"Kita pasti bisa lewati bersama semua ini..." Lirih Bapak.
"..." hening, hanya isak tangis ibu yang semakin terdengar nyata di rungu ku.
"Kita harus hirjah.., pergi dari sini, untuk tenangkan diri.., dan mengatur strategi berikutnya..."
"Per... gi...?" heran Ibu, sedikit beranjak dari dekapan Bapak.
"Ya." jawab Bapak, dengan anggukkan yang menegaskan. Menjawab ragu di sinar mata ibu.
"Kemana? Bahkan kita hampir membangun rumah Pak, batu.., dan pasir.. Baru saja datang tadi pagi..." Bingung ibu.
Bapak kembali mendekap tubuh yang sedikit menjauh itu.
"Ada hal yang lebih penting yang harus kita selesaikan saat ini Bu.." Sahut Bapak mendekap tubuh kami bersamaan. Aku sudah berhenti terisak.
"..." hening.. Hanya sisa tangis yang terkadang terdengar dari ibu. Tangan mungil ku sibuk mengusap sisa derai tangis ibu.
"Batu dan Pasir tak akan busuk., tapi anak- anak kita perlu tempat yang baik untuk tumbuh kembang mereka, dan..., itu bukan situasi konflik semacam ini..." papar Bapak. Ibu hanya mengangguk pasrah. Menyerahkan segala langkah pada Bapak.
"Kita Sama- sama berdo'a ya, mohon petunjuk-Nya, langkah apa yang harus kita ambil. Terlebih lagi ada mereka di antara kita..." lanjut Bapak, sembari menyamankan posisiku di pangkuannya.
"Lisa juga do'ain Bapak dan ibu juga ya sayang...?" bapak mengusap sayang puncak kepala ku. Aku pun menengadah menatap wajah tegar itu, lantas mengangguk mantap.
---
Beberapa hari setelah tragedi Ali Ba'sa, bapak benar- benar memboyong kami, menuju sebuah tempat di pojokan Bandung Utara.
Sebuah kamar sederhana, mungkin berukuran tiga kali tiga meter menjadi tempat kami berlabuh.
Membuang penat sisa perjalanan yang menurut ku cukup panjang.
Hanya ada sebuah ranjang besi tempo dulu, lengkap dengan kasur dan atribut sekedarnya. Sebuah lemari kecil dan sebuah meja nakas yang di atasnya terdapat beberapa gelas, piring dan sendok. Juga beberapa botol air mineral. Yang saat itu masih A*ua yang bertahta, tanpa brand pesaing.
"Mas Bram, ini ada beberapa kue buat anak- anak, tadi aku bawa dari tempat kerja.. Dimakan ya.." sapa seorang pria lentik, seraya Bapak membuka pintu kamar yang beberapa waktu lalu diketuk dari luar. Mengangsurkan kotak kertas berwarna putih ke tangan Bapak. Lantas melambaikan tangan ke arah kami seraya berkata "Haiii..."
"O.., ya..., makasih Nci.." jawab Bapak.
"Ya udah kalian istirahat dulu, pasti cape kan habis perjalanan jauh.. Mbak Nci tinggal dulu ya... Da daa sayang..." Ujar pria lentik yang memperkenalkan nama sapaannya sebagai Mbak Nci itu. Dengan gaya khasnya. Melambaikan tangannya lagi, lantas berlalu pamit.
Aku dan Elisya seketika menghambur ke arah kotak putih tadi.
"Ayo makannya di sini anak- anak.., masa di atas kasur.., nanti banyak semut dong..." bujuk Bapak.
"Kamu juga makan Bu.., kita harus sehat dan kuat. Demi mereka.." bujuk Bapak sembari menuntun ibu ke arah aku dan Elisya.
***
Pagi hari yang kali ini sangat berbeda bagiku. Tak ku dapati bilik bambu di sekeliling ku, riuh nyanyian burung dan suara khas ayam jantan yang selalu menyapa rungu, saat ku terbangun.
Pemandangan yang begitu akrab dengan ku beberapa tahun belakangan ini.
Tapi kini...
Kicau burung pun yang tak seriuh biasanya, suara ayam jantan pun serasa berasal dari tempat yang sangat jauh. Hanya sayup- sayup pujian pada sang Khalik yang terdengar, itu pun dari tempat yang juga tidak dekat.
Hanya dinding tembok, menyambut kami saat membuka netra. Dalam ruang kotak berukuran tiga kali tiga meter ini.
Entah serumit apa kehidupan pada kenyataannya yang tengah kami hadapi saat itu, tentu saja semua belum terjangkau nalar ku.
Ah...
Apapun itu..
Syurga kami sebagai anak adalah di antara kedua orang tua kami.
Aku tersenyum saat menangkap sosok Bapak di atas sajadah. Larut dalam sujud, sesekali terdengar isakan samar.
Aku turun dari ranjang. Kembali memindai. Tak ada ibu di sini.
"Ibu lagi di jamban (kamar mandi) sayang.. Sini..." Lirih bapak yang ternyata menyadari aktivitas ku. Menarikku, membawa ku ke dalam pangkuannya.
"Sayang kenapa bangun? Ini masih malem, belum juga adzan subuh.., teteh lapar? Haus? Atau... Mau ke jamban...?" Tanya Bapak beruntun begitu ku masuk dalam dekapannya.
Aku menggelengkan kepala. Bapak memelukku makin erat, tangannya sibuk menghapus sisa lelehan air mata, mulutnya berkomat- kami, mendawamkan dzikir pada Sang Maha Pemilik jagat raya ini.
Asyik aku turut larut memperhatikan aktivitas Bapak hingga sayup- sayup terdengar suara adzan. Tak lama ibu pun datang.
"Ayo Lisa, kita wudhu, dan... Berjama'ah.." Ajak bapak. Membimbing ku keluar kamar. Tentu saja menuju jamban. Meninggalkan sejenak ibu yang tengah sibuk menggelar sajadah disamping sajadah Bapak tadi.
Tak lama...
Kami pun larut dalam ke khusuan menghadap-Nya.
---
Seusai sholat subuh, bapak mengajakku, yang ternyata menuju pasar.
Hiruk pikuk mewarnai, padahal langit belum lagi terang sempurna.
Kami larut dalam keriuhannya. Bapak menuntun tangan kecil ku.
"Mau makan apa hari ini?" Tanya bapak.
"Ayam, ikan,.. Atau ati?" sambungnya.
"Ati.." jawabku. Bapak mengangguk.
Setelah membeli beberapa barang lain yang dirasa perlu, beberapa buah dan sayuran, akhirnya kami keluar dari keriuhan itu.
Tangan ku menggenggam beberapa koin kembalian yang tadi bapak bilang "buat jajan..".
Namun netra ku tertarik ke arah seorang Pak tua yang bersimpuh di pinggiran jalan menuju pintu keluar pasar yang kami pijak.
Hatiku berdesir...
Aku meringis menyadari keistimewaan yang Allah berikan untuknya, berbeda dengan apa yang Allah beri pada ku, sebelah tangan dan kakinya, sungguh istimewa.
Ku lirik ragu kearah bapak yang menuntun sebelah tanganku. Diam- diam ku jatuhkan apa yang ku genggam di tangan bebasku, saat kami melewatinya. Tanpa hentikan langkah.
"Buat Bapak.." Lirih ku. Berharap dia yang menggenggam sebelah tangan ku tak menyadarinya.
Ku tertunduk dalam sesekali menatap pria jangkung yang tampak tak menyadari perbuatan ku tadi.
Sungguh aku takut bapak marah. Seperti kerap ibu memarahiku.
---
Setibanya kembali di kamar kontrakan kami, Kemudian ibu sibuk mengolah apa yang kami bawa tadi. Sementara bapak sibuk dengan seember baju yang kami pakai dalam perjalanan kemarin.
Aku dan Elisya pun turut mengiringi langkah mereka. Berlari- lari kecil khas anak seusia kami saat itu.
"Hei... Sini... Sini... Anak- anak... Sini..., Mbak Nci punya sesuatu buat kalian. Sini sayang... Duduk sini sama Mbak Nci.." Jari yang dibuat- buat lentik itu melambai ke arah kami. Aku dan Elisya..
Aku melirik ke arah Bapak meminta persetujuan beliau atas ajakan Mbak Nci. Bapak pun memberi kami anggukkan.
"Boleh sayang. Mbak Nci temen Bapak. Baik ko.." Ujar Bapak. Meyakinkan.
Kami pun bercengkrama di bangku panjang depan dapur. Sambil menyantap jajanan yang dibawa Mbak Nci.
Sesekali tetangga kamar kami yang lain ikut nimbrung menyela percakapan kami. Terkadang menggoda Sasa yang selalu memasang raut juteknya. Adikku itu cenderung pemarah dan galak.
Tak lama Bapak dan ibu pun selesai dengan aktivitas masing - masing.
"Ayo teteh Lisa..., Sasa kita sarapan dulu. Mbak Nci juga mari.." Ajak ibu.
Bapak menyusul membawa beberapa barang yang tertinggal. Begitu pun kami. Tapi Mbak Nci menolak tawaran ibu dengan halus, berdalih perutnya sudah kenyang, penuh dengan kue yang baru saja aku dan Sasa nikmati.
Bersambung...