Alisha POV
Alisha Shanum Bramantio adalah nama ku. Nama yang aku tahu disematkan kedua orang tua ku. Bapak Bramantio dan ibu Atitah.
Dan...
Diperlukan tidak adil sedari kecil oleh seorang wanita yang di gelari "Ibu"? Tentu bukan option yang akan aku ambil untuk menjalani hari- hari ku.
Namun bila sudah jadi kehendak Rabb-ku yang menempatkan ku dalam posisi ini, lantas apa daya ku untuk menentang kehendak-Nya?
Aku tak bisa memilih untuk lahir dari rahim siapa, dan di keluarga yang mana. Apapun itu... Aku yakin ada hikmahnya.
Yang pasti aku teramat sangat menyayangi mereka, kedua malaikat yang menjadi sebab terlahirnya aku ke dunia fana ini.
"Tol*l kamu, kalo apa- apa tu ya hati- hati!" Suara ibu yang naik beberapa oktaf, saat aku terjatuh. Ketika ibu memandikanku.
Entah berapa usiaku saat itu.
Tetapi jika tak salah ingat, saat itu masih aku satu- satunya anak Bapak dan Ibu. Sementara jarak usiaku dengan adikku tiga tahun. Yang artinya usiaku saat itu mungkin sekitar dua tahun. Karena ibu belum lagi mengandung saat itu.
Namun kalimat 'tersebut', telah terdengar akrab di telinga ku. Sungguh saat itu Aku tak faham apa maknanya. Karena yang ku tangkap hanyalah 'ibu marah, setiap kali aku jatuh'.
Untuk itu aku tak boleh jatuh.
Lantas apakah dosa jika seorang anak seusia ku saat itu terjatuh? Bahkan jalan ku saja saat itu belum lagi tegak.
Menurut cerita bapak, tubuhku begitu ringkih saat kecil, aku susah sekali makan. Kecuali jika yang menyuapi Emak Imas (Nenek ku dari Bapak) dan Uwa Dedah (Kakak perempuan Bapak). Itu makanya aku kerap di juluki 'anak Emak'. Karena katanya sebagian besar masa batita ku ada dalam dekapan Ema Imas.
Aku tumbuh menjadi anak yang sulit membaur. Karena rasa 'takut jatuh' dan akhirnya ibu murka. Itu yang tertanam kuat dalam benak ku saat itu.
"Anak Durhaka! Gak denger apa kata orang tua! Suruh jangan turun juga! Jatuh kan akhirnya!?" Geram ibu saat lagi- lagi aku jatuh, lantas di hadiahi beberapa sentilan di telinga ku. Panas.
"Titah, kenapa kamu ini? sudah! kasian itu anak kamu, dah jatuh, kamu tambahin lagi. Ck... Gimana sih kamu ini jadi ibu.." Uwa Dedah mengambil alih tubuh mungil ku dari ibu. Membawa ku masuk ke dalam rumahnya. Tentu saja aku menangis saat itu.
Yang aku tangkap dalam benak ku saat itu adalah, selain Emak Imas, Uwa Dedah lah yang dapat menolong ku saat ibu marah. Karena itu aku nyaman saat mereka menyuapi ku.
"Ayo makan yang banyak.., biar tambah ku... at.., biar tambah se.. hat.., biar tambah he... bat.., biar tambah be.. Sar... Ting... Gi.. Yeeyy...anak uwa pinterrr...!" Gumam Uwa Dedah yang lagi dan lagi mengangsurkan sendok demi sendok makanan ke mulutku. Aku pun menjawab setiap akhir suku kata yang sengaja Uwa jeda. Di sambung gelak tawa girang ku. Tawa yang jarang sekali muncul saat aku bersama ibu, kecuali ada bapak di antara kami.
***
"Aaa...!! Aaaa.....!! Aaa....!!" Aku menjerit saat Elisya, adik ku menggigit ku yang tengah mendekapnya. Tangisku tak terelakan.
"kenapa Lis? Ada apa?" Tanya Uwa Dedah nampak khawatir.
"Biasa.., di gigit adiknya.. Mau tumbuh gigi ni kayanya Sasa ya kan sayang.. Makanya gigit- gigit teteh.. Iya?" jawab ibu yang duduk di sampingku. Lantas mengambil alih Elisya dari pangkuan ku.
"Sudah.. Sudah..., sini Teteh Lisa sama Uwa.. Maafin Adiknya ya sayang.. Teteh Lisa pinter kan? Teteh sayang ke dedenya kan? Sasa masih kecil jadi belum ngerti.." Papar Uwa Dedah sembari membawa tubuh mungilku dalam pangkuannya. Aku pun mengangguk anggukkan kepala, perlahan tangisku reda.
"Ih Dede Elisabeth ko gigit teteh sih..., padahal teteh sayang kamu loh..." Ujar Bi Yuli. Adik Bapak. Menggoda si pelaku.
Yang aku ingat... Saat itu kami tengah bercengkrama di ruang keluarga Uwa Dedah.
Keluarga kecil ku kini bertambah anggota baru. Elisya Putri Bramantio, adik ku.
Beberapa bulan sebelum Elisya lahir, keluarga kecil ku pindah kembali ke sebuah desa, di pelosok kota Swiss Van Java. Dan ini kali pertama sejak hadirnya Elisya kami berkunjung ke rumah Uwa.
---
Suatu saat aku dan Elisya sedang main boneka kertas yang sering kami sebut BP. Entah apa arti dari BP itu sampai saat ini pun aku tak tahu.
Berulang kali Sasa memutus kepala boneka kertas itu. Hingga tersisa satu di tangan ku. Tentu saja aku pertahankan yang terakhir itu. Karena aku tahu, pasti akan dia putus lagi kepalanya.
Di luar dugaan Sasa layangkan pukulan di punggung ku. Aku tersentak kaget. Tapi dia sendiri yang justru menangis histeris, seolah aku yang memukulnya.
Ibu datang tergesa dari dapur.
"Kamu apain adik kamu?! Kamu itu lebih gede, harusnya ngalah sama adik kamu! Bukan dibiarin nangis adiknya! Gak bec*s kamu jaga adik!" hardik ibu, lantas memangku adikku. Kembali ke dapur.
Begitulah ibu, kerap menghakimi ku tanpa pernah ingin mendengar penjelasan apa yang terjadi sebenarnya.
Terkadang aku berpikir 'anak siapa aku sebenarnya?'
Entahlah..
Itu hanya fikiran konyol ku saja. Pada kenyataannya aku tetap sangat menyayangi beliau.
Mungkin itu cara ibu mendewasakan ku. Dimana caranya berbeda dengan anak lainnya.
***
Hari ini keluarga kami kedatangan tamu. Tamu yang telah merubah segalanya. Tamu yang membuat kami beranjak dari titik nyaman. Menuju kehidupan baru yang luar biasa keras.
Sebenarnya aku ingin melupakan semua kenangan pahit di masa itu, namun kilasannya kian menggoda benak ku, menoreh garis tak kasat mata dalam dadaku, namun rasanya lebih sakit dari pada luka nyata.
"Kalian harus bercerai. Pernikahan kalian tidak sah. Ibu mu pernah jadi ibu s**u Bramantio, Titah!" Ujar seorang pria berperawakan mungil dengan rambut nyaris memutih seluruhnya. Ali Ba'sa.
Jujur saat itu aku tak mengerti apa makna kalimat yang di ucapkan Mang Ali, begitulah Bapak dan Ibu ku memanggilnya.
Yang aku tahu saat itu adalah air mata yang tiba- tiba luruh di mata ibu, menangis. Aku tahu itu tangis namanya. Seperti apa yang ku lakukan saat terjatuh. Mungkin ibu terjatuh dan sakit, pikir polosku.
Pun dengan Bapak, matanya memerah namun tak nampak tangis di sana. Hanya tersenyum getir, mendapati apa yang baru saja tercetus dari lisan Mang Ali, hingga ibu tak kuasa menahan tangis dan undur diri.
"Jika demikian adanya keluarga kami mang, anggap saja apa yang saya alami ini kondisi darurat..." Bapak menarik nafas dalam. Menjeda kalimatnya.
"Bukankah daging babbi pun halal saat dalam kondisi darurat?.. Saya terima dengan baik semua saran dari mamang dan keluarga.., tapi saya tak bisa asal mengambil keputusan.., terlebih ada anak di antara kami. In Syaa Allah saya akan memohon petunjuk-Nya, ke arah mana kami mendayung biduk rumah tangga ini. Karena ada dua nyawa yang juga harus kami bina.. Siapa yang akan bertanggung jawab atas kedua putri kami jika kami berpisah, kalau bukan kami orang tuanya..." begitulah kurang lebih kalimat Bapak, lantas berlalu dari hadapan Mang Ali, menyusul ibu yang lebih dulu masuk kamar, tak kuasa menahan bulir bening yang saling susul- menyusul. Dengan aku dalam dekapan Bapak, sementara Elisya sedang asyik bermain dengan Bi Elsa.
"Sana pergi kamu sama Bapak mu! Cari Ibu baru sana!" ketus ibu dengan air mata berderai. Begitu Bapak melewati pintu kamar.
Air mataku tiba- tiba luruh. Entah kenapa rasanya begitu sakit, meski aku belum memahami apapun saat itu. Tapi membayangkan posisi ibu terganti dengan seseorang yang tidak ku kenali, rasanya begitu sakit.
Itulah makna yang ku tangkap dari kata 'Ibu Baru' yang baru saja terlontar dari lisan ibu.
Bapak mengelus kepala ku. Membenamkan ku kedalam peluknya. Sembari membawa langkahnya ke arah ibu.
Aku masih dalam dekapan bapak, saat bapak mendaratkan bokongnya di bibir ranjang di samping ibu, sebelah tangan Bapak menarik ibu ke dalam peluknya.
"Kita pasti bisa lewati bersama semua ini..." Lirih Bapak.
"..." hening, hanya isak tangis ibu yang semakin terdengar nyata di rungu ku.
Bersambung...
***
Hai gaez...
Haruskah Bramantio dan Atitah bercerai?
Terus bagaimana nasib Alisha dan Elisya?
Stigma macam apa yang menjebak mereka?