Seorang wanita cantik turun dari atas tandu tersebut. Ia tersenyum manis dan melihtak ke sekelilingnya. Wanita tersebut menggunakan hanfu berwarna kuning yang di padu dengan warna oranye, hitam, dan putih.
Semuanya tersenyum kaku mereka sama sekali tidak menyangka akan ada selir baru di istana ini. Kaisar Zhang melangkah bersama wanita tersebut menghampiri anggota keluarga kerajaan yang masih syok.
"Selamat datang kembali yang mulia. Saya senang anda kembali membwa kemenangan untuk kerajaan kita dan..." Jianheeng memberi sambutan kemudian ia melihat ke arah wanita di sebelah kaisar.
Seakan mengerti tatapan Jianheeng kaisar membuka suara. "Ini adalah Jia Li. "
"Perkenalkan saya permaisuri Jianheeng, senang bisa bertemu dengan anda selir Jia Li. " ia memasang senyuman terbaik miliknya.
"Saya juga senang bertemu dengan anda permaisuri. "
"Baik Jia Li, kau akan mengelilingi harem istana bersama dengan permaisuri Jianheeng dan selir Fengying. " mendengar namanya di panggil kaisar Fengying cepet-cepet maju.
"Saya selir Agung Fengying, senang bertemu dengan anda selir Jia Li. " Fengying menatap Jia Li dengan tatapan menilai.
"Senang bertemu dengan anda selir Fengying. "
Ibu suri maju dan memberi sambutan kepada Jia Li selanjutnya di susul Chang dan Genji.
"Kalau begitu sebaiknya kita berkeliling istana selir. " Jianheeng mencoba bersikap ramah.
"Kami permisi yang mulia, ibu suri. " mereka bertiga membungkuk lalu pergi dan di ikuti oleh para dayang pribadi mereka.
"Zhang ibunda ingin bicara dengamu sekarang! Kau sudah membuat kami kaget dengan kedatangan selir baru di istana ini! " ibu suri berbalik pergi dan berjalan ke kediaman miliknya.
*****
"Itu adalah istana bulan kediaman milikku. Dan itu adalah bagian belakangnya." Jianheeng menunjuk istana bulan.
Jia Li mengangguk mengerti, mereka melanjutkan perjalanan mereka ke istana milik Fengying. Semua istana selir berbentuk dan berukuran sama hanya berbeda warna.
"Ah, itu adalah kediamanku selir Jia Li. " Fengying sebenarnya sangat bosan harus menemani istri baru kaisar.
"Sebaiknya kita lanjutkan ke kediaman yang akan di tempati selir Jia Li. " Jianheeng berjalan lebih dulu. Tanggung jawab Harem adalah tugas Jianheeng, jika ada selir kaisar yang baru ia wajib membawa selir tersebut mengelilingi harem karena kaisar yang memerintahkan. Atau jika ada masalah ia harus bisa menyelesaikan masalah tersebut.
Kediaman Jia Li dekat dengan kediaman Fengying, sedangkan jarak istana bulan cukup jauh dari kediaman para selir.
"Ini akan menjadi tempat tinggal untukmu selir Jia Li. Semuanya sudah siap, anda bisa memerintahkan para kasim atau dayang untuk membawa barang bawaan anda. " Jianheeng diam di depan bangunan berwarna Putih.
"Jika anda ada masalah atau apa pun bisa menemui saya di istana bulan. Untuk para dayang pribadi anda bisa mengikuti dayang Mei, ia adalah kepala dayang dan dayang pribadi saya. Dayang Mei akan menunjukan kediaman para dayang. " Jianheeng memberi isyarat pada dayang Mei.
"Terimakasih permaisuri sudah mengajak saya berkeliling dan terimakasih juga kepda selir Fengying." Jia Li membungkuk hormat.
"Itu sama sekali tidak masalah, anda juga bisa berkunjung ke kediaman kami. " Fengying tersenyum kecil, ia sama sekali tidak senang atau bahagia.
"Nanti malam akan di adakan perayaan musim panas sekaligus memperkenalkan anda kepada para warga sebagai selir baru di istana. " Jianheeng masih mempertahankan senyum manisnya.
"Sekali lagi trimakasih, saya permisi masuk permaisuri, selir." Jia Li membungkuk kembali lalu masuk ke dalam kediamannya.
"Kalau begitu saya juga permisi permaisuri, ada hal yang harus saya urus. " Fengying membungkuk lalu berbalik.
Jianheeng pun melakukan hal yang sama, ia berbalik ingin pergi ke istana bulan dan berdiam diri di gazebo belakang istana bulan. Mengelilingi harem istana dari pagi sampai sore sangat melelahkan.
Sampai di istana buln Jianheeng berbalik menatap para dayang miliknya. "Aku ingin teh hijau, kalian bisa mengantarkannya ke gazebo di belakang. "
Sangat tenang dan tidak ada siapapun di sini. Mungkin nanti malam ia tidak akan datang ke perayaan musim panas. Sekarang ia hanya ingin sendirian dan tidak ingin di gangu oleh siapa pun.
"Dayang Mei. "
"Saya permaisuri. " dayang Mei meletakan menja kecil berisi cangkir dan teko.
"Jangan biarkan siapapun masuk ke sini termasuk kaisar. Aku sudang tidak ingin di ganggu terlebih dahulu. " dayang Mei mengangguk lalu pergi ke luar.
*****
Perayaan musim panas sudah di mulai. Seluruh warga datang ke istana untuk merayakannya. Harem istana sudah di hias oleh lilin dan lampion.
Makanan sudah tersaji di sebuah meja panjang. Para dayang dan kasim sibuk mengurus segala hal. Penjagaan di istana di perketat dan para warga yang datang di periksa oleh pengawal agar tidak ada yang membawa senjata.
Ibu suri terlihat sangat berwibawa dengan hanfu kebesaran miliknya. Ia berjalan dengan dagu sedikit terangkat menunjukan kebangsawanannya. Para warga yang melihat ibu suri membungkuk hormat.
Ibu suri duduk di salah satu kursi yang tidak jauh dari singasana kaisar. Ia menatap pesta tersebut dalam diam.Setelah itu giliran Fengying yang datang. Ia memasang senyum manis terbaik miliknya kepada warga. Ia memakai hanfu berwarna biru serta putih.
Chang dan Genji datang. Chang memasang wajah datar, tidak ada senyum yang menghiasi wajah tampannya. Moodnya sedang buruk hari ini.
Mereka menunggu Jianheeng serta kaisar dan Jia Li. Setelah beberapa menit kaisar dan Jia Li datang.
"Selamat malam semua. " seluruh aktivitas di sana berhenti, mereka menatap kaisar Zhang yang sedang berdiri.
"Aku akan memperkenalkan selir baruku kepada kalian. " Jia Li berdiri di samping kaisar.
"Ia adalah selir Jia Li dari kerajaan Asho. Aku harap kalian semua menerima selir Jia Li di kerajaan ini. " setelah itu hening beberapa saat lalu para warga membungkuk hormat.
"Salam kami semua selir Jia Li. Senang bertemu dengan anda. " ucap mereka serempak.
"Silahkan menikmati perayaan musim panas dan penyambutan selir Jia Li. " para warga bersorak.
Mereka terlihat bahagia, musik yang mengiringi tambah menambah kemeriahan perayaan tersebut. Sebagian warga ada yang menari, makan, mengobrol dan melakukan hal-hal yang lain.
Kaisar Zhang celingak-celinguk mencari Jianheeng, sedari tadi ia tidak melihat istri pertamanya. "Ibunda, apa ibunda melihat permaisuri? "
Ibu suri mendongak menatap putranya. "Ibu tidak tahu, terakhir ibu lihat adalah tadi pagi. Memangnya kenapa? Biasanya kau tidak mencarinya. " kata terakhir ibu suri tersebut terdengar sinis.
Kaisar tidak menjawab, ia berbalik dan pergi ke istana bulan. Chang yang melihat ayahnya pergi bangkit dari duduknya.
"Nenek, Chang akan istirahat, kepala Chang sedikit pusing. "
"Apa kau sakit Chang? " Fengying berpura-pura perhatian.
"Aku baik-baik saja ibunda selir. Chang permisi nenek, ibunda selir. " sebenarnya ia tidak ingin ada di sini lebih lama lagi.
*****
Jianheeng duduk di pinggiran gazebo. Ia sedang menatap langit malam yang di penuhi bintang.
"Permaisuri. " hampir saja Jianheeng jatuh dari tempat yang ia duduki.
Jianheeng berbaliklah dan menemukan kaisar Zhang. "Yang mulia, kenapa anda bisa ada di sini? "
"Apa kau marah padaku karena tidak memberi tahumu jika Jia Li akan menjadi selir di sini? " kaisar duduk di sebelah Jianheeng.
"Saya tidak memiliki hak untuk marah yang mulia. Itu adalah hak anda jika anda ingin menjadikan Jia Li selir di sini. Sudah biasa jika kaisar memiliki istri lebih dari satu, saya hanya kecewa saja karena anda tidak memberi tahu lebih dahulu. " Jianheeng lebih memilih menatap lantai.
Jianheeng dan Fengying sangat berbeda, jika Jianheeng hanya akan diam jika ia kecewa atau marah. Kecuali jika ada sesuatu yang terjadi pada Chang, Jianheeng akan dengan balak-blakan memarahi siapa saja. Sedangka Fengying ia sangat blak-blakan bilang jika ia sedang marah. Memangnya apa yang ia harapkan?
"Maaf. " kalimat tersebut meluncur begitu saja dari mulut kaisar. "Maaf selama ini sudah mengabaikanmu permaisuri. Seharusnya aku bersikap adil kepada semua istriku. "
"Anda tidak perlu minta maaf yang mulia. " Jianheeng balas menatap netra sang kaisar.
"Kalau begitu, maukah kau membuatku belajar mencintaimu permaisuri? " kaisar mengelus-elus pipi Jianheeng.
"Tentu yang mulia. " entah siapa yang memulainya duluan kini bibir mereka bertemu. Kaisar mengangkat Jianheeng masuk ke dalam kamar dan membaringkannya di tempat tidur.
"Ayo kita buat bayi yang mengemaskan, permaisuri. " Jianheeng tidak tahu jika kaisar itu m***m.
Kaisar mulai mencium bibi Jianheeng lalu...
Brek...
Kaisar langsung merobek hanfu yang di kenakan Jianheeng.