11. Terungkap

2803 Kata
   Rianti tersenyum pada Bibi juru masak setelah duduk.    "Rianti juga tumben baru bangun? Kecapean, ya?" tanya salah satu pembantu. Membuat mereka semua terkikik kecuali Sava, Paman Rey dan pak satpam. Sava nampak bingung seperti Rianti. Paman Rey dan pak satpam hanya tersenyum seakan bahagia.    "Ha? Enggak, kok. Nggak capek, cuma pengen tidur aja, hehe." jawab Rianti nyengir.    Mereka ber-oh ria dengan sisa tawanya. Rianti mengerutkan dahi meskipun tersenyum. "Kenapa pada ketawa, sih? Apa yang lucu?" tanya Rianti bingung sambil ikut ketawa.   Membuat mereka kembali tertawa. "Enggak, enggak ada yang lucu. Cuma pengen ketawa doang," jawab Bibi juru masak.     "Hahaha, haha. Gila, dong, ketawa doang!" seru Rianti menertawakan mereka. Mereka jadi diam dan berdeham sambil senyum-senyum. Sava ikut tertawa bersama Rianti.     Rianti menatap Sava, seketika teringat kalau dia belum menceritakan apapun pada Sava. Seakan mengerti pandangan Rianti, Sava berkedip pelan sambil mengangguk. Membuat Rianti tersenyum lega. 'Nanti aja, deh, kalau semua orang udah pulang,' pikir Rianti.     Karena semalam ketiduran dan baru bangun sekarang, Rianti lupa. Tiba-tiba Sava memetik pelan gitarnya. Rianti tersenyum sangat lebar. "Udah lama aku nggak dengar suara musik," gumam Rianti. Semua orang dapat mendengarnya. Seketika, Rianti menutup mulutnya dan melirik mereka semua. Tawa meledak lagi, Rianti meringis malu.    "Aku hanya bilang lama nggak dengar musik, 'kan? Kenapa kalian ketawa lagi, sih?" kesal Rianti sambil tersenyum.     "Haha, karena kamu polos banget! Kelihatan kalau kurang hiburan, haha. Tapi, tenang aja, Rianti. Aku akan menghibur kalian semua." kata Sava sambil memetik gitarnya lagi.   Sorakan senang para pembantu dan Bibi juru masak. Paman Rey dan pak satpam hanya tersenyum.     "Heleh, kayak kamu nggak kurang hiburan!" balas Rianti.     "Aku nggak kurang hiburan, tapi kurang waktu. Tinggal dua minggu lagi bukan?" jawab Sava bermain.    Seketika semua orang terdiam. Tidak berani menjawab karena Sava menyindir dirinya sendiri.     Rianti justru berdecak. "Nggak usah kumat! Merusak suasana!" ucap Rianti malas.    Sava tertawa. "Baiklah, jangan diam, dong. Aku mau menghibur ini. Ayo ketawa lagi, buat aku senang, ayo!" seru Sava semangat.     Membuat mereka kembali riang. Sava bernyanyi dengan suka cita. Terus tersenyum di setiap nyanyiannya. Rianti lihat, semua orang tersenyum dan menikmati suara Sava. Bahkan ikut bernyanyi, dua orang yang Rianti curiga juga ikut bernyanyi. Membuat Rianti kesal meskipun wajahnya senang. 'Sandiwara yang luar biasa. Harusnya kalian jadi aktor jahat. Aku harus menjebak mereka biar tertangkap. Tapi, Paman Rey tadi bilang, Ayahku ada padanya. Aku harus gimana lagi sekarang?' pikir Rianti bingung.     Rianti menatap Sava lagi yang menunduk fokus dengan senar gitarnya. Tidak menyangkal jika Rianti terpesona, lagi dan lagi. Menyangga kepala, dan tersenyum manis. Tidak sadar ikut bernyanyi. Sampai Sava kelelahan dan mereka bergiliran bernyanyi. Paman Rey menggantikan Sava bermain gitar. Sangat percaya diri dan membuat teman pembantunya memujinya. Sedangkan Sava duduk di samping Rianti. Dia menghela napas sebentar dan menatap Rianti.    "Terpesona denganku atau Paman Rey, Cantik?" tanya Sava berbisik.    Membuat Rianti terlonjak kaget. Rianti menoleh dengan mata melotot. Tanpa dosa Sava tersenyum dan menyenggol lengan Rianti, membuat mata Rianti semakin melebar.     "Biasa aja matanya, mau copot?" tanya Sava sambil terkekeh.     Rianti spontan mengerjap dan melengos. "Huh, nyebelin!" kesal Rianti.     Semua orang sibuk dengan lagu Paman Rey, tidak sadar dengan perbuatan Sava. 'Ngapain, sih, Sava nyenggol segala? Pipiku jadi panas, 'kan,' batin Rianti.     Sava menyenggol lengannya lagi, membuat Rianti menoleh galak.    "Hey, teman. Suaraku bagus, 'kan?" tanya Sava sengaja.    "Lebih bagus suara Paman Rey!" tegas Rianti mengejek.    "Kelihatan banget bohong. Bilang aja nggak mau ngakuin. Tadi, sampe senyum-senyum sendiri, ikutan nyanyi. Ah, aku emang keren." Sava memuji dirinya sendiri, melengos sambil menyibak rambutnya.     Rianti mendelik tidak percaya. "Eh, kepedean banget, sih. Kalau tau badan sehat aja gembira. Coba dulu gimana? Pasrah hidup, ck! Nggak seimbang tau!" decak Rianti berbisik mengejek.     "Biarin aja, yang penting aku bisa lihat kamu lebih lama." jawab Sava menoleh dan menatap Rianti dalam. Membuat Rianti salah tingkah. Dia membeku dalam tatapan Sava, sampai suara pembantunya membuyarkan mereka dan berpamitan pulang, hari sudah gelap.     Rianti dan Sava masuk ke rumah. Rianti segera menarik Sava ke kamarnya. Menceritakan semua kejadian kemaren dan hari ini. Sava sangat terkejut, marah, melihat dan mendengar rekaman Paman Rayhan dan kedua orang tuanya. Tangan Sava mengepal kuat, tidak menduga rencana Paman Rey.     Lebih terkejut lagi Rianti menceritakan pengakuan pak satpam tadi pagi. Rianti menahan air mata saat membicarakan Ibunya.     "Keterlaluan! Mereka nggak bisa dimaafkan!" ucap Sava menekan perkataannya.     Rianti tidak tahu harus bersyukur atau sedih. Kepalanya pusing lagi. Dia bilang pada Sava ingin menghirup udara segar. Sava membawanya ke halaman belakang. Duduk di kursi panjang dan memejamkan mata terkena angin malam.     "Hmm, sejuknya," gumam Rianti meskipun kepalanya masih terasa pusing dan sesak.     Sedangkan Sava kedinginan mengelus lengannya. Dia menatap Rianti yang menikmati udara malam. Muncul ide dari Sava.    "Rianti, kamu tunggu dulu, ya. Aku mau ambil gitar." ucap Sava dan berdiri. Pergi saat Rianti menjawab dengan gumaman. Rianti merebahkan diri di kursi. Menatap langit yang cerah dengan senyum. 'Semangat Rianti, semangat. Ayo semangat!' batinnya menyemangati.     Lalu ia tertawa pelan. Menertawakan diri sendiri dan berkhayal sesuatu yang manis. Tiba-tiba petikan senar gitar mendekatinya. Sava berjalan dengan senyum sambil bernyanyi.    "Memandang wajahmu cerah, membuatku tersenyum senang. Indah dunia ...," Sava bernyanyi lagu berjudul bersamamu.     Membuat Rianti seketika duduk. Menatap Sava yang berdiri di depannya.     Rianti tersenyum. "Tentu saja kita pernah, mengalami perbedaan. Kita lalui ...," sambung Rianti ikut bernyanyi. Membuat Sava semakin tersenyum lebar.     "Tapi aku merasa, jatuh terlalu dalam, cintamu ...," lanjut Sava sambil menatap Rianti dalam.    "Ku tak akan berubah. Ku tak ingin kau pergi. Selamanya...," Rianti menyambung lagunya.     Seketika gitar Sava berhenti. Mereka saling tatap, seakan mengerti jika lagunya benar-benar seperti apa yang mereka rasakan belakangan ini. Lalu Sava melanjutkan petikan gitarnya dan melanjutkan lagu berduet dengan Rianti. Sampai selesai, tanpa sadar mereka duduk di tanah bersandar kursi. Senyum menghiasi wajah mereka.    "Hmm, suaramu lumayan." ujar Sava sambil memeluk gitar.     Rianti tertawa kecil. "Suaramu jelek," ejek Rianti tanpa memandang Sava.    Tiba-tiba tangan Sava merangkul pundak Rianti, membuat Rianti menoleh.     "Jangan terlalu di pikirkan. Orang tuamu itu orang tuaku juga. Aku nggak akan tinggal diam." ujar Sava bicara pelan. Menoleh menatap Rianti dengan senyum tipis. Rianti tidak tahu harus berekspresi apa.    "Kalau dua minggu terlewat dan aku masih hidup, maukah kamu menikah lagi denganku?" tanya Sava tersenyum.     Rianti tersentak. Dia tidak menduga jika Sava akan bicara seperti itu. "Apa ... Kamu melamarku?" tanya Rianti pelan.    Sava terkekeh. "Iya, istriku." jawab Sava sambil mendekatkan dirinya.     Rianti mendelik. "Ha?!" pekiknya kaget.     'Sava terlihat sangat tenang. Dalam kondisi begini dia melamarku? Melamarku?' tanya Rianti dalam hati.    "Rianti, aku serius," kata Sava menatapnya tanpa kesan bercanda.    Rianti menaikkan kedua alisnya dan menganga. "Kamu ... Suka padaku, ya?" tanya Rianti lalu menggigit lidahnya. 'Hah, kenapa aku tanya begitu? Jadi malu sendiri, 'kan jadinya,' batin Rianti.     "Hahaha, bodoh! Gimana? Mau nggak?" tanya Sava tanpa menjawab.     Seketika Rianti merasa gelisah. "Teman, kamu bicara begitu hanya untuk menghiburku, 'kan? Nggak lucu, Sava." ujar Rianti sambil menggeleng pelan.     Sava tersenyum. Menepuk pundak Rianti pelan. "Aku serius. Sangat serius. Jangan tanya kenapa, karena aku juga nggak tau jawabannya. Apa aku suka padamu? Iya. Soal cinta? Entahlah, aku nggak tau apa itu cinta. Rianti, kamu memberiku hidup. Maafkan aku yang mengabaikanmu selama ini. Mungkin, hatimu sakit waktu menikah denganku yang sekarat, tapi kamu menerimaku dan mau berteman. Tidakkah teman ini jadi pasangan sungguhan?" tanya Sava setelah berujar.     Ucapan Sava membuat Rianti tersentak lagi lalu menunduk. Dia mencabut satu rumput dan memainkannya.     "Jadi, kamu hanya kasihan padaku karena aku menerimamu apa adanya," gumam Rianti mengambil kesimpulan.     Sava kalang kabut. "Bukan, bukan begitu." kata Sava lalu menggaruk kepalanya.     Rianti masih menunduk dan murung. "Lalu apa? Kita udah nikah, tapi kamu melamarku sekarang. Katakan apa yang harus aku pikirkan Sava? Otakku penuh, aku bingung!" ujar Rianti sedikit keras.    Rianti meringis tanpa Sava tahu. Tiba-tiba punggungnya terasa hangat, Sava memeluknya dari belakang. "Iya, maafkan aku. Udah nggak usah pikirin. Tenang aja, besok masih banyak yang dilakukan." bisik Sava tepat di belakang telinga Rianti.     Bulu kuduk Rianti merinding. Merasakan darahnya berdesir, dia tidak bisa bergerak. Sebisa mungkin membuat dirinya bersikap santai. Mendesah pelan dan memegang tangan Sava. Bisa Rianti rasakan kalau Sava terkejut.     "Kita kayak pacaran iya, 'kan? Haha, aneh banget. Besok tekadku penuh. Kalau kamu ikut, semua orang akan curiga karena kamu nggak ada di rumah." ujar Rianti pelan sambil mengelus punggung tangan Sava.     Rianti merasa punggungnya agak berat, karena Sava menaruh kepalanya di punggung Rianti.     "Nggak apa-apa, kita sah. Satu kompleks jadi saksinya. Soal besok, aku tetap ikut." jawab Sava tepat di belakang telinga Rianti. Bulu kuduk Rianti merinding. Merasakan darahnya berdesir, mencoba bersikap santai dan mendesah pelan. "Hah, terserah," ucap Rianti.     Rianti bingung saat Sava bangun dari punggungnya. Rianti menoleh dengan tanda tanya. Tetapi Sava hanya tersenyum sambil mengambil gitarnya dan bermain kembali.     "Langitnya cerah, ya. Secerah harapanku." Sava nyeletuk tanpa berhenti bermain gitar.     "Harapan?" bingung Rianti.     Sava mengangguk. "Harapan biar bisa hidup lama bersamamu," jawab Sava tersenyum.    Rianti tersentak lagi dalam hati. Tidak bisa berkedip karena Sava memandangnya dalam. Dia hanyut dalam petikan gitar Sava, tidak sadar tidur bersandar pundak Sava. Sava menatap Rianti sayang. Menghentikan petikannya dan membawa Rianti ke kamar.    ~~~    Keesokan harinya, Rianti langsung pergi sebelum semua orang datang. Sesuai rencana, Sava menunggu di rumah mencari alasan pada semua pembantunya, terutama Paman Rey. Rianti sempat khawatir dengan Sava, kalau dia tidak boleh keluar, tetapi Rianti percaya Sava. Dia pergi terlebih dahulu ke rumahnya. Rianti ingin langsung pergi ke toko bangunan kakak Syam. Namun, dia harus menunggu Sava sampai datang. Sava hanya tahu rumah Rianti saja.    Mondar-mandir di teras rumah, membuat tetangga menghampiri Rianti.     "Hey, Rianti. Kau pulang lagi? Mana Ayahmu? Mana suamimu?" tanya tetangga penasaran.     Rianti menatap tetangga itu dan berdecak. "Pergilah, Bibi! Aku lagi pusing," Rianti mengusir tetangganya.    "Kau tidak sopan, ya! Ditanya baik-baik malah mengusir. Mentang-mentang menikah dengan orang kaya, kau jadi berubah. Meninggalkan Ayahmu yang hilang dan lihat ini! Lihat rumahmu yang tidak terawat, kau memang tidak tau diri, Rianti!" maki tetangga itu kesal.    Rianti melotot. "Bibi, Aku menghargaimu, tapi kau tidak berhak memakiku kalau tidak tau apa yang terjadi. Pergilah!" usir Rianti lagi.    Tetangga itu ingin marah. Tetapi di tahan oleh tetangga lain yang baru datang. "Sabar, mungkin Rianti sedang dalam masalah," tutur orang itu dan membawanya pergi.    Rianti berdecak malas. 'Mengganggu saja! Aku ingin makan orang rasanya! Ck, Sava gimana dia?' batin Rianti pusing.     Sampai pukul sembilan pagi, Sava baru datang dengan motornya. Rianti langsung menghampiri Sava sebelum Sava turun dari motor. "Sava, ayo pergi sekarang. Putar balik, di sana ada toko bangunan lalu berhenti, ayo!" seru Rianti dan langsung naik ke motor. Membuat Sava terkejut dan bingung. Memilih langsung putar balik dan menuju toko bangunan itu.    Mereka turun dan Rianti langsung memanggil kakaknya. Sedangkan Sava memandang Rianti heran.    "Kak Syam! Ini aku Rianti. Kakak kau di mana?" teriak Rianti masuk ke dalam toko.    Rianti menoleh ke belakang, mengajak Sava dengan isyarat tangannya. Tapi Sava menggeleng, dia berdiri di teras toko. Rianti memilih masuk ke rumah kak Syam. Tidak lama Rianti kembali dengan menarik tangan kak Syam.    "Eh, Rianti. Sabar, pelan-pelan, dong." ujar kak Syam sambil melepaskan tangan Rianti.     "Nggak ada waktu lagi, Kak. Kenalin, ini Sava suamiku. Sava, ini Kak Syam. Aku udah cerita, 'kan?" Rianti buru-buru memperkenalkan mereka.    Sava dan Kak Syam saling pandang bingung. Lalu mereka berjabat tangan sambil tersenyum.     "Wah, suamimu tampan juga. Bagi tips, dong, biar aku juga tambah ganteng." ujar Kak Syam sambil menaik-turunkan alisnya.     Rianti berdecak melihat Sava kikuk. "Udah, ah. Nanti lanjut lagi kenalannya. Sekarang waktunya serius. Kakak, kami butuh bantuanmu," ujar Rianti serius.    Kak Syam menaikkan kedua alisnya, Rianti menjelaskan semuanya. Rencananya untuk membebaskan orang tua Sava dan sekaligus mendapatkan ayahnya dalam satu hari. Rianti ingin menjebak Paman Rey.     "Kakak, aku dan Sava akan bebaskan orang tua Sava. Nanti, kakak tolong cari tahu tentang Paman Rey. Ikuti dia kemanapun. Aku akan bawa mertuaku ke rumahmu. Izinkan mereka tinggal sebentar sampai semua selesai. Kumohon bantu aku." pinta Rianti menjelaskan.     Kak Syam tampak mengerutkan dahi, Rianti memberikan alamat rumah Sava dan foto Paman Rey. Selebihnya, dia harus mencari sendiri. Wajah Kak Syam serius menatap foto Paman Rey. "Tenang aja. Serahkan Paman Rey itu padaku," jawab kak Syam serius menatap Rianti dan Sava bergantian.     Rianti dan Sava mengangguk kompak.     "Kakak, hubungi kembali kalau berhasil. Kita jejak dia dihadapan polisi," tambah Rianti.     "Menyenangkan! Aku siap!" ujar kak Syam tersenyum miring.     Rianti tidak memberi kesempatan Sava bicara. Dia terlalu buru-buru, menarik tangan Sava lagi dan mengajaknya ke tempat mertuanya dikurung. Di jalan raya, Rianti selalu meminta Sava untuk melaju cepat. Sampai Sava berdecak. "Rianti, sabar. Ini di jalan raya," ujar Sava menatap Rianti dari spion motor.     "Sava, aku ingin sekali melihat Paman Rey tertangkap. Ayo lebih cepat!" seru Rianti menepuk pundak Sava.     'Juga menemukan Ayahku,' sambung Rianti dalam hati.    Sava tidak bisa kesal dengan Rianti. Dia juga punya tujuan yang sama, karena telah ditipu. Sampai tepat pukul dua belas siang mereka sampai di rumah itu. Panas terik tidak membuat Rianti lelah. Dia menarik tangan Sava, diajak mengendap pelan.    "Kenapa mengendap-endap? Langsung masuk aja," bisik Sava.     "Sstt, kita nggak tau di sana ada orang lain apa hanya orang tuamu," jawab Rianti berbisik.    "Bukannya ada Paman Rayhan dan anaknya? Mereka jaga Papa dan Mama 'kan?" tanya Sava heran.    "Emang iya. Tapi, buat jaga-jaga aja, siapa tau ada bahaya. Nurut aja sama aku!" tekan Rianti di akhir ucapannya. Membuat Sava mendesah pasrah.     Rianti mengintip di celah rumah. Tidak terlihat apapun. Rianti beralih mengintip di celah pintu. Rianti tersentak, dia menoleh pada Sava.    "Sava, ada orang lain bersama orang tuamu," ucap Rianti.     "Orang lain? Paman Rayhan?" tanya Sava pelan.    "Ck, bukan, tapi orang lain." Rianti kembali mengintip di celah pintu. Mencoba mengamati perbuatan mereka. Sava juga penasaran. Dia menepuk pundak Rianti ingin bergantian mengintip. Tetapi Rianti menyingkirkan tangan Sava tanpa menoleh.     Rianti menatap Sava lagi, dia sangat bingung. "Sava, apa yang mereka lakukan dengan banyak kertas? Orang itu memberi kertas dan selalu bicara. Papa dan Mamamu hanya diam," tanya Rianti berpikir.    Sava tiba-tiba berubah ekspresi dan mendorong pelan Rianti agar menepi. Membuka pintu itu paksa, membuat Rianti menganga dan menepuk dahinya keras. "Dasar Sava bodoh! Gegabah sekali dia!" pekik Rianti kesal. Dia ikut menyusul Sava.     Betapa terkejutnya Rianti, melihat Sava menjinjing kerah baju orang itu dengan marah. Lebih terkejut lagi saat Rianti mendekat dan melihat jelas wajah orang itu. 'Dia, orang yang sama yang pernah Paman Rey temui di gerbang kompleks,' batin Rianti.     Tidak peduli dengan Sava yang marah, apalagi mertuanya yang melongo. Rianti mengambil handphonenya dan menyamakan rekamannya dengan wajah orang itu. "Benar sama! Sava, dia orang yang pernah ditemui Paman Rey di gerbang kompleks!" pekik Rianti dan mematikan handphonenya.     Menatap Sava yang sangat marah, Rianti tidak tahu harus berbuat apa.    "Iya, Rianti. Aku sering melihatnya. Dia adalah office boy di kantor. Aku sering melihatnya menemui Rey. Ternyata kau bersekongkol dengan Rey! Aku tidak akan memaafkanmu!" teriak Sava tertahan dengan rahang bergetar.    Rianti tersentak ikut bergetar. 'Sava, Sava marah. Dia bisa marah? Aku harus apa? Harus cepat keluar dari sini!' pikir Rianti.     Saat Sava mengintrogasi tujuan OB itu, Rianti menatap kertas dan map di lantai. Rianti mengambilnya, menatap kedua mertuanya. "Ayah, Ibu, ini berkas apa?" tanya Rianti.     "Itu surat pernyataan kalau kami bersedia memberinya uang dan posisi di perusahaan, nak," jawab Ibu Sava.     "Untung saja kalian datang. Kami belum tanda tangan," sambung Ayah Sava sambil tersenyum.     "Tapi kalian tidak disiksa lagi, 'kan?" tanya Rianti khawatir. Mereka menggeleng dan tersenyum membuat Rianti ikut tersenyum dan menyobek berkas itu. Menatap Sava yang masih sibuk dengan OB. Rianti merekam lagi dengan handphonenya. Sampai OB itu mengaku. Rianti membawanya ke rumah Kak Syam beserta orang tua Sava. Meminta tolong istri kak Syam untuk mengawasi. Sekarang orang tua Sava tidak takut ancaman dari orang-orang Paman Rey. Mereka merasa aman. Bahkan menghukum OB itu di rumah kakak Syam.    Sedangkan Sava tidak ada waktu untuk sekedar memeluk orang tuanya. Dia hanya tersenyum, lau ikut Rianti lagi kembali ke rumah itu. Menemui Paman Rayhan dan Layla. Tetapi, mereka tidak ada. Rianti bertanya pada warga. Juga tidak mengetahui keberadaannya.     Rianti menatap Sava melotot. "Jangan-jangan, mereka bersama Paman Rey!" pekik Rianti.     Sava menautkan dahi. "Mungkin mereka punya rencana. Ayo kembali!" ajak Sava kembali pulang.     Mereka bolak-balik menghabiskan waktu untuk perjalanan. Sore pukul empat, mereka sampai. Rumahnya tiba-tiba sepi. Satupun dari pembantunya tidak ada. Termasuk Paman Rey dan pak satpam. Rianti dan Sava bingung.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN