MG part 14 : Cara untuk bertahan hidup.

1339 Kata
Ini udah di revisi yaaa, part yang lainnya belum... Sabar, eike lagi kejaaaaaaarrrrre... ****** Masih bingung, Jenny membuka lembaran buku tersebut. Dan dia malah semakin bingung. "Kok cuma segini, sisanya mana?" Dia membuka lagi halaman demi halaman. Biarpun judulnya 101 cara, tapi yang ditulis dalam buku cuma sampai sepuluh. Mau dibaca dari kiri ke kanan, kanan ke kiri hasilnya tetap nggak berubah tetep sepuluh. "Cari sendiri, nanti tulis di sana!" Sahut Marid dengan wajah lurus. "Dih!" Jenny melempar buku ke sembarang tempat, "buat apaan?" "Biar kamu tetap hidup." Jenny berkedip. Tetap hidup? Detik berikutnya, Marid kembali berkata, "tubuh yang kamu tempati ini sebenarnya sudah mati. Setelah 40 hari, roh Jenny yang asli meninggalkan dunia, tubuh ini perlahan jadi busuk, dan kamu juga ikut mati kalau nggak bisa mengambil alih tubuh ini sepenuhnya." "Bukannya ini aku udah ambil alih?" Marid menggelengkan kepalanya, "belum sepenuhnya, karena sifat jin mu masih ada." Jenny memikirkan dan mengatakan, "Jadi kalau tanduknya nggak muncul lagi, aku bisa terus pakai tubuh ini, begitu?" "Itu dua hal yang berbeda tapi saling berhubungan." "Hah?" Mulut Jenny membentuk huruf Marid mulai mengantuk saat ini. Dia menguap lebar sebelum berkata, "Untuk menghilangkan tanduk atau sifat jin lainnya, kamu hanya perlu menyatukan pasangan benang merah nasibmu. Sampai sini paham?" Jenny mengangguk. "Sedangkan untuk mengambil tubuh ini dan sepenuhnya menjadi manusia, kamu harus ..." Ini yang paling dibenci Jenny dari Marid, suka banget menjeda omongan, nggak tahu apa orang udah kepo berat! "Harus apa? Cepetan!" Setelah beberapa saat, akhirnya keponakan jauh dari raja jin itu berkata dengan misterius, "mendapatkan setetes air kehidupan dari pria, terutama yang mau mengorbankan hal yang paling berharga buatmu." "Air kehidupan? Apaan tuh?" Marid mendekatkan mulutnya dan berbisik di telinga Jenny. Hawa panas menjalari wajah wanita muda itu. Pelan-pelan, rona merah menjalar mulai dari telinga sampai ke wajahnya. "m***m! Nggak ada yang lain apa? Cari gih!" Mengangkat kedua bahunya Marid berkata, "cuma itu yang paling cepat!" 'Kata siapa?" Tanya Jenny, rasanya mau dia tenggelamkan jin yang buat syarat konyol itu. Namun, ketika Marid menjawab, "Pamanku yang ngomong." Jenny langsung terdiam. Mana sanggup dia menenggelamkan raja jin yang sudah hidup ribuan tahun. Marid tidak bergerak, dan melihat Jenny dengan tenang. Setelah cukup lama, dia kembali bersuara. "Senggaknya ada Lucas, biarpun benang nasib kalian sudah terputus, kamu masih bisa manfaatin dia." Mencibir bibirnya, Jenny cemberut, duduk bersila, dan bertanya dengan suara tumpul, "nggak mungkin 'kan manfaatin dia terus-terusan. Terus kira-kira, siapa yang mau ngorbanin hal yang paling berharga?" Pasangan benang nasibnya atau orang lain? Pertanyaannya tidak terjawab, karena Marid segera menghilang setelah berkata, "tinggal 38 hari waktu yang tersisa, pakai dengan benar." Arghh, sialan! Pakai kabur segala dia! Jenny menutupi wajahnya. Entah bagaimana caranya, dia harus tetap hidup! Seharian menghabiskan waktu untuk berpikir terlalu keras. Sore menjelang malam, dia merasakan bagian atas kepalanya mulai gatal dan sakit. Jenny mulai merasa sedikit panik. Tepat ketika dia selesai melilitkan scraf di kepalanya, dia mendengar langkay kaki mendesak dan mendekatinya dari jauh. "Jenny, Lucas nelepon papa, dia bilang supaya kami jemput kamu dari rumah sakit dan bawa pulang ke rumah. Kenapa? Apa yang terjadi?" Suara yang marah itu datang sebelum dia melihat orangnya. Jenny menoleh dan melihat wanita muda yang datang menemuinya kemarin. Blouse cokelat muda yang ia kenakan jatuh di atas pinggang dipadukan dengan rok mini lipit warna putih. Rambut yang kemarin dia ikat tinggi, sekarang turun ke bahunya dengan bando mutiara imitasi. Penampilan wanita itu terperangkap dalam daya tarik yang rapuh namun lembut. Jenny merasakan kilasan memori perasaan kecewa dan marah dari Jenny yang asli saat dia melihat wanita muda itu, dan dia mengerutkan bibirnya. Ngapain dia datang ke sini lagi?  Zalorra melihat ekspresi Jenny. Pihak lain sepertinya tidak begitu menyambut kedatangannya. Dengan gerakan lemah lembut, dia duduk samping tempat tidur, lalu memegang tangannya dan bertindak seolah-olah dia tahu yang terbaik untuk Jenny dalam pikirannya. "Jen, biarpun kata orang nggak berguna. Aku pikir sebenarnya Lucas itu baik." Dia menarik napas sebelum kembali melanjutkan, "tapi kalau kamu bener-bener nggak suka sama dia, aku bisa ngomong ke papa supaya kamu bisa bercerai." Jenny hampir mengiris tangannya yang mengupas apel saat mendengar itu dikatakan. Kenapa sih perempuan ini? Datang-datang bukannya tanya kabar, malah bahas cerai. Memangnya siapa yang mau bercerai? "Cuma ...," lebih dari sedetik terdiam, Zalorra melanjutkan ucapannya dengan ekspresi wajah yang penuh penyesalan dalam hidup. "Oke, nggak akan cerai!" Jenny melambaikan tangan supaya Zalorra tidak lagi mengoceh. Bibir Zalorra bergetar, "Jen ... kamu serius? Jangan main-main lho, kamu tau sendiri 'kan usaha keluarga kita sekarang tergantung sama keluarga mereka yang menyuplai bahan baku?" Jenny hanya menggumamkan, "hmmm," dengan wajah lurus. Siapa yang peduli dengan usaha orang? Yang Jenny pedulikan sekarang hanyalah, dirinya. Bagaimana caranya supaya dia tetap hidup. Jangankan tetap menikahi Lucas yang cuma manusia. Menikahi Kim Shin, Goblin yang umurnya sudah ribuan tahun, atau siluman Gumiho yang ganas, dia juga nggak keberatan. Yang penting tetap hidup. Itu sih intinya. Zalorra, di sisi lain, dia terlihat sangat diberkati. Dia bahkan tidak perlu menggunakan kata-kata motivasi yang sudah dipersiapkan selama perjalanan ke rumah sakit. Dia pikir butuh upaya besar untuk menyuruh gadis ini menetap di sisi Lucas, bukannya minta cerai dan memperebutkan posisi Nyonya Muda Widjaja dengannya. Untunglah dia tertabrak mobil dan amnesia. Jadi agak mudah dikendalikan. Dengan sudut bibir terangkat tinggi, dia segera mengambil ponsel dari dalam tasnya dan menyerahkan ke Jenny. "Kalau gitu, kamu telepon Lucas ya, ngomong ke dia. Kamu nggak mau pulang ke rumah kami." Jenny telah menghabiskan potongan apel terakhir di piringnya dan menepuk-nepuk perutnya. "Nggak usah, nanti aku sendiri yang ngomong kalau dia ke sini." Pada saat ini, sambungan video pada layar Microsoft Surface di depan Lucas baru saja terputus dan menampilkan layar gelap. Ketika dia membuka masker yang menutupi sebagian wajahnya selama Zoom Meeting dengan beberapa founder dan juga co-founder perusahaan rintisan yang perlu suntikan modal, Hara yang sudah selesai membuat notulen rapat mengingatkan bahwa bosnya belum makan siang. Secara alami Lucas mengangkat tangan kanannya, melihat jarum berlian pendek dan panjang berdesakan di angka empat. Itu sudah sangat terlambat untuk makan siang, tetapi terlalu cepat untuk mulai makan malam. Supaya perutnya tidak benar-benar kosong, dia hanya meminta, "Bawakan secangkir Americano dan sandwich yang seperti biasa." Di ujung ruangan kantor besar itu ada pantry kecil, lengkap dengan meja makan kecil dan kursi tunggal, piring, gelas, sendok, dan alat sterilisasi yang disediakan oleh Hara, khusus untuk Lucas. Bisa jadi sakit jiwa kalau Lucas bersedia makan dengan orang lain. Saat Lucas kembali sibuk dengan dokumennya, Hara memasukkan tiga sendok biji kopi premium kedalam mesin setelah sebelumnya mencuci tangan. Setelah mendapatkan bubuk kopi yang masih segar dan exra halus untuk espresso, dia menuang sekitar 100ml air mineral yang sudah di rebus dengan suhu 96 derajat celcius. Hara mengambil cangkir keramik berwarna putih bersih dari tempat steril, lalu meletakkannya di bawah lubang kecil di bawah mesin. Sambil menunggu kopinya jadi, dia membuka kulkas berukuran kecil. Dengan ritme kerja Lucas yang gila-gilaan, dan klien mereka yang berada di belahan bumi lain, sering membuat tuan muda itu lupa makan. Seperti sekarang. Untuk berjaga-jaga kalau tiba-tiba bosnya butuh makanan untuk mengganjal perut, Hara selalu mengisi kulkas dengan makanan dari gerai kopi impor terkenal. Setiap hari selalu ada makanan yang masih baru dalam kulkas untuk bosnya. Hara mengambil Rustica chicken cranberry sandwich, sandwich ayam dengan campuran buah cranberyy dalam saus mayones, membuka bungkus plastiknya, kemudian dipanaskan kedalam microwave. Di dalam kulkas masih ada setangkup tuna cheese whole wheat panini, dua bungkus Raisin oatmeal scones, Bolognaise Cheese Sandwich, Sandwich dengan roti burger yang dikombinasikan dengan filling saus bolognaise, dan Tuna Balado Sandwich. Hara mengeluarkan itu semua dan menaruhnya dalam kantung plastik, biasanya nanti diambil Rahmat dan bagi-bagikan pada security yang jaga malam. Baru saja Lucas mengiris sandwich dengan pisau dan garpu, ponselnya diatas meja berbunyi, satu nama yang tidak asing melompat di layar. Alis tampan Lucas berkerut. Dia mendorong ponsel kepada Hara saat menyuruh, "bawa ke sana dan angkat. Bilang saja aku lagi tidur!" Melihat siapa yang menelepon, Hara langsung paham kenapa wajah bosnya tiba-tiba menjadi keruh. Dia merasa sedikit hati, lalu mengambil ponsel itu, menggeser tombol hijau ke bawah, "Ya, Nyonya." *********** Bersambung. ****** ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN