Ini udah di revisi yaaa..
***
"Hoahhmmm!!!"
Jenny menggunakan tangan untuk menutup mulutnya saat dia menguap lebar.
Lebaaaaar banget.
Saking lebarnya, satu butir telur bebek utuh pun bisa kali masuk ke sana.
"Hoaaahmmmm!!!"
Dia menguap sekali lagi, tapi kali ini cuma pura-pura, sambil menepuk-nepuk mulut, matanya lirak-lirik ke Zalorra menunggu kapan dia berdiri, pamit, lalu pergi dari sana.
Zalorra-- yang duduk dipinggir tempat tidur- tidak memahami kondisi saat ini, dia sudah berhenti ngomong sejak tadi, dan sekarang asyik dengan ponsel di tangannya.
"Ayo Jen, kita ambil foto," dengan tiba-tiba dia melompat ke sebelah Jenny, merangkul bahunya, tanpa persiapan sebelumnya dia langsung berteriak.
"Terooong!!!"
Cekrek!
Zalorra melihat hasilnya, dan ekspresinya jadi bete seketika.
Kok bisa sih, penampakan Jenny yang wajahnya polos tanpa make up, rambut acak-acakan, kelihatan jauh lebih bagus di kamera dari pada dirinya yang sudah menerapkan riasan cantik alami.
Mengacak-acak rambutnya, dia kembali berpose.
Lagi?
Jenny memasang wajah tak habis pikir melihat ada perempuan yang nggak cukup sekali mengambil foto dirinya sendiri.
Mana ekspresi mukanya jarang ada yang normal.
Kalau nggak monyong, cemberut, mulut ternganga sok-sok an kaget.
Belum lagi rambutnya, sudah rapi, diacak-acak, terus dirapiin lagi, eh kok ya habis itu, diacak-acak lagi. Entah apa maunnya.
Begitu terus berkali-kali. Baru deh ambil foto.
Biarpun heran, dia tetap melihat Zalorra dengan serius, mempelajari secara diam-diam gerak-gerik atau hal-hal kecil yang selama ini dilakukan oleh mahluk ciptaan Tuhan yang paling sempurna.
Astaga!
"Pocong penglaris peliharaan pemilik rumah makan yang suka jilatin makanan, pasti insecure melihat ini," gumamnya sambil dengan sembunyi-sembunyi mengecek pertumbuhan tanduknya, saat melihat Zalorra yang sekarang berpose melet-melet dengan dua jari di pipi.
Melihat hasil jepretannya, Zalorra belum puas dan kembali membandingkan dirinya dengan Jenny.
Lumayan, tapi belum yang wow benar.
Pada saat itu, dia baru menyadari scraf lebar yang dipakai dan dibentuk oleh Jenny sebagai bandana.
Hmmm ... pasti rambutnya lagi lepek dan yakin deh, pasti jelek banget kalau di foto.
Berpikir begitu, tangannya terjulur untuk menarik ikatan scraf, tetapi, tangannya keburu di cekal oleh Jenny.
"Jangan macem-macem ya!"
Zalorra sangat terkejut hingga dia lupa bernapas, entah kenapa mata Jenny yang melotot membuatnya agak takut dan ... merinding, "so-sorry... ini, a--aku, aku cuma mau benerin rambutmu."
"Nggak usah. Aku bisa sendiri, mendingan kamu pulang deh!"
"Orra?"
Mengembuskan napas lega, Zalorra dengan cepat berbalik dan menemukan Zicco yang baru masuk, dia memegangi lengan nenek tua Widjaja, ibu, dan bibinya yang menutup pintu, mengikuti di belakangnya.
"Zicco!" Zalorra dengan cepat mengulurkan tangan untuk mengambil alih tangan nenek, "Nenek, tante. Kalian ke sini juga?"
Nyonya tua Widjaja mengangguk, "Ku dengar istri anak itu sudah bangun dari koma, dan aku mau melihatnya."
"Orra," Jenny memanggil Zalora yang sekarang lebih perhatian kepada tamu yang baru datang, "siapa mereka?"
Ada keheningan dalam ruangan.
Zalorra melihat kepada keluarga Widjaja yang memiliki ekspresi masam, sedikit rasa malu melintas melewati bibir merahnya saat dia berkata.
"Maaf kalau Jenny nggak sopan, tolong jangan dimasukin ke dalam hati, kecelakaan kemarin itu mengakibatkannya amnesia."
Lalu dengan cepat berpaling kepada Jenny dengan mata yang mengandung peringatan.
"Jen, yang sopan dong, beliau-beliau ini keluarga inti dari pihak suamimu."
"Keluarga?"
"Amnesia?"
"Amnesia?"
Tiga pertanyaan yang keluar dari masing-masing mulut yang berbeda keluar secara bersamaan.
"Ini Nenek Lora, yang paling dituakan di keluarga besar Widjaja, kasih salam."
Jenny memasang senyum saat berkata, "Maaf, aku nggak tahu."
Dengan wajah tanpa dosa, dua dari empat orang yang baru saja datang menjenguknya, dan mencari tahu darimana ketampanan suaminya berasal.
Dia menemukan kemiripan pada lekukan bibir yang tipis, hidung yang tidak terlalu mancung, dan garis wajah yang halus antara Zicco dan wanita yang dia panggil ibu.
Tetapi dia tidak menemukan bayangan yang sama antara kedua orang itu dan Lucas.
Ahh, mungkin yang ini cakep dari gen ibu, yang satunya lagi dari gen pihak bapak.
Sama-sama cakep sih, tapi dengan vibes yang berbeda.
Keduanya seperti dua kutub yang saling berlawananan. Yang satu dingin macam AC sentral, satunya lagi hangat seperti matahari pagi.
Pria yang menjadi suaminya suram seperti kuburan tua, sedangkan mantan calon suaminya cerah seperti kuburan cina.
Dengan calon suami yang seperti itu, pantaslah Zalorra tega mendorong Jenny yang asli ke jurang.
Dengan kulit putih, wajah lembut, tubuh ramping yang didukung gaya berbusana dengan warna-warna cerah, Zicco memiliki ketampanan feminim yang menjadi favorit para gadis.
Apalagi kalau dia tersenyum, maniiiiissss banget kayak kembang gula, oleng-oleng deh jantung.
Seandainya dia bisa merayu Zicco untuk tetap hidup, pasti lebih mudah.
Jenny yang tidak mendengar apa yang sedang dikatakan oleh nyonya tua yang dipanggil nenek oleh Zicco dan Zalorra, tanpa sadar mendesah, dan itu terdengar seperti keluhan di telinga tetua.
Dan segera mendapat tanggapan dari Zalorra, "itu aku, harusnya aku yang mendapat nasib buruk yang dialami oleh Jenny, tapi secara tiba-tiba dua keluarga mengganti mempelai. Aku, aku jadi merasa bersalah."
Jenny tidak paham apa yang sedang mereka bahas dan hanya melihat Zalorra dengan tatapan kosong.
Ketika dia berbicara, tubuh Zalorra bergetar, seolah-olah dia melakukan tindakan yang mengerikan.
"Orra, Nggak usah merasa bersalah. Ini tuh udah takdir, oke. Kamu dan kakakku emang nggak berjodoh. Tuhan sudah menentukan, Jenny lah yang cocok sama dia."
Zicco, yang berdiri di sisinya segera meraih bahu Zalorra, saat memeluk, tangan kirinya mengusap lengan langsing wanita muda yang tersedak air matanya sendiri, untuk memberinya kekuatan.
Bibir Jenny mengerut.
Zalorra ini, apa dia sedang berakting? Jelek banget!
"Sudah, sudah." Vania, ibu Zicco ikut bicara, "mengingat aura sial anak itu, sungguh keajaiban gadis ini masih hidup."
Baik nyonya tua maupun menantunya sama-sama enggan menyebut nama Lucas. Buat mereka, nama itu setara dengan nasib buruk yang sebisa mungkin harus dihindari.
"Sial, siapa yang Anda maksud punya aura sial itu?"
Wajah Jenny sangat jelek sehingga Vania ketakutan dan mundur beberapa langkah sampai dia bersandar di kabinet tidak bisa mundur.
Vania memandang wanita muda di depannya dengan perasaan tak percaya.
Gadis ini ... entah kenapa, tatapan matanya nampak ... sangat mengerikan.
"Lihat suamimu," nyonya tua melihat ada sedikit ketegangan di udara, dan dengan bijaksana menyeret Lucas masuk ke dalam topik pembicaraan, "dia lebih suka tidur seharian di rumah daripada menemani istrinya di rumah sakit."
"Kalau begitu jangan ganggu. Biarkan saja dia tidur, mungkin kecapekan setelah seharian kerja!" Jenny kembali membela Lucas.
Lucas? Dia kerja?
Zalorra mengangkat tangan ke mulutnya untuk menutupi senyum sarkastik.
Jenny ini, entah karena amnesia atau memang dasarnya dia bodoh?
Mana mungkin ada pengusaha yang mau menerima pria yang dikutuk sebagai pembawa sial sebagai karyawan?
Bisa-bisa bangkrut perusahaan.
Zicco mendukung neneknya ke sofa samping tempat tidur.
Wanita tua gemuk itu duduk menyandarkan punggungnya saat melihat cucu yang sekarang menjadi pilar utama yang menyangga keluarga Widjaja, sebelum mengalihkan pandangannya kepada Jenny dengan sedikit keluhan.
"Suamimu itu, untuk biaya hidupnya saja masih mengandalkan uang tunjangan dari Zicco, segala pakai asisten pribadi. Buang-buang duit aja!"
"Nek, Abang 'kan bayar gaji asistennya dari uang tunjangan, nggak minta lagi. Biar aja."
"Bukan masalah bayar gajinya," nenek Lora membantah perkataan Zicco, "masalahnya dia sudah menikah, mbok ya hemat untuk kejadian nggak terduga. Kayak sekarang, istrinya masuk rumah sakit. Masak iya mau terus-terusan ngandelin kamu."
*****
Bersambung.
**************