Kayaknya ini banyak plot hole deh, mumpung masih bab2 awal, mau eike benerin... rajin2 check yessss
******
Ketika langit yang gelap beranjak terang, berbarengan dengan mahluk halus yang baru pulang gentayangan, dua gadis perawat yang berisik itu keluar.
Jenny buru-buru bangun, membuka selimutnya lalu meniup poni yang menutupi dahinya dengan ekspresi lega.
Lama juga lho dia tutupan pakai selimut. Untunglah nggak mati engap.
Begitu duduk, hal pertama yang dilakukan Jenny adalah meraba kepalanya.
Dan dia pun tercengang
Eh, lho, lho!
Sambil menahan napas, jari-jarinya bergerak memeriksa lagi, dahi, pelipis, kepala belakang semua dia periksa.
Benar, lho. Tanduk yang semalam masih menghiasi kepalanya hilang.
Mata Jenny bersinar seperti bintang yang sedetik kemudian berubah jadi tanda tanya.
Tunggu, tunggu.
Kenapa ini bisa tiba-tiba hilang? Selain blazer yang mendarat di kepalanya, dia tidak menerima apa-apa dari Lucas.
Masa iya karena itu?
Tetapi tampang pria itu semalam, nggak ada tulus-tulusnya tuh.
Dalam benaknya, Jenny masih bisa melihat wajah Lucas yang kesal tapi tampan.
"Ck!" Lidahnya berdecak.
Bodo amat lah! Jangan dipikirin, nanti malah sakit lagi, yang penting tanduknya sudah lenyap.
Biarpun hatinya bilang sudahlah jangan dipikir, tetap saja dia mikir.
Haruskah dia lapor ke nyonya merah? Tapi apa gunanya melapor, paling dia cuma menyuruh Marid dan yang lainnya meneliti.
percuma, nggak solutif
Masalah ini hanya bisa ditangani dengan cepat oleh Allah, Tuhan, Budha atau Dewa.
Setelah berpikir sebentar, Jenny membuat suara, "Ah, pasti karena ini!" Dia menyadari sesuatu dan menjentikkan jarinya.
Semalam, dari balik selimut, dia memohon dengan serius kepada Allah, Tuhan, Budha dan Dewa.
Benar, pasti salah satu dari yang maha kuasa itu ada mendengar dan mengabulkan do'anya.
Jenny dengan cepat beranjak dari tempat tidurnya, berkat nyonya merah, kaki manusia yang patah ini tidak terasa sakit lagi saat dia bergerak.
Dia cepat-cepat berjalan ke pintu di ujung bangsal yang merupakan kamar mandi dan mencari cermin.
Hanya satu pandangan dan dia terkesiap.
Cantik!
Wujudnya sekarang benar-benar cantik.
Kulitnya bersih mulus, sosoknya ramping. Jenny menggerakkan wajahnya, mencoba tersenyum pada cermin, lalu mendesah.
Bahkan dengan gigi taringnya yang menyembul, wajah ini masih sangat cantik.
Sayangnya, wanita secantik ini ditakdirkan mati begitu cepat.
Pakaian yang dia pakai sudah tidak nyaman. Syukurlah ada tas yang berisi baju ganti.
Dia mengaduk-aduk isi tas sebelum akhirnya menemukan gaun santai yang lumayan, hanya saja ukurannya agak lebih kecil dari tubuhnya.
Wanita muda itu menyingkirkan gaun ditangannya, lalu mengaduk lagi.
Bukannya wanita muda ini menikah dengan orang kaya? Kenapa bajunya kayak baju obralan semua?
Jangan-jangan suaminya pelit, masa iya baju saja tidak kebeli.
"Aku jadi kasihan sama Jenny yang asli." Dia menggelengkan kepalanya.
Karena tidak menemukan yang lain, jadi dia pakai saja yang ada.
Selesai sikat gigi dan membersihkan diri, duduk lagi di kasur melihat ke luar jendela.
Enak juga bisa melihat matahari pagi.
Pada saat itu, pintu kamarnya terbuka. Dua perawat masuk, yang satu membawa nampan.
Perawat yang tangannya bebas memeriksa kondisinya.
"Ibu abis mandi?" Dia memeriksa gips yang melindungi mata kakinya.
Menggelangkan kepalanya, Jenny menyahut, "nggak kok, cuma ganti baju, gosok gigi sama cuci muka."
"Mandi nggak apa-apa, tapi jangan sampai basah ya lukanya."
Jenny mengangguk menjawab ucapan perawat. Matanya tidak lepas dari mangkuk diatas nampan yang berasap tipis.
Lidahnya pelan-pelan mengusap bibir. Hmmm, kayaknya itu enak.
Selesai pemeriksaan, perawat yang satu lagi meletakkan nampan di depannya.
"Ini buat aku?"
"Iya, ini untuk sarapan."
Jenny segera mengambil dan memindahkan ke pangkuannya. Makanan di rumah sakit kebanyakan tidak menarik, apalagi menggugah selera.
Pagi ini hanya bubur putih, telur rebus yang dibelah dua dan sedikit suiran ayam.
Namun, Jenny memakan semuanya dengan lahap dan cepat, tidak sampai lima menit, piringnya sudah bersih.
Sepertinya sudah lama sejak terakhir kali dia makan.
Jenny meminum teh hangat lalu meraba perutnya, rasanya masih ada yang kosong di sana.
Tanpa malu-malu, dia mencolek tangan perawat yang merapikan bekasnya makan.
"Mbak, mbak. Boleh nambah nggak sih, saya masih laper."
Kedua perawat itu saling bertukar pandang.
Di sisi lain.
Lucas fokus dengan layar ipad di tangannya. Tayangan yang muncul di layar adegannya sama persis dengan di bangsal.
Dengan sedikit pelicin, Hara mendapat akses langsung pemantauan di kamar Jenny, tanpa kendala.
Mengangkat wajahnya, dia berkata dengan singkat.
"Segera pesan makanan."
Hara yang duduk sebelah sopir menoleh dengan rupa heran. Tujuh tahun bekerja dengan Lucas, pria itu selalu menyuruhnya memesan secangkir espresso setiap pagi.
Baru kali ini, dia mendengar Lucas menyuruhnya membeli makanan.
Hara tidak tahu apa preferensi makanan Lucas pagi-pagi, tidak mungkin lontong sayur atau nasi uduk 'kan dan gorengan 'kan?
Supaya tidak salah, dia mencari menu dari cafe dan hotel yang khusus menyediakan sarapan dan brunch.
"Bagaimana dengan Mushroom & Avocado on Toast, dari Lucky cat coffee and kitchen?"
"Terserah."
" Truffle Aglio Olio Al Granchio, itu menu sarapan yang jadi favorit di Lewis & Carroll Tea."
"Hmmmm." Lucas menjawab malas.
"Spaghetti Cheese Burger dari cafe Toodz House juga enak," kata Hara lagi. "Waffle, croissant atau
Karena Lucas tidak menanggapi lagi, Hara kira dia tidak suka sarapan ala barat, jadi dia mencari lagi.
"Bos, kalau Bubur ayam Cikini, nasi goreng mandala, ketoprak ciragil, bagaimana? Atau sotomie Bogor Gondangdia, Soto ceker---"
"Aku bilang terserah!" Lucas dengan cepat menyela. Suaranya rendah dan kasar.
Wajah Hara aneh, Tuan muda harusnya dalam suasana hati yang buruk karena kurang tidur semalam, jadi dia harus berhati-hati.
"Oke, kalau gitu aku akan memesan--"
"Pesan semua biar nggak pusing! Langsung kirim semuanya ke rumah sakit."
Hara akhirnya berbalik. Dia menemukan suaranya lagi setelah beberapa saat, "Oke, aku pesan sekarang."
Bos, akhirnya kamu perhatian juga ke istrimu.
"Jangan lupa hubungi keluarganya untuk menjemput wanita itu." perintah Lucas lagi.
Hara tidakk jadi senang. Bos, ternyata kamu masih sama dinginnya dengan kulkas,
"Lupakan, biar aku saja yang ke sana!"
Mangku bekasnya makan belum sempat disingkirkan ketika pintu kamarnya terbuka. Perawat masuk membawa bungkusan.
"Abang ojeknya bilang, ini suamimu yang kirim."
"Benaran?" Jenny mengambil kantong berlogo restaurant dan mencium baunya, hmmm enak, pasti rasanya juga. "Terima kasih ya, Mbak."
Lima menit kemudian, perawat yang sama masuk lagi. Kali ini dari restaurant yang berbeda.
"Oke, thank's ya, Mbak."
Baru mau rebahan, pintu kamarnya kembali terbuka. Masih suster yang tapi membawa makanan yang berbeda.
"Dari suami saya lagi, Mbak?"
Perawat itu mengangguk dan Jenny tercengang.
Hei, ternyata perangai pria itu nggak terlalu jelek ah, dia masih perhatian ke istrinya.
Tidak lama kemudian, perawat yang sama bolak-balik ke kamarnya. Wanita itu menatapnya dengan pandangan iri.
"Suami kakak perhatian banget ya, kami kira dia cuek lho. Abis selama kakak koma, suaminya cuma datang sekali. Itupun, ketemu dokter sebentar, terus langsung pergi lagi."
"Memang begitu orangnya." Jenny menjawabnya sambil tertawa kecil. "Nyebelin."
"Cowok tsundere nyebelin, tapi ngegemesin juga."
Jenny mendongak dan ekspresinya bingung. "Tsundere? Apa tuh?"
"Itu lho, cowok yang diluaran galak, tapi sebenernya perhatian banget."
"Mana ada perhatian. Ada-ada aja."
Gerakan tangan perawat yang sedang menyusun makanan berhenti, dia berkata dengan wajah serius.
"Tapi beneran lho, temen saya cerita, semalem dia liat suami kakak berdiri depan pintu lamaaa banget. Katanya lagi ngeliatian ke dalam."
Mata Jenny melengkung membentuk bulan sabit yang cantik.
Waktu dia mau jatuh, Lucas juga menggunakan tangannya untuk menahannya 'kan?
Lucas diam-diam menaruh perhatian kepada istrinya ternyata.
Jenny mengerjapkan matanya yang jernih.
Pria itu melihatnya dengan tatapan jijik dan bersikap buruk kepadanya semalam, jadi sekarang dia mengiriminya makanan untuk menebusnya?
Dingin di luar tetapi hangat di dalam.
Lucu juga ternyata karakter tsundere ini.
Mulut Jenny yang kecil tanpa sadar melengkung. Ada perasaan hangat yang muncul dalam hatinya.
Tidak sampai satu jam, perasaan hangat itu berubah menjadi kesal.
Bibirnya yang melengkung cantik, sekarang berubah cemberut saat matanya mengitari kamarnya yang sekarang lebih mirip kantin.
Mengirim makanan sebanyak ini, apa Lucas mau mengubahnya menjadi seekor babi?
*********
Bersambung