bc

Menikah Demi Balas Dendam

book_age18+
0
IKUTI
1K
BACA
revenge
forbidden
love-triangle
family
HE
age gap
opposites attract
second chance
friends to lovers
arranged marriage
badboy
kickass heroine
single mother
heir/heiress
blue collar
drama
tragedy
sweet
bxg
lighthearted
serious
kicking
bold
brilliant
witty
city
office/work place
cheating
enimies to lovers
lies
affair
polygamy
civilian
like
intro-logo
Uraian

Berawal dari niat Airin untuk membalaskan dendamnya pada pembunuh orang tuanya. Ia sendiri malah terjebak dalam pernikahan yang tak diinginkan. Airin menikah dengan seorang pembunuh dan tanpa ia tahu bahwa seseorang yang ia tuduh pembunuh memiliki saudara kembar.

 

   Wajah mereka sangat mirip sehingga membuat Airin bimbang. Akan siapa diantara mereka yang menjadi pembunuh orang tuanya yang asli.

 

   Selama Airin mencari tahu kebenarannya, dirinya lambat laun merasa nyaman dengan pernikahannya. Tapi ia sadar bahwa bisa saja suaminya lah yang menjadi pembunuh tersebut. Airin tidak mau mencintai seorang pembunuh.

 

                 Akankah Airin bisa menahan rasa cintanya pada Baskara?

chap-preview
Pratinjau gratis
Bab1Airin Mau Menikah
Bab 1 AIRIN MAU MENIKAH "HAH??? Menikah?" Paman Adhi dan Bibi Atiqah serentak kaget saat keponakan perempuannya yang bernama Airin mengatakan akan menikah secepatnya. "Kamu selama ini pacaran sama siapa? Kata Faris kamu jomblo dari lahir," kata Paman Adhi sembari menoleh pada putranya. Faris hanya menahan senyum dan mengalihkan pandangannya. Sedangkan Airin merasa geram dengan Faris yang mulutnya suka bocor. "Iya, Airin. Bibi belum mengenal pacar kamu, kok tiba-tiba sudah mau menikah. Seperti apa calon suami kamu itu? Kenapa gak tunangan dulu?" Bibi Atiqah dengan wajah yang khawatir merasa tak terima dengan keputusan keponakannya tersebut. Bagaimana pun Airin sudah ia anggap sebagai putrinya. Karna sejak kematian orang tuanya, mereka lah yang mengurus Airin dan adiknya. "Dia pria yang baik kok, Paman, Bibi. Kalian gak usah khawatir. Hm, dia adalah seseorang yang terkenal. Kalian pasti pernah melihatnya di televisi," jawab Airin sembari tersenyum. Berbeda dengan Faris yang berekspresi seolah mau muntah. Sebagai salah satu orang yang paling dekat dengan Airin, Faris pun tidak tahu kapan mereka bertemu dan kenal. Airin sangat tertutup dalam hubungan percintaannya. "Faris, kamu sudah pernah liat calon suaminya Airin?" tanya Bibi Atiqah pada putranya. Si Faris hanya menghendikan bahunya. "Eh, kamu sudah liat dong! Waktu itu aku tunjukkin fotonya," sela Airin. "Ya elah. Cuma foto, belum ketemu langsung," sanggahnya. "Airin ... Pikir-pikir lagi deh. Bibi rasanya belum siap kehilangan kamu." "Benar, Bi. Mungkin Bibi nanti akan kehilangan aku. Jika rencana aku ketahuan, mungkin aku akan menghabiskan sisa hidupku di jeruji besi. Atau bahkan bisa dihukum mati. Gak apa-apa, yang penting dendam aku terbalaskan, Bi. Airin tidak terima dengan kematian Ayah dan Ibu yang mengenaskan. Pembunuh layak mendapatkan balasan yang setimpal." "Paman, Bibi. Airin sudah dewasa. Ini sudah keputusan Airin sendiri." "Halah, bilang aja sudah tua," ejek Faris dan berhasil mendapat pukulan dari Airin. Ia menatap Faris dengan tajam dan memperingatinya. Helaan nafas terdengar dari Paman Adhi, beliau akhirnya merestui pernikahan Airin dan calon suaminya bernama Baskara. *** Jam menunjukkan pukul dua belas malam. Seorang wanita tersenyum penuh makna sembari menatap cermin besar di hadapannya. Ia terpaku melihat wajah dirinya yang sendiri yang tampak sempurna menurutnya. Diusianya yang menginjak dua puluh lima tahun, ia memutuskan untuk menikah dengan seorang pria yang sudah lama ia incar. "Beberapa jam lagi aku akan menjadi bagian dari keluarga mereka." TES! Air matanya jatuh tanpa disengaja, ia segera menyekanya. Napasnya naik turun sesaat peristiwa mengerikan itu kembali terlintas diingatkannya. "Airin, sebentar lagi." Ia berusaha menetralkan detak jantungnya yang menggebu seakan tak sabar melakukan sesuatu yang sudah lama ia inginkan. *** Hari pernikahan menjadi hari paling menegangkan yang pengantin alami. Tapi berbeda dengan Airin, ia seakan menikmati. Bahkan ia bangun kesiangan dari jadwal yang sudah ditetapkan. Tim make up, gaun dan juga lainnya sangat kewalahan dengan client satu ini. Airin tampak begitu santai dan bahkan memakan cemilan disaat dirinya sedang di make up. "Mbak Airin, bisa ngemilnya nanti dulu gak?" tanya seseorang dari bagian tim make up dengan sopan. "Ah, baiklah. Maaf. Saya sepertinya sangat merepotkan kalian semua. Maafkan saya." Begitu jawabnya barusan, ia segera meletakkan cemilannya dan berusaha tak bergerak sama sekali. Para tim tampak menahan tawa. "Tidak seperti patung juga, Mbak. Santai saja. Anda bisa bergerak selama tidak berlebihan. Nanti kalau Anda terlalu bersemangat bergerak, tanganku ini mungkin akan merusak make up, Anda," ujarnya memberitahu. Wanita berusia 25 tahun itu tak peduli jika make up di wajahnya tidak sempurna. Ia tak peduli karna pernikahan ini adalah hal menjijikkan baginya. "Tidak perlu terlalu sempurna. Ini hanya acara pernikahan bukan pemakaman," ujar Airin mendadak membuat suasana menjadi hening. Seluruh tim yang bekerja langsung melongo kaget mendengar penuturannya. "Hahahaha ..." Mereka serentak tertawa setelah keheningan tercipta. Perkataan Airin, mereka anggap seperti lelucon. "Mungkin maksud Mbak Airin, make up atau pun gak make up tidak akan menutupi kecantikannya," bela salah satu tim. Mereka pun tertawa kembali tapi Airin hanya menggelengkan kepala. Gaun putih dengan ekor panjang adalah pakaian terindah dari seorang pengantin. Mata indah, bulu mata lentik, hidung mancung dan bibir tebal juga membuat wajahnya terlihat seperti bidadari. "Sebelum upacara pernikahan, apa saya boleh melihat calon suami saya?" Pertanyaan Airin membuat seluruh tim menahan tawa. "Ah, ya tentu boleh, Mbak." Dua orang mengantarkan Airin menuju ruangan calon suaminya berada. Tak jauh dari ruangan yang ia tempati tadi. "Jangan lama-lama ya, Mbak." "Loh kenapa?" tanya Airin. "Nanti takut kebablasan," jawab mereka serentak membuat Airin mengernyitkan dahi. Terlihat calon suaminya sedang duduk sembari memainkan ponselnya. Perlahan pria itu menoleh ke belakang. "Aduh, Sayang. Kamu tampan sekali hari ini. Sepertinya aku adalah wanita paling beruntung di muka bumi ini. Bagaimana tidak beruntung, kamu itu seperti pria yang sempurna," ujarnya melebih-lebihkan. Baskara hanya menatap aneh perempuan yang memakai gaun tersebut. Memang cantik, tapi ia tak tertarik. Mungkin lebih tepatnya belum. "Apa aku boleh menciummu sekarang?" Airin tiba-tiba mendekatkan wajahnya tapi Baskara langsung berdiri dan pria itu malah lari dan masuk ke dalam kamar mandi. "Sial! Kenapa Mama sama Papa jodohin aku sama wanita gila seperti itu." Di dalam kamar mandi, Baskara mendadak geli sendiri. Ia tak habis pikir bahwa wanita pilihan orang tuanya seperti itu. "Selesai ..." Airin keluar dari ruangan dengan senyum bahagianya. "Tisu basah dong," pintanya. Ia pun membersihkan tangannya yang serasa kotor. "Hm, bersih," ujarnya setelah selesai. Para tamu undangan terlihat sudah memenuhi ruangan. Begitu banyak pasang mata yang akan menyaksikan sahnya pernikahan mereka berdua. "Akhirnya aku bisa mengantarkan salah satu putraku untuk menikah sebelum aku mati," ujar Baskara membuat istrinya menoleh terkejut. "Jangan bicara sembarangan," ucap Harshita. Ia lekas menautkan jari jemarinya dengan sang suami. "Aku telah menunggu lama. Hingga usianya genap 35 tahun. Itu bukan usia yang muda," lanjutnya lagi dan Harshita hanya menganggukkan kepala. Upacara pernikahan yang begitu khidmad berjalan sebagaimana mestinya. Tapi, hanya Airin yang menyadari akan ekspresi Baskara yang sangat menggelitik perutnya. "Kenapa, Sayang? Kok wajah kamu mendadak pucat dan keluar keringat banyak. Kamu sakit?" Airin memasang wajah iba, tapi sebenarnya ia tahu. "Diam!" Baskara tak bisa menahannya lagi, ia langsung lari terbirit-b***t meninggalkan Airin berdiri sendirian setelah upacara selesai. Airin tertawa terbahak-bahak di dalam hati. "Reaksi obatnya sangat cepat ya," lirihnya dengan senyum khasnya. "Sial!!! Kenapa mules banget. Ahhhhhh." Baskara akhirnya bisa bernapas lega saat sesuatu yang ditahan akhirnya bisa keluar juga.

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
201.2K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
193.0K
bc

Kali kedua

read
221.1K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
235.8K
bc

Istri Lemah, Pengacara Kejam

read
1K
bc

Terpaksa Menjadi Istri Kedua Bosku

read
22.0K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
33.1K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook