimana Teteh?" Tanya Nek Eha. Duduk di samping kami yang asyik mengamati ikan makan.
"Harus GEDE dong Nek... Kan bapak Aku juga GEEDEEE,,, Tinggi juga..." jawabku. Meregangkan tangan, seolah ingin menunjukan arti 'GEDE', lantas berjinjit- jinjit dengan tangan keatas, seolah ingin menyentuh langit, hingga Neh Eha dapat memahami arti 'TINGGI' yang ku maksud.
"Itu kan bapaknya ikan. Kalo bapak ikan itu, biasanya lebih kecil dari ibu IKAN Sayang... Tapi bapak ikan itu punya warna dan bentuk tubuh yang bagus.. Tuh coba lihat...". Tunjuk Nek Eha pada bapak ikan, sembari menangkap sesuatu yang di anggapnya mengotori kolam, dengan jaring kecil di tangannya.
"Ooo... Gitu ya Nek..." aku manggut- manggut menangkap informasi tentang bapak ikan.
***
Author POV
Selepas sholat subuh mereka bercengkrama sembari menikmati teh tawar hangat. Di temani beberapa potong biskuit.
"Sudah-sudah... Ibu bawa aja anak- anak jalan- jalan pagi ke taman, biar bapak yang masa dan beres- beres..." Bram memberi instruksi. Saat Atitah beranjak untuk membereskan kamar mereka.
"Anak- anak, temani ibu jalan- jalan gih ke taman mutiara... Mumpung masih pagi, udaranya masih bersih dan sehat..." Bisik Bram pada kedua putrinya yang tengah asyik dengan mencelup biskuit kedalam teh tawar hangat.
"Yeeeyy... Asyiiiiiik..." kedua putrinya bersorak senang. Melompat- lompat kegirangan.
"Sama bapak juga?" Tanya Alisha. Di jawab gelengan kepala oleh Bram.
"Kan bapak mo masak buat nanti kita makan sayang. Jaga ibu dan adik kamu ya.. Nanti pulang jalan- jalan kita sarapan Sama- sama... Okey...?" Tutur Bram, sembari menakutkan jempol dan telunjuk tangan kanannya membentuk huruf O, lalu mengelus rambut Putri- putrinya.
"Ou.. Key..." kedua putrinya meniru gerakan tangan Bram. Hingga Bram pun terkekeh karenanya.
"Ayo... Ayo... Ayo... Pake jaket dan sandal kalian..." suruh Bram sambil menepuk- nepuk tangan pertanda menyuruh gegas melakukan perintahnya.
"Kamu harus kuat, dan sabar ya bu... Mudah- mudahan saja anak ini menjadi jawaban atas do'a- do'a kita selama ini.. Aku sungguh sangat menyayangi kalian. Kalian semangat hidupku..." Ujar Bram, mengelus perut rata sang istri, Lantas mengecup dalam keningnya.
Nampak binar bahagia di wajahnya. Ya... Bram sangat bahagia, setelah sang istri menyampaikan kabar kehamilannya.
Sungguh besar harapan Bram jika yang terlahir nanti adalah seorang putra.
Ya..., seorang putra yang akan menjadi penentu ke arah mana mereka mendayung biduk rumah tangganya.
Menghapus untaian air mata duka yang selama ini terurai.
Mengurai benang kusut yang menjebak mereka dalam Stigma...