MG 11 : Suara tangisan tengah malam

1808 Kata
Ini udah di revisi ya **** Duduk di tempat tidur, Jenny dengan kejam membenturkan kepalanya ke bantal berulang-ulang.  Kalau dikasih pilihan, mending nggak usah deh, dia kebal sama aura Lucas, dari pada dirinya terlempar di medan perang yang tragis ini.  Jarinya yang pucat kembali meraba bagian atas kepalanya.  Tanduk itu tumbuh kurang dari lima centi sekarang, warnanya semerah darah dengan dua cabang di masing-masing ujungnya.  Menyadari ini sudah tengah malam, Jenny kembali menangis dalam hati. Kenapa kalau dalam situasi begini, waktu merambat dengan cepat?  Coba kalau suruh menunggu dari hari Senin ke hari Minggu, rasanya lamaaa banget, apalagi kalau menunggunya pas kebetulan nggak punya duit, waktu rasanya nggak bergerak.  Setelah menyadari bagaimana kehebohan yang menunggunya besok pagi, Jenny diam-diam menangis dengan airmata yang bisa membanjiri samudera.  "Jadi aku harus gimana ... huhuuuhu ... huhuhu." Akibatnya, langkah kaki Lucas yang tadinya hanya melewati koridor bangsal rawat inap Jenny berhenti.  Dia menyipitkan matanya.  Sebelum ditanya, ketika netra Lucas berpindah kepadanya, Hara dengan sigap memberitahu.  "Kayaknya dari kamar, Non Jenny."  "Ohhh."  Lucas hanya membalikkan wajahnya yang tampan dan kembali berlalu seolah tidak mendengar apa-apa.  Namun, Hara malah diam di tempat dia berdiri.  Karena tidak mendengar ada derap kaki yang mengikutinya, Lucas kembali berhenti, kemudian memutar tubuhnya, dengan satu tangan dalam saku, dia menaikkan satu alisnya.  "Buat apa kamu berhenti di sana?"  "Maaf, Bos nggak mau lihat dulu ... siapa tahu, terjadi sesuatu sama nona Jenny."  Di bawah masker, bibir Lucas menipis. "Kamu menyuruhku cepat mati?"  "Lho, liatnya nggak sambil minum racun kok. Bos 'kan cuma lihat istri yang lagi sakit, bukan lihat ritual sekte yang seram-seram."  Dan begitu pintu terbuka.  Wanita muda yang sedang duduk diatas tempat tidur seperti sedang melakukan sebuah ritual.  Jenny sedang duduk dengan satu kaki terlipat dan kakinya yang lain selonjor di atas tempat tidur.  Dia menggunakan selimut untuk menutupi kepalanya seperti kerudung besar, hampir menutupi sebagian wajahnya yang mungil, kedua tangannya berada di d**a, memegang ujung-ujung kain supaya tidak lepas.   Kaki Lucas tertanam di depan pintu. Dalam bangsal yang remang-remang, dia terlihat misterius dan menakutkan.  Kelopak mata Jenny berkibar, dengan gerakan yang pelaaaaan sekali kepalanya mendongak, menatap Lucas dengan matanya yang bulat dan wajahnya yang putih pucat.  Suara Marid berdering lagi di kepalanya.  "Catatan untuk penderita, semakin dekat dan intim dengan pasangan, kemungkinan tanduk itu muncul, semakin jarang. Ukuran tanduk menyusut secara perlahan kalau penderita menerima perhatian atau hadiah yang tulus dari pasangan."  Aku harus mendapat perhatiannya malam ini. Tekad Jenny dengan tangan terkepal.  Jenny berkedip dan menggigit bagian dalam bibirnya.  Sepertinya Lucas sudah mengantisipasi, sebagian wajahnya yang tampan ditutupi dengan masker, tetapi, dahinya yang mengernyit terlihat dengan jelas.  "Kenapa menangis?" Kakinya tanpa sadar berjalan mendekat.  "Sayang, kayaknya di sini angker deh, aku hampir mati ketakutan sendirian, untung kamu dateng. Temenin aku dulu ya, sebentaaar aja." Ketika Jenny mengatakan ini, dia merasakan sebagian besar wajahnya panas dan memerah.  Buat jin perawan dan jomblo abadi macam dia, kata-kata manja yang barusan keluar dari mulutnya terlalu memalukan dan tidak masuk akal.  Untungnya, kulit wajah ini bukan punyanya sendiri, jadi bisalah ditebal-tebalin sedikit.  Benar saja, Lucas sama sekali tidak bergerak.  Jenny tidak menyerah, "Kaki ku sakit, aku takut nggak bisa lari kalau ada hantu di sini."  Menurut Jenny, penjelasan ini masuk akal, karena dia tidak bisa memikirkan alasan yang lebih baik.  Setelah bicara, Jenny melirik ke pojokan.  Hantu suster yang duduk ngesot langsung berdiri tegak. Ekspresi wajahnya jelas menunjukkan dia protes, tapi aura kuat Lucas menghalanginya untuk mendekat.  Hei, aku nggak tahu apa-apa, kenapa dibawa-bawa?  Jenny menggerakkan mulutnya menyebut kata 'maaf', lalu membuang kepalanya ke samping, pura-pura tidak melihat.  Lucas terdiam selama setidaknya sepuluh detik. Jenny dapat melihat ekspresinya yang kusut dan kesal pada saat ini.  "Nggak ada hantu di dunia."  Jenny memasang senyum pahit. Kenapa dia bisa lupa, Lucas tidak percaya ada hantu.  Sepertinya, ini bakalan susah. Diam-diam Jenny mendesah.  Sedetik kemudian, Lucas segera berbalik pergi.  Berdasarkan naluri untuk bertahan hidup, Jenny bergerak dengan cepat dan menangkap tangan Lucas pertama kalinya.  Jenny memeluk lengan itu dengan erat seakan takut terlepas dan menunggu, menunggu dengan tanduk itu lenyap. Tapi ...  Ishh sialan, dia cuma tahu gejala awal sebelum tanduk ini muncul, tapi kayaknya Marid tidak menyebut apa-apa untuk tanduk yang hilang. Atau ... dia yang nggak dengar?  Jenny segera merasakan merinding pada bagian belakang lehernya.  Pertama-tama, dia menggerakkan matanya ke tangan yang dipeluknya, lalu perlahan-lahan bergerak ke atas, dan akhirnya ke mata yang menatapnya seperti bilah tajam.  Bibir Lucas berada dalam garis lurus, dan emosinya sangat jelas.  Hara yang sejak tadi diam menahan napas. Jantungnya berdetak lebih kencang.  Dia melihat Jenny yang kehilangan darah di wajahnya dengan tatapan simpati.  Nona ini, dia terlalu nekat.  Sementara, Lucas melihat lengan blazernya sejenak, mengusap debu yang tidak terlihat dari sana, tetapi, dia merasa itu masih sangat kotor.  Tanpa banyak bicara, dia membuka kancingnya dan melemparkan blazer yang barusan ia pakai kepada Jenny.  Heh?  Jenny memandangi bagian belakang pria yang telah berjalan pergi, mulutnya terbuka.  Mengambil blazer dari tubuhnya, pandangannya bertemu dengan mata Hara yang tercengang, dan dia melambaikan tangannya dengan canggung.  "Hai ... nggak kalau nggak keberatan, titip kembaliin ini, ya? Masa mau dia buang, 'kan sayang."  Hara juga tidak memahami maksud Lucas, blazer ini baru dia beli siang tadi, kenapa dia melemparnya?  Biasanya, Lucas segera menyuruhnya mendisinfektan barang-barang yang menurutnya terkontaminasi kuman, tetapi kali ini, tuan muda itu hanya melemparkannya begitu saja.  Untuk sementara, Hara juga tidak yakin harus berbuat apa.  Tetapi, saat dia ingat pria itu menghabiskan kurang dari 3 juta untuk membeli air minera untuk mandi, dia pun paham.  "Blazer ini, Nona Jenny .... kamu nggak perlu mengembalikannya." Kata Hara ketika melihat Jenny menyodorkan blazer itu, bingung, "Tuan muda selalu membuang barang-barang miliknya yang dipegang orang lain yang tidak memakai sarung tangan."  "Wow!" Jenny terkejut saat mendengarnya.  Dia tidak tahu bagaimana produk manusia, tapi sepertinya ini tidak murah. Lucas ini pasti kaya raya.  "Kalau nggak ada yang lain, saya permisi."  Tidak berani menunda urusan tuan muda, Hara segera keluar, meningalkan Jenny termangu seperti orang bodoh sendiri.  Tepat pada saat ini, Lucas berdiri di luar. Dia mengintip ke dalam melalui jendela kecil dengan tatapan yang dalam dan rumit.  Hanya Jenny yang tersisa di ruangan itu. Wanita itu duduk di tempat tidur dengan lutut berpelukan.  Perlahan, tubuh kecil itu menyusut di atas tempat tidur.  Tidak sampai semenit kemudian, suara keluhan dan tangisan yang sama terdengar lagi, kali ini nadanya turun sedikit lebih rendah.  Lucas tidak membantu melainkan mengerutkan kening.  Kenapa dengan kepalanya?  Tubuh mungil yang tertutup rapat dengan selimut itu gemetar seperti ayam kehujanan.  Melewati kaca, pandangannya berpencar ke bagian atas bangsal, bawah, pojokan lalu pindah ke kanan dan kiri bahunya.  Benarkah ada hantu di sini, kenapa wanita itu begitu ketakutan?  Tidak begitu jauh darinya Hara sedang menelepon sopir. Saat berjalan menghampiri bosnya, dia memasukkan lagi ponsel ke dalam saku "Bos, mobilnya sudah siap."  Saat meninggalkan lorong rumah sakit, pikirannya masih tertinggal di bangsal.  "Nggak ada hantu di sini 'kan?"  "Hah?" Bagaimana percakapan bisa melompat ke sana? Dengan bingung, Hara melihat sekelilingnya, "Cuma ada perawat dan penjaga keamanan, kalau hantu, saya nggak begitu yakin. Tapi, bos bukannya nggak percaya sama hantu ya?"  Lucas mengerutkan bibir. Sebuah bayangan segera muncul di benaknya. Bahu tipis itu gemetar karena ketakutan.  Pasti dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa orang lain lihat, makanya dia sangat ketakutan.  "Urus kepulangan wanita itu besok."  Hara segera berbalik dan bertanya, "Eh? Bos, ini kita bicara tentang Nona Jenny 'kan?"  "Selain dia, ada lagi wanita yang aku lihat di sini?" Sahut Lucas acuh.  Hara diam di detik berikutnya.  "Minta satu atau dua perawat khusus untuk menemaninya malam ini." Lucas masuk ke dalam mobil, dan tanpa ekspresi duduk di kursi belakang.  Jenny adalah istrinya saat ini. Sebagai formalitas, Lucas akan bertanggung jawab untuk keamanannya.  Di dalam bangsal.  Jenny berbaring diatas tempat tidur, dia sedang meraba tanduknya ketika pintu tiba-tiba terbuka.  Dua perawat bergantian masuk.  Dia buru-buru mengambil selimut untuk menutupi kepalanya.  Satu perawat menekan tombol lampu, ruangan yang tadinya gelap menjadi terang.  Satunya lagi, mendekati pasien yang menutup rapat tubuhnya dengan selimut seperti pasien yan "Bu Jenny, kami berdua diminta sama suami ibu buat nemenin ibu malam ini. Kalau nggak bisa tidur, gimana kalau kita ngobrol?"  Jenny terdiam.  Lucas ini, apa dia sedang balas dendam kepadanya?  ****************************************************************************************** Bersambung yaaa.... Melalui kaca, dia melihat gadis yang ada di dalam terus menunduk, memegangi kepalanya yang masih ia kerudungi dengan kedua tangan.  Jenny berjuang untuk menghirup udara segar.  "A-aku, aku punya alasan."  Lucas memandangnya dengan jijik.  Merayu dengan suaranya yang manja supaya ditemani, memeluk tangannya, bagaimana bisa ada alasan untuk itu?  "Jangan bilang ada hantu di sini!"  Mata Jenny cerah, "kamu benar, tuh dibelakangmu ada satu, itu hantu suster ngesot," dia menunjuk pojokan, kemudian mendongak melihat plafon, "Di atas satu, dia gelantungan di sana dengan kepala terbalik, depan pintu malah lebih banyak."  Wajah Lucas hitam pekat begitu selesai Jenny menjawab.  Beraninya wanita ini main-main dengannya.  Dengan satu kali sentak, dia menarik lengannya hingga terlepas dari pelukan Jenny.  Kerutan yang muncul di dahi Lucas semakin dalam.  Bersambung. Perlahan, tubuhnya menyusut di atas tempat tidur.  Tidak sampai semenit kemudian, suara keluhan dan tangisan yang sama terdengar lagi, kali ini nadanya turun sedikit lebih rendah.  Kerutan yang muncul di dahi Lucas semakin dalam.  Tubuh mungil yang tertutup rapat dengan selimut itu gemetar seperti ayam kehujanan.  Melewati kaca, pandangannya berpencar ke bagian atas bangsal, bawah, pojokan lalu pindah ke kanan dan kiri bahunya.  Benarkah ada hantu di sini, kenapa wanita itu begitu ketakutan?  Tidak begitu jauh darinya Hara sedang menelepon sopir. Saat berjalan menghampiri bosnya, dia memasukkan lagi ponsel ke dalam saku "Bos, mobilnya sudah siap."  Saat meninggalkan lorong rumah sakit, pikirannya masih tertinggal di bangsal.  "Nggak ada hantu di sini 'kan?"  "Hah?" Bagaimana percakapan bisa melompat ke sana? Dengan bingung, Hara melihat sekelilingnya, "Cuma ada perawat dan penjaga keamanan, kalau hantu, saya nggak begitu yakin. Tapi, bos bukannya nggak percaya sama hantu ya?"  Lucas mengerutkan bibir. Sebuah bayangan segera muncul di benaknya. Bahu tipis itu gemetar karena ketakutan.  Pasti dia bisa melihat sesuatu yang tidak bisa orang lain lihat, makanya dia sangat ketakutan.  "Urus kepulangan wanita itu besok."  Hara segera berbalik dan bertanya, "Eh? Bos, ini kita bicara tentang Nona Jenny 'kan?"  "Selain dia, ada lagi wanita yang aku lihat di sini?" Sahut Lucas acuh.  Hara diam di detik berikutnya.  "Minta satu atau dua perawat khusus untuk menemaninya malam ini." Lucas masuk ke dalam mobil, dan tanpa ekspresi duduk di kursi belakang.  Jenny adalah istrinya saat ini. Sebagai formalitas, Lucas akan bertanggung jawab untuk keamanannya.  Di dalam bangsal.  Jenny berbaring diatas tempat tidur, dia sedang meraba tanduknya ketika pintu tiba-tiba terbuka.  Dua perawat bergantian masuk.  Dia buru-buru mengambil selimut untuk menutupi kepalanya.  Satu perawat menekan tombol lampu, ruangan yang tadinya gelap menjadi terang.  Satunya lagi, mendekati pasien yang menutup rapat tubuhnya dengan selimut seperti pasien yan "Bu Jenny, kami berdua diminta sama suami ibu buat nemenin ibu malam ini. Kalau nggak bisa tidur, gimana kalau kita ngobrol?"  Jenny terdiam.  Lucas ini, apa dia sedang balas dendam kepadanya? 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN