MG part 13 : 101 cara menggoda manusia

1541 Kata
Setelah episode 'dipindahnya isi restaurant ke kamar rawat inap oleh suami tsundere', Jenny mulai menerima kondisinya yang berubah jadi manusia. Nggak rugi ternyata dia hidup lagi sebagai istri tiran lokal. Bisa punya banyak makanan yang baru kali ini dia lihat dan dia rasakan secara nyata. Jenny dengan baik hati membagikan sebagian makanannya kepada perawat dan bibi yang suka bersih-bersih di rumah sakit. Itu setelah dia pilih yang kelihatan paling enak tentunya. Nggak apa-apa dong, yang penting 'kan iklash. Soalnya, sudah pluhan tahun hidup sebagai jin, dia cuma bisa meneteskan air liur saat melihat manusa makan. Syukur-syukur bisa ikut nyicip saripati dari makanan itu dengan menghirup aromanya, itu juga kalau manusia yang makan nggak baca do'a atau makan pakai tangan kiri. Kalau tidak, ya dia harus puas hanya dengan aroma kembang, asap kemenyan, tulang atau hewan yang dipotong tanpa lebih dulu membaca do'a. Jenny menahan seteguk air liur saat melihat gulungan nasi dengan topping alpukat dan salmon yang baru datang. Biarpun bernafsu menghabiskan itu semua, Jeuni nggak mau serakah. Tubuhnya sekarang adalah tubuh seorang manusia, tidak bisa seenaknya, kalau melar bagaimana? Apalagi bentuk tubuh ini lumayan bagus, langsing cenderung kurus sih memang, karena faktor kaki yang lurus panjang kali ya? Biarpun begitu, tubuh ini masih kelihatan seksi dengan sedikit lemak di tempat yang tepat. Pasti si pemilik tubuh yang asli rajin diet dan perawatan. 'Kan istri orang kaya. Eheehehe... Tawa kecil lolos dari bibirnya yang kecil. Pada saat dia mengigit sepotong roti keju yang lumer di mulut, pintu kamarnya terbuka. "Jennyyy..." Empat orang gadis seusianya merangsek masuk, mereka memeluknya dengan wajah-wajah penuh haru. Meskipun Jenny tidak tahu siapa sedikit orang itu, menilai dari penampilan mereka yang akrab, diperkirakan mereka harus menjadi teman baik pemilik tubuh yang lama. Dengan amnesia sebagai alasan, Jeuni dengan mudah menangani mereka. Pada saat yang sama, dia juga mengorek informasi tentang Jenny yang asli. Kayaknya Jenny ini bukan tipe orang yang terbuka deh atau mungkin, pertemanan mereka tidak begitu akrab. Soalnya, selain fakta bahwa dirinya adalah mahasiswi manajemen yang baru mau magang, tidak ada informasi yang benar-benar penting yang bisa dia korek lagi dari mereka. Dari mulut gadis-gadis yang terus mengunyah seperti hamster ini, Jeuni membuat kesimpulan, tidak atau belum ada satupun dari mereka yang tahu kalau Jenny sudah menikah. Tidak berhasil lewat teman-temannya, Jeuni mencari tahu lewat perawat. Terutama tentang keluarganya. "Nggak ada," sahut perawat kecil saat Jenny menanyakan siapa saja keluarga yang datang menjenguknya selama dia koma. "Masa, coba diingat-ingat lagi." "Beneran, selain suami kakak, sama cewek cantik kemarin, terus rombongan tadi, nggak ada lagi yang jenguk." Jenny memajukan mulutnya. Hei, bukannya Lucas juga punya keluarga ya? Kenapa tidak ada satupun dari mereka yang menjengungnya? Mereka tidak tahu ... atau Jenny adalah menantu perempuan yang dibenci? Jenny menggigit bibirnya. Tidak punya pilihan lain, selain memanggil Marid untuk mencari tahu lebih banyak tentang manusia yang menjadi tubuh barunya. Kalau bisa, sekalian sama pria yang menjadi pasangannya, biar nggak bolak-balik. Dia melihat keluar jendela, sinar matahari tidak begitu terik siang ini, tetapi tetap saja itu bisa menyedot sebagian besar energi mahluk halus dan membuat mereka lemas. Makanya, kecuali mereka yang kerja cari uang untuk manusia. Pada siang hari, mahluk halus jarang ada yang berkeliaran di luaran. Dari pada menghabiskan energi tidak jelas, mereka lebih suka berkumpul di tempat-tempat lembab dan tidak terkena sinar matahari. Selain lebih adem, mereka bisa menghemat energi untuk hidupnya selama sehari. Jenny menimbang-nimbang, haruskah memanggil Marid sekarang atau nanti malam? Dia tidak yakin sih Marid mau datang, tapi yo wes lah, usaha saja dulu, kalau hasilnya anda belum beruntung, ya sudah, coba lagi. Berpikir begitu, segera Jenny menggumamkan nama Marid sebanyak 69 kali. Baru juga selesai menghentakkan kakinya tiga kali ke lantai, tiba-tiba terdengar bunyi 'plop' pelan, dan Marid muncul dari udara kosong. "Jeuni, plis deh, jam berapa nih! Liat-liat waktu kek kalau mau manggil, udah siang juga." Marid muncul dengan bentukannya yang lain dari pada yang lain. Rambut hitam, bibir penuh dan tebal dan memiliki jembatan hidung tinggi. Dia memiliki mata monolid, kayak aktor-aktor drama itu lho. Untungnya manusia nggak bisa melihatnya, kalau bisa, pasti pada buat konten sambil nyanyi. ~terpesonaaa ... aku terpesonaaa~ Jenny saja sempat terpana. Begitu sadar, dia langsung tanya, "Muka siapa nih yang diambil? Cakep juga." Jawabnya, "Cakep ya? Susah nih nyamain yang model begini, produk luar negeri." "Hooo...muka-muka impor toh?" Pernah dengar 'kan manusia punya jin pendamping yang di sebut Qorin? Katanya sih kalau manusia meninggal, jin Qorin ini suka muncul sebagai penampakan manusia tersebut. Aslinya, nggak gampang lho buat jin untuk menyerupai manusia, dibutuhkan energi yang besar. Selain itu juga tergantung level atau golongannya. Kenapa yang sering muncul penampakannya kebanyakan yang jelek atau b***k? Ya karena, semakin jelek dan b***k manusia yang ditiru, semakin gampang. Jin golongan rendah dan buta huruf juga bisa. Abis contohnya banyak sih, bertebaran di jalan-jalan. Nggak percaya? Coba saja ambil kaca dan lihat sendiri. Langkah selanjutnya untuk jin, baca mantra perubahan sebaris secara 3 kali. Lalu, Tadaaaa!!! Berubah deh dan siap menakut-nakuti manusia, baik secara langsung atau lewat mimpi. Kalau yang cakep apalagi yang model kayak Marid begini, itu agak susah ilmunya. Karena harus menyebrangi lautan. Belum lagi harus mengurus ijin dan bayar royalti untuk mereplika wajah ke penguasa di sana. Prosesnya lama dan agak ribet, hanya jin kelas atas dan berpendidikan yang mampu. Jenny menatap lagi panampakan yang masih bersungut-sungut di depannya. Ganteng juga sih kalau dilihat baik-baik. Yakin deh, kalau dia muncul dalam mimpi gadis-gadis muda, dijamin mereka nggak bakal mau bangun biarpun diteriaki pakai toa masjid. Memang itu sih tujuannya, biar pada terlena dan melewati waktu subuh. Lumayan besar pointnya kalau berhasil. Iseng, Jenny membandingkannya dengan penampakan asli Lucas Dan menurutnya, penampilan Marid tidak sebaik penampilan Lucas yang hidup dan penuh vitalitas. Marid memiliki wajah yang putih dan pucat. Kebalikan dengan omelannya yang menggelegar, penampakannya terlihat sangat lesu dan tidak memiliki gairah hidup. "Karena kamu udah ada di sini. Ini permintaanku." Tanpa sedikitpun rasa malu, ucapan itu meluncur dari mulutnya. Saat berbicara, dia memberi garis tebal pada tiga kata 'yang paling penting, kalau bisa, dan secepatnya', ini wajib! Biar Marid tahu ini adalah misi penting. Namun di sisi Marid berbeda, bukannya mendengarkan, dia malah asyik membungkuk di depan makanan sisa atau baru yang terbuka atau tidak tertutup dengan benat, hidungnya yang berada tepat di depan makanan itu, bergerak-gerak. Persis hidung marmut. Jenny melihat asap tipis dari saripati makanan perlahan keluar, lalu Marid menghirupnya dengan rakus. Belum kenyang, Marid pindah posisi untuk menghirup isi piring yang lain. Bahkan, makanan yang baru mau dimakan oleh Jenny pun tidak luput dari sasaran. "HOOOYY!!!" Dengan kejam, telapak tangannya melayang ke kepala Marid, "Jangan diendus semua!!!" "Pelit banget!" Saat menggerutu cairan hidung berwarna kehijauan yang kental, menetes dan masuk ke dalam piring. Iyuhhhh!!!! "Rasanya jadi nggak enak tau, anyep!!!" Omel Jenny. Dia mengumpulkan semua makanan yang sudah habis saripatinya dan melemparnya ke tempat sampah. Makanan ini sudah nggak ada lagi nilai gizinya, buat apa dimakan? Yang ada dia malah sakit perut karena mengkonsumsi makanan sisa mahluk halus. Jenny menepuk-nepuk kedua telapak tangannya saat dia membersihkan sisa remahan. Saat pandangannya bertemu dengan mata Marid Dia segera bertanya, "Jadi gimana?" "Apanya?" Marid yang masih belum kenyang masih kesal. Padahal dia mau mengisi energinya, kalau siang ini energinya penuh, dia mau santai-santai di rumah malam ini. Capek 'kan tiap malam gentayangan terus. Ck! Jenny yang tidak peka dengan kekesalan Marid berdecak. "Itu lho, permintaan tadi!" "Permintaan?" Marid memicingkan matanya, "emangnya siapa yang ngasih kamu permintaan, kapan?" Eh? Ehehheh... Canggung, Jenny menggaruk kepalanya, "nggak ada sih, tapi kan SOP nya gitu kalau ditemuin manusia. Ku beri kamu 3 permintaan, sebelum di kasih, aku sebutin duluan. Salah ya?" Marid mengencangkan bibirnya dan matanya berkedip dengan enggan. Belum genap dua hari beralih, sudah nempel saja karakter nggak tahu malu dari manusia. Pada saat itu, seorang perawat masuk dengan membawa thermometer Selesai mengukur suhu tubuh Jenny, ketika dia menarik pandangannya ke tempat sampah, ekspresi wajahnya sakit saat melihat isinya. "Kok dibuang, Kak?" "Tadi jatuh." "Ya ampun sayang banget," kata perawat itu lagi, "padahal masih bisa dimakan 'kan." Jenny nyengir, siapa yang juga yang mau makan bekas ingusnya Marid? "Makanan dari restaurant ini mahal-mahal lho, sepotong ikan begini harganya sampai tiga ratus ribu." Pfff, setengah dari seteguk s**u keluar dari mulut Jenny. Tiga ratus ribu? Sekecil ini? "Serius? Gilaaa, mahalnya!!!" Melihat wajah tidak percaya Jenny, perawat itu mengeluarkan ponsel, dia mengetik sesuatu di layar dan menunjukkan kepada Jenny. Wow! Jadi dia memberi makan mahluk halus sepotong chinook salmon dari antartika? Luar biasa!!! "Coba cari yang lain." Perawat membuka layar yang hanya membuat Jenny lebih terkejut. Bahkan s**u yang dia minum harganya ratusan ribu. Roti puluhan ribu, belum lagi buah-buahan impor. Gila memang Lucas ... Orang dengan kepribadian bengkok seperti dia, ternyata bisa sangat boros. Jenny dengan cepat menyeka mulutnya sekelabat ide muncul dalam kepalanya saat melihat Marid yang juga terkejut. "Dengar nggak, Jen?" Jenny mengangkat matanya, menatap lurus ke arah Marid dan berkata, "Laah, nggak kebalik nih? Seharusnya aku yang ngomong begitu. Berapa banyak energi yang kamu dapetin dari makanan tadi, jangan nggak gratis lho, bayar aja pake informasi yang aku minta tadi." "Daripada itu, menurutku kamu lebih butuh ini." Plop! Satu buku dengan tulisan tangan yang rapi jatuh pangkuan Jenny. Tangan wanita itu merenggang untuk mengambil dan membaca judulnya. '101 cara menggoda manusia untuk menambah peluang hidup.' ****** Bersambung **** ****
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN