Malam ini Sava tidak ingin keluar dari kamar Rianti. Dia memaksa untuk tidur dengan Rianti. Susah payah Rianti menolak, tetapi Sava kembali murung dan membuat Rianti tidak tega. Akhirnya Rianti pasrah, dia tidur di bawah. Namun, Sava ikut ke bawah. Berganti di atas, Sava juga ikut ke atas. Membuat Rianti geram dan berdiri melototi Sava. Sava hanya duduk diam di ranjang.
"Kamu ngapain, sih? Aku ke bawah kamu ikut, ke atas kamu ikut. Maunya apa?" omel Rianti
Sava garuk-garuk kepala. "Maunya tidur sama kamu," jawab Sava polos.
Seketika Rianti menganga, "Benar-benar, ya. Nggak mau! Mending kamu tidur di kamarmu sendiri." kata Rianti sambil menunjuk pintu.
Sava menoleh sebentar ke pintu dan menatap Rianti memelas. "Ayolah, Rianti. Aku mau di sini," bujuk Sava.
Rianti berdecak kesal. "Nggak boleh!" tolak Rianti.
"Loh, kenapa nggak boleh?" tanya Sava mendelik.
"Karena ini kamar perempuan. Kamu laki-laki, pergi sana!" Rianti masih mengusir Sava.
Sava justru merebahkan diri dan memeluk guling, sambil menatap Rianti yang semakin melotot, "Apa masalahnya? Kita, 'kan udah sah. Sini tidur sama aku, sini." pinta Sava menepuk sisi sebelahnya.
Rianti benar-benar kesal. "Eh, tetap aja kamar kita beda. Udah sana pindah, Sava!" Rianti mengusir sambil mengkode dengan tangannya.
Sava justru terkekeh.
"Kenapa nggak mau aku di sini? Grogi, ya?" jahil Sava.
"Apa? Hahaha, nggak usah bercanda, deh. Buat apa grogi?" sewot Rianti.
Memalingkan wajahnya ke samping dengan bibir cemberut. Justru membuat Sava semakin semangat menggoda.
"Hey, lihat wajahmu itu!" seru Sava sambil menunjuk wajah Rianti. Rianti refleks meraba wajahnya.
"Ada apa? Wajahku kenapa?" tanya Rianti takut.
Sava diam sebentar lalu menjawab. "Cantik!" ujar Sava tersenyum manis.
Rianti tersentak dan tersenyum seketika.
"Cie, pipinya merah, ciee. Tersipu malu, nih." goda Sava sambil tertawa.
Seketika senyum Rianti hilang. "Sava! Nggak lucu!" Rianti marah.
"Hmm, kamu yang pemarah. Bukan aku, wekkk." ejek Sava menjulurkan lidah.
Rianti tahu maksud Sava yang menghinanya pemarah di depan dokter. Jadi, Sava membalasnya.
"Tadi murung. Sekarang udah enggak. Huh, dasar!" omel Rianti.
"Ya... Itu, 'kan tadi. Setelah aku pikir-pikir. Kata dokter mungkin benar. Apa aku nggak boleh senang sekarang? Masih punya harapan hidup lama, 'kan?" jelas Sava sambil menaikkan kedua alisnya.
Rianti mengangguk kuat. "Benar banget. Jadi jangan putus asa dulu. Eh, ngomong-ngomong...," ucapan Rianti terpotong oleh Sava.
"Duduk atau rebahan sini, Rianti. Berdiri terus nggak capek?" tanya Sava sambil menepuk ranjang.
Rianti menghela napas pasrah dan duduk di samping Sava. Mengambil bantal dan dipeluk. Ingin bicara namun Sava menyelanya.
"Daripada meluk bantal, mending meluk aku." kata Sava menaik-turunkan kedua alisnya dengan senyum
Rianti berdecak dan ingin memukul Sava dengan bantal. Membuat Sava terkekeh dan menyuruh Rianti melanjutkan ucapannya. "Ngomong-ngomong, Paman Rey nggak ke rumah seharian. Kamu, nggak nyariin?" tanya Rianti. Sava menggeleng, "Buat apa? 'Kan ada kamu." jawab Sava nyengir.
Rianti membuka mulutnya lagi. "Kamu ... Ish, jangan gitu terus, dong. Aku pukul, nih!" ancam Rianti mengangkat bantalnya.
"Haha, kamu lucu kalau marah. Ah, aku terhibur. Mau murung lagi, ah." ujar Sava lalu senyumnya hilang. Sava kembali murung sungguhan. Membuat Rianti tidak percaya.
"Ada, ya, mau murung bilang dulu? Gila!" gumam Rianti sambil menggelengkan kepala melihat Sava.
Rianti tidak tahu Sava hanya berpura-pura murung atau benar-benar murung. Karena Rianti perhatikan dari tadi, Sava tidak tersenyum dan menggodanya lagi. Justru terus mengerjap dan menghela napas.
Rianti memberanikan diri untuk bertanya. "Kamu, lagi mikir, ya?" tanya Rianti pelan.
Sava hanya menjawab dengan gumaman. Rianti tidak tahu lagi harus bicara apa. Sava terlihat sangat serius dengan pikirannya. Sampai Sava sendiri yang mengajak Rianti bicara, membuat Rianti sangat antusias.
"Rianti, kamu bilang curiga sama Rey, benar, 'kan?" tanya Sava tanpa menatap Rianti.
Rianti mengangguk. "Iya, dari awal aku datang ke sini," jawab Rianti jujur.
"Kenapa? Maksudku, apa yang membuatmu curiga dengannya?" tanya Sava berpaling dan menatap Rianti. Rianti tersentak. "Karena, dia tau banyak tentangmu. Selain itu orang tuamu nggak ada. Wajar aja, 'kan aku curiga padanya," terang Rianti.
Sava terdiam, sangat lama. Membuat Rianti bingung lagi.
"Sebenarnya, sulit mencurigai Rey. Dia banyak membantu di keluargaku." kata Sava melengos.
Rianti sempat kaget karena Sava tiba-tiba nyeletuk.
"Aku tau, Sava. Ah, aku punya sesuatu. Mungkin, kau mengenalnya." kata Rianti ingat akan video Paman Rey yang dia rekam. Rianti mengambil handphonenya dan memperlihatkan video itu. Membuat Sava terduduk bersandar kepala ranjang.
"Apa itu?" tanya Sava dengan dahi berkerut.
"Ini video pembicaraan Paman Rey. Aku mengikutinya tepat setelah dia memberiku handphone ini. Dia pergi ke gerbang kompleks menemui seseorang. Suaranya kurang jelas, tapi mungkin kamu kenal siapa orangnya. Coba lihat," kata Rianti.
Sava menatap Rianti. "Kamu curiga waktu itu?" tanya Sava.
"Ck, iya, makanya aku rekam," jawab Rianti.
Mereka melihat video itu bersama.. Untuk ke dua kalinya, Rianti masih kurang jelas dengan suara video itu. Melihat Sava yang sangat serius mengamati video, Rianti berharap jika Sava mengetahui sesuatu.
"Laki-laki itu...," ucapan Sava menggantung sambil menunjuk seseorang yang diajak bicara Paman Rey.
Rianti sedikit memiliki harapan. "Apa? Siapa dia? Kamu kenal?" tanya Rianti. Tetapi Sava menggeleng. Rianti kehilangan harapan.
"Tapi ,Rianti, sepertinya aku pernah melihat orang itu. Dia sering bersama Rey," kata Sava melanjutkan.
Rianti sedikit antusias lagi. "Di mana? Kapan? Mereka ada hubungan apa?" tanya Rianti.
Sava menatap Rianti sambil menggeleng. Seketika Rianti cemberut. "Hah, aku pikir kamu tau," kata Rianti. "Aku emang nggak tau, tapi aku pernah melihatnya. Apa itu nggak cukup?" Sava berbalik tanya.
"Tentu aja nggak cukup. Bukti harus lebih kuat, Sava. Agar semuanya bisa cepat terungkap!" ucap Rianti sungguh-sungguh.
Sava tersenyum pahit. "Kamu benar. Aku aja yang bodoh di sini, ck," Sava berdecak.
Rianti ingin menjawab, tetapi Sava melanjutkan ucapannya. "Kamu curiga dengannya. Di buku itu, Papa dan Mama juga bilang agar hati-hati dengan Rey, dan aku di tipu. Jadi... Aku juga mulai curiga dengannya." kata Sava dengan mata memicing.
Senyum Rianti terbit. "Bagus! Kita bisa kerja sama. Selesaikan ini segera," ucap Rianti semangat.
Sava menatap Rianti tersenyum sambil mengangguk.
"Yes! Kalau begini, misteri pernikahan ini akan terjawab!" ujar Rianti senang.
Seketika muncul ide jahil dari Sava.
"Ehm, ehm. Istriku, sudah berapa hari kita menikah? Kita belum pernah merayakannya, 'kan?" tanya Sava sambil memutar bola matanya.
Rianti bingung. "Apa maksudmu?" tanya Rianti.
Mata Sava berkerling. "Masa' Nggak tau, sih?" Sava balik bertanya. Dia mendekatkan diri ke telinga Rianti, meskipun Rianti agak menjauh. "Malam pertama," bisik Sava melanjutkan.
Seketika Rianti terlonjak kaget. "Ha!? Enggak, nggak, nggak! Nggak boleh itu nggak boleh!" teriak Rianti sambil menyilangkan tangannya.
Sava terkekeh. Dia menangkap tangan Rianti. Membuat Rianti melotot padanya dan meronta ingin menarik tangannya.
"Hey, apanya yang nggak boleh? Emang aku mau ngapain?" tanya Sava menggoda.
Rianti sangat kesal. "Lepaskan tanganku!" seru Rianti sewot. Terus menarik tangannya tetapi gagal.
Sava tersenyum miring. "Main, yuk!" ajak Sava mengedipkan sebelah matanya.
Rianti terpekik. "Heh, Sava! Kamu gila, ya? Malam begini mau main apa? Nggak jelas banget!" sewot Rianti.
Sava semakin lebar tersenyum.
"Malah senyum lagi. Lepasin tangan aku!" pinta Rianti terus menarik tangannya.
Dalam sekali gerakan, Sava berhasil mendorong Rianti hingga berbaring dan dia ada di atas Rianti. Membuat Rianti memekik sambil menutup matanya. Sava tersenyum masih menangkup kedua tangan Rianti di tengah-tengah mereka.
"Ehm," Sava berdeham.
Membuat Rianti membuka matanya. Memekik lagi karena badannya ditindih Sava. Napas Rianti menjadi sangat cepat.
'Wajahnya dekat banget. Bikin grogi aja, sih. Mana aku ditindih lagi, ish,' sebal Rianti dalam hati.
Melihat senyuman Sava, Rianti membalasnya dengan mengomel.
"Nggak usah senyum gitu, jelek! Bangun sana bangun, aku bisa gepeng kamu tindih begini!" sewot Rianti.
"Manis sekali!" jawab Sava tersenyum.
Degupan jantung Rianti semakin cepat. Dia terpengaruh dengan senyum dan napas Sava yang menerpa wajahnya. Perlahan dirinya melemas tidak melawan.
'Bangun, dong, Sava. Aku takut, nih!' batin Rianti.
Rianti memutar bola matanya gugup. Tiba-tiba jemari Sava membelai rambutnya. Rianti kaget, menatap Sava ragu.
"Cantik!" kata Sava tersenyum. Membuat Rianti malu. Lalu, Sava melanjutkan ucapannya. "Karena kamu perempuan, hahaha." Sava terkekeh.
Rianti menjadi gagal merasa di puji.
'Hah, nggak lucu! Tapi aku beneran gugup, tau!' batin Rianti.
"Hey, aku main main. Boleh?" tanya Sava pelan.
"Ma-main?" tanya Rianti terbata-bata.
Sava mengangguk. "Mainnya begini...," Sava tidak melanjutkan ucapannya melainkan langsung mengecup bibir Rianti singkat. Lalu tersenyum tanpa dosa. Sedangkan Rianti melotot.
"Main kayak gitu. Mau, ya! Cuma cium doang," pinta Sava mirip berbisik.
Rianti tidak menjawab. Dia sibuk dengan detak jantungnya, yang sama seperti Sava. Sava memajukan wajahnya ingin mencium Rianti lagi. Namun, Rianti menoleh ke samping sehingga Sava gagal. Sava tersenyum dan langsung bangun, berbaring di samping Rianti.
"Hah, gagal, deh." kata Sava sengaja sambil menutup matanya dengan lengan. "Jangan marah, ya, istriku. Hahaha, lucunya," sambung Sava.
Rianti bingung harus bicara apa. Dia hanya diam dengan pandangan mata ke mana-mana. Sampai dia rasa Sava sudah tertidur, Rianti menatapnya.
"Mainnya ngagetin, sih. Denger nggak?" tanya Rianti lirih.
Rianti mendekatkan diri ingin memastikan Sava sudah tidur. Wajahnya kembali berhadapan, Rianti melambaikan tangannya di depan wajah Sava.
"Hey, Sava. Udah tidur beneran?" tanya Rianti berbisik.
Tidak ada jawaban, Rianti menghela napas lega. "Akhirnya dia tidur, eemmpp...," pekik Rianti karena tiba mulutnya di bungkam Sava. Lalu, Rianti melepaskannya paksa.
"Sava!" pekik Rianti marah.
Sava hanya mengerjap polos.
"Kamu menipuku? Tadi tidur, kok ternyata...," kata Rianti tidak dilanjutkan.
"Ternyata aku bangun dan menciummu lagi. Hahaha, hanya bercanda istriku yang pintar." Sava melanjutkan ucapan Rianti.
Rianti menganga dan menyentuh bibirnya sendiri. Lalu berdecak, memilih tidur membelakangi Sava.
"Menyebalkan! Dia pikir ini lucu? Ini memalukan, tau! Aku kesal, sangat kesal! Huh!" gerutu Rianti.
Sava mendengarnya. "Hey, sengaja ya? Biar aku dengar?" tanya Sava jahil.
"Tidur!" jawab Rianti membentak.
Membuat Sava terkekeh, dan kembali tidur dengan senyum. Rianti menutupi kepalanya dengan bantal, agar tidak terlihat kalau dia sedang senyum. Senyumnya malu sekaligus senang.
Sampai pagi tiba, Rianti berebut sapu lagi dengan pembantu. Dia ingin bersih-bersih rumah.
"Jangan ditarik Rianti, nanti sapunya patah." kata salah satu pembantu yang berusaha mempertahankan sapu dari Rianti. Sedangkan pembantu yang satu lagi hanya diam menyaksikan.
"Bibi, lepasin! Aku mau bantu Bibi. Ih, di bantu, kok, nggak mau, sih?" jawab Rianti berusaha merebut sapu.
"Ini pekerjaan kita, Rianti. Kalau Tuan Sava tau, nanti pasti marah." jawab pembantu yang diam saja.
Rianti menoleh. "Bibi, dia itu jinak. Nggak mungkin marah," jawab Rianti.
Rianti masih mempertahankan tarikannya. Sampai melihat Bibi juru masak membawa tas belanja ingin keluar rumah. Rianti langsung melepaskan sapunya da menghampiri Bibi juru masak. Membuat pembantu itu hampir jatuh dan hanya geleng kepala.
"Bibi juru masak, mau belanja, ya? Aku ikut, dong!" seru Rianti semangat.
Bibi itu menoleh. "Kamu semangat sekali. Mau masak buat Tuan?" tanya Bibi itu menggoda.
Rianti sok berpikir. "Emm, mau ikut belanja aja. Bosan di rumah terus, hehe." Rianti nyengir.
Bibi itu tertawa dan mengajak Rianti keluar. Baru sampai gerbang, mereka bertepatan dengan Paman Rey yang baru masuk dan berbicara dengan satpam.
Rianti menghentikan langkah Bibi juru masak. "Berhenti dulu, Bi. Ayo gabung dengan mereka, sapa selamat pagi begitu, hehe." Rianti nyengir lagi.
Bibi itu hanya mengangguk tersenyum.
"Hai, selamat pagi para orang tampan. Haha, gosip apa, nih?" tanya Rianti semangat.
Pak satpam dan Paman Rey menoleh dengan senyum.
"Pagi juga Rianti. Ceria sekali hari ini, kenapa?" tanya Paman Rey.
"Ah, tidak. Biasanya juga ceria. Hanya saja sering ikut pendiam kalau Sava murung, hehe. Paman, ke mana saja kemarin? Aku tidak melihatmu." tanya Rianti sambil geleng kepala.
Rianti melihat Paman Rey dan pak satpam yang saling lirik. Seakan memberi kode lewat mata.
"Ah, aku lupa memberitahumu. Dia sedang bersama keluarganya. Maaf, ya, aku lupa." jawab pak satpam sambil tersenyum bersalah.
"Haha, tidak masalah." jawab Rianti sambil mengibaskan tangannya.
Rianti menatap Paman Rey. "Memangnya ada acara apa Paman?" tanya Rianti.
"Hanya bersenang-senang. Berkumpul dengan keluarga, itu saja. Bagaimana dengan Tuan? Dia baik-baik saja?" tanya Paman Rey balik.
"Ah, dia cerewet sekali! Tenang saja, ada aku yang menemaninya di sini. Pasti semuanya baik," jawab Rianti bangga.
Membuat mereka semua tertawa.
'Lebih baik lagi saat kau terungkap, Paman Rey.' batin Rianti.
"Baiklah, aku permisi dulu. Ayo Bibi, kita belanja!!!" seru Rianti semangat menggandeng tangan Bibi juru masak.
Paman Rey dan pak satpam hanya tersenyum dan mengangguk. Saat di jalan, Rianti menoleh ke belakang. Melihat Paman Rey dan pak satpam itu masih bicara. Tampak pak satpam sangat lega seakan berhasil selamat. Membuat Rianti menaruh curiga padanya.
'Akting yang bagus Paman Rey. Lalu, pak satpam kenapa begitu? Aku yakin dia tadi melindungi Paman Rey. Apa mungkin mereka berkompromi? Kalau iya, maka ada dua orang di rumah ini yang mengkhianati Sava? Astaga! Pikiranku terlalu curiga. Tapi, aku memang harus curiga!' batin Rianti berpikir.
Sampai akhirnya Rianti tiba di penjual sayur, berbelanja lagi bersama tetangga yang tidak dia kenal, tetapi sangat ramah padanya.
Setelah kembali dari belanja, Rianti ikut memasak di dapur. Dia tahu kalau Paman Rey sedang bersama Sava. Rianti berharap, kalau Sava tidak menceritakan kejadian kemaren. Apalagi tentang penyakitnya. Namun, bukan itu yang membuat Rianti melamun sekarang. Tetapi, ucapan tetangga beberapa menit yang lalu.
Flashback On
"Eh, Rianti. Ikut belanja lagi?" tanya tetangga ramah.
Rianti tersenyum sambil menjawab, "Iya, pengen belanja aja, hehe."
"Sepertinya kamu rajin, ya. Kenapa tidak lanjut belajar saja? Sayang loh, usia kamu masih muda, 'kan? Baru lulus SMA, lagi!" tanya tetangga sambil memilah sayur.
Seketika senyum Rianti luntur. Bibi juru masak menyadarinya, tetapi dia tida berani menyela. Lalu, Rianti tersenyum lagi.
"Haha, kalau ada waktu, Rianti bisa belajar lagi." jawab Rianti tersenyum.
Walaupun bicara seperti itu, tetap berpengaruh di hati Rianti. Rianti memilih untuk mengambil sayur yang sekiranya murah. Dia masukkan ke dalam tas semua. Sampai Bibi juru masaknya bingung.
"Kamu nggak menyesal? Maaf, ya, bukannya saya menghina. Tetapi, Sava itu sudah hampir mati. Kamu bisa dapat yang lebih baik, bisa lanjutkan cita-citamu, bisa melanjutkan hidupmu, bukan bersama Sava dan menerima nasib. Sebenarnya aku kasihan padamu. Kamu cantik, masih muda lagi." ucap tetangga itu sambil berdecak prihatin.
Semua orang di sana menatap Rianti iba. Tetapi juga takut kalau Rianti merasa tersinggung. Karena Rianti terus mengambil sayuran yang berharga murah tanpa melihat orang yang mengajaknya bicara.
Dalam hati Rianti ingin membungkam mulut tetangganya dengan sayuran. Tetapi dia sabar dan menjawab dengan senyum.
"Bibi tetangga yang baik. Biar bagaimanapun juga, Sava itu suamiku. Meskipun aku dipaksa menikah dengannya. Tidak peduli bagaimana kondisinya, aku tetap bersamanya. Memangnya kenapa kalau aku tidak belajar lagi? Apa aku langsung tidak bisa hidup begitu? Tidak Bibi. Justru dari Sava, aku bisa belajar hidup. Dia, orang yang sangat kuat dan tabah." jawab Rianti.
Membuat semua orang tersenyum tipis.
Rianti menoleh pada tetangga itu. "Hahaha, maaf Bibi. Aku terlalu banyak bicara. Aku memang cerewet dan aneh, maklum saja, aku orang Desa. Kalau Bibi berkenan, silahkan mampir ke rumah. Kita ngobrol sama-sama. Suami saya pasti sangat senang kalau tetangganya berkunjung. Kami pamit dulu, ya. Permisi," terang Rianti sopan.
Dia menarik tangan Bibi juru masaknya setelah membayar. Bibi itu buru-buru membayar, tidak tahu uangnya lebih atau kurang. Mengikuti langkah Rianti yang sangat cepat.
Flashback Off
Sampai sekarang Rianti melamunkan hal itu. Memasak dengan sangat pelan, padahal hanya membuat sup. Bibi juru masak menegurnya berkali-kali, tetapi Rianti tidak mendengar. Hanya tersenyum dan melamun lagi. Sampai masakannya selesai. Semua orang selesai makan, kecuali Rianti.
Rianti membuang sisa makanannya dan memilih pergi ke halaman depan. Mencabuti rumput yang tumbuh di pot bunga. Masih melamun, hingga semua pot sudah dia bersihkan.
Rianti berganti ke halaman belakang. Tidak sadar di sana ada Paman Rey dan Sava. Rianti duduk di depan pot bunga dan mencabuti rumput lagi. Membuat Sava dan Paman Rey heran.
"Tuan, sepertinya ada yang mengganggu pikiran Rianti," kata Paman Rey pada Sava.
Sava tersenyum tipis menatap Rianti. 'Pagi tadi rebutan sapu, masak melamun, makan nggak habis, sekarang nyabut rumput? Hahaha,' batin Sava heran.
Sava menyuruh Paman Rey untuk pergi. Lalu menghampiri Rianti yang berjongkok. Tidak meyadari kehadiran Sava, "Rumputnya udah habis, tuh." kata Sava sambil menunjuk pot.Rianti menoleh sadar. "Sava?" panggil Rianti.
"Iya, aku." jawab Sava tersenyum.
Senyum Sava membuat Rianti mengerutkan dahi. Dia merasa tidak suka. Tiba-tiba berdiri dan marah. "Kenapa senyum begitu?" tanya Rianti agak meninggi.
Sava ikut berdiri, menatap Rianti heran. "Kenapa kesal? Apa salahku?" tanya Sava.
"Salahmu itu senyum! Karena kamu tersenyum!" Rianti marah sambil menunjuk wajah Sava. Dia merasa kesal dan muak, langsung meninggalkan Sava masuk ke rumah. Sava mematung bingung. Dia berpikir jika masalah Rianti tidak sepele.
Rianti masuk kamarnya dengan penuh amarah. Membanting pintu dengan keras, bahkan terdengar oleh dua pembantu yang sedang bekerja.
Duduk di tepi ranjang sambil mengatur napas. "Melihat senyum Sava aku jadi jengkel. Sangat kesal, pokoknya kesal!" Rianti bicara sendiri.
Meremas tepian ranjang dengan napas memburu. Dalam hati dia bertanya kenapa dia marah. Jawabannya hanya karena Sava tersenyum. Biasanya melihat Sava senyum dia senang. Sekarang sebaliknya. Rianti berdecak terus menerus, seakan hatinya gelisah. Berdiri dan mondar-mandir sambil menggigit jari. Justru semakin marah.
"Aku nggak tau kenapa aku marah. Cuma gara-gara senyum Sava aku marah. Kenapa aku marah? Kenapa?" tanya Rianti pada diri sendiri, dia frustasi, lalu duduk kembali di tepi ranjang.
Rianti menggaruk kepalanya dengan kasar. Terdengar suara ketukan pintu membuat Rianti teralihkan.
"Siapa itu?" gumam Rianti.
"Rianti? Rianti kamu di dalam? Buka pintunya, ini aku, Sava!" teriak Sava sambil mengetuk pintu.
Seketika Rianti melotot. "Sava?" tanyanya bingung. Rianti marah lagi. "Pergi! Jangan dekati aku! Aku tidak suka senyummu!" teriak Rianti menjawab.
"Apa? Kenapa kamu marah? Aku hanya tersenyum. Emangnya senyumku beneran jelek, ya?" teriak Sava dari luar terdengar heran.
"Hey, apa senyumku jelek?" tanya Sava pada dua pembantu di sampingnya.
"Tidak Tuan. Anda tampan sekali," jawab salah satu dari mereka.
"Kamu dengar Rianti? Mereka bilang aku tampan. Jadi, jangan marah dengan senyumku. Buka pintunya!" teriak Sava lagi.
Rianti benar-benar kesal. "Dia memanggil pembantunya begitu? Ada siapa saja di luar? Dasar Sava bodoh! Dia membuatku semakin marah!" gumam Rianti.
Rianti menatap pintu tajam. "Pergilah! Atau aku akan memakanmu! PERGI!" teriak Rianti menegaskan di akhir ucapannya.
Sava terus menggedor pintu. "Kalau tidak di buka, aku dobrak!" ancam Sava.
Rianti langsung berdiri. Membuka pintu dengan amarah dan langsung berhadapan tajam dengan Sava. Meskipun semua pekerja di rumahnya ada di depan kamarnya.
"Kamu tuli, ya!? Aku bilang pergi, ya, pergi, bodoh!" maki Rianti teriak di depan wajah Sava. Lalu membanting pintu lagi dan menguncinya. Membuat Sava meringis dan menutup mata. Sava tidak menduga Rianti membentaknya, dengan heran dia bertanya pada semua pembantunya. "Dia kenapa, sih?" tanya Sava bingung.
"Mungkin, dia sedang kedatangan tamu bulanan. Membuat mood-nya berubah, Tuan." jawab Paman Rey dengan senyum.
Sava tampak tidak mengerti. Lalu Paman Rey melanjutkan ucapannya lagi. "Maksudku, menstruasi, Tuan."
Baru Sava mengerti dan mengangguk. "Kok, ingin memakanku?" tanya Sava bingung.
Semua pembantunya juga geleng kepala. Mereka kembali ke aktifitas masing-masing. Rianti sibuk mengatur napas lebih tenaga. Tetapi, usahanya justru membuatnya menangis. Rianti terduduk di lantai dengan sedih. Sadar hal yang membuatnya marah.
"Bukan karena Sava aku marah. Tapi, tinggal di sini bersamanya. Aku terjebak. Ucapan tetangga itu benar. Kalau aku tidak menikah, aku bisa melanjutkan belajarku." ujar Rianti sambil sesegukan.
Pikiran Rianti kembali teringat akan nasibnya. Dia harus menjalaninya. Teringat Ibunya yang sudah tiada. Teringat Ayahnya yang kejam, dan juga dia yang selalu bekerja dan berusaha. Sekarang berbalik dan dia bingung. Dalam hati membenarkan ucapan tetangga, tetapi Rianti tidak boleh egois, karena dia bersama Sava sekarang.
Menangis dan merenung, sampai malam tidak keluar dari kamar. Membuat semua orang gelisah. Tepat pukul dua belas malam. Rianti berhenti menangis. Menghapus sisa air matanya. Mengambil pakaian ganti dan keluar kamar untuk mandi. Rumahnya sudah sepi, Rianti tidak peduli air dingin. Setelah merasa segar kembali, Rianti duduk di kursi panjang halaman belakang dengan memegang handphone. Pandangannya lurus menatap dinding pembatas yang ditumbuhi tanaman rambat. Masih ada sisa gelisah. Rianti melihat jam di layar handphone.
"Ini tengah malam. Besok tinggal dua minggu untuk Sava. Satu minggu lagi hasil lab keluar. Satu minggu itu aku harus cari tau Paman Rey. Mungkin, sesuatu akan terjadi. Lalu, aku akan cari Ayah dan orang tua Sava. Mereka pasti baik-baik saja. Aku sangat yakin," gumam Rianti berencana. Tidak ada tenaga, tidak ceria seperti tadi pagi.
Menghela napas pelan, merasakan angin malam. "Huft, aku pusing," keluh Rianti lirih.
Dia menggeleng pelan. "Yah, gara-gara pikiranku bingung, Sava kena marah. Dilihat banyak orang lagi. Aduh, gimana ini?" tanya Rianti berdecak pelan. "Biarin aja, lah. Dia juga menyebalkan." lanjutnya.
Seketika Rianti terlonjak. "Astaga! Seharian Paman Rey di rumah, 'kan? Jangan-jangan Sava menceritakan semuanya. Aduh, bisa gawat, dong!" pekik Rianti.
"Aku tidak seceroboh itu." jawab Sava tiba-tiba duduk di samping Rianti. Membuat Rianti terpekik lagi, melototi Sava.
"Kamu? Kenapa di sini? Kenapa belum tidur?" tanya Rianti beruntun.
Sava tersenyum tipis. Memutar bola matanya dan berhenti di Rianti. "Kalau istriku tidak tidur, gimana aku bisa tidur?" jawab Sava balik bertanya.
Rianti tersentak dalam hati. 'Dia menggodaku apa gimana? Menyebalkan!' batin Rianti.
Rianti melengos. Sava merusak kesendiriannya. Tapi, Rianti juga tidak bisa menyalahkan Sava. Rianti jadi bingung. Sampai Sava berdeham, membuatnya ingin menoleh tapi tidak jadi.
"Masih marah padaku?" tanya Sava setelah berdeham.
Rianti tidak menjawab. 'Aku harus jawab apa? Aku marah pada semuanya,' batin Rianti.
Sava menggeser duduknya lebih dekat dengan Rianti. Membuat Rianti melotot dan Sava kembali menjauh. Rianti melengos lagi.
"Apa aku buat salah?" tanya Sava menatap Rianti polos.
Rianti tidak mau bicara, Sava melanjutkan ucapannya. "Apa salahku? Aku hanya tersenyum. Kalau aku murung, katamu nggak boleh. Di mana salahku?" tanya Sava bingung.
Rianti menoleh spontan dengan ekspresi marah. Sava mendelik karena Rianti menunjuk hidungnya.
"Kamu nggak salah! Salahnya adalah aku ada di sini! Mengerti!?" jawab Rianti dan melengos lagi.
Napasnya naik turun lagi. Rianti mencoba tenang.
Sava menggeleng heran. "Kenapa? Aku nggak ngerti. Maksudku, kenapa kamu salah ada di sini?" tanya Sava.
Sava tahu kalau Rianti tidak mau menjawab. Dia akhirnya mengerti. "Oh, baiklah. Aku paham sekarang. Kamu, nggak mau ada di sini." kata Sava tersenyum tipis.
Kerutan di dahi Rianti perlahan menghilang. Amarah reda, menoleh ke Sava.
"Haha. Gimana sekarang? Apa yang bisa aku lakukan biar menebus kesalahanku? Karena sudah menikahimu dan merenggut hidupmu, Rianti." tanya Sava menatap mata Rianti penuh binar.
Sekarang, Rianti yang merasa bersalah. Refleks dia memeluk Sava sampai Sava hampir terhuyung ke belakang. Rianti menahan tangis. "Maafkan aku, Sava. Harusnya aku nggak marah sama kamu. Pikiranku sedang kalut, aku bingung." gumam Rianti di telinga Sava.
Sava membalas pelukan Rianti. Dia mengangguk dan berbisik, "Tenanglah,"Mengelus rambut Rianti yang terurai.
'Harusnya aku juga memperhatikanmu. Kamu berusaha demi masalahku, tapi aku lupa kalau di sini kamu yang terluka. Maaf,' batin Sava.
"Sava, maaf aku memelukmu." lirih Rianti sambil ingin melepaskan diri dari Sava. Tetapi, Sava menahannya.
"Nggak apa-apa. Seperti ini aja dulu." kata Sava sambil memejamkan mata. Rianti ikut memeluk Sava lagi. Dia menjadi tenang, pikiran buruk hilang. Keduanya larut dalam kenyamanan. Hingga Rianti bertanya sambil berbisik.
"Gimana tadi Paman Rey?"
"Dia hanya tanya kabarku dan minta maaf kemaren tidak datang. Aku hanya tanya kenapa alasannya. Dia bilang sibuk dengan keluarganya. Itu saja," jawab Sava lirih.
Rianti menghela napas bersyukur.
"Sudahlah, lebih baik kita cari Ayahmu. Kamu merindukan rumah, 'kan?" tanya Sava sambil memeluk Rianti lebih erat.
Rianti menggeleng. "Enggak, kita cari tau Paman Rey dulu sampai tuntas. Lagipula, penyakitmu masih nunggu hasil lab," jawab Rianti.
"Aku udah lebih baik, Rianti. Aku minum obat dari dokter bukan dari Rey. Jadi, jangan khawatirkan aku. Ayo cari Ayahmu aja." ujar Sava.
Rianti menggeleng lalu melepaskan pelukannya. Dia menatap Sava lekat. "Nggak ngasih tau apapun pada Paman Rey, sungguh?" tanya Rianti.
Sava mengangguk. "Aku ngg bilang apapun," jawab Sava.
"Baiklah, anak pintar." kata Rianti sambil menepuk kepala Sava dua kali. Saat ingin menarik tangannya, Sava memegang tangan Rianti dan masih di atas kepalanya.
"Aku nggak akan membiarkanmu sia-sia. Mengingat ada harapan hidup bagiku sekarang." tekan Sava dengan mata tajam.
"Apa? Dasar aneh!" tanya Rianti bingung dan menarik tangannya paksa. Menatap tembok lagi dengan sedikit senyum.
Sava membatin menatap Rianti. 'Aku nggak tau, tapi aku rasa aku sudah bergantung padamu. Aku tertarik denganmu, Rianti,' batin Sava.
Sava memecah keheningan. "Rianti, gimana soal kakakmu itu? Kamu belum cerita," tanya Sava.
Rianti menoleh. "Kakak? Maksudmu kakak yang membuka gembok buku itu?" tanya Rianti balik.
Sava mengangguk. Rianti menceritakan siapa Kakak Syam. Hingga tidak sadar menceritakan kisah hidupnya yang tidak mudah, sampai Ayahnya yang tidak menganggapnya dan mudah memukul. Rianti menceritakan semuanya. Sava hanya mendengarkan dan tersenyum miris. Dalam hati dia juga bertanya.
'Kenapa Rianti yang aku nikahi? Bukan gadis lain? Pasti ada alasan di baliknya,' batin Sava.
Sava mulai berpikir seperti Rianti. Tidak merasa putus asa dan membantu Rianti memecahkan teka-teki pernikahan mereka. Semalaman mereka tidak tidur. Rianti bercerita sampai rasa curiganya pada pak satpam, dia memberitahukannya pada Sava. Sava sangat terkejut mendengarnya. Mereka terus bersandiwara. Seakan-akan Sava akan meninggal dua minggu lagi.
Banyak pertanyaan yang belum terjawab. Hingga pagi tiba, Rianti memaksa Sava untuk bertanya tentang keluarga Paman Rey. Rianti berniat untuk mencari informasi lebih. Justru Paman Rey berbalik bertanya, alasan Sava. Sava hanya menjawab ingin bertemu dengan keluarga Paman Rey. Selama ini tidak pernah mengenal mereka. Apalagi Paman Rey sudah banyak membantu Sava.
Sangat jelas, Paman Rey menolak memberitahu Sava. Rianti bersembunyi di balik dinding dan mendengar semuanya. Dia sangat kesal. Sampai akhirnya berbagi tugas dengan Sava. Sava mengajak bicara semua pekerja di rumahnya, mencari tahu apa yang bisa diketahui. Terutama pak satpam. Sedangkan Rianti, mengikuti kemanapun Paman Rey pergi.