Mencari di semua ruangan, mengitari rumah berkali-kali, tetap tidak menemukan mereka. Rianti menuju kamarnya, dia teringat sesuatu. Mencari buku yang menjadi bukti. Buku bertuliskan kalau Paman Rey penipu itu juga tidak ada. Rianti kebingungan.
Sava menyusulnya. "Kenapa? Ada apa?" tanya Sava ikut panik.
"Bukumu nggak ada, Sava. Hilang!" ucap Rianti terus mencari.
Deg!
Seketika Rianti mengerti semuanya. Menatap Sava dengan terengah. "Tau artinya, Sava? Paman Rey mengambilnya!" ujar Rianti.
Sava mengangguk. "Dia juga merencanakan sesuatu. Pasti, semua orang dia libatkan! Buktinya mereka nggak ada di waktu yang ... Ck, tapi apa rencananya?" tanya Sava bingung sambil berpikir.
Rianti ikut berpikir. 'Kira-kira apa yang Paman Rey lakukan? Dia nggak nyerang aku dan Sava langsung, tapi melibatkan banyak orang. Pengecut banget dia!' batin Rianti.
"Semoga kak Syam berhati-hati. Kita nggak tau kalau Paman Rey bakal berbuat sesuatu," geram Rianti.
Menatap Sava yang diam dengan dahinya berkerut. Rianti jadi ingat kesehatan Sava.
"Kamu nggak apa-apa? Capek? Dadamu sesak atau tenggorokan kering? Mau minum, mau batuk?" tanya Rianti beruntun sambil membelokkan badan Sava menatapnya.
Seketika Sava tersenyum manis. "Gimana aku bisa sakit kalau bersamamu?" jawab Sava mengedipkan sebelah matanya. Membuat Rianti berdecak dan mendorong Sava pelan. "Nggak usah bercanda! Serius ini serius!" sewot Rianti.
"Hmm, menurutmu apa yang dilakukan Rey?" tanya Sava kembali serius.
Rianti mengetuk dagunya pelan. "Aku rasa ... Dia bawa semua orang untuk disandera. Dia ingin melenyapkan buku itu karena bukti tulisan tangan orang tuamu saat dia menangkapnya. Lalu, akan menjebak kita agar menyerah dan menyerahkan kepemilikanmu. Beserta bukti di handphoneku." kata Rianti.
Tiba-tiba lampu semua rumah padam. Rianti terkejut dan meraba udara mencari Sava. "Sava? Sava? Kamu di mana? Kenapa mati lampu? Gelap, aku nggak bisa melihat!" ucap Rianti panik.
Tidak menemukan Sava sampai dia terantuk pintu. Mengaduh sakit dan teriak tertahan saat ada yang membekap mulutnya, sampai Rianti pingsan.
~~~
Gelap, tidak ada cahaya dan pengap. Rianti sadar sejak beberapa menit yang lalu. Dia tidak bisa bergerak, karena tangan kakinya terikat. Rianti menatap sekeliling, tidak ada apa-apa.
'Ini pasti di dalam ruangan. Pengap banget, aku agak susah bernapas!' batin Rianti sambil mengatur napas.
Rianti meronta mencoba melepaskan diri. Justru hanya membuat dirinya sakit. Dia tahu kalau ini perbuatan Paman Rey. Rianti tidak mencemaskan dirinya tetapi Sava yang menghilang bersama semua orang dirumahnya. Apalagi kakak Syam, Rianti tidak tahu apakah kakaknya itu baik-baik saja.
"Paman Rey! Sudah cukup jangan bersembunyi, apalagi sandiwara. Kau bukan aktor hebat! Keluarlah Paman!" teriak Rianti menggema di ruangan. Rianti merasa takut karena suaranya memantul kembali.
'Ha! Ruangan apa ini? Kenapa bergema?' tanya hati Rianti takut.
Dalam hati memanggil semua orang, termasuk Sava. Rianti terus memanggil Sava.
"Savaaaa! Sava kamu di mana?" teriak Rianti takut.
Saat dia celingukan, terdengar suara tepuk tangan dari depan. Rianti mengerutkan dahi, mencoba melihat tetapi percuma. Tiba-tiba lampu menyala tepat di atas kepala Rianti. Rianti mengernyit silau. Suara tepuk tangan itu hilang, membuat Rianti mencarinya.
Deg!
Tepat di depan Rianti, Paman Rey berdiri tersenyum miring. Rianti menatapnya kaget. Jantungnya berdetak kencang. Paman Rey terlihat berbeda.
"Bukan aktor yang hebat. Sampai gadis sok pintar sepertimu mencampuri urusanku. Bodoh!" Paman Rey menekan setiap ucapannya menghina dirinya sendiri yang tidak bisa bersandiwara.
Hati Rianti bergemuruh. Terkejut melihat Paman Rey yang berbeda. 'Dia memang penipu!' batin Rianti.
Rianti melotot tidak suka. "Ck, Paman, aktingmu lumayan. Sebagai pengecut!" Rianti memuji sekaligus menghina.
Dia merasa sangat marah. Melihat Paman Rey berjalan pelan mengarah padanya, Rianti tidak takut. Justru menantang Paman Rey. Sampai Paman Rey hanya berjarak satu langkah. Mereka saling pandang lekat.
"Nyonya Rianti. Dua kali kau berurusan denganku. Pertama, soal Ibumu. Kedua, suamimu. Ah, akan jadi ketiga kalau kau melawan. Yaitu, Ayahmu," ujar Paman Rey datar.
Rianti yang awalnya menatap menantang menjadi terbelalak. "Di mana Ayahku!?" tanya Rianti tidak sabar.
"Mau lihat?" tawar Paman Rey.
Tidak menunggu sampai Rianti menjawab, Paman Rey mengambil handphone dari sakunya. Membuat Rianti melotot. "Handphone itu!" pekik Rianti.
Paman Rey meliriknya, "Handphone dariku. Hmm, bukti yang kau miliki cukup untuk menangkapku." ujar Paman Rey lalu memperlihatkan sebuah video.
Rianti sangat syok. "Ayah!" pekik Rianti spontan.
Video di mana Ayahnya berpenampilan tidak layak dan sangat kesakitan. Seakan terkurung dan tidak terawat. Ayahnya tersenyum sakit dan memanggil Rianti lirih. Rianti semakin sakit saat mendengar Ayahnya meminta maaf. Rianti menggeleng kuat.
"Tidak! Kau apakan Ayahku!? Kenapa kau kejam dan pengecut!? Sangat pengecut!" Rianti marah. Matanya memerah dan menggenang air mata. Paman Rey memasukkan lagi handphone Rianti. "Aku pikir kau tidak akan macam-macam. Setelah kau megikutiku dan Tuan Sava di perusahaan dengan bantuan pak satpam. Aku langsung mengerti. Ternyata kau cukup pintar dan berani. Oh, tentunya sudah tau kalau aku dan pak satpam membunuh Ibumu. Bukanlah kecelakaan yang tidak sengaja." tekan Paman Rey tersenyum miring.
Seakan hatinya tercambuk. Perih karena nasib yang menimpanya. Tidak menyangka jika dia berhubungan dengan masalah Sava.
"Astaga, Paman Rey! Aku tidak akan memaafkanmu! Lepaskan aku! Aku akan menghajarmu! Apa salah keluargaku? Ibuku hanya tau rencana jahatmu, kenapa kau membunuhnya? Aku tidak ikhlas, Paman! Masalah Sava kau bermain denganku, kenapa Ayahku kau libatkan? Meskipun dia jahat padaku, tapi dia tidak buruk sepertimu! PENGECUT! KAU PENAKUT DAN PENGECUT!" teriak Rianti memaki.
Plakk!!!
Tamparan keras di pipi Rianti, sampai Rianti menoleh sakit. Meringis dan kembali memandang Rey sengit. "Kau bahkan melawan anak kecil sepertiku, haha." tawa Rianti mengejek.
Sangat terhina, Paman Rey mencengkram kedua pipi Rianti, "Diamlah kalau ingin semua orang selamat." desis Paman Rey sambil menjentikkan jarinya. Seketika lampu menyala lebih banyak. Ruangan sangat terang, Rianti merasa silau. Paman Rey mendorong wajahnya sampai menoleh sakit. Rianti hanya mendesis sakit. 'Sialan kau!' maki Rianti dalam hati.
Saat Paman Rey menjauh beberapa langkah, Rianti kembali menatap ke depan. Matanya serasa ingin lepas karena terlalu kaget. "Kalian!? Sava, kau juga?" tanya Rianti memekik.
Semua pekerja di rumahnya kecuali pak satpam duduk bersandar dinding dengan mulut dan tangan terikat. Termasuk kakak Syam, istri kakak Syam, Paman Rayhan dan Layla, OB, mertua Rianti, sekaligus Sava.
Rianti menatap Paman Rey bengis. "Sekarang mau apa lagi, hah? Mau tunjukkan seberapa buruknya dirimu? Lepaskan mereka!" suruh Rianti marah.
"Kau lihat surat ini? Sava dan orang tuanya hanya perlu tanda tangan dan semuanya jadi milikku. Sudah cukup usahaku meyakinkan para pemeran penting perusahaan. Sekarang waktunya, selagi kalian sudah tau. Sayangnya, Tuan Sava sangat bodoh. Dia percaya begitu saja, harusnya kau juga bodoh biar sama seperti dia. Jadilah gadis yang lugu, itu lebih baik." terang Paman Rey sambil mengangkat sebuah berkas.
Rianti menggeleng cepat. Pikiran Rianti buntu, dia berharap bisa melakukan sesuatu. Mustahil saat keadaannya terikat. Paman Rey pergi menuju orang tua Sava. Dengan paksa menyuruh mereka tanda tangan. Rianti meronta, sangat keras tidak peduli jika tangannya sakit.
Bisa Rianti rasakan kalau kulit pergelangan tangannya mengelupas. Rianti terus berusaha, sampai ikatannya sedikit melonggar. Rianti menarik tangannya lebih keras dan dapat terlepas. Napas Rianti terengah, melihat tangannya yang lecet bergetar. Dia langsung melepaskan ikatan di kakinya.
Perlahan berjalan tanpa suara, memandang leher Paman Rey dan memukulnya keras. Sampai Paman Rey merasa nyeri leher dan jatuh terduduk. Tangan Rianti semakin sakit, instingnya bekerja untuk melepaskan ikatan Sava. Karena Paman Rey tidak terima dan ingin membalas Rianti. Sebelum itu terjadi, Sava sudah terlepas dan memukul Paman Rey kuat.
Tenaganya tidak cukup besar karena Sava masih muda, tetapi sanggup melawan Paman Rey dengan marah. Makian dan ucapan kasar Sava lontarkan. Dia sakit hati karena di tipu sangat dalam. Merusak hati dan pikiran Sava sampai pasrah hidup.
Rianti tidak melihat pertarungan Sava dan Paman Rey. Dia memilih melepaskan ikatan semua orang dengan kaki tangan bergetar. Mereka semua diam dan hanya menghela napas sakit campur takut. Kakak Syam dan Ayah Sava ikut membantu Sava. Hingga Sava kembali dan duduk bersama Rianti. Badannya bergetar. Rianti lebih bergetar melihat wajah lebam Sava.
"Kenapa? Kenapa wajahmu biru-biru gosong?" tanya Rianti ingin menyentuh wajah Sava. Tetapi Sava menahannya. Dia melihat pergelangan tangan Rianti sedih. "Pasti sakit, 'kan?" tanya Sava pelan.
Rianti mengangguk. Dia ingin menangis karena pikirkan bingung. Namun ditahan, melihat Paman Rey berhasil dilumpuhkan. Paman Rey diikat dan dipegangi Ayah Sava sambil marah. Kakak Syam kembali dan memeluk istrinya. Rianti tersenyum tipis.
Tetapi, Rianti celingukan mencari seseorang. "Di mana pak satpam? Apa dia kabur?" tanya Rianti bingung.
Sava menggeleng. "Dia memang tidak ada di sini, mungkin berada bersama Ayahmu. Rianti, ayo temui Ayahmu. Aku takut kalau dia dicelakai pak satpam." ujar Sava mengangguk kuat.
Rianti juga mengangguk, dia berdiri dengan bantuan Sava. Membuat Layla memandangnya sinis. Rianti tidak tahu itu, dia celingukan bingung lagi. "Panggil polisi. Hukum Paman Rey! Eh, tunggu sebentar. Aku ingin memukul Paman Rey," ujar Rianti.
Dia mendekati Paman Rey dan mensejajarkan wajahnya. "Paman, ini untuk Ibuku dan tipuanmu pada Sava!" seru Rianti sambil menginjak kuat kaki Paman Rey. Membuat Paman Rey memekik keras.
Rianti menampar Paman Rey berkali-kali. Membuat Sava dan semua orang terkejut. "Ini ... Untuk tamparanmu dan rasa benciku padamu! Kau pembunuh! Pengecut! Aku tersiksa batin karenamu! Kau biadab Paman Rey! Pergilah kau ke penjara!" seru Rianti di setiap tamparannya.
"Sstt, udah Rianti, udah. Ayo pergi." Sava menenangkan Rianti sambil mengajaknya pergi. Rianti berhenti dengan napas terengah. Sebelum dia pergi, dia menginjak kaki Paman Rey sekali lagi. Membuat Sava menariknya agar berhenti.
Kemudian Rianti dan Sava menuju tempat di mana Ayah Rianti di sekap. Sedangkan Paman Rey di tangani orang tua Sava. Di perjalanan, Rianti bertanya pada Sava. "Kamu tau tempatnya?" tanya Rianti bingung.
"Iya, Rey menceritakan semuanya sebelum kamu sadar. Mungkin, dia terlalu percaya diri kalau rencananya akan berhasil. Sampai menceritakan semuanya, ck." decak Sava menjelaskan.
Rianti menatap tangannya yang digandeng Sava. "Kamu gimana bisa keluar rumah tadi pagi? Terus, setelah lampu rumah mati, kamu diapain sama Paman Rey?" tanya Rianti kepo.
Sava menoleh. "Aku lebih khawatir sama kamu. Aku hanya izin keluar rumah sebentar. Lalu waktu mati lampu, Rey bicara padaku sebentar. Sebagai asisten untuk terakhir kalinya. Lucu banget!"ucap Sava.
Kemudian Sava menceritakan semuanya. Rianti mendengarkan sambil senyum. Merasa lega karena masalah Paman Rey telah usah. Tetapi, hatinya gelisah memikirkan Ayahnya. Sampai mereka tiba di belakang ruangan tadi. Rianti langsung menghampiri seseorang yang terduduk kesakitan.
"Ayah! Ayah, Ayah sadar ini aku Rianti. Lihat aku, Ayah!" ucap Rianti mengarahkan wajah Ayahnya untuk menatapnya. Sava ikut duduk di samping Rianti, memandang Ayah mertuanya sendu. "Ayah, aku Sava. Suami putrimu. Kau bisa mendengarku?" tanya Sava pelan.
Rianti bingung, Ayahnya hanya menatapnya tanpa bicara. "Sava, bawa Ayah ke rumah sakit sekarang. Ayo cepat!" pinta Rianti sambil mencoba membantu Ayahnya berdiri. Sava mengangguk dan ikut membantu Rianti. Memapah di kanan-kiri Ayah Rianti. Tidak peduli lagi Paman Rey dan keberadaan Paman Rey.
~~~
Cahaya lampu rumah sakit membuat air mata Rianti terlihat jelas. Duduk di samping Ayahnya yang terbaring setelah dirawat. Ayahnya sedang tidur, Rianti tidak bisa tidur. Sampai Sava menegurnya berkali-kali, tetapi Rianti tidak mau.
"Ayahku terluka. Gimana aku bisa tidur?"
Jawaban Rianti saat Sava bertanya. Sava mengerti, dia ikut menunggu di samping Rianti. Pandangan Rianti hanya fokus pada Ayahnya. Bergumam membuat Sava menoleh dan mendengarkan.
"Kenapa dua orang itu jahat banget? Rencana mereka buruk. Sandiwaranya jelek. Aku benci harta. Hanya buat orang nggak waras. Aku benci uang. Aku benci mereka. Aku ingin Ibuku kembali. Ayahku menjadi baik lagi padaku. Aku tidak suka kekayaan," gumam Rianti.
Sava hanya mendengarkan dan menunduk. 'Aku harus jawab apa Rianti? Aku juga baru sadar kalau masalah kita berhubungan. Karena kegilaan Rey,' batin Sava.
"Aku mau pulang. Mau jadi gadis miskin di desa lagi. Nggak mau kaya," gumam Rianti lagi.
Sava mengerti, dia menatap Rianti miris.
"Aku mau hidup miskin sama Ayahku. Apa kamu mau denganku? Itu terserah kamu," tanya Rianti pada Sava tanpa menoleh.
Sava menjawab sambil memeluk Rianti dari samping. Menyandarkan kepala Rianti di pundaknya. "Aku ikut denganmu. Kita mulai lagi dari awal, ya." tutur Sava sambil mengusap kepala Rianti.
Rianti mengusap hidungnya sebentar. "Akan sulit bersamaku. Aku nggak punya uang sedikitpun. Ayah juga sedang sakit," ucap Rianti lagi.
"Nggak masalah. Aku akan menafkahi kalian," ucap Sava begitu percaya diri meskipun pelan.
"Kenapa, Sava?" tanya Rianti meliriknya.
Sava menunduk dan menatap Rianti tersenyum. "Karena aku sayang padamu. Aku sudah bergantung denganmu Rianti. Terserah kamu sebut ini cinta atau apa, yang jelas aku tidak akan meninggalkanmu, teman sekaligus istriku," jawab Sava serius.
Rianti terdiam sebentar dan terkekeh tanpa suara. "Besok, hasil lab keluar. Kita akan tau kondisimu," celetuk Rianti tiba-tiba tentang hasil lab.
Sava mendesah pelan. "Aku merasa lebih sehat. Aku minum obat dokter teratur. Pasti aku baik-baik aja, terus biar nikah lagi sama kamu," goda Sava ingin membuat Rianti tersenyum.
Bibir Rianti senyum sedikit. "Menikah dua kali, dong?" tanya Rianti basa-basi.
"Iyalah."jawab Sava bangga.
Rianti meliriknya membuat Sava terkekeh pelan. Semakin larut semakin Rianti tidak bisa tidur. Dia memeluk pinggang Sava, menatap Ayahnya. Sava juga terus mengusap kepala Rianti.
~~~
Menunggu semalaman tidak membuat Rianti lelah. Hingga pagi kembali tiba dan Rianti tidak sabar menunggu Ayahnya boleh pulang. Sejak Ayahnya sadar, Rianti sedikit cemas jika akan dimarahi atau dipukul. Tetapi, kata pertama yang Ayahnya ucapkan adalah maaf. Membuat Rianti sedih, dia memeluk Ayahnya erat. Seakan menahan rindu bertahun-tahun tidak bertemu. Meskipun dirumah yang sama, mereka tidak seperti Ayah dan anak. Sekarang, Rianti merasa lega karena Ayahnya kembali.
Ayahnya bercerita kalau dia sudah tahu perihal kematian Ibu Rianti. Membuatnya stres dan menyiksa Rianti. Itu sebabnya, Ayahnya menikahkan Rianti paksa dengan Sava, karena berurusan dengan orang yang sama. Kejadian kematian Ibu Rianti yang sebenarnya adalah pembunuh yang dibuat seakan kecelakaan. Rianti kembali tidak terima. Dia rasanya ingin memakan Paman Rey hidup-hidup.
Tentang pak satpam yang melarikan diri karena tahu Paman Rey tertangkap, dibiarkan sementara. Rianti merasa sangat lelah. Tetapi beban pikirannya sedikit berkurang. Saat dokter sudah memperbolehkan Ayah Rianti pulang. Rianti ingin membawanya kembali segera. Tetapi Rianti juga harus menunggu hasil lab keluar.
Rianti melihat Sava sangat cemas. Rianti jadi merasa tidak tega.
"Sava, senyum, dong." bisik Rianti sambil menyenggol lengan Sava.
Sava meliriknya lalu tersenyum sedikit. Tidak lama kemudian, mereka mengambil hasil lab. Bukan Sava melainkan Rianti yang senang. Sava terbukti tidak sakit jantung. Rianti tahu Sava bingung dan tidak bisa berekspresi, dia menarik tangan Sava dengan riang. Mengajaknya pulang bersama Ayahnya tanpa berhenti tersenyum.
'Masalah Paman Rey dan teka-teki pernikahanku udah selesai. Harusnya buka lembaran baru, 'kan? Aku nggak tau harus senang atau apa sekarang. Aku harus apa selanjutnya?' tanya Rianti dalam hati.
Sampai di rumah Sava, Rianti sangat terkejut karena semua orang ada di sana. Rianti menuntun Ayahnya untuk duduk di sofa ruang tamu. Melihat Ayahnya tersenyum campur bingung dengan rumah Sava yang megah. Rianti memaklumi, dia menarik Sava agar duduk bersama Ayahnya. Lalu mereka berbincang. Sedangkan Rianti menemui mereka semua.
"Kakak, aku sangat berterima kasih untuk bantuanmu. Kakak ipar sampai ikutan, hehe." cengir Rianti pada kakak Syam dan istrinya.
"Santai aja. Aku senang semuanya berakhir. Ayahmu, terlihat baik. Dia nggak mukul kamu lagi, 'kan?" tanya Kak Syam cemas.
"Hahaha, enggak, kok. Mungkin, habis ini aku bakal pulang. Kalau nggak ada kendala," jawab Rianti tertawa renyah.
Kak Syam terlihat bingung. "Pulang? Ke rumahmu?" tanya Kak Syam.
Rianti mengangguk pasti. Kak Syam hanya bisa memaklumi. Dia tersenyum dan pamit pada Rianti.
"Kalau butuh apapun, beritahu aku. Aku pulang dulu," ujar Kak Syam tersenyum.
Rianti mengangguk, "Pasti, Kakak. Siapa lagi yang bisa aku repotkan kalau bukan kau? Hehe, hati-hati di jalan." cengir Rianti sambil melambaikan tangan. Di balas oleh Kak Syam dan istrinya. Rianti berganti dengan Paman Rayhan dan Layla. Ekspresi Rianti berubah seketika kala menatap Layla.