MG 8: Dia laki-laki, Btw.

1188 Kata
"Pelan-pelan bisa nggak sih?" Menggerutu, Jenny mengusap pergelangan kakinya yang terasa nyeri karena Lucas menjatuhkannya tiba-tiba.  Balasan yang diterimanya adalah pandangan jijik dari pria itu.  "Siapa dirimu berani menyuruhku?"  Kelopak mata Jenny mengerjap, memerah, dia berkata dengan suara rendah, "Mereka bilang, aku istrimu!"  Wajah Lucas berubah gelap.  "Kamu tau siapa aku?"  Yang dimaksud Lucas siapa dirinya adalah, posisinya, kedudukannya di mata orang lain, jadi, Jenny wajib berpikir ulang sebelum berani menyuruhnya.  Namun, wanita itu hanya menatapnya dengan tatapan yang berkata 'kamu bodoh ya' sebelum mengangguk dengan wajah polos, "Kamu suamiku 'kan?"  Segera, suara pria yang dalam dan magnetis datang dari atas kepalanya, "Berhenti main-main. Apa kamu lupa bagaimana pernikahan kita terjadi?"  Awalnya Jeuni berpikir untuk menjerit, mana aku tahu? Aku ini Jin, masuk ke tubuh manusia dan tiba-tiba sudah menikah denganmu!  Tetapi saat dia membuka mulutnya, dia teringat pada situasinya saat ini. Sekarang wujudnya adalah manusia, kalau dia bilang begitu, pasti orang akan mengira dirinya gila.  Pada akhirnya, sepertinya dia hanya bisa berpura-pura lupa ingatan sebagai jalan keluar.  Jenny berkedip dan berkata, "Bukannya kita saling mencintai?"  Kesuraman di mata Lucas tampaknya telah terwujud.  Seolah-olah belum cukup membuat pria itu kesal. Jeuni yang tidak tahu mysophobia yang di derita oleh Lucas, menggaruk hidupnya yang gatal.  Wajah Lucas menjadi tidak nyaman, "Berani bersin, aku akan membunuhmu!"  Tepat setela dia mengatakan ini, Jenny dengan lembut menutup mulutnya dengan tidak nyaman, alisnya membeku, dan dia bersin  langsung padanya.  "Ah-HACHI!!!!"  Semburan air liur disertai ingus yang keluar dari mulut dan hidung Jenny, seperti senjata pembunuh yang bergerak dengan kecepatan lambat dalam pandangan Lucas.  Wajahnya berubah, dari hitam menjadi putih, putih berubah hijau.  Hara mendekat ketakutan, "Boss!"  "Sayangggg!"  **** Di kamar mandi bangsal VVIP, Lucas menuang sabun cair antiseptik lalu dengan dengan teliti menggosok dan mendisinfeksi setiap jengkal bagian tubuhnya yang ramping tetapi berotot.  Setelah yakin semua sudah bersih, dia mengambil air galon yang dituang ke dalam ember yang masih baru, mengguyur tubuhnya mulai dari kepala sampai kaki.  Selesai membilas, dia mengenakan jubah mandi yang masih baru.  Saat menarik pegangan pintu untuk keluar dari kamar mandi, gerakan tangannya berhenti. Dia menatap diam-diam kedua tangannya dengan mata gelap yang rumit.  Dia mengangkat kedua tangan itu dengan kedua alis terangkat.  Sebelumnya, kedua tangan ini memeluk gadis itu, menyentuh kulitnya.  Kecuali orang yang terbiasa dengannya dan ... wanita itu.  Ini pertama kalinya Lucas berdekatan, bahkan sampai bersentuhan dengan kulit orang lain tanpa mengalami ruam kulit setelahnya.  Kelembutan dan keharumannya, masih bisa dia rasakan.  Hanya sedetik kemudian, Lucas mengerutkan kening dan menurunkan tangannya.  Semburan air ludah dan ingus dari bersin Jenny yang mengenai pakaian dan tangannya kembali terbayang dan dengan segera, rasa jijik muncul di wajahnya yang tampan.  Membayangkan berapa banyak kuman dan bakteri yang menempel di tubuhnya, bulu-bulu halus di sekujur tubuh Lucas berdiri.  Seberapa efektif sabun itu membunuh kuman?  Masih dengan wajahnya yang gelap, dia berteriak. "Hara!"  Di luar kamar mandi.  "Sudah berapa lama dia di dalam?"  Sepuluh menit sebelum Lucas berteriak memanggil asistennya, seorang pria yang mengenakan lab jas putih masuk, menghampiri Hara yang menunggu depan pintu kamar mandi.  Hara menunjukkan ponsel dengan timer di tangannya.  "Lima menit tiga puluh detik lagi, pas satu jam."  "Gila! Kenapa pintunya nggak didobrak, siapa tau dia sudah berubah jadi duyung."  Hara berpikir sejenak dan berkata, "Dia laki-laki btw."  "Ganti dengan Doyong kalau begitu." Sahut Kevin cuek, dia ikut menunggu di depan kamar mandi saat bertanya, "Apa penyebabnya?"  Kevin sudah lama menjadi psikiater merangkap dokter pribadi yang bertanggung jawab mengelola kesehatan fisik, terutama kesehatan mental Lucas.  Dengan temperamennya yang pemarah, keras kepala, susah diurus, dan menolak mendengarkan kata-kata dokter, Lucas adalah tipe pasien yang paling dibenci para dokter.  Sialnya, dia kenal dan berteman dengan orang seperti itu dari pertama kali memakai seragam putih biru.  Jadi, bagaimanapun rewelnya, Kevin tetap memberi perawatan terbaik untuk Lucas, terutama untuk penyakit mysophobia yang ia derita sejak duabelas tahun yang lalu.  Sementara Hara menceritakan kronologis kejadian mulai dari ujung sampai pangkal. Kevin mendengarkan,  Ujung lidahnya menyapu gigi atasnya saat dia mulai menganalisa.  "Jadi, Lucas memeluk Jenny dan mengangkatnya?"  Hara mengiyakan. "Tau nggak apa yang paling mengejutkan?" Biarpun Hara bertanya, tetapi sepertinya dia tidak butuh jawaban, karena sebelum Kevin menjawab, dia langsung melanjutkan.  "Dia nggak minta tissue atau cairan antiseptik untuk membersihkan tangannya."  "Hah! Kamu yakin mereka belum pernah ketemu sebelumnya?"  Hara menjawab pertanyaan Kevin dengan gelengan pelan.  "Mungkin nggak, itu tanda-tanda dia bisa sembuh?"  Kevin dengan jelas memahami temperamen dan kondisi penyakit Lucas.  Diasing oleh keluarga besar yang menganggapnya pembawa sial dan tidak sekalipun keluar untuk bersosialisasi, menjadikan perilaku mysophobianya semakin parah.  Terlalu dini menyimpulkan dia bisa sembuh.  "Kalau dia menunjukkan tanda-tanda sembuh, dia sudah keluar dari kamar mandi sekarang."  Hara berpikir sebentar dan akhirnya mengangguk kaku.  Ketika mereka masih diskusi, dari dalam kamar mandi terdengar seruan.  "Hara!"  Pintu yang tiba-tiba terbuka membuat Hara yang sedang menempelkan sebelah telinganya hampir jatuh terjerembab.  Untungnya, jaman sekolah dulu, dia ikut ekskul Pramuka biarpun cuma jadi tunas kelapa alias meramaikan, hasilnya, dia punya gerakan yang sigap.  Sebelum dia benar-benar jatuh, Kevin menarik tangannya. Saat Lucas muncul dari balik pintu, dia sudah berdiri seolah tidak terjadi apa-apa.  "Bos, bagaimana perasaanmu sekarang, sudah merasa bersih? Pakaian--"  Lucas memotong ucapannya sebelum Hara selesai bicara.  "Tambahkan lagi air ke dalam ember mandi!" Suaranya kasar dan terdengar frustasi.  Terkejut, Hara melongok ke dalam, melihat ember yang isinya tinggal sedikit.  "Bos, sekadar untuk info, yang dipakai untukmu mandi barusan, itu sudah kardus yang kesepuluh."  Lucas mengerutkan kening saat dia menatap Hara, "Itu cuma air. Apa masalahnya?"  "Tapi itu air mineral asli, Bos. Eternal plus, asli dari sumber air alami yang dari pegunungan. Kandungan mineralnya asli dari alam, bukan mineral sintetis yang ditambahkan sebagai aditif."  Seperti sales profesional, Hara menerangkan kelebihan air mineral yang dipakai untuk mandi oleh Lucas.  Namun, sebelum dia menyebutkan harganya, lucas mengibaskan tangan saat mengangkat suaranya yang dalam untuk memberi perintah.  "Tetap tambahkan cairan antiseptik biarpun itu asli."  Hara nyaris mati kejang mendengarnya. Satu botol isi 500ml harganya sepuluh ribu. Sekali mandi, Lucas butuh sekitar 50 liter atau seratus botol. Kalikan saja dengan sepuluh ribu, itu sudah satu juta.  Dia membuang dua juta seperti membuang ingus, hanya untuk mandi dan mau menyia-nyiakan satu juta lagi.  Bukankah itu konyol!  Baiklah, ini harus ditolak.  "Kenapa belum pergi?" Suara Lucas lebih kasar dan penuh ketidaksabaran dari sebelumnya.  Hara langsung diam menahan napas.  "Berkali-kali mandi, bukan solusi yang tepat untuk masalahmu. Apalagi terlalu sering menggunakan antiseptik, itu bisa membuat kulit kering."  Mata tenang dan gelap Lucas perlahan jatuh pada pengunjung yang tidak diinginkan.  Alisnya yang tampan berkerut.  "Itu karena dokter yang menanganiku tidak cukup pintar. Jadi aku harus puas dengan cara ini."  Kevin hampir menyuntik mati pria ini.  Lupa dengan permintaannya, Lucas berjalan melewati dua orang yang berdiri di depannya dengan tatapan dingin, tubuhnya yang ramping berhenti depan sofa.  Tercium samar bau desinfektan. Sepertinya Hara sudah menyeterilkan ruangan sesuai permintaannya.  Mengamati ruangan, terlihat sekilas kepuasan di wajahnya.  Tidak heran rumah sakit ini sering dipakai menginap tersangka koruptor, kamar di sini lebih cocok disebut hotel daripada bangsal rumah sakit.  Di sampingnya, Hara dengan cepat memberi informasi.  "Bos, pembayaran rawat inap sudah diselesaikan. Kapan pun Anda mau, kita bisa langsung pergi dari sini."  Lucas melihat masih berdiri dan tidak bergerak.  "Mmm," katanya sedetik kemudian.  ************ ******
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN