Ini udah versi editnya yaaa....
Selamat membaca.
*****
Jenny hanya memberi mereka tatapan bingung.
Bukannya Lucas kerja juga ya? Betah banget malah di lantai lima, sampai nggak mau pulang.
Menghela napas, Vania yang duduk mengambil tempat sebelah mertuanya, berkata dengan prihatin,
"Yaah, mau bagaimana lagi, dari pada dia ikut campur tangan dan bangkrut kayak yang sudah-sudah. Mendingan begini, 'kan?"
Sekelompok orang dalam ruangan itu hanya diam, dan bibi yang sejak tadi tidak bersuara, mulai batuk-batuk kecil menarik perhatian.
"Tapi, Bik, Mbak Van. Menurutku masih bisa lah anak itu buang sial, itu kalau dia mau lho." Dengan cepat dia berpaling ke Jenny.
"Namamu Jenny, kan? Karena suamiku masih keponakan Nenek Lora, kamu panggil saja Onty Su Mi. Waktu kamu nikah kemarin, kita belum sempat kenalan."
Jenny memasang senyum dan mengangguk sopan, "Halo, Onty."
"Onty mu ini, dia punya kemampuan khusus." Vania memberitahu. "Semacam paranormal lah, dia bisa baca nasib orang."
Su mi segera mengibaskan tangan, menyangkal, "Ha yo yo, Mbak Van ini, bukan paranormal lah, aku 'kan gak buka praktik. Kemampuanku cuma khusus untuk keluarga."
Memonyongkan bibirnya, Jenny mengangguk-angguk paham.
"Ngomong-ngomong, aku sudah baca weton kedua pengantin baru."
"Terus?" Vania merespon dengan cepat.
"Weton anak ini, berlawanan dengan Lucas yang lahir saat--"
Tanpa ada yang melihat, nenek Lora menunjukkan ekspresi muram di wajahnya saat keponakannya kembali mengungkit tentang kelahiran Lucas.
Sebenarnya, beliau memiliki kasih sayang yang mendalam untuk Lucas, bahkan sebelum cucunya itu lahir.
Maklum saja, menantunya baru hamil tepat di tahun ke tujuh setelah pernikahan.
Saat mengumumkan kehamilan ini, seluruh keluarga sedang berkumpul dan makan malam untuk merayakan Tahun Baru Imlek.
Itu menjadi berkah paling istimewa untuk keluarga mereka di tahun baru saat itu.
Ketika bumi, bulan, dan matahari sejajar, bayangan bulan jatuh di bumi menutupi matahari, ibu Lucas mengalami kontraksi.
Itu lebih cepat satu minggu dari perkiraan dokter.
Saat seluruh sumber cahaya matahari ditutupi Bulan, di siang hari, daerah tempat tinggal mereka mengalami kegelapan total.
Di tengah-tengah ramainya orang-orang yang memukuli alat-alat dapur, diantara keluarga yang sibuk menyembunyikan kerabatnya yang sedang hamil di kolong tempat tidur, menutupinya dengan kain hitam supaya tidak terlihat buto ijo.
Saat itulah, bayi yang sudah lama ditunggu lahir ke dunia.
"Bisa dibilang, orang yang lahir pada waktu gerhana matahari, membawa kutukannya sendiri."
"Masa?" Mata Jenny acuh tak acuh, dan sepertinya, dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Su Mi.
Su mi menunjukkan ekspresi kecewa dengan tanggapan Jenny dan sedikit mengeluh, "gadis kecil, kamu nggak tau apa yang menunggumu di depan. Kematian."
Nenek Lora hanya mengambil napas berat.
Puluhan tahun yang lalu, sepupunya yang juga ibu Su Mi mengatakan hal yang sama. Lucas membawa kutukan yang membahayakan keluarga besarnya.
Waktu itu dia juga tidak percaya dan hanya menganggap itu hanya mitos dari orang tua jaman dulu. Begitu juga suami dan anaknya.
Dan kecelakaan-kecelakaan kecil yang terjadi sejak Lucas lahir hanya dianggap kebetulan dan kecelakaan akibat mereka kurang hati-hati saja.
Sampai ada beberapa kali kecelakaan mengerikan yang terjadi, barulah mereka berpikir ini semua bukan kebetulan.
"Kematian? Kok bisa?"
Mata Su mi berbinar ketika akhirnya Jenny menunjukkan sedikit ketertarikan.
Dia meremas senyum yang dengan cepat menghilang saat berkata dengan suara yang menakut-nakuti.
"Karena ... orang yang lahir saat gerhana matahari, punya aura yang sama dengan jin, setan, hantu, dedemit dan sebangsanya. Jadi nggak heran kalau para mahluk halus itu sangat menyukai suamimu, itu karena mereka satu frekuensi."
Pfffffhhh!!!
Tawa hampir saja lepas dari mulut Jenny. Untung bisa dia tahan.
lucu banget dia melihat tingkah laku mahluk halus di sini, tapi lebih lucu omongan onty Su mi sih.
Bagaimana ceritanya Lucas bisa disukai hantu? Lha wong hantu saja langsung lari kocar kacir waktu dia datang.
Memasang wajah penasaran, Jenny bertanya, "Onty paranormal tuh bisa liat mahluk halus dong?"
"Jangan aneh-aneh deh, Jen!" Zalorra protes.
Namun protesnya itu terabaikan oleh Su mi yang berkata,
"Dulu bisa, tapi Onty minta ditutup mata batinnya. Nggak kuat." Menyadari wajah kecewa Jenny, Su mi buru-buru melanjutkan, "biarpun udah nggak bisa, tapi onty bisa merasakan keberadaannya. Ruangan ini, penuh dengan aura negatif. Apalagi di sepanjang koridor dan pintu masuk kamar."
Zalorra mulai mepet-mepet Zicco, dan memeluk lengannya.
Dia paling takut sama yang namanya mahluk halus dan sebangsanya, eh kok malah dibahas.
Amit-amit deh kalau tiba-tiba itu hantu muncul.
Kalau Jenny jangan ditanya, dia malah semakin yakin Su mi lagi bohong.
Soalnya mahluk halus dalam ruangan ini, sudah lari terbirit-b***t sejak tadi.
Yang bikin melongo suster ngesot dong.
Ternyata dia bisa bangun lho, dan berlari dengan kecepatan penuh. Kalau begitu kenapa ngesot, ya?
"Oke Jenny, sekarang Onty mau ngasih yang sebenarnya, jangan kecewa, tapi kamu benar-benar nggak cocok dengan Lucas."
Begitu suara itu jatuh, tidak hanya Jenny tetapi bahkan dahi semua orang dalam kamar ini berkerut.
Mengangkat alisnya, Jenny-lah yang melihat sedikit penghinaan dari mulut peramal palsu ini dan tersenyum. Nggak heran banyak manusia yang terjerumus ajaran sesat, banyak dukun palsu yang punya sirkuit otak yang berbeda dengan orang normal.
"Onty 'kan bisa baca weton," Jenny menatap dengan senyum manis di wajahnya, "jadi menurut Onty, siapa yang paling cocok jadi istri Lucas? Orra?"
Mendengar itu, tubuh Zalorra mengejang ditempat. Bibirnya terkatup rapat saat dia menatap Jenny dengan pandangan benci.
"Bukan, bukan. Tentu saja bukan Orra, Onty sudah menemukan orang yang tepat."
Jenny menaikkan alisnya tidak percaya.
Sementara itu, yang lain melihat Su mi yang semringah dengan wajah yang dipenuhi tanda tanya.
"Kamu nggak bilang ini sebelumnya, Mi!" Nenek Lora mencondongkan tubuh saat bertanya, dan memakai tongkatnya sebagai tumpuan kedua tangannya.
Su mi menunjukkan ekspresi muram di wajahnya.
Semua tahu keluarga Widjaja masih berpikiran kuno. Dalam tradisi mereka, tidak akan ada pernikahan sebelum anak yang tertua menikah.
Sejak dia mendengar Zicco yang masa depannya cemerlang dikabarkan punya calon istri, tanpa diminta, Su mi langsung bergerak cepat dengan segera mencari calon untuk Lucas.
Pastinya gadis yang dia pilih tidak jauh dari anak kerabatnya. Status suaminya yang hanya keponakan jauh, tidak membawa manfaat apa-apa, selain rasa bangga dipandang tetangganya punya saudara orang kaya.
Lain cerita kalau dia bisa menikahkan keponakannya dengan Lucas. Perkara anak itu disebut sebagai pembawa sial, beri saja keponakannya itu jimat. Beres deh.
Jika itu berhasil, pasti keponakannya akan berterima kasih kepadanya 'kan? Berkat andilnya, gadis yang bukan siapa-siapa berhasil menikah dengan salah satu keturunan orang kaya di Indonesia.
Saat itulah Su mi dan keluarganya bisa mulai mengambil sedikit keuntungan yang cukup untuk menjamin mereka makan, minum, dan tidur dengan enak seumur hidup.
Ini benar-benar investasi yang bagus.
Namun, dia juga memahami bagaimana posisinya di mata keluarga Widjaja. Su mi tidak berani memperkenalkan keponakannya dengan jelas.
Dia hanya bisa membual tentang keponakannya yang cocok dengan weton Lucas dengan berbagai cara.
Siapa yang menduga kalau Lucas akan tiba-tiba menikah, yang benar-benar menghancurkan ilusi indahnya.
Semakin Su mi memikirkannya, semakin kesal dia. Dengan tenang, dia mengeluh kepada Lora.
"Aku udah sering ngomong lho, Bik, sebelumnya. Cuma Lora nggak pernah nanggepin serius. Meskipun keponakanku bukan anak siapa-siapa, tapi cuma dialah yang bisa menekan aura hitam Lucas."
"Iya, aku juga pernah denger dia ngomong gitu tiap ke rumah, Mi." Vania menimpali.
Su mi mendesah, memberi efek dramatis pada kata-katanya yang terakhir, "Yaah mau gimana lagi, Lucas udah menikah sekarang. Memang sudah jadi takdirnya, dia nggak akan bisa lepas dari nasib buruk."
*******