Rianti masuk setelah pintu itu tertutup. Cahaya yang redup, cukup membuat Rianti melihat kondisi rumah. 'Sangat nggak layak. Rumahku aja masih bisa di pakai, ini udah hampir rubuh. Paman Rey tega banget!' batin Rianti.
Rianti mendekati pasangan itu dan duduk di depannya. Tersenyum pahit, seakan merasakan kalau mereka sedikit tersiksa. Bisa Rianti lihat kalau mereka penasaran dengan Rianti.
"Salam, Paman, Bibi. Apa dugaanku benar, kalian orang tua Sava? Mertuaku?" tanya Rianti mengangguk pelan sambil mengangkupkan kedua tangan. Seketika mata mereka berbinar dengan bibir bergetar. Tangan Bibi itu mencoba meraih wajah Rianti. "Ri-Rianti?" tanyanya bergetar.
Mendengar suara Bibi itu, hati Rianti tersenyum. 'Ibu, dia seperti Ibu. Dia tau namaku,' batin Rianti. Matanya perlahan berair merindukan Ibunya. Lalu Rianti mengangguk, membuat senyum mereka merekah. Bibi itu langsung menarik Rianti dalam pelukannya. Memeluk erat sambil menangis. Rianti bingung, melirik Paman di sebelahnya yang tersenyum dan juga ingin menangis. Dia mengelus kepala Rianti.
"Rianti, anakku. Aku yakin kau akan datang, nak. Kau akan datang." ujar Bibi itu di sela tangisnya.
"Kau tidak akan diam saja, kami tau itu Rianti." sambung Paman itu tersenyum penuh harapan.
Rianti semakin bingung. Dia melepaskan pelukannya paksa. Menatap mereka bergantian. "Kalian tau aku? Kenapa kalian bicara seperti berharap padaku?" tanya Rianti.
Mereka tersenyum lega. Bibi itu menjawab. "Nak, kami orang tua Sava. Kami yang menikahkanmu dengan Sava. Kau benar, harapan kami sangat besar padamu, nak." jawabnya dengan mata berbinar.
Rianti tersenyum sedikit lega. "Alhamdulillah, aku menemukan kalian. Salam Ayah, Ibu. Bagaimana bisa ini terjadi? Aku sangat pusing, pernikahan ini seperti teka-teki. Tapi, syukurlah aku menemukan kalian." kata Rianti menengadahkan tangan dan mengusap wajahnya.
"Ceritanya sangat panjang, Rianti," ujar Ayah Sava.
Ayah Sava menceritakan semuanya. Rianti tidak bisa berkutik. Ternyata pernikahannya telah direncanakan, bahkan Ayahnya juga ikut terlibat. Rianti tidak terkejut saat tahu dalangnya adalah Paman Rey. Alasan lelah bekerja dan menjadi asisten keluarga, dia ingin menguasai semuanya. Namun, tidak mudah untuk memindah posisi pemilik perusahaan. Paman Rey hanya seorang asisten, bukan pekerja tetap di perusahaan. Meskipun dia kepercayaan orang tua Sava dan mengetahui banyak tentang pekerjaannya.
Karena Sava yang mewarisi semuanya, Paman Rey tidak terima. Dia berniat menyingkirkan Sava dengan cara membuatnya sakit. Membuat orang tua Sava seakan menghilang. Mengatur waktu satu bulan dengan alasan Sava di vonis mati. Untuk melancarkan usahanya merebut perusahaan, dan membuat Sava percaya dengannya. Lalu, Sava akan menyerahkan hartanya percuma. Jika gagal, Paman Rey akan mencelakai Sava sungguhan beserta orang tuanya. Itu yang membuat Rianti terkejut, orang bisa berubah berubah hanya karena harta. Paman Rey terlihat baik, tetapi ada niat terselubung seperti dugaan Rianti.
Paman Rayhan dan Layla berdiri di belakang Rianti, ikut mendengarkan. Paman Rayhan sangat kaget dan merasa bersalah. Berbeda dengan Layla, dia menatap aneh pada Rianti.
Selesai menjelaskan semuanya, Ayah Sava memegang pundak Rianti. Membuat Rianti menatap Ayah Sava tegas.
"Menantuku, aku percaya padamu." kata Ayah Sava menatap manik mata Rianti.
Hati Rianti bergemuruh, dia seperti dipermainkan tetapi juga kasihan dengan keluarga Sava. Rianti melepaskan tangan Ayah Sava.
"Ayah mertua, kenapa kalian tidak lari malah diam di sini?" tanya Rianti pusing.
"Rey mengancam Sava akan mati sungguhan. Kalau kita lari dan bertemu lagi dengannya, Rey akan menyiksa kami. Aku takut itu terjadi," jawab Ibu Sava.
'Hah, ternyata Paman Rey pengecut,' batin Rianti malas.
Tiba-tiba Ibu Sava panik. "Rianti, gimana keadaan Sava? Terakhir kali dia batuk berdarah, apa sekarang masih batuk? Rey melakukan sesuatu padanya? Gimana pernikahan kalian?" tanya Ibu Sava beruntun.
Rianti tersenyum miris. 'Nggak mungkin aku bilang Sava pernah pasrah hidup. Apalagi Paman Rey yang memberinya obat palsu dan membuat batuknya semakin parah. Mereka pasti sangat sedih,' pikir Rianti.
"Haha, dia baik-baik saja. Ada aku, 'kan?" jawab Rianti tersenyum kaku.
Ibu Rianti merasa lega. "Rey bukan sebaik sandiwaranya. Dia yang membunuh Ibumu, Rianti." ujar Ibu Sava mengangguk kuat.
Deg!
Rianti tidak bisa bergerak. Kebenaran baru terungkap lagi. Kini tentang dirinya.
Ibu Sava melanjutkan ucapannya. "Karena Ibumu tau rencana Rey menggelapkan uang perusahaan. Rey takut terungkap, berakhir Ibumu tiada. Bodohnya kami baru tahu setelah kau lulus SMA. Aku sangat menyesal, nak. Itu sebabnya kami menikahkanmu paksa dengan Sava. Kami tau kau anak pintar, tidak akan membiarkan ini terjadi. Mungkin kau marah karena kami memanfaatkanmu, tapi apa kau tidak mau tau kebenaran tentang matinya Ibumu? Rey itu pembunuh dan gila harta! Ayahmu, dia ...," ucapannya menggantung. Bola matanya memutar bingung.
Rianti langsung memegang tangan Ibu mertuanya dan menariknya pelan. "Katakan Ayahku kenapa? Di mana dia?" tanya Rianti marah sekaligus khawatir.
Ibu Sava menatap mata Rianti sedikit bersalah. "Kami tidak tau di mana Ayahmu. Kami hanya bilang kalau ingin menikahkanmu dengan Sava yang kaya raya. Belum sempat selesai bicara dia langsung setuju. Kau, jangan berkecil hati. Ayahmu tidak bermaksud untuk menjualmu. Karena dia tidak mau kami beri apapun. Setelah itu... Kami dikurung Rey dan tidak tau apa-apa. Jangan sedih Rianti, jangan menangis." jelas Ibu Sava sambil menggeleng kepala kuat.
Khawatir jika Rianti merasa terluka. Sejujurnya, Rianti memang sakit hati. Tetapi dia membantah. 'Ck, apa bedanya menjualku atau tidak? Aku sudah terbiasa di siksa olehnya. Bodohnya aku masih khawatir padanya,' Rianti berdecih dalam hati.
"Jadi, Ibuku dibunuh?" tanya Rianti tatapan nanar.
Mereka mengangguk.
"Oleh Paman Rey?" tanya Rianti lagi tanpa selera.
Mereka mengangguk lagi dengan cemas.
"BIADAB KAU PAMAN REY!!!" teriak Rianti tiba-tiba. Membuat semua orang di sana sangat terkejut.
Napas Rianti turun naik. Menatap tajam ke hadapan, membuat Ibu Sava takut dan mencengkram lengan suaminya. Sedangkan Ayah Sava tersenyum tipis melihat Rianti. Penuh kebencian penuh amarah dan juga belas kasih.
"Aku akan membalas dendam, pengecut! Aku benci harta! Muak! Membuat orang jadi gila sepertimu, Paman Rey!" teriak Rianti kesal. Matanya menghunus tajam pada orang tua Sava.
Melihat Ibu Sava ketakutan, Rianti meredakan emosinya. Dia menjadi merasa bersalah. Tangannya ingin menyentuh tangan Ibu mertuanya, tetapi gugup melanda.
"Eee, aku.. Aku tidak sekejam itu, Ibu. Aku hanya marah sesaat. Jangan takut denganku," ucap Rianti bingung.
Namun, Ayah Sava justru tertawa ringan. Membuat Rianti menatapnya heran. "Hahaha, itu baru menantuku. Aku tau hidupmu tidak mudah setelah Ibumu tiada. Itu sebabnya kau marah tadi, benar, 'kan?" tanya Ayah Sava.
"Ha? Haha," Rianti hanya tertawa ringan. Tidak menjawab karena dia bisa marah lagi. Samar-samar Rianti mendengar bisikan Layla pada Ayahnya. Jika dia bilang ingin bertemu Sava. Spontan Rianti menoleh dan menatap Layla tajam.
"Jaga ucapanmu!" ujar Rianti tajam.
Layla mengerutkan dahi. "Apa?" tanyanya malas pada Rianti.
"Aku mendengarmu. Jauhkan Sava dari otakmu itu!" ujar Rianti tanpa ekspresi.
Layla berdecih remeh. "Apa salahnya? Aku juga ingin melihat Sava. Kabarnya dia tampan dan kaya." jawab Layla sambil melipat tangan di d**a.
Ayahnya menegur tetapi Layla tak acuh. Rianti merasa geram. "Dia suamiku!" gertak Rianti.
"Memangnya kenapa? Kalian hanya menikah paksa. Tidak mungkin kau mencintainya. Apalagi, Sava mencintaimu. Itu mustahil." Layla membantah dengan sok.
Tangan Rianti mengepal. Dia ingin sekali merobek mulut Layla dan wajahnya yang sok. Tidak tahu kenapa, Rianti hanya kesal. Saat ingin membalas, Rianti di sela Ibu Sava.
"Jaga bicaramu, Layla! Sava putraku, dia suami Rianti!" Ibu Sava membela Rianti.
Rianti sedikit tersentak karena dia di bela. Rianti merasa, orang tua Sava benar-benar ingin dia menikah dengan Sava.
Rianti kaget saat Layla tiba-tiba mengancam sambil menunjuk mertuanya.
"Hey, kalian! Aku bisa saja menyiksa kalian. Ingat kalau kalian tahananku sekarang!" kata Layla sok.
"Layla! Ingat kau bisa kuliah karena uang mereka!" Paman Rayhan memarahi Layla.
Membuat Rianti tersenyum tipis. 'Kayaknya Paman Rayhan orang baik. Dia hanya sayang pada Layla, sampai membantu Paman Rey demi uang,' batin Rianti.
"Ayah? Kau membela gadis itu?" tanya Layla seakan tidak percaya dan menunjuk Rianti. Lalu Layla melengos kesal, membuat Rianti berdecih. Rianti kembali menatap mertuanya dengan senyum.
"Ayah, Ibu, kalian percaya padaku, 'kan?" tanya Rianti.
Mereka mengangguk.
"Kalian dan Sava akan baik-baik saja. Aku butuh bantuan kalian. Aku punya rencana," kata Rianti serius. Mendekat dan berbisik pada mereka. Membuat Paman Rayhan dan Layla tidak bisa mendengarnya. Sampai Rianti selesai dengan senyum penuh keyakinan. Namun cemas di wajah mertuanya.
Rianti berjalan mengendap-endap ingin masuk rumah. Ternyata semua pintu dan jendela terkunci. Membuat Rianti kesal menendang pintu pelan.
"Lagi? Di kunci lagi? Kenapa Sava selalu mengunci pintu dan jendela, takut kecurian? Ck, masa aku pecahin jendela lagi, sih?" Rianti menggerutu.
Sejak memberitahu rencananya pada orang tua Sava, untuk terus bersandiwara bersama Paman Rayhan, Rianti diantar pulang oleh Paman Rayhan. Sebelum itu, Rianti telah merekam ulang pernyataan orang tua Sava tentang Paman Rey. Dia juga bertanya pada Paman Rayhan tentang semua yang membantu Paman Rey. Tetapi, Paman Rayhan tidak tahu. Rianti pikir, Paman Rey memberi tugas sendiri-sendiri pada orang suruhannya.
Rianti menyuruh Paman Rayhan untuk berbohong, jika Rianti berhasil kabur sebelum dia datang. Itu akan membuat Paman Rey kesal, pasti pandangannya pada Rianti akan aneh keesokan harinya. Rianti yakin, Paman Rey akan bersandiwara.
Tentang orang tua Sava sudah terungkap. Dia mendapatkan Paman Rayhan yang berbalik kerja sama dengannya. Kecuali Layla yang sok, Rianti tidak suka padanya. Karena Layla bersikeras ingin bertemu dengan Sava.
Tinggal pak satpam dan orang yang pernah Paman Rey temuin di gerbang kompleks. Rianti sadar kalau semuanya berhubungan.
Malam sudah hampir pagi. Rianti kebingungan, mondar-mandir di depan pintu rumah.
"Gimana ini? Gimana ini?" gumamnya.
Tiba-tiba Rianti mendengar suara dari garasi. Rianti berlari dan menghampiri garasi dengan takut campur berani. Rianti pikir itu pencuri. Rianti bersembunyi di balik dinding. Merayap perlahan sambil meringis. Seketika ada cahaya dari dalam garasi. Rianti semakin tersentak. 'Maling motor. Itu Maling motor!' batin Rianti berseru.
Deru motor juga sudah terdengar. Sekuat tenaga Rianti mengatur napas dan memberanikan diri. Kepalanya mengintip dan seketika berteriak. Bersamaan dengan seseorang yang naik motor di dalam garasi.
"Aaaaa, Maling motor!!!" teriak Rianti.
"Aaaaa, hantu!!!" teriak orang itu.
Seketika mereka diam. Tanpa berkedip saling memandang.
"Sava!?" pekik Rianti bertanya.
"Rianti!?" tanya Sava di garasi.
Sava langsung turun dari motor dan menghampiri Rianti. "Rianti, kamu baik-baik aja, syukurlah!" pekik Sava senang dan memeluk Rianti.
Rianti hanya diam dan bingung. Dia melepaskan pelukan Sava. "Kamu Sava, 'kan? Bukan pencuri motor?" tanya Rianti memandang Sava penuh selidik.
Sava berdecak. "Ck, iya ini aku. Masa' nyuri motor sendiri?" jawab Sava.
Rianti tersenyum lebar. "Sava! Aaa, Sava selamat. Kamu nggak apa-apa, 'kan? Ada yang sakit? Batuk lagi? Ketahuan Paman Rey nggak? Astaga, aku takut banget, khawatir malah!" seru Rianti sambil menggerayangi tubuh Sava. Mengecek kondisinya Sava.
Sava terkekeh, "Cie, perhatian, cie." ucap Sava berkerling jahil.
Senyum Rianti langsung luntur, "Apa cie-cie!? Hah, lain kali aku nggak usah khawatir!" sewot Rianti melengos.
"Hmm, sok ngambek. Iya, tadi aku pulang sama Rey. Aku takut kamu ketahuan. Tapi, Rey masih baik kayak biasanya." kata Sava dengan dahi berkerut.
Rianti menatapnya malas. "Oh, jadi Paman Rey beneran nemuin kamu? Terus kamu di pulang, 'kan? Aku emang udah ketahuan. Tapi aku nggak ketemu Paman Rey. Orang yang boncengin Paman Rey udah ngunci aku di rumah itu, Sava," ujar Rianti.
Sava merasa tertarik. "Apa? Gimana ceritanya?" tanya Sava dengan wajah mendekat.
Rianti mendorong dahi Sava dengan telunjuknya. "Ntar aku ceritain. Intinya, aku nemuin banyak informasi hari ini. Kamu sendiri, ngapain naik motor? Mau keluar? Udah hampir pagi ini!" seru Rianti setelah bertanya.
Sava menggaruk tengkuknya. "Aku, mau nyusul kamu. Rey baru pulang, dia nemenin aku semalaman, karena kamu nggak ada di rumah. Pakai alasan, aku habis naik motor sampai jauh. Dia menjagaku ketat. Kalau nggak sedang curiga, aku paling mikir dia sangat baik," cerita Sava.
Rianti mendesah lelah. "Hah, orang itu masih aja sandiwara. Masuk aja, yuk. Aku capek banget,"keluh Rianti.
Sava mengangguk dan mengajak Rianti masuk rumah. Setelah itu Sava mengunci pintu lagi.
"Sava, beri aku kunci cadangan, dong. Kalau enggak, aku pecahin jendela lagi, nih." ancam Rianti melirik Sava.
Sava mengerti maksud Rianti, dia tersenyum. "Iya," jawab Sava singkat.
~~~
Pagi pukul sembilan, Rianti dan Sava masih tidur di kamarnya masing-masing. Semua pekerja di rumah bingung, karena Rianti selalu bangun pagi dan membuat keramaian. Sampai mereka iseng mengintip dari celah pintu. Kamar Sava manapun kamar Rianti, mereka bergantian mengintip. Terheran karena Tuan dan istrinya masih tidur. Mereka saling pandang.
"Tumben, ya, Rianti masih tidur," ucap salah satu pembantu.
"Iya, biasanya udah rebutan sapu sama kita." jawab pembantu satunya sambil menunjukkan sapu yang dia bawa.
"Tuan Sava juga tidur. Wah, aku tau!" seru Bibi juru masak. Membuat dua pembantu itu penasaran dan mendekat.
"Mereka kecapean kali. Wajarlah, pasangan muda." bisik Bibi juru masak lalu terkikik.
Dua pembantu itu mengerti, mereka ikut terkikik.
"Hmm, aku heran. Kenapa mereka nggak sekamar aja, ya?" tanya salah satu pembantu.
Tiba-tiba Paman Rey datang bersama pak satpam. Dia menjawab. "Karena, Tuan Sava yang meminta Rianti punya kamar sendiri." jawab Paman Rey dengan senyum.
Tiga orang itu menoleh. "Kenapa begitu?" tanya pembantu itu lagi.
"Entahlah, mereka belum kenal dan sangat mendadak waktu menikah. Mungkin itu alasannya," jawab Paman Rey tenang.
Mereka mengangguk.
"Sekarang sudah akrab. Aku lihat, Tuan Sava senang dengan Rianti. Rianti juga baik, penuh perhatian. Kenapa tidak bersama aja?" tanya pembantu itu penasaran.
"Dasar tukang gosip! Udah bubar sana bubar. Buatin kopi sama cemilan, dong." kata pak satpam membubarkan mereka dan meminta kopi pada Bibi juru masak. Mereka semua berdecak.
"Huuu, dasar pengganggu! Bikin sendiri sana!" balas Bibi juru masak lalu pergi ke dapur.
Pak satpam berdecak, tetapi Paman Rey menatap kedua pintu kamar itu nanar.
"Apa yang kau pikirkan Rey?" tanya pak satpam.
Paman Rey menghela napas sebentar. "Rianti, gadis itu benar-benar sok pintar." Paman Rey menekan setiap katanya dengan pelan. Membuat pak satpam mengerti. Dia ikut menatap kamar Rianti dan Sava.
"Apa rencanamu akan gagal? Karena gadis itu?" tanya pak satpam.
Paman Rey berdecih remeh. "Aku punya senjata ampuh. Kelemahan Rianti, kalau dia melangkah lebih jauh lagi," ucap Paman Rey.
Pak satpam menatap Paman Rey bingung. "Senjata? Kau ingin membunuhnya seperti membunuh Ibunya?" tanya pak satpam dengan pelan.
"Bukan senjata tajam. Tapi kelemahan Rianti, yaitu Ayahnya," jawab Paman Rey menghunus tajam pintu kamar Rianti.
Pak satpam sedikit tersentak, "Hmm, aku mengerti. Hanya saja, gadis itu terlihat cerdik. Kalau kita ketahuan, tamatlah sudah. Apalagi kalau dia tau aku ikut menghabisi Ibunya bersamamu. Entah bagaimana nanti. Gadis itu terlihat polos dan ceria. Siapa yang mengira dia akan seberani itu, ck. Aku ke depan dulu." ujar pak satpam panjang dan menepuk lengan Paman Rey lalu pergi.
Paman Rey masih berpikir dalam diam. 'Benar, siapa yang mengira gadis miskin seperti Rianti bisa berani mengungkap diriku. Kita lihat saja nanti,' batin Paman Rey.
Paman Rey pergi entah ke mana. Rianti sudah bangun saat pembantu dan Bibi juru masak itu pergi. Dia mendengar suara laki-laki dan mendekat ke pintu. Menguping dengan baik. Membuat Rianti sangat syok dan tidak menduga. Seluruh badan Rianti bergetar, dia luruh di lantai menggenggam tangannya. Tatapannya kosong, dia pikir ibunya tiada karena kecelakaan tabrak lari. Ternyata, pak satpam itu mengaku sendiri.
Rianti benar-benar tidak menduga, semua peristiwa sangat berkaitan. Dia mengerti alasannya menikah dengan Sava sekarang. Ingin bergumam saja Rianti susah. Terlalu terkejut sampai air matanya jatuh. Rianti menangis tanpa suara.
'Ibu... Ibu... Ibu...,' Rianti memanggil Ibunya dalam hati.
Pikiran negatif Rianti muncul. Berpikir jika pak satpam dan Paman Rey menabrak lari Ibunya. Rianti pusing, dia tidak mau berpikir. Memukul-mukul d**a dan kepalanya yang terasa sesak dan berat. Dia terus menangis. Sampai siang menjelang sore tidak keluar kamar.
Tanpa bangun dari depan pintu. Sekarang tinggal tatapan kosong. Sesegukan kecil tanpa air mata. Rianti merasa sakit. Sangat sakit, benar-benar dipermainkan. Dalam hati bertanya pada Tuhan. Takdir apa yang dia jalani. Sampai melemahkan dirinya sendiri, berkata jika dia masih terlalu kecil untuk masalah ini. Rianti ingin putus asa. Namun, terlintas dua orang yang membuatnya mengerutkan dahi. Seakan menyuruhnya bangkit. Yaitu, Ayahnya dan Sava. Rianti terlanjur memikirkan dua orang itu, sampai tertidur di lantai.
Terbawa mimpi, sangat jelas Ayahnya tersenyum dan mengelus kepala Rianti. Rianti ingin menangis lagi dalam mimpi. Sangat jarang Ayahnya menyentuhnya dengan lembut. Biasanya hanya tamparan dan pukulan. Lalu, Sava menghampiri. Sekarang mengajak Rianti dengan senyum. Rianti ikut tersenyum. Kemudian, Rianti mencari Ibunya. Ayah dan Sava datang, tetapi Ibunya tidak. Rianti bingung, dia mencari sangat frustasi.
Bahkan kepalanya sampai menoleh ke kanan-kiri. Sampai Rianti terbangun sendiri dengan napas memburu. Dia terjingkat duduk, menyibak rambutnya ke belakang. Istighfar berkali-kali dan mencoba tenang.
"Huft, tenang Rianti, tenang. Kayaknya aku banyak pikiran akhir-akhir ini. Aku pusing banget," keluh Rianti bergumam.
Memijit kepalanya pelan sambil mengerjap. "Nggak nyangka, sebanyak ini kebenaran yang aku dapat. Enggak, aku nggak boleh lemah. Aku harus terus berusaha sampai selesai. Pak satpam dan Paman Rey, pengecut b******k itu harus membayar semuanya. Huft, Astagfirullah," desah Rianti di akhir ucapannya.
Merasa sangat pusing, akibat menangis atau banyak beban, Rianti tidak peduli. Dia bangun dan memasang senyum.
"Bukan Rianti kalau nggak bisa ngebongkar kalian, Paman Rey dan pak satpam. Tunggu saja!" ucap Rianti serius sambil tersenyum. Senyumnya menakutkan, bahkan saat Rianti menoleh ke cermin, Rianti takut sendiri.
Rianti terjingkat, "Aaa, senyumku jahat banget. Wajah belum mandi, lagi." gumam Rianti menunjuk dirinya sendiri di depan cermin. Dia berdecak dan keluar kamar.
Tidak terasa hari sudah sore. Membuat Rianti berpikir kalau seharian dia tidur dan menangis di kamar. Badannya sudah terasa segar, dia mencari Sava. Celingukan tidak ada orang. Rianti menuju teras, ternyata semua orang sedang berkumpul di sana, dengan Sava duduk di kursi dan memegang gitar. Rianti tersenyum melihat Sava tertawa bersama para pembantunya. Bahkan Paman Rey dan pak satpam ikut duduk di sana.
Rianti menghampiri. "Wah, rame banget. Tumbenan, pada ngapain, nih?" tanya Rianti semangat.
Mereka semua menoleh. Rianti hanya meringis, sampai Bibi juru masak menyuruhnya bergabung. "Eh, Rianti. Sudah bangun? Sini gabung, dengerin Tuan Sava nyanyi. Merdu banget! Kamu nggak pernah denger Tuan nyanyi, 'kan? Sini-sini," ajak Bibi juru masak semangat sambil melambaikan tangannya.
'Sava? Nyanyi? Wah-wah, dia mau pamer suara ternyata. Emang bisa nyanyi?' ejek Rianti dalam hati.
Senang hati Rianti duduk di sebelah Bibi juru masak.