Gelisah melanda di kamar yang sudah akrab dengannya. Sunyinya malam justru berisik karena surat katak di samping rumah. Pemilik rumah sudah tidur, sedangkan dia masih merenung. Perkataan Putra dan ekspresinya terus terngiang di otak Layla. Dia tidak bisa mencerna ucapan dengan baik. Namun, sangat yakin dengan diamnya Putra saat membicarakan perasaan dan Rianti. Menyangga kepalanya di atas bantal, mengerjap menatap dinding kayu. Masih tidak bisa berpikir dengan baik. "Apa maksudnya dia kembali sama ayah secepatnya? Masa Putra ketemu ayah? Ah, nggak mungkin!" gumam Layla. "Ck, tapi kenapa dia cemas sama Rianti? Jangan-jangan dia ada rasa sama Rianti? Gawat!" pekiknya lanjut. Layla memilih tidur dengan wajah tertutup bantal. Sebelum tidur Layla bicara dalam hati. 'Semoga ayah baik-ba

