7. Terkejut

2215 Kata
   Menunggu sampai Paman Rey kembali. Rianti terus mengajak Sava mengoceh. Dia memberitahu Sava kalau dibelikan handphone oleh Paman Rey. Hingga malam tiba, tetapi Paman Rey tidak kembali. Rianti merasa kehilangan jejak.     Dia dikejutkan lagi tengah malam oleh suara Sava yang mengaji. Rianti mengintip kamar Sava. Pintunya sempat berdecit saat Rianti sedikit membukanya. Namun, Sava tidak terganggu. Rianti tersenyum tenang.     "Sava ...," Tidak sadar Rianti memanggilnya lirih.    Perhatian Sava teralihkan. Dia mengakhiri kegiatannya dan minum. Menatap Rianti dengan senyum.     "Ngapain? Ngintip?" tanya Sava.     Rianti terperangah. "Ah? Haha," tawanya kaku.    Sava mengkode dengan tangan menyuruh Rianti masuk. Perlahan Rianti masuk sambil meringis.     "Hehe, habis ngaji, ya?" tanya Rianti kaku.     "Iya. Siapa tau bisa lebih dekat sama Tuhan. Biar nanti masuk surga," jawab Sava tersenyum.     Cengiran Rianti luntur seketika. "Aku jarang mengaji. Apa aku tidak boleh masuk surga?" tanya Rianti melemas.     "Maksudku nggak gitu. Aku pakai sisa hariku buat mendekatkan diri sama Tuhan," jawab Sava dengan wajah polos.    Rianti jadi gemas menatapnya. "Iya, aku tau. Emm, sudah malam. Kamu tidur aja," pinta Rianti.     Sava menggeleng. "Nggak bisa tidur," jawabnya.     "Kenapa?" tanya Rianti.     "Entahlah, aku banyak pikiran. Terutama memikirkanmu," jelas Sava tersenyum.     Rianti tersentak. "Memikirkanku?" tanya Rianti bingung. Sava tertawa tanpa suara sebentar. "Udahlah, tidur sana!" suruh Sava sambil melirik pintu. Rianti hanya diam, "Mau tidur denganku? Aku akan sangat beruntung nanti. Apalagi ini tengah malam." sambung Sava sambil tersenyum miring.    Rianti tersentak lagi. Dia menolak sambil menyilangkan tangan. "Enggak kok enggak. Aku balik, deh. Kamu tidur juga loh, ya."     Dia langsung melenggang pergi dan masuk ke kamarnya. Sava tersenyum dalam diam. Sedikit batuk lagi dan mendesah pasrah. Lalu, berbaring di ranjangnya, tanpa tidur.    Rianti teringat video Paman Rey. Dia mengambil handphonenya dan duduk di ranjang. Memutar ulang dan melihat dengan jelas siapa orang yang diajak bicara Paman Rey. Namun, Rianti tidak bisa mendengar suara mereka."Suaranya nggak jelas. Tapi, aku akan ingat wajah orang itu. Mungkin Paman Rey akan menemuinya lagi. Lalu, aku harus tau percakapan mereka. Iya," tekad Rianti.     Rianti memilih tidur setelah menyimpan handphone di lemari lagi. Besok dia harus membawa Sava ke rumah sakit. Pikirannya terganggu sekarang. Tidak tidur, melainkan menatap langit-langit kamar. Berpikir soal orang dalam rekamannya.     'Laki-laki, seumuran Paman Rey.' pikir Rianti.     Perlahan dia tidur sendiri. Sampai pagi, menganggu para pembantu karena berebut sapu. Rianti ingin bersih-bersih rumah, tetapi pembantu itu melarangnya.     "Bibi juru masak, bantuin aku, dong. Aku mau nyapu, nih. Mereka nggak mau ngasih sapunya!" teriak Rianti meminta bantuan.    Terdengar suara tawa kecil dari dapur.     "Rianti, Bibi sedang memasak. Tidak bisa membantumu," jawab Bibi juru masak sedikit teriak.    Rianti menyerah dan melepaskan sapunya. Membuat pembantu itu menghela napas dan tersenyum. Rianti merengut dan menggerutu. "Mau nyapu aja nggak boleh. Aku susah, nih, diam terus. Biasanya, 'kan gerak."     Dalam hati Rianti tidak suka menjadi orang kaya. Hanya diam dan semuanya dikerjakan oleh pembantu. Cemberut Rianti hilang berganti panik saat dengar Sava batuk sangat keras dari kamar. Rianti langsung lari menghampiri Sava.     "Sava!" pekik Rianti saat melihat Sava terduduk di lantai dengan darah keluar dari mulutnya.     Rianti mendongakkan kepala Sava dan membersihkan darah di bibir Sava dengan tangannya. Tapi Sava masih terbatuk dan keluar darah lagi, mengenai tangan Rianti dan bercucuran di lantai. Rianti istighfar dalam hati. Dia panik, Sava terus batuk dengan memukuli dadanya. Rianti mencoba menarik tangan Sava agar tidak memukul lagi, dan mengusap mulut Sava pakai bajunya. Karena tangan Rianti banyak muntahan darah Sava. Sava mengernyit dan menatap Rianti buram. Mencoba meredakan batuknya.     'Kenapa Rianti melakukannya?' Tanya Sava dalam hati.    Sava bingung karena Rianti menggunakan ujung bajunya untuk menyeka mulutnya. Tanpa jijik, Rianti menerima darah di tangannya.     "Sava, Astaga, aku harus apa? Ada yang sakit? Mana yang sakit? Kita ke dokter sekarang, ayo!" Rianti panik sambil membantu Sava berdiri. Tetapi Sava tidak mau dan tetap duduk. Rianti menatapnya bingung.    "Air ...," Sava meminta sambil meringis.     Rianti mengangguk dan segera mengambil airnya. Datang lagi dengan membawa wadah dan air satu botol. Sava menerimanya dan berkumur, membuangnya di wadah, lalu meminum sisa airnya.     'Sava kenapa lagi? Kayaknya sakit banget. Aku ikut ngilu,' batin Rianti menatap Sava cemas.     "Mana yang sakit? Ke rumah sakit aja, yuk!" bujuk Rianti.     Sava menggeleng lemah. "Kau bilang ... Ke rumah sakit tanpa sepengetahuan Rey," jawab Sava lirih sambil mengatur napas.     "Tapi, Paman Rey nggak ada." kata Rianti menggeleng.     Seketika Sava mengerutkan dahi. "Nggak ada?" tanya Sava balik dan Rianti mengangguk.     "Kemana Rey?" tanya Sava bingung.     "Ck, lebih bagus begitu. Ayo, kita ke rumah sakit sekarang!" ajak Rianti dan membantu Sava berdiri lagi. Tetapi, tangannya di tahan Sava.     "Tanganmu ... Ada darahku. Maaf," ujar Sava memandang Rianti polos.     "Nggak apa-apa. Udah bersih, kok. Tuh, bersih, 'kan?" tanya Rianti mengelap tangannya dengan bajunya lalu menunjukkan pada Sava.     "Kamu nggak jijik?" tanya Sava mengernyit.     Rianti menggeleng cepat. "Enggak. Udah ayo!" ujar Rianti membantu Sava berdiri. Saat ingin melangkah Sava menarik tangannya lagi, membuat Rianti berdecak. "Apa lagi, sih?" tanya Rianti.     Sava menunjuk ujung baju Rianti. "Bajumu banyak darah. Ganti dulu sana. Aku juga mau ganti baju. Udah agak mendingan nggak batuk kayak tadi," terang Sava dengan raut pucat.     Rianti menunduk melihat darah di bajunya, lalu mengangguk dan langsung pergi ke kamarnya. Dia tergesa-gesa, pikirannya masih cemas. Masuk ke kamar Sava lagi, dia tertegun karena penampilan Sava berubah lebih segar.     "Tampannya," gumam Rianti tidak sengaja. Membuat Sava menoleh dan tersenyum.     "Terima kasih, aku memang tampan dan keren," jawab Sava senang.     Rianti mengerjap seketika. "Eh, kenapa rapi banget?" tanya Rianti heran.    "Memangnya ke rumah sakit harus kelihatan kayak orang sekarat begitu? Aku harus selalu terlihat keren, dong. Biar mati nanti juga tetap keren," jelas Sava sambil menyibakkan rambutnya.     Rianti menganga. 'Kepedaan banget! Apa hubungannya sama mati coba?' pikir Rianti.     "Ck, terserah kamu. Ayo berangkat. Naik angkutan umum, ya. Harus!" Rianti menekan kata harus membuat Sava mendelik.     "Iya!" Sava menjawab agak kesal.    Rianti menggandeng tangan Sava erat dan keluar rumah. Sava sampai memekik pelan. Para pembantu dan pak satpam bertanya mereka mau pergi ke mana, Rianti hanya menjawab kalau pergi sebentar. Rianti sempat celingukan mencari Paman Rey, tetapi tidak ada di rumah.     Sepanjang berjalan, Rianti tidak melepaskan tangan Sava, bahkan sampai di rumah sakit dan bertemu dengan dokter.     Rianti berbisik. "Eh, kamu bawa uang banyak, 'kan?" tanya Rianti.     Sava meliriknya. "Iya, kenapa? Minta?" tanya Sava berbisik.     "Enggak, baguslah. Pastikan uangmu cukup. Kamu, 'kan orang kaya. Aku nggak mungkin bayar karena aku nggak punya uang!" bisik Rianti.     Rianti mencoba bertanya terlebih dahulu. Dia sangat terkejut dengan pernyataan dokter jika Sava tidak mengidap penyakit jantung. Dalam hati Rianti senang sekaligus penasaran. Sava membantah tidak terima, dia lebih terkejut hingga wajahnya tidak senang. Rianti kembali bertanya dan dokter mengatakan Sava salah minum obat yang menyebabkan dia batuk berdarah. Sava sampai menutup mulutnya tidak percaya. Pikiran Rianti langsung tertuju pada Paman Rey. 'Selama ini yang mengatur obat Sava adalah Paman Rey,' pikirnya.    Sava tetap membantah dan menceritakan kalau dirinya divonis mati dalam waktu dekat, dokter itu menggeleng dengan senyum. Rianti meminta untuk Sava di periksa kembali, dan mereka menunggu hingga hasil lab keluar sekitar satu minggu.    Ucapan dokter benar-benar mengganggu pikiran Sava. Berjalan tanpa memperhatikan langkahnya. Di trotoar yang bising tidak membuat Sava sadar. Sampai dia dan Rianti duduk di halte. Sava masih menunduk tanpa berkedip. Dahinya berkerut sedang berpikir, sejak keluar dari rumah sakit.     Rianti menyenggol lengannya. "Hei, harusnya kamu senang ternyata nggak sakit jantung. Dokter sudah berikan obat baru buat pemulihan. Mulai sekarang, kamu minum obat ini aja." kata Rianti sambil tersenyum. Menenteng kantung kresek di hadapan Sava.    Sava mengerjap dan menatap kantung kresek itu. Mengambilnya dan membuka isinya.    "Eh, eh, mau ngapain? Jangan di buang, loh!" seru Rianti.     Rianti mengerjap saat Sava bergumam.    "Obat ini nggak kayak obat yang aku minum," gumam Sava menatap obat-obatan itu dengan dahi berkerut.    Seketika Rianti tersenyum. "Kamu ngerti sekarang? Nanti, di rumah aku jelaskan semuanya," jelas Rianti.     Sava menatap Rianti. "Tapi, ini ... Aku nggak percaya. Jadi, selama ini ...," ucapan Sava menggantung.     Rianti mengerti, dia mengangguk. "Seperti dugaanku, Sava. Tenanglah, akan kubuat semuanya jelas. Kita tunggu hasil labnya, yang penting kamu tau sekarang." kata Rianti serius.    Melihat ada keraguan dalam mata Sava, Rianti tertawa ringan. "Haha, senyum, dong. Katanya keren, bahagia karena nggak jadi mati, yeyyy!" senang Rianti refleks memeluk lengan Sava.     Membuat Sava tersenyum dan ikut tertawa. "Hahaha, kalau itu benar. Alhamdulillah!" ujar Sava menepuk kepala Rianti pelan. Lalu menunggu bus datang.    Setibanya di rumah, Rianti langsung mengajak Sava ke kamarnya. Rianti mengunci pintu kamar dan mengambil handphone dan buku Sava dalam lemarinya. Menyuruh Sava duduk di ranjang dan dia menaruh buku dan handphone itu di tengah-tengah mereka.    Sava menatap Rianti heran. "Kamu ambil bukuku, ya?" tanya Sava sambil menunjuk Rianti seakan mencuri.     Rianti meringis sambil menjawab, "Hehe, iya."    Sava protes. "Wah, kamu nyuri! Kapan ambilnya? Harus bayar denda, ini!" seru Sava.     "Heh! Aku nggak nyuri, cuma ngambil doang! Lagian berkat aku buku ini bisa terbuka tau, nih!" ucap Rianti menunjukkan buku yang dia pegang.     Sava melihatnya lalu terpekik. "Kok, gemboknya terbuka?" tanya Sava bingung.    Wajah Rianti berubah serius. Menatap Sava sambil berkata, "Kamu benar, buku ini punya rahasia. Ternyata, ini isinya." Rianti membuka buku itu, langsung muncul tulisan tidak beraturan. Sava membacanya perlahan, seketika syok sampai menutup mulutnya.     "Astaga!" ucap Sava terkejut.     Rianti tersenyum miring. "Kamu nggak menduganya, 'kan? Orang tuamu memberikan buku ini karena ingin memberitahu, Sava. Kamu di tipu dan orang tuamu dalam bahaya. Ini pasti sudah direncanakan seseorang dari awal, termasuk sakitmu itu." jelas Rianti.     Deg!    Sava melotot menatap Rianti. Hatinya berdesir, merasa bodoh karena tidak mengetahui yang sebenarnya.     "Karena penasaran, aku mengambil bukumu dan pergi. Aku jual perhiasan yang ada di lemari, untuk dapat uang dan naik bus. Menemui orang yang aku anggap kakak untuk membuka buku ini. Itulah kenapa aku pergi dari rumah, dan menemukanmu di danau taman bersama Paman Rey. Aku juga terkejut, Sava. Lihatlah, tulisan ini tidak rapi. Pasti di tulis dengan tergesa-gesa. Aku pikir, mungkin orang tuamu sedang dalam masalah dan menulis ini segera. Lalu meberikannya padamu." kata Rianti menjelaskan.     Sava semakin terkejut, seakan petir menyambar di atas kepalanya.     "Apa?" Sava tidak percaya. "Semakin besar rasa curigaku kalau kamu nggak sakit dan di vonis mati. Intinya, bisa jadi kata vonis mati itu akal-akalan saja. Agar kamu nggak punya harapan hidup dan putus asa." terang Rianti lagi.    Sava mengerutkan dahinya. "Tapi, tapi, kenapa?" tanya Sava bingung.     Rianti mengerjap dan mengambil tangan Sava, dia membujuk Sava. "Sava, kurang jelas apa ini kalau kamu tidak sakit? Ini sangat jelas, lebih jelas lagi kalau hasil lab keluar. Sstt, jangan beritahu siapapun! Termasuk, Paman Rey asistenmu itu! Hanya antara kita berdua, perlahan semuanya akan terungkap. Percayalah padaku!" kata Rianti.     Sava menatapnya sendu lalu mengangguk. Rianti tersenyum sebentar. Dia melanjutkan ucapannya. "Soal obat, buang saja obat itu! Eh, jangan! Nanti semua orang curiga. Mendingan kamu simpen lalu kurangi satu per-satu kalau waktunya minum. Tapi, jangan di minum. Kau minum obat dari dokter tadi aja. Paham, 'kan?" Rianti memberi solusi lalu bertanya. Sava hanya mengangguk lagi dengan wajah murung. Rianti bertanya lagi. "Kamu dapat obat itu dari mana?"     Sava menunduk sebentar lalu menatap Rianti. "Rey," jawabnya.     Deg!    Rianti lebih terkejut lagi, perkiraannya terbukti benar lagi.     "Kamu tau, 'kan artinya apa?" tanya Rianti sambil tersenyum miring.     Sava mengangguk. Pandangannya menunduk. "Rey memberiku obat itu. Dia bilang, itu untuk membuatku lega setelah batuk. Karena, tidak ada obat lain sampai aku mati. Ternyata ... Itu semua, tipuan? Obatnya salah?" Sava bingung.     Rianti mengangguk cepat. "Tepat sekali. Sava, dari awal aku sudah curiga padanya. Maaf, tidak memberitahumu, karena aku harus punya bukti dulu. Sekarang, kamu tau sendiri," kata Rianti.     Sava memutar pandangannya ke segala arah, "Astaga! Bodohnya aku." ujar Sava sambil meraup wajahnya.     Rianti menggeleng. "Enggak, Sava. Itu wajar, kalau aku jadi kamu paling sudah frustasi sejak dulu. Mati, itu berarti kita tidak bisa hidup di dunia lagi. Rasanya sesak, iya, 'kan? Apalagi, ini tipuan." kata Rianti mencoba membuat Sava tenang.     Sava terus mengusap wajahnya dengan kedua tangan. Rianti jadi kasihan. 'Pasti, dia sangat terpukul,' batin Rianti.     "Tapi, soal penyakitmu ini masih belum selesai. Sabar dulu Sava," ujar Rianti serius.    Sava mendesah pasrah lalu mengangguk. Dia merebahkan dirinya asal membuat Rianti melotot. "Hey, ini kamarku!" pekik Rianti.     "Ini rumahku," jawab Sava sambil menatap langit-langit. Kedua tangannya terlipat menjadi bantalan.     Mendengar jawaban Sava yang tidak mau diajak bercanda, Rianti jadi diam juga. Rianti membatin, 'Kayaknya, Sava lagi mikir.'    Sangat jelas Sava sedang kalut. Perasaannya mungkin dipermainkan. Tapi pertanyaannya, siapa dalangnya. Mungkin jika terbongkar, orang tua Sava dan Rianti juga ditemukan.     'Ini soal Sava. Terus, gimana sama aku?' batin Rianti.     Rianti menunduk. Terukir senyum meskipun semuanya belum jelas. Ikut mencerna, sesekali melirik Sava yang tidak bergerak. Suasana kamar jadi senyap, mereka bermain dengan pikirannya sendiri. Tidak keluar sampai malam tiba. Pembantu mengetuk pintu beberapa kali, namun, mereka tidak menjawab. Selama itu juga Paman Rey tidak ada di rumah. Sampai, semua orang yang bekerja di rumahnya pulang. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN