13. Hidup Baru

2448 Kata
   Gadis cantik seusianya itu terlihat tidak merasa bersalah ataupun sungkan. Rianti malas meladeninya.    "Hah, sayang banget. Sava ganteng kenapa terpaksa nikah sama...," ucap Layla menggantung sambil melirik Rianti dari atas sampai bawah.    Rianti mengerutkan dahi mengerti maksud Layla.     "Hah, iya sayang banget. Lebih sayang lagi kalau ketemu sama orang gila uang kayak...," balas Rianti menggantung sambil melirik Layla dari atas sampai bawah. Layla tidak terima. Rianti tersenyum miring dan melanjutkan bicaranya. "Kita itu seumuran. Masih untung kau bisa kuliah. Pakai uang Paman Rey tentunya. Ups, pakai uang orang tua Sava," kata Rianti menekan ucapannya yang terakhir.     Layla sangat kesal. "Dengar, ya, Rianti. Aku tau kau sudah paham kalau aku tertarik dengan Sava. Kita main rebutan, gimana? Lagipula kalian menikah paksa. Mana mungkin saling mencintai, iya, 'kan?" tawar Layla.     Rianti tersenyum miring. "Dasar aneh! Paman Rayhan, singkirkan anakmu ini. Dia gila!" kata Rianti menatap Paman Rayhan.     "Hehe, aku rasa Rey hilang akal. Rencananya tidak berjalan dengan baik. Soal Layla, dia tidak akan mengganggu kalian. Ucapannya hanya main-main," ujar Paman Rayhan tersenyum.     Rianti ikut tersenyum, tetapi luntur saat Layla menyela. "Ayah, aku nggak main-main! Aku beneran tertarik sama Sava!" ucap Layla agak keras.     Rianti berdecak malas. "Udahlah, pergi sana! Urusannya udah kelar, hus-hus!" usir Rianti sambil mengibaskan tangannya. Membuat Layla geram dan akan mengancam Rianti. Namun, Paman Rayhan menarik Layla untuk pergi.     "Hey, Rianti! Aku nggak bercanda, aku serius! Ingat, ya, aku serius suka sama Sava!" teriak Layla di jalan.    Rianti meringis ngeri. "Hah, udah gila nggak punya malu lagi," desah Rianti malas.    Paman Rayhan tersenyum pamit pada Rianti dan memintanya memaklumi Layla. Rianti hanya meringis sambil melambaikan tangan. Kemudian, Rianti menatap dua pembantunya dan Bibi juru masak yang tersenyum.     "Hai, para cewek cantik. Siap kerja lagi besok?" tanya Rianti menyapa.     "Siap laksanakan, Nyonya! Eh, Rianti." ucap Bibi juru masak lalu menggigit lidahnya. Membuat Rianti dan dua pembantu itu tertawa.     "Rianti, maafkan kami yang tidak tahu kelakukan Rey dan pak satpam. Mereka sangat baik, sampai kami tidak curiga," ujar salah satu pembantu.     "Hmm, mereka sandiwaranya terlalu baik. Sudahlah, aku nggak mau mikirin lagi. Semuanya udah selesai dan... Lebih baik kalian pulang aja dulu. Pasti lelah, 'kan?" tanya Rianti.     Mereka saling pandang lalu memandang Rianti kompak. "Kau baik, Rianti. Kami senang punya majikan sepertimu. Tuan Sava sangat beruntung, sampai dia merasa kembali hidup. Kami pulang dulu, ya." ucap Bibi juru masak mewakili mereka.     Mereka pergi dan Rianti hanya tersenyum tanpa menjawab. Memandang gerbang itu dengan nanar. 'Aku nggak tau beruntung apa enggak, tapi aku senang bersama Sava. Kadang-kadang dia menyebalkan, haha,' batin Rianti.     Tibalah Rianti berhadapan lagi dengan mertuanya. Rianti tersenyum dan kaget saat Ibu Sava mememeluknya.     "Inilah alasannya kami menikahkanmu dengan Sava. Maafkan kami kalau menurutmu keterlaluan. Kau boleh mengambil keputusan apapun, tapi kami harap kau tetap jadi menantu kami." ujar Ibu Sava sambil melepaskan pelukannya.     Rianti menatap mertuanya dengan senyum. Menghapus air mata Ibu Sava dengan jarinya, membuat Ibu Sava merasa terharu.     "Kau seperti Ibuku. Sangat lembut," ujar Rianti dengan pandangan rindu. Dia rindu ibunya.     Membuat mertuanya itu menahan tangis lagi. Ayah Sava sampai mengelus kepala Rianti.     "Ibumu orang hebat. Aku menyesal karena dia jadi korban. Dia pasti bangga padamu, Rianti," ucap Ayah Sava tersenyum miris.    Rianti mengangguk. "Itu pasti. Karena aku pintar dan cantik, iya, 'kan? Hahaha," tawa Rianti renyah mencoba membuyarkan suasana dari sisa perbuatan Paman Rey.    Seketika kedua mertuanya ikut tertawa ringan. Rianti mengajak mereka untuk duduk bersama Sava dan Ayahnya. Mereka berbincang sebentar dan tertawa. Bertanya bagaimana nasib paman Rey dan office boy itu, sudah ditangani oleh pihak yang berwajib. Rianti menghela napas lega. Kembali menegang saat tahu pak satpam menghilang, tetapi polisi masih mencarinya. Rianti ingin sekali menemukan pak satpam. Namun, lebih baik dia mengikhlaskan. Pikir Rianti, semua sudah berlalu. Menemukan pak satpam tidak akan membuat ibunya hidup kembali.     Sava melepaskan rindu pada orang tuanya, dia menceritakan semua kisah Rianti dari awal mereka menikah. Membuat Rianti kesal, merasa malu dan melototi Sava. Sampai memberikan hasil lab yang membuat Sava semangat lagi. Dia berbisik pada Rianti.     "Habis ini, kita nikah lagi, deal!" Sava tidak memberi kesempatan Rianti untuk menolak.     Rianti melotot ingin memakan Sava hidup-hidup karena sungguh-sungguh dengan ucapannya. Meminta izin di depan orang tua mereka untuk menikahi Rianti. Semua pandang menuju Rianti. Dia bingung, bola matanya berputar-putar ke segala arah. Nyengir tanpa malu. Kaget saat merasakan telapak tangan mengelus kepalanya. Rianti menoleh, ternyata Ayahnya sedang tersenyum dan mengangguk. Rianti ikut tersenyum lalu menjawab setuju.     Sava sangat senang, dia tidak berhenti tersenyum. Rianti melihatnya jadi ingat saat pertama kali masuk ke rumah Sava. Melihat Sava yang murung dan batuk sakit, bahkan mengusirnya.     'Dasar nggak seimbang, haha,' batin Rianti.     ~~~    Satu minggu kemudian, pernikahan Rianti dilaksanakan. Tentunya bukan karena paksaan. Direstui dan disaksikan banyak orang. Melihat Ayahnya yang tidak lagi jahat, Rianti sangat senang. Orang tua Sava yang kembali hadir, membuatnya merasa lengkap. Hanya saja hati Rianti ada yang mengganjal. Rianti tahu hal itu, dia merasa sesak karena dikelilingi harta. Rianti ingin pulang ke desa. Sedangkan pernikahannya dilaksanakan di rumah Sava. Di tambah rasa campur aduk setelah semua terungkap. Rianti menjadi banyak diam dan termenung.    Terhitung genap satu bulan Rianti menikah. Sekarang dia menikah lagi. Seharusnya Sava tiada hari ini. Rianti duduk di halaman belakang menunggu Sava mengucap ijab kabul dengan lantang. Rumahnya ramai orang dan dekorasi cantik. Gaun pengantin yang sama seperti dulu. Rianti sendirian, tersenyum melihat hiasan di disekelilingnya.    "Aku kira, bakal cuma tiga puluh hari hidup sama Sava. Ternyata, sekarang nikah lagi sama dia, haha," tawa Rianti renyah.    Berbicara sendiri mengingat semuanya. Niat Rianti sangat kuat, dia akan kembali ke desa setelah menikah. Tidak peduli Sava ikut atau tidak. Dia merasa menderita dikelilingi harta.     Seketika hatinya bergelonjak, suara penghulu menggelegar dengan bantuan pengeras suara, lalu diikuti Sava. Rianti menutup matanya rapat sambil berdoa dalam hati. Badannya tiba-tiba bergetar, tangannya meremas gaun pengantin. Hingga semua orang berkata sah, Rianti membuka matanya.     "Alhamdulillah." ucap Rianti bersyukur lega.    Dia tersenyum bahagia. Rianti tidak tahu apa dia mencintai Sava. Dia hanya tahu kalau ingin hidup dengan Sava seterusnya.     Ayahnya menghampiri dan mengajaknya bertemu Sava. Rianti menurut, memeluk Ayahnya sebentar merasa terharu. Dalam hati dia berdoa, berharap tidak ada halangan lagi dihidupnya.     Setelah pernikahan selesai, semua orang pergi, Rianti segera mengutarakan niatnya untuk pulang ke desa, Ayahnya dengan senang hati setuju. Saat orang tua Sava bertanya, justru Sava menggenggam erat tangan Rianti. Menatap berani kedua orang tuanya dan berkata ingin ikut dengan Rianti. Membuat orang tuanya merasa kecewa.     "Kenapa tidak tinggal di sini aja, nak? Ayahmu juga di sini sekalian, biar rame." Ibu Sava bertanya sedih.    "Melihat uang dan kekayaan, aku ingin muntah, Bu. Aku mau pulang aja," kata Rianti tersenyum.     "Tapi, Rianti. Kau menantu kami. Kami bisa menguliahkanmu. Apapun yang kau mau, nak." ujar Ibu Sava membujuk.     "Haha, kuliah, ya? Kalau ada jalan, Rianti bisa kuliah sendiri. Aku mohon, biarkan aku pulang." Rianti mengangkupkan tangannya.     Orang tua Sava mendesah pasrah. "Baiklah. Aku mengerti perasaanmu. Tapi, aku ingin Sava kerja di perusahaan kami. Biar kami bisa melihat kalian lebih sering," pinta Ibu Sava.     Rianti menatap Sava, bertanya keputusan Sava. Rianti berdecak malas saat Sava hanya mengendikkan bahunya.     "Terserah Sava aja, lah. Lihat aja dia, menyebalkan!" kesal Rianti melengos, mendekat pada Ayahnya. Membuat Ayahnya tersenyum dan memeluk Rianti.     Sava terkekeh dan mengangguk. Membuat orang tuanya lega. Masih ada waktu hingga nanti sore. Rianti dan Sava berbenah di kamarnya masing-masing. Para pembantu belum pulang, mereka beres-beres rumah sisa pernikahan.     Rianti tahu, mereka sempat iseng mengintip dari luar, sambil bergosip. Rianti mendesah mendengar ocehan orang-orang. Melipat semua bajunya di lemari dan dimasukkan ke dalam tas. Lumayan, baju gratis dari Sava.     "Suka banget gosip. Rasanya kayak pengantin baru beneran." gerutu Rianti sambil melipat baju.    Dia melihat sisa uang dari perhiasan yang dia jual. Rianti terkekeh geli. Ingat usahanya untuk membuka gembok buku Sava. Rianti mengambil uang itu, memasukkannya ke dalam saku.     "Yah, siapa tau bisa buat modal usaha. Lumayan, 'kan?" gumam Rianti bertanya pada diri sendiri.     Tepat saat Rianti keluar kamar, Sava juga keluar. Rianti sangat tersentak sampai mendelik. Menatap Sava dari atas sampai bawah, membuat Sava bingung dan melihat dirinya sendiri.     'Ini, Sava? Kenapa kayak lebih muda? Ih, keren banget! Jadi gemes,' batin Rianti menganga.     "Kenapa? Ada yang salah?" tanya Sava bingung.     Rianti mengerjap sadar. "Ha? Haha, enggak. Itu, penampilanmu lebih kece dikit, hehe." Rianti nyengir.     Sava langsung tersenyum percaya diri. Membuat senyum Rianti hilang berganti malas.    "Nggak usah kepedean. Senyummu jelek! Ayo pergi!" sewot Rianti dan jalan duluan.    Justru Sava tertawa senang, Rianti jadi kesal. Tidak sadar pipinya bersemu merah, merasa malu tanpa sebab. Rianti menepuk pipinya kecil, lalu menggeleng pelan. Sampai dia, Sava dan Ayahnya benar-benar kembali ke desa. Mobil orang tua Sava terparkir di halaman rumah Rianti, membuat para tetangga penasaran dan menerobos masuk rumah.    "Assalamualaikum, Rianti? Kamu pulang lagi, ya? Eh, banyak orang ternyata." salam salah satu tetangga mewakili yang lain. Dia terkejut karena Rianti tidak sendirian.     Rianti menoleh. "Waalaikumsalam. Kalian? Masuk aja. Kenalkan, mereka orang tua Sava. Ayahku juga sudah kembali. Aku akan tinggal di sini lagi." ucap Rianti senang.     Para tetangga itu terlihat senyum sopan dan malu. Bisik-bisik Rianti dengar, kalau mereka menyinggung keluarga Sava yang kaya raya. Sedangkan Ayahnya yang sudah kembali tidak mereka pedulikan. Membuat Rianti mengepalkan tangan erat. 'Lagi dan lagi soal kekayaan. Emang cuma buat orang jadi gila!' batin Rianti kesal.    Rianti mengusir mereka secara halus. Beralasan ingin membersihkan rumah. Setelah para tetangga itu pergi, tidak lama orang tua Sava juga ikut pergi. Hari menjelang malam, Rianti masih sibuk berbenah. Meskipun Sava dan Ayahnya juga membantu. Karena rumah ini sudah satu bulan tidak terurus, jadi sangat kotor.     Rianti tersenyum dalam diam, mengamati Sava dan Ayahnya kompak bekerja sama. Membersihkan atap dan tembok yang jauh dari kata kaya.     'Sungguh, ya Allah. Aku nggak percaya ini. Ayah nggak marah lagi. Sava selalu tertawa dan sangat akrab dengannya. Dia nggak keberatan di rumah ini. Dia ... Suamiku? Orang yang dulu sangat rapuh itu? Alhamdulillah, semuanya baik-baik aja. Terima kasih, ya Allah.' batin Rianti sambil meraup wajahnya.     Rianti tersadar saat adzan berkumandang.     "Ayah, Sava, istirahat dulu, yuk. Sekalian ayo ke masjid, jalan kaki. Aku kangen jalan-jalan di desa." ucap Rianti semangat.     Kedua orang itu menoleh lalu memberi hormat pada Rianti. "Siap, Tuan Putri. Laksanakan!" seru Sava dihadiahi tawa Ayah Rianti. Mereka berdua kompak pergi membuat Rianti melongo heran. "Kok, jadi begini, ya? Merasa kayak pemimpin, ya?"    Kamar mandi sampai bergantian. Rianti terkikik geli karena Sava bingung dengan kamar mandinya. Menurut Sava itu sangat aneh.     'Dasar orang kaya! Mau mandi aja ribet. Pake bengong lagi, haha.' batin Rianti sambil tertawa di belakang Sava.     ~~~    Rianti diapit dua laki-laki yang dia sayangi saat ini. Perjalanan pulang dari masjid, Rianti tidak berhenti tersenyum. Menghirup udara dalam-dalam dan membuangnya pelan. Membuat Sava mengikutinya.     "Hah, segarnya udara di desa. Rasanya hidup kembali," ucap Rianti tersenyum lima jari.    "Wah, luar biasa bisa hidup beneran." Sava ikut-ikutan sambil merentangkan tangannya. Rianti menurunkan tangan Sava.    "Ih, ngapain, ikut-ikutan segala? Nggak ada yang lain apa?" sewot Rianti.     "Loh, aku benar, 'kan? Harusnya aku udah di dalam tanah sekarang. Nyatanya, aku malah ke masjid sama kamu. Cie, yang nikah lagi sama aku, cie." goda Sava sambil mencolek pipi Rianti. Membuat Rianti risih dan menangkis tangan Sava.    Rianti melotot padanya. "Nggak usah gitu, deh. Nikah dua kali kayak apa aja!" sewot Rianti melengos.     "Kayak apa emang?" tanya Sava menggoda sambil menaik-turunkan alisnya.     Rianti berdecak tidak menjawab. Melirik Ayahnya yang menahan senyum.    "Ayah juga kenapa senyum-senyum? Ngeledek aku? Ledek aja, aku mau pulang sendiri!" kesal Rianti dan berjalan mendahului.     Tawa Sava meledak, dia ber-tos ria dengan Ayah mertuanya.     "Hahaha, Rianti itu unik. Iya, 'kan Ayah?" tanya Sava sambil menatap punggung Rianti yang menjauh.     "Dia memang anak yang unik," ucap Ayahnya juga tersenyum.     Rianti berjalan dengan menghentak-hentakkan kakinya, sampai rumah.     "Mereka kerja sama. Mertua sama menantu kompak banget. Mentang-mentang dia udah nggak sakit, mulai menyebalkan jadinya. Awas aja!" gerutu Rianti membuka pintu rumah kesal.    Rianti sangat terkejut dan terpaku di ambang pintu. Melihat seorang wanita yang duduk cantik di kursi kayunya.     "Bibi Parwati?" gumam Rianti bertanya-tanya.     Wanita itu menoleh. "Oh, sudah pulang? Ayo duduk sini. Kita bicara baik-baik. Ada banyak yang ingin aku bicarakan denganmu, Rianti." ujar Bibi wanita itu bernama Parwati.     Rianti mendekat pelan dan duduk di depannya.    'Kenapa mak lampir ini datang, sih? Mau apa dia?' batin Rianti bertanya.     Rianti memandang jijik Bibi Parwati yang duduk dengan sok anggun. Kepalanya mendongak sombong namun tersenyum manis. Membuat Rianti membatin lagi. 'Pasti kalau dia begini, ada sesuatu, nih. Pasti cari masalah.'     "Ehm, aku dengar kau menikah lagi dengan suamimu. Haha, wajar saja, 'kan orang kaya. Pasti banyak uang," ucap Bibi Parwati basa-basi.    Rianti sangat malas bicara dengannya. Dia tersenyum terpaksa. "Haha, Bibi bisa aja," jawab Rianti.     'Uang lagi yang di bahas. Hah, capek aku,' gerutu Rianti dalam hati.    Rianti mendelik saat Bibi Parwati tiba-tiba mengacungkan jari telunjuknya tegas.     "Satu bulan. Satu bulan penuh nggak masuk kerja. Kau pikir bisa keluar dengan mudah, begitu? Di dunia ini nggak ada yang gratis, Rianti. Main keluar seenaknya tanpa pamit. Kau harus bayar denda!" tekan Bibi Parwati mendadak jadi bicara keras.    Rianti menganga. "Apa? Denda? Bibi, Aku keluar kerja, nggak nglakuin kejahatan. Kenapa di denda?" tanya Rianti mebela diri. Rianti mengernyit bingung. Dalam hati membenarkan pikiran negatifnya, kalau Bibi Parwati pasti buat ulah.     Sebenarnya Ayah Rianti dan Sava sudah tiba di rumah. Tahu ada tamu di rumah, Sava memilih menunggu di teras dan mendengarkan pembicaraannya. Ayah Rianti tahu siapa tamu itu, dia ingin masuk tetapi Sava mencegahnya.     "Sabar dulu, Ayah. Kita lihat dulu gimana situasinya. Nanti, kalau udah parah, kita masuk. Bibi itu cerewet banget! Ayah kenal siapa dia?" tanya Sava berbisik.     "Dia pemilik toko tempat Rianti kerja. Orangnya memang cerewet." jawab Ayah Rianti tanpa menoleh. Dia asik mengintip.    "Benarkah? Bukannya dulu Ayah nggak peduli sama Rianti?" ucap Sava ikut mengintip.     Membuat Ayah mertuanya menatap Sava bodoh. Sava tersadar dan meringis minta ampun.     "Hehe, nggak gitu maksudku, Ayah. Jangan tersinggung, ya." kata Sava sambil menepuk lengan Ayah mertuanya.     "Meskipun aku tidak peduli, aku tetap tau keseharian Rianti, termasuk Parwati itu." ujar Ayah Rianti kembali mengintip.     Sava terlihat bingung. "Parwati? Oh, nama wanita itu Parwati? Kita lihat aja." ajak Sava dan melihat dengan serius. Ayah Rianti mengangguk setuju.    Sedangkan Rianti sedang meringis heran dengan ulah mantan bosnya. Bibi Parwati masih ngotot menagih.     "Bibi, kau tau sendiri aku diseret dari sekolah lalu dinikahkan paksa. Sejak itu aku tidak tinggal di sini lagi. Mana sempat izin keluar kerja, Bibi?" elak Rianti.     "Aku tidak peduli. Kau, 'kan sekarang kaya raya. Punya suami tampan dan uang banyak. Kurang beruntung apa coba? Buat bayar denda pasti bisa, lah." rayu Bibi Parwati dengan agak keras.    'Mak lampir ini gayanya kayak putri, tapi suaranya meledak kayak petasan,' batin Rianti sebal.    "Bibi, uang itu punya suamiku, bukan aku." ucap Rianti sambil menggeleng memasang ekspresi cuek.    Bibi Parwati mengibaskan tangannya dan berdecak. "Halah, tinggal minta apa susahnya?" Bibi Parwati masih mencoba merayu. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN