MG 9 : Dia khawatir denganmu, Bos!

1020 Kata
Setelah mengatakan itu, Hara menyadari Tuan Mudanya tidak bergerak sedikitpun. Dia pun membuka mulutnya, tapi keduluan oleh Kevin.  "Datang ke ruanganku, aku perlu memeriksamu."  Lucas hanya menatapnya malas saat menjawab, "Nggak perlu. Nggak ada gunanya."  Ini kedua kalinya Kevin mau menyuntik mati pasiennya.  Hara ragu-ragu sejenak saat bertanya, "Kalau begitu, jam berapa kira-kira rencananya kita pergi dari sini?"  Dia diam di detik berikutnya.  Saat melihat ekspresi gelap bosnya yang memberinya tatapan menusuk, Hara tidak bisa menahan diri untuk sedikit mundur.  "Baiklah, Bos. Nikmatilah waktu beristirahat di sini."  "Periksa bagaimana kondisinya."  "Urgh... maksudmu, Nona Jenny?"  Setelah bersama dengan Lucas hampir delapan tahun, dan ini kali pertamanya dia mendengar Lucas menanyakan kondisi orang lain.  Secara alami Hara menebak 'NYA' yang dimaksud oleh Lucas itu Jenny.  "Pergelangan kakinya sudah mulai membaik. Tiga atau empat hari lagi dia baru boleh pulang."  Sedikit ketidaksabaran melintasi mata Lucas. Istri yang di dorong ke arahnya, apakah orang - orang yang disebut keluarga itu berpikir dia menginginkannya?  "Hubungi keluarganya, minta mereka menjemput wanita itu nanti."  Mendengar itu wajah Kevin agak aneh.  Masa bodo dengan temperamen buruk pria itu, satu perkataan meluncur dari mulutnya.  "Bawa saja dia ke rumahmu. Toh kalian sudah menikah, siapa tau dengan adanya orang lain, bisa membantu pengobatanmu."  "Aku tidak menginginkannya." Sahut Lucas dengan gigi terkatup.  Hara berdiri di satu sisi, memperhatikan ketidaksenangan dari bosnya.  "Tapi, Bos... Um, Nona Jenny amnesia sekarang. Rasanya agak keterlaluan kalau Anda mengusirnya."  Kevin mengangguk setuju, "Pernikahan yang baru seumur toge bubar. Pikirkan apa nanti kata orang di luar?  Siapa yang peduli dengan kata orang, kalau dia tidak bergaul dengan orang?  Setelah diam cukup lama, Lucas akhirnya bersuara.  "Tentang amnesianya. Kamu sudah memastikan dengan benar?"  Mengira tuan muda itu berubah pikiran, Hara menganggukkan kepalanya mantap. "Dan Nona Jenny kelihatannya khawatir waktu Anda pingsan, Bos."  Kata-kata itu membuat Lucas berhenti di tengah-tengah desinfeksi tangannya. Dia tidak pingsan, oke! Air ludah dan ingus itu hanya membuat lututnya lemas, kepala pusing dan kehilangan sedikit kesadaran. Biarpun begitu,dia masih bisa melihat ekspresi dan suara Jenny yang panik dan ketakutan saat berteriak 'sayang' dan melesat untuk memanggil dokter. Lucas menyipitkan matanya. Dia lupa kapan ada orang yang merasa khawatir untuknya. Mungkin tidak ada. Hari saat turun hujan itu, dia ingat dengan jelas. Zicco, calon suami Jenny yang sebenarnya. Memaksa supaya dia saja yang membawa motor, Lucas yang membonceng di belakang. Semakin deras hujan turun, semakin kencang motor yang dikendarai Zicco dan baru berhenti ketika menabrak trotoar. Zicco tercebur di kolam ikan orang, sedangkan Lucas, dia terpental dan hampir terlindas motor lain yang melintas. Orangtua mereka menangis untuk Zicco dan memarahinya sebagai pembawa sial yang menyebabkan adiknya hampir meninggal. Padahal waktu itu, nyawanya lah yang hampir melayang. Saat mengingat masa lalu, jari-jarinya yang panjang dan ramping memegang botol handsanitizer dengan erat, buku-buku jarinya berderak. Dinilai lebih kompeten untuk mengelola aset keluarga Widjaja, semua yang tidak berguna dan tidak cocok untuk Zicco, oleh keluarganya dilempar kepada Lucas. Termasuk calon istri yang sudah ditentukan oleh panatua keluarga. Ini kali pertamanya Lucas berinteraksi lama dengan wanita itu. Lucas mengingat bagaimana sikap Jenny kepadanya tadi Dan sepertinya, wanita bodoh itu lumayan. Dia tidak seperti wanita-wanita lain yang takut kepadanya. Melihat sorot mata Lucas yang dingin dan kesepian sedikit hangat. Hara bertukar pandang dengan Kevin, lalu segera mendekat dan berkata.  "Bos, tadi Nona Jenny juga...."  Satu jam sebelumnya.  Di atas kasurnya, Jenny menggigit bibirnya dengan resah.  Hei, segitu hebatnya kah kekuatannya sekarang?  Masa cuma disembur, manusia yang paling ditakuti oleh setan, Jin dan dedemit marakayangan langsung roboh.  Rasanya tidak sabar mau pamer ke yang lainnya, deh.  Jenny celingak-celinguk, mencari hantu pojokan, dia butuh saksi hidup untuk membuat semua yakin dengan kehebatannya.  Eh, tapi tunggu dulu.  Saat tidak menemukan hantu itu, dia berubah pikiran sambil bergumam.  Kayaknya, harus dipastiin dulu deh, orang itu masih hidup atau nggak. Baru deh, cari tahu kekuatan mana yang bikin dia pingsan.  Bola lampu kecil pada kalkulator di kepalanya semuanya menyala. Siapa tahu kalau sudah ketemu, hasilnya bisa dijual ke Nyonya merah.  Lumayan 'kan kalau bisa ditukar dengan tiga level kehidupan dunia Jin.  Keuntungan yang sudah nampak depan hidung membuatnya senang.  Jenny mau bangun, tetapi saat melihat kakinya, dia duduk lagi dan mengeluh.  Andai dia bisa melayang, pasti lebih mudah.  Tok...tok...tok. Suasana tegang dalam kamar itu diganggu oleh suara ketokan.  Begitu Hara yang mau mengambil barang masuk, Jenny langsung menyambutnya dengan rentetan pertanyaan.  "Gimana, gimana? Dia masih hidup, 'kan? Nggak mati?"  Sedikit kejutan terlihat di wajah Hara. Dia melihat ke wajah yang diliputi rasa penasaran di depannya.  Setelah pernikahan, Hara sudah bertemu tiga atau empat kali dengan Jenny untuk urusan tempat tinggal.  Kedua suami istri memang tinggal terpisah. Jenny yang mengetahui phobia Lucas dari Hara dengan cepat setuju.  Biasanya wanita muda itu sangat pendiam dan tidak tertarik dengan urusan Lucas.  Tetapi sekarang berbeda.  Hara melirik Jenny yang menunggu jawabannya. Kemudian teringat dengan panggilan sayang wanita itu kepada Lucas. Tiba-tiba dia berpikir, mungkinkah dia sudah mulai menyukai Tuan muda?  Dia merasa ide itu menakutkan, dan dengan cepat membuangnya dari pikirannya.  "Selain myshophobia-nya, secara fisik dia baik-baik saja."  "Hah? Misobia apaan tuh?"  Hara bingung dengan reaksi terkejut Jenny. Bukannya dia sudah tahu ya, penyakit Lucas? "Nona, Tuan muda Lucas punya kecenderungan mysophobia yang bisa dibilang penyakit, Anda tahu, 'kan?"  Jenny bergumam, "Bagaimana aku tau?"  Menyadari wajah bodoh Jenny, Hara menghela napas pelan.  Hhhhhh...  Kayaknya dia benar-benar amnesia. Pantaslah dia merasa punya pernikahan yang indah dengan bosnya.  Jenny menggaruk bagian atas kepalanya yang tiba-tiba gatal.  "Tadi itu, penyakit apa sih? Bisa bikin penderitanya mati kah?"  Dalam pikirannya, Jeuni menerka-nerka, mungkin ini efek domino dari kekuatannya.  Wow banget ini sih.  Hara menatap wanita itu prihatin.  "Nona Jenny, setelah hari ini, tolong untuk menahan diri saat bertemu Tuan muda. Kalau perlu, jauhi dia sejauh-jauhnya."  Mata Jenny yang besar mengerjap. "Lho, kenapa? Kami pasangan kan?"  "Mysophobia itu, rasa takut yang berlebihan pada kuman atau hal-hal kotor. Termasuk air ludah dan ingus yang membuatnya pingsan seperti tadi. Karena itulah, Tuan Lucas nggak suka berdekatan dengan orang asing."  Hooo... jadi pingsan karena takut sama ludah?  Pada saat ini, kepalanya semakin dan semakin gatal.  Saat menggaruk, tangannya menyentuh dua permukaan keras di kanan dan kiri yang tumbuh seperti tunas.  Ya Tuhan!!!!! Apaa iniii????? ***** Bersambung.  *
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN