MG 10: Malmantra

1255 Kata
Astaga!  Astaga Ini...bukannya ini...  "Itu tanduk jin."  Jenny yang masih meraba-raba bagian atas kepalanya dengan panik menoleh ke asal suara.  Tanpa bau-bauan yang menjadi ciri khasnya, Nyonya merah muncul dari jendela lantai tiga.  Melayang mengikutinya, seekor burung hantu yang kedua matanya buta dan empat siswa dari kelas jin yang terpintar diantara yang paling pintar. Jangan ditanya sepintar apa.  Pokoknya, pintar banget lah.  Dengar-dengar sih, katanya mereka lagi meneliti cara kerjanya mesin ATM, apa sih rahasianya sampai tuyul-tuyul tidak bisa mencuri uang yang ada di sana.  Kalau penelitian ini berhasil, bisa jadi terobosan baru tuh di bidang ilmu pesugihan. Tuyul-tuyul bisa agak santai nyari uangnya, kasihan 'kan, dalam kandungan digugurin.  Sudah mati pun, jiwanya yang masih bayi masih disuruh nyari uang.  Dasar manusia!  Mengingat bagaimana menyedihkannya nasib mahluk halus yang diikat sebagai b***k, Jeuni geram sendiri dengan kelakuan manusia.  Sendirinya yang nggak punya akhlak, nanti setan yang jadi kambing hitam.  Padahal, aslinya, setan malu sendiri lho, karena kalah bejad dengan mereka Oke, lupakan hal itu dulu.  Kalau mereka sibuk, terus ngapain semuanya ke sini?  Banyak pertanyaan Jeuni yang belum sempat ditanyakan, karena keempat jin itu sudah mengerubunginya seperti nyamuk mengerubungi telinga pas lagi mau tidur.  Suaranya ngeeeng...ngeeeng..ngeeeng. Benar-benar mengganggu!  Nyonya merah duduk di ujung tempat tidur, melihat murid-muridnya yang sedang memeriksa Jeuni yang kebingungan.  "Tunggu, tunggu. Ini kalian ngapain sih, kenapa tiba-tiba semua muncul di sini?"  Mereka hanya menganggap pertanyaan Jenny sebagai dengungan lalat, berisik tetapi tidak berarti, dan melanjutkan pengamatan dengan serius.  Kuuuukkuk....kuuk...kukkuukuuuk...  Di luar, dua orang perawat jaga malam yang melewati kamar Jenny tiba-tiba berhenti.  "Za, denger nggak barusan?"  "Denger, suara apaan sih itu? Yakali hantu, baru jam delapan juga." Temannya melihat jam saat menjawab.  "Jaman sekarang, Za. Siapa sih yang nggak mau eksis? Hantu juga mau kali. Btw udah denger belum cerita aneh yang nempatin kamar ini?"  "Yang tiba-tiba hidup pas di dorong ke ruang mayat 'kan? Mbak Lastri sampai pingsan katanya."  Bersamaan dengan langkah kaki yang semakin menjauh, suara mereka menghilang di belokan koridor.  Di dalam kamar.  Burung hantu buta terbang memutar Jenny tiga kali, dan kemudian.  Pluk!  Satu tablet besar keluar dari paruhnya yang pendek. Siswa-siswa itu segera mengambil tab, memindai tubuh Jenny dan menunggu hasilnya.  "Hei, pelan-pelan. Sakit tau!" Jenny mengomeli jin yang dengan seenak jidat menarik tanduk runcing yang tumbuh di kepalanya.  Nyonya merah melayang mendekat. Dia mengabaikan tanda tanya di mata Jenny saat bertanya, "Bagaimana, apa yang salah? Kenapa tanduknya tiba-tiba muncul?"  Marid, Jin dari kasta bangsawan mengenggam tablet dengan cakarnya yang panjang saat membuat kesimpulan.  "Karakter dari tubuh asli pada dasarnya lemah, dia nggak bisa menekan sifat jin yang dominan. Nggak heran tanduknya muncul."  Nyonya merah mencatat pada buku penilaian. Melihat Jenny sekilas, lalu kembali bertanya.  "Kenapa tanduknya baru muncul setelah dua belas jam? Siapa yang bisa jawab?"  "Bisa jadi karena karakter Jeuni juga nggak terlalu kuat, ditambah lagi ada aura dari pria dari lantai lima di sini, itu membuat kekuatannya semakin lemah."  Jeuni berkedip.  Kekuatannya semakin lemah?  Detik berikutnya dia langsung berteriak.  "Nyonya atau yang lainnya nggak ada yang mau jelasin gitu, ini ada apa, Percobaan apa?" Jenny berjuang untuk mendapat perhatian.  "Diam dulu!" Sampai Nyonya merah berteriak, barulah dia berhenti.  "Kami lagi melakukan penelitian,"  "Buat ujian." Murid paling tinggi, menyambung ucapan murid yang berbadan bulat.  Alis Jenny terajut, "tentang?"  "Kenapa kamu bisa kebal dengan aura dari manusia di lantai lima, sedang kami, bahkan Nyonya merah nggak." Jin berkulit biru mewakili.  "Itu sih karena aku udah terbiasa liat dia." Jeuni menebak asal-asalan.  Si biru menggeleng, "Yang lain juga sering, tapi tetep aja kalah sama auranya. Kami udah lama perhatiin, dan itu terjadi karena..."  Dia berhenti sejenak, melihat catatan yang muncul begitu saja di tangannya.  Jeuni membeo, "Karena?"  "Hei, karena apa? Cepetan ih."  Jin biru yang di desak Jenny mendengkus, "Sabar dong, lagi dibaca juga. Nih hasilnya, karena benang merah kalian pernah saling terkait walaupun sudah terputus."  Jenny dengan cepat memegang dadanya.  Apa-apaan, bagaimana bisa terkait? Mereka hidup di dunia yang berbeda.  Nyonya merah bisa mendengar jeritan hati Jenny. Wajahnya yang pucat juga penuh tanda tanya saat dia berkata.  "Tenang, jangan panik, nanti saya tanyain ke raja jin."  "Oke, terus yang jadi pertanyaan penting nih, apa hubungannya penelitian itu sama aku yang tiba-tiba jadi manusia?"  "Eh, itu... itu, terjadi secara nggak sengaja. Malmantra." Marid yang menjawab.  "Malmantra gimana?" Jenny menatap satu persatu wajah jin yang menunduk bersalah.  "Mereka ngutak-atik mantra babi ngepet, kalau manusia aja bisa jadi babi jadi-jadian, masa jin nggak bisa jadi manusia jadi-jadian yang bukan khodamnya. Tapi karena masih percobaan ya begini deh hasilnya."  Mendengar penjelasan Nyonya merah, rasanya Jeuni mau mencekik satu persatu wajah penuh dosa di depannya.  Mereka punya dendam apa sih? Buat jin kok coba-coba.  Jeuni dengan cepat melihat Nyonya merah, "terus gimana? Saya bisa balik jadi jin lagi nggak?"  "Sayangnya nggak bisa, di dunia jin, kamu sudah mati, jasadmu sudah habis terbakar kena air do'a dari kyai waktu ritual pengusiran hantu."  Jenny shock berat saat mendengarnya.  Dia mati, tapi sebenarnya masih hidup.  Atau... hidup tapi dibilang mati. Apa tidak miris?  Mau nangis rasanya ditampar dengan kenyataan yang menyakitkan begini.  Nyonya merah melihat keadaan Jeuni yang menyedihkan dan timbul rasa kasihan dalam hatinya.  Dia yang menemukan Jeuni waktu kecil. Saat itu dia telantar kebingungan, entah dimana orangtua nya.  Nyonya merah juga yang membawa Jeuni ke tempat penangkaran atau panti asuhan lah bahasa manusianya.  Biarpun agak ceroboh cenderung bodoh, sebenarnya dia anak yang baik dan tidak banyak ulah.  Duduk bersebelahan, dia merapikan rambut Jenny dengan cakar putihnya yang memiliki kuku panjang berwarna merah darah.  "Nggak ada salahnya jadi manusia. Banyak lho kaum kita yang mau jadi manusia, sampai nyamar jadi orang yang sudah meninggal."  "Bener tuh, Jeun, jadi manusia juga keren." Kata yang lain.  Air mata Jeuni yang tadinya turun satu-satu jatuh semakin deras.  "Jeuni, jangan nangis gitu ih."  Menarik ingusnya, Jeuni berkata dengan mata dan hidung memerah.  "Gimana nggak mo nangis saya? Coba liat ini," dia menunjuk dua tonjolan di kepalanya, "Mana ada coba manusia yang punya tanduk begini. Uhuhuhuhu...Nyonyaaa, gimana nasib saya nih."  Kelompok jin dan nyonya merah sekarang terdiam.  Benar juga, kenapa mereka melupakan hal yang penting ini ya?  Suara isakan Jeuni semakin kencang. Ketika dia membayangkan Lucas tahu tentang keanehannya, dia lalu di kurung dalam kerangkeng, viral kemana-mana.  Diliput wartawan majalah ghoib, dijadikan bahan tontonan oleh masyarakat sekitar dengan mahar seiklahsnya.  Mirip-mirip si anak genderuwo itulah.  Saat pikirannya dipenuhi gambaran nasib malangnya, emalangan, tiba-tiba Marid berteriak, memberikan sedikit cahaya dalam gelap.  "Di sini ada caranya." Dia mengangkat tablet ditangannya. "Ada halaman kedokteran dunia jin."  "Gimana-gimana?" Kelompok jin pelajar kembali antusias.  "Coba baca yang kenceng!" Nyonya merah ikut senang.  Marid bedehem, "Ehem, ehem. Oke kita mulai. Gejala-gejala bersifat jin bisa hilang dengan sendiri setelah 1× 72 jam."  Tubuh Jeuni yang tegak kembali merosot.  Tiga hari? Astaga lamanya, keburu dijadikan jimat pesugihan kayak jenglot dia nanti.  "Tanduk tumbuh secara acak, didahului dengan gejala, telinga berdengung, pusing, rasa gatal yang luar biasa pada bagian kepala." Marid melihat Jenny dan menyuruhnya supaya mengingat bagian paling penting ini.  "Cara paling ampuh untuk menghilangkan, mencegah dan meminimalisir tumbuhnya tanduk secara tiba-tiba, adalah, menerima sentuhan intim, mesra atau hadiah dan perhatian yang penuh kasih sayang dari lawan jenis, terutama pasangan. Berarti dari pasanganmu sekarang, LUCAS."  Lucas, dengan huruf L U C A S besar.  Jeuni menutup matanya dan hampir pingsan.  Dia sudah tidak mendengar lagi Marid yang membaca bagian akhir.  "Gejala ini tidak akan benar-benar hilang sampai si penderita bertemu pasangan benang merahnya."  Sentuhan intim, mesra atau hadiah dan perhatian yang penuh kasih sayang...  Dengan penyakit pria itu.  Jeuni merasa tanduk itu akan terus muncul di kepalanya seumur hidup.  Seumur hidup!  ******** *** **********************************
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN