9. Diam-Diam

3214 Kata
   Tepat seperti dugaan Rianti. Paman Rey kembali pergi dan terlihat menunggu seseorang di gerbang kompleks. Lalu, seorang laki-laki berhenti dengan motornya, Paman Rey naik di boncengan orang itu. Rianti melotot, dia harus mengejar Paman Rey, tetapi bingung tidak punya kendaraan. Rianti berdecak dan menghentakkan kaki kesal.     Ingin naik kendaraan, tapi dia tidak punya uang. Sisa uangnya ada di rumah. Pasrah, Rianti kembali ke rumah. Cemberut membuat Sava bertanya. Rianti memberitahu kalau Paman Rey kabur dari pandangannya. Sava tiba-tiba nyeletuk ingin menyusulnya. Menarik tangan Rianti ke garasi, membuat Rianti menurut dan saat sampai dia menganga. Sava keluar dengan motor besarnya.     "Astaga!" pekik Rianti menutup mulutnya.     Sava nyengir di atas motor. "Gimana? Keren, 'kan? Ayo naik!" seru Sava semangat.     Rianti menatap Sava dan motor itu bergantian. "Aku nggak percaya ini. Kamu bisa naik motor? Sekeren ini?" Rianti menggeleng takjub.     "Ck, nanti aja takjubnya. Aku juga laki-laki, motor doang hal kecil. Ayo cepetan naik, ntar dia keburu jauh!" ucap Sava sambil menyerahkan helm pada Rianti.    Rianti mengangguk cepat dan naik ke motor. Saat Sava melajukan motornya, dia di tahan oleh Pak satpam. Membuat Sava dan Rianti kesal.    "Maaf, Tuan. Tuan mau pergi ke mana?" tanya Pak satpam.     "Jalan-jalan," jawab Sava singkat dengan ekspresi datar.    "Tapi itu tidak baik untuk diri Tuan. Sebaiknya, Tuan tetap di rumah," Pak satpam memberi saran.    "Aku tidak peduli! Sekalian saja mati. Daripada terus menghitung hari. Iya, 'kan, Rianti?" tanya Sava pada Rianti. Rianti tidak sempat menjawab dan Pak satpam hanya diam. Sava langsung menancap gas dan melaju ke jalan raya.     Rianti tidak peduli dengan pak satpam, dia menunjuk arah di mana paman Rey pergi. Sava langsung melajukan motornya lebih cepat. Membuat Rianti harus berpegangan pada Sava. "Hey, mau mati sungguhan, ya!? Aku masih mau hidup!" teriak Rianti tepat di telinga Sava. Namun, Sava tidak merespon. Sampai mereka jauh dari rumah, belum menemukan tanda-tanda paman Rey. Rianti terus menengok kanan-kiri dengan dahi berkerut. 'Ck, mana motor tadi? Pasti berhenti di suatu tempat. Kalau berbelok nggak mungkin, dari tadi hanya ada jalan raya nggak ada gang,' batin Rianti berpikir.    Sava perlahan memelankan laju motornya. Dia ikut celingukan mencari paman Rey. Sampai Rianti menepuk pundaknya menyuruhnya berhenti. "Sava, berhenti! Itu motornya, aku ingat. Ayo ke sana!" pekik Rianti menunjuk sebuah motor terparkir di rumah makan.     Sava membelokkan motornya segera. Saat ingin turun, Rianti menarik tangan Sava dan diam di tempat.     Pandangan Rianti terarah ke pintu rumah makan. "Sava, jangan gegabah. Kalau paman Rey tau, dia pasti akan tanya. Kita tunggu aja sampai dia keluar." kata Rianti.     "Tapi kita bakalan nggak tau percakapan mereka," bantah Sava.    "Benar juga. Gimana, dong?" Rianti bingung.     Belum menemukan solusi, seorang laki-laki bersama Paman Rey keluar dari rumah makan. Membuat Rianti kaget dan menarik Sava untuk berjongkok di samping motor.     "Heh, lihat itu! Benar, 'kan ada Paman Rey," bisik Rianti mengkode Sava dengan matanya. Sava ikut melihat mereka yang mulai naik motor lagi. "Wah, iya benar. Mereka mau ke mana sekarang?" Sava ikut berbisik.    "Sstt, ikuti mereka, ayo!" seru Rianti saat Paman Rey sudah pergi. Dia dan Sava segera mengikuti Paman Rey sedikit jauh di belakang.     Rianti sangat serius menatap motor yang dinaiki Paman Rey agar tidak ketinggalan jejak. Sampai mereka tiba di sebuah desa. Rianti menatap kanan-kiri tidak mengenal kesa itu. Namun, Paman Rey terus masuk ke desa.    "Aku nggak tau kalau Rey pernah ke desa," kata Sava heran sambil memelankan motornya.    "Kamu nggak tau? Terus kenapa dia ke sini? Apa rumahnya di sini?" tanya Rianti balik.    Sava menggeleng. Hingga motor Paman Rey berhenti, Sava ikut berhenti sedikit jauh. Rianti menarik tangan Sava lagi untuk mengikuti Paman Rey. Membuat Sava tersenyum geli. 'Harusnya aku yang gandeng dia, 'kan? Kenapa jadi kebalik?' batin Sava.     Rianti sangat serius berjalan di tepi sambil bersembunyi jika ada pohon. Saat melihat Paman Rey dan orang itu masuk ke sebuah rumah, Rianti langsung berlari mengejarnya, spontan melepaskan tangan Sava.     "Eh, Rianti, tunggu!" seru Sava tidak di hiraukan. Rianti berlari sangat cepat.     "Ck, gadis itu benar-benar gegabah. Dia sendiri yang bilang jangan gegabah, dasar!" gerutu Sava dan menyusulnya, tetapi Rianti sudah hilang dari pandangan. Sava celingukan bingung.     Sedangkan Rianti ikut masuk diam-diam ke dalam rumah itu. Rumah yang sangat sederhana dan mencari Paman Rey beserta orang yang bersamanya. Seketika, badannya kaku mendadak. Terdengar suara pintu tertutup dan terkunci. Seketika Rianti berbalik lalu melotot. Menghampiri pintu itu dengan cemas.     Brakk! Brakk! Brakk!    "Buka pintunya!" teriak Rianti sambil memukul pintu.     Tidak ada jawaban. 'Sial! Siapa yang mengunci pintu?' batin Rianti.     Rianti kembali memukul pintu dengan keras. "Siapapun buka pintunya! Ada aku di sini, tolong buka pintunya!" teriak Rianti lebih keras.    Namun, percuma. Rianti mencoba mendobrak pintu, tapi tenaganya tidak cukup kuat. Dia teringat Sava. "Gawat! Sava di luar sendirian. SAVA!!! PERGI DARI SINI!" teriak Rianti sebisa mungkin. Tidak peduli lagi jika sedang mencari Paman Rey.     'Kalau ketahuan, biarin aja!' pikir Rianti.     Rianti terus berdecak bingung. Memukul dan menendang kesal pintu. Dia berbalik sambil menatap seisi rumah dengan kesal. "Paman Rey, keluarlah! Aku tau kau di sini!" seru Rianti tidak diam-diam lagi, bahkan tanpa rasa takut.     Kakinya perlahan melangkah dan membuka semua pintu rumah. Memeriksa dan tidak ada siapapun di rumah itu. Membuat Rianti terheran. "Gimana bisa nggak ada orang? Aku sendiri lihat Paman Rey dan orang itu masuk ke sini, ck," decak Rianti.     Sampai dia tiba di halaman belakang, pintunya juga terkunci. Rianti menendang marah pintu itu. "Sial! Ini juga di kunci. Aku yakin ini perbuatan disengaja. Jangan-jangan Paman Rey yang melakukannya. Kalau gitu, dia tau tujuanku. Tau kalau aku mengikutinya atau mungkin tau juga kalau aku curiga padanya. Ah, sial, sial, sial!" Rianti frustasi.     Dia kembali ke ruang tamu. Mencoba mencari jendela tetapi tidak ada jendela. Rianti tidak bisa melihat keadaan di luar. "Ck, gimana dengan Sava? Semoga dia nggak ketahuan. Kalau dia nyari aku gimana?" gumam Rianti cemas.    Mondar-mandir mencari solusi. Sedangkan Sava, tepat saat melihat Rianti hilang, dia berpikir kalau Rianti masuk ke rumah. Tetapi, dia dikejutkan oleh suara yang dia kenal. Membuat Sava menoleh kaget.    "Tuan Sava? Kenapa kau kemari?" tanya Paman Rey dengan raut heran.     Sava bingung, tidak tahu harus menjawab apa. Dia seperti tertangkap basah. 'Sial, Rey tau aku di sini. Gimana dengan Rianti?' pikir Sava.    "Ah, aku ... Aku hanya ingin jalan-jalan. Kau sendiri kenapa di sini?" jawab Sava santai dan berbalik bertanya.    "Aku ada pekerjaan di sini, Tuan. Kalau kau butuh sesuatu, bisa menelfonku, aku akan langsung pulang. Kenapa kau datang ke sini? Ini tidak baik untuk kesehatanmu. Lagipula, ini jauh dari rumah." tegur Paman Rey sambil melihat sekeliling.    "Memangnya kenapa, Rey? Aku bosan terkurung di rumah. Aku ingin bebas seperti dulu. Aku remaja yang kehilangan hidup sekarang." kata Sava bersandiwara dan memalingkan wajahnya sok sedih yang dipaksa baik-baik saja.    Membuat Paman Rey merasa prihatin. "Maaf, Tuan. Sekarang, ayo kita kembali. Biar aku yang membawa motornya." pinta Paman Rey langsung naik ke motor.     Kini Sava mencari alasan. "Emm, aku belum mau pulang," kata Sava bingung.     Paman Rey mengerutkan dahi. "Tuan, dalam keadaan ini kau tidak boleh bermain-main. Aku khawatir padamu. Ayo pulang," ujar Paman Rey.    Sava tampak kesal, dia berpaling menatap rumah yang dimasuki Rianti.     "Ada yang kau tunggu, Tuan? Naiklah!" Paman Rey kembali meminta.    Sava berdecak dan mengangguk. Dalam perjalanan Sava membatin, 'Rianti, aku akan menyusulmu nanti. Semoga kamu baik-baik aja. Ada yang nggak beres di sini.'    Di saat itu juga, Rianti tengah sibuk mencari jalan keluar. Melihat kembali semua ruangan. Tertata rapi seperti dibersihkan setiap hari. 'Rumah siapa ini? Apa rumah orang yang bersama Paman Rey tadi?,' pikir Rianti.     Rianti mencoba mendobrak pintu lagi. Badannya justru terasa sakit. Berdecak memandang pintu sambil berpikir. 'Tiba-tiba aku terkunci setelah masuk. Pelakunya pasti Paman Rey atau orang yang bersamanya. Aku harus bisa keluar dari sini.' batin Rianti.     Mengangguk pasti sambil mengambil ancang-ancang. Dia berlari dan sekuat tenaga menendang pintu dengan kaki kiri, tapi justru kakinya yang sakit.     Rianti memekik keras dan terduduk. "Aarrgghh ... Sakit banget, sih! Aduh, duh!" Rianti memijit kakinya pelan sambil meringis.     Dia memukul pintu kesal. "Pintu sialan! Kenapa susah banget, sih, dibuka!?" Rianti memarahi pintu.    Perlahan Rianti berdiri menahan sakit. Kaki kirinya sulit dipakai berjalan. Rianti terus mencari cara. Dia menatap langit-langit, sedikit cahaya masuk dari celah genteng.     "Ini masih siang. Kalau aku teriak lagi, mungkin orang-orang akan curiga kenapa aku terkunci. Tidak, tidak, jangan teriak. Aku nggak boleh buat keributan di desa orang." gumam Rianti sambil memijit kakinya.     Dia mencoba berdiri tegak. Melemaskan kaki dan sedikit berjalan. Perlahan sakitnya mereda meskipun belum sembuh. Rianti terus berjalan pelan dengan menggigit jari. 'Orang yang mengurungku pasti akan ke sini. Apa sebaiknya aku tunggu saja? Kalau sampai malam tidak ada orang yang datang, aku harus segera pergi." pikir Rianti lalu mengangguk.    Rencananya berjalan hingga petang. Rianti diam meski rasa takut menghampiri. Dia memilih menunggu dan tidak ada yang datang. Sampai Rianti terjingkat mendengar suara langkah kaki. Rianti takut, menelan ludahnya susah payah dan tidak berani menoleh ke belakang. Suara itu semakin dekat, membuat Rianti merinding.     Rianti menutup matanya rapat. 'Itu bukan hantu. Hantu itu nggak ada. Jangan takut Rianti, jangan takut!' batin Rianti.    Hatinya bergemuruh, namun memberanikan diri menoleh ke belakang. Tepat saat Rianti menoleh, dia melotot dan menghindar dengan cepat. Sehingga tongkat itu tidak mengenainya. Seorang laki-laki seumuran Paman Rey, membawa tongkat dengan ekspresi marah dan ingin memukul Rianti dari belakang.    Seketika napas Rianti memburu. Dia istighfar dalam hati. Kembali menghindar dan memekik saat orang itu mengayunkan tongkatnya lagi.     Rianti terperangah saat melihat wajah orang itu dengan jelas. 'Dia yang bersama Paman Rey tadi! Gawat! Dia ingin mencelakaiku? Kenapa?' batin Rianti memekik.    "Eee, Paman. Paman gila, ya? Jangan pukul aku!" seru Rianti merasa gugup.    Sok berani dan terus menghindar. Melihat tatapan orang itu sangat marah, Rianti jadi heran.     Terus menghindar sambil bicara. "Paman, kau temannya Paman Rey? Kau yang mengunciku di sini, 'kan? Jawab, ah ... Jangan pukul aku, dong!" tanya Rianti dan kaget saat tongkat itu hampir mengenainya.     Mendengar orang itu berdesis, Rianti tidak takut lagi. 'Sepertinya dia bingung dan diliputi amarah. Aku harus melawan balik,' pikir Rianti.     "Paman, wajahmu itu jelek kalau marah. Coba senyum, pasti ... Tambah jelek, eh cakep maksudku," jawab Rianti meringis menunduk karena orang itu mengayunkan tongkatnya di atas kepala Rianti.     "Gadis sok tau!" seru orang itu marah.    "Aaa, jangan pukul lagi Paman. Kakiku sudah sakit, jangan badanku juga. Ah, apa salahku?" tanya Rianti bermain-main dan terus menghindar. Membuat mereka berputar-putar.     Merasa dipermainkan, orang itu menggeram dan akan melayangkan tongkatnya lebih keras. Sebelum itu terjadi, Rianti menendang kaki orang itu hingga kesakitan. Orang itu memegangi kakinya dan tongkatnya jatuh. Rianti segera mengambil tongkat itu dan memukul punggung orang itu keras. Sampai orang itu terjatuh. Rianti menodongkan tongkat di wajah orang itu.     "Siapa kau? Apa hubunganmu dengan Paman Rey? Kenapa mengunciku dan menyerangku?" tanya Rianti beruntun dengan serius.    Sangat terlihat jika orang itu sangat marah.    "Bodoh! Beraninya kau memukulku gadis kecil!" seru orang itu ingin berdiri. Namun, Rianti menekan d**a orang itu dengan tongkat, sampai orang itu terbaring meringis.    "Aku bahkan rela membuat tulangmu patah agar kau mau bicara. Kau salah menilaiku, Paman." tegas Rianti sok berani.    Padahal dalam hatinya dia bergetar, sangat takut dengan tatapan tajam orang itu. 'Gimana kalau dia menghabisiku nanti? Aaaa, Rianti bodoh, bodoh, bodoh! Tapi nggak apa-apa, lanjutkan sandiwaranya, siapa tau dia membuka mulut,' batin Rianti.     Orang itu ingin bangkit lagi, tetapi Rianti mendorongnya lagi dengan tongkat dan menekannya. Di tambah kakinya yang Rianti tendang tadi, dia injak sangat keras. Orang itu mendesis kesakitan.     "Siapa kau?" tanya Rianti sekali lagi.    "Aku Rayhan. Temannya Rey," jawab orang itu.     Rianti mengerutkan dahinya meskipun dalam hati dia tertawa senang. 'Haha, akhirnya dia bicara,' batin Rianti.     "Paman Rayhan, apa kau tau siapa aku? Kenapa kau menyerangku?" tanya Rianti tanpa ekspresi. Bukannya menjawab, justru menilai Rianti. "Aku pikir kau gadis lemah. Ternyata, kau tidak punya takut, Rianti." ujar Paman Rayhan.    Rianti tersentak dalam diam. 'Dia tau namaku,' batin Rianti.     "Aku bertanya padamu!" seru Rianti tidak peduli ocehan Paman Rayhan.     "Karena kau sok pintar dan mencampuri urusan orang. Kau bisa membuat kami dalam bahaya. Curigamu pada Rey, itu memuakkan!" kata orang itu lalu terbatuk.    Rianti justru tersenyum miring. "Heh, sepertinya aku mengerti sekarang. Kau berkompromi dengan Paman Rey, untuk tujuan tertentu. Katakan alasannya!" tekan Rianti.    "Aku ingin menghentikanmu, untuk apa memberitahumu?" Paman Rayhan menolak.    Rianti menekan d**a Rayhan lebih keras sampai Rayhan mendesis lagi. "Karena ini berkaitan denganku, bodoh! Orang tua seharusnya melakukan hal baik, bukan rencana buruk seperti ini! Jangan kau pikir aku tidak tau apa-apa. Selama aku bersama Sava, tidak akan kubiarkan hidupnya terganggu, oleh orang sepertimu dan pengkhianat seperti Paman Rey! Katakan, apa rencana kalian!?" seru Rianti sungguhan.    Rianti tidak main-main sekarang. Benar-benar merasa geram. Dia pikir, akan mendapatkan jawaban dari Paman Rayhan. Duduk tanpa melepaskan tongkatnya di d**a Paman Rayhan. Membuat Paman Rayhan menatapnya heran.     "Paman Rayhan, kau tidak lucu saat marah. Tapi amarahmu mengartikan kalau kau tidak terima aku ikut campur. Apa keuntungan yang kau dapat? Aku bingung Paman, jelaskan semuanya. Kalau kau bercerita, aku tidak akan melaporkanmu pada pihak hukum. Aku juga tidak akan menyakitimu. Kalau tidak, terimalah akibatnya! Aku bukan gadis lemah!" tekan Rianti menatap Paman Rayhan tajam.     Paman Rayhan nampak kesakitan dadanya. Menunggu Rianti kasihan padanya, tetapi Rianti terlihat tidak peduli.     "Uhukk, nak, dadaku sakit," kata Paman Rayhan sambil batuk.    "Aku tidak peduli!" desis Rianti dan menambah tekanan pada tongkatnya.     Paman Rayhan menyerah. Dia terbatuk sambil bicara. "Baiklah, baik, Rianti. Aku katakan semuanya, tapi lepaskan aku." ucap Paman Rayhan sambil mengangkat tangan.     Rianti diam sebentar lalu melepaskan tongkatnya dari d**a Paman Rayhan. Sebenarnya, Rianti diam karena tangannya diam-diam mengambil handphone di saku dan mulai menyalakan perekam suara. Perlahan Paman Rayhan duduk sambil meringis. Menghela napas sebentar dan menatap Rianti. "Aku bertemu Rey saat bekerja. Dia menawariku uang banyak untuk sebuah tugas. Kebetulan, aku sedang butuh uang untuk putriku yang mau mendaftar kuliah. Aku menerima tawaran Rey. Dia hanya memberiku tugas menjaga dua orang dan merawat mereka. Tentu saja aku terima tawarannya, uang yang dia berikan sangat banyak. Aku sudah menerima separuh uangnya, separuh lagi harus aku dapatkan jika usahanya berhasil." jelas Paman Rayhan pelan.    "Usaha apa?" tanya Rianti tanpa ekspresi.     "Dia bilang menguasai perusahaan tempat dia bekerja," jawab Paman Rayhan.     Deg!    Rianti terkejut hebat, tetapi menyembunyikan keterkejutannya. Dia kembali bertanya. "Siapa yang kau jaga? Kau menjaganya atau mengurungnya?" tanya Rianti memicing curiga.     Dalam hati Paman Rayhan, dia menilai Rianti sangat cerdik. Membuatnya tidak bisa berbohong. "Aku memang mengurungnyac tapi mereka tetap bekerja saat Rey datang dan memberinya sesuatu. Sering kali mereka bertengkar, dan Rey yang menang. Bahkan Rey kerap memukul mereka tanpa bersalah, setelah itu dia tertawa. Aku tidak paham apa yang mereka rebutkan. Aku melakukannya atas perintah Rey." jawab Paman Rayhan sambil menggeleng pelan.     "Juga karena uang," lanjut Rianti menyindir.     "Karena aku memang butuh!" tegas orang itu membela.     "Dengan membantu Paman Rey, begitu? Jangan bodoh, Paman! Siapa orang yang kau kurung?" tanya Rianti membalas cepat.     "Aku tidak tau. Mereka suami istri, sepertinya sangat sibuk sampai Rey menemuinya setiap hari." jawab Paman Rayhan memalingkan wajah.     Rianti mengerutkan dahi. 'Setiap hari?' batin Rianti.     "Paman, aku mau membantumu dapat uang banyak. Aku istrinya Sava, bos dari Paman Rey. Apa kau tidak tertarik?" tanya Rianti bermain-main.     Paman Rayhan nampak bingung. "Apa maksudmu?" tanyanya.    "Harusnya kita bermusuhan, 'kan? Tapi, aku ingin kerja sama. Aku ingin membongkar Paman Rey dan kau harus membantuku. Mudah saja, kau hanya perlu terus menuruti Paman Rey dan bersandiwara kalau aku tidak tau apa-apa." jelas Rianti menatap Paman Rayhan serius.    "Lalu uangku?" tanya Paman Rayhan.    "Tentu saja dari Paman Rey." jawab Rianti sambil memutar bola matanya.     Paman Rayhan bingung. "Jangan membodohiku gadis kecil! Aku memang butuh uang, bukan berarti diperbudak uang! Katakan dengan jelas rencanamu!" seru Paman Rayhan dan ingin berdiri. Namun, Rianti menekannya dengan tongkat lagi sampai Paman Rayhan terduduk kesal.    "Paman, dengarkan aku baik-baik. Temanmu itu bukan orang baik. Dia bahkan ingin membunuh suamiku. Apa kau tidak merasa kasihan? Bantu aku menyelesaikan semua ini. Kita akan sama-sama untung. Kau hanya perlu ikuti rencanaku, sandiwara di depan Paman Rey. Lalu, kalau aku butuh, kau harus membantuku. Apa kau tidak kasihan dengan dua orang yang kau kurung? Tanpa sadar, kau dapatkan uang juga dari mereka, 'kan? Pikirkanlah, Paman!" jelas Rianti menatap Paman Rayhan dalam.    Seketika pandangan Paman Rayhan meredup. "Aku juga tidak tega dengan mereka. Tapi apa dayaku, nak? Aku butuh uang," jawab Paman Rayhan memelas.     Senyum Rianti terbit. "Jadi, kau setuju?" tanya Rianti.     "Bagaimana kalau Rey tau?" tanya Paman Rayhan.     "Itu urusanku. Asal kau bersedia membantuku," jawab Rianti tanpa berkedip.    Paman Rayhan berpikir sebentar lalu mengangguk. Membuat Rianti berseru semangat. "Bagus! Sekarang bawa aku ke orang yang kau kurung," kata Rianti semangat.    "Untuk apa?" tanya Paman Rayhan bingung.     "Ya, ingin bertemu dengannya. Seratus persen Paman Rey terbukti bersalah." ujar Rianti sambil mengambil handphonenya dan mematikan perekam suara. Dia tersenyum puas dan memasukkan handphonenya kembali ke saku.    Paman Rayhan tampak ketakutan. "Kau, kau merekam semuanya?" tanya Paman Rayhan sambil menunjuk Rianti.     "Tenang saja, Paman, kau akan aman. Percaya padaku, 'kan?" tanya Rianti tersenyum.     Ragu-ragu Paman Rayhan mengangguk. "Aku diperdaya, sekarang aku tidak tau harus berpihak pada siapa. Tapi, aku akan membantumu. Ayo, ikut aku." ucap Paman Rayhan sambil berdiri meringis. Memegangi dadanya yang sakit. Rianti ingin membantunya tetapi dia tahan. Merasa tidak percaya sepenuhnya sebelum Rianti bertemu dengan dua orang yang Paman Rayhan kurung.    Rianti mengikuti Paman Rayhan sejak keluar rumah, jalan desa sangat sepi. Gelap tanpa penerangan lampu. Hingga tiba di sebuah rumah yang tidak layak dan hampir rubuh. Rumah itu sangat jauh dari pemukiman.     "Kenapa kita ke sini?" tanya Rianti mengerutkan dahi.     "Jangan takut, mereka ada di dalam." jawab Paman Rayhan sambil membuka pintu.    Pintu terbuka dan seketika Rianti terbelalak. Hanya cahaya lilin di tengah-tengah ruangan. Dua orang duduk ketakutan melihat Paman Rayhan di depan pintu. Pakaiannya bersih seperti pakaian kerja. Namun, raut wajahnya seakan kesakitan. Samar-samar Rianti bisa melihat sedikit lebam di wajah mereka. Rianti tidak mengerti, kemudian seorang gadis berdiri menghampirinya.    "Siapa dia Ayah? Apa orang suruhan Rey?" tanya gadis itu memandang Rianti tidak suka.    "Dia orang baik. Jangan beritahu Rey tentangnya. Nanti, Ayah ceritakan. Perkenalkan, dia Rianti istrinya Sava, bos dari Rey. Rianti, dia putriku, Layla Candrika. Kalian terlihat seumuran." kata Paman Rayhan memperkenalkan Rianti dengan Layla sambil tersenyum.    'Ck, iyalah seumuran. Aku baru lulus SMA dan seharusnya daftar kuliah kayak dia,' batin Rianti menatap Layla datar.    "Apa? Istri bos Rey? Gawat, Ayah! Kenapa tidak kau beri dia pelajaran? Kalau Rey tau, dia pasti marah besar!" marah Layla pada Paman Rayhan, membuat Rianti mengerutkan dahi.    "Aku yang lebih marah karena kalian!" seru Rianti.     Membuat Layla memandang Rianti dengan kesal.    "Berpikirlah sebelum bertindak!" tegas Rianti lagi tanpa ekspresi memandang Layla.     Layla melirik Ayahnya yang memberi isyarat mengangguk. Layla menghela napas pasrah. "Baiklah, silahkan masuk," ucap Layla mempersilahkan meskipun tidak suka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN