Berbagai kata manis Bibi Parwati ucapan agar Rianti mau membayar denda. Karena kesal mendengar suara mantan bos-nya itu, Rianti berdecak. "Ini nggak adil tau, Bi. Nggak masuk akal, masa aku kena denda?" tolak Rianti.
"Sejak kau tidak kerja malam, aku sering ngantuk karena jaga sendirian. Hoamm, rasanya saja aku ingin tidur sekarang." kata Bibi Parwati sambil menguap.
"Kalau gitu angkat karyawan baru aja." usul Rianti menatap Bibi Parwati kesal.
Bibi Parwati mendadak melotot dan mendekat. Rianti mendelik lagi.
"Enak saja! Nanti uangku berkurang buat menggaji mereka." kata Bibi Parwati.
Rianti berdecak bermain. "Hah, Bibi menggajiku saja sering telat. Aku sampai nggak makan berhari-hari tau. Bagus, deh, kalau nggak masukin karyawan lagi. Kasihan karyawannya, dong." ujar Rianti melirik Bibi Parwati.
"Kau menyindirku? Wah, anak baru nikah udah berani, ya." Bibi Parwati tersinggung. Rianti meringis bodoh. "Nyadar, ya? Alhamdulillah." syukur Rianti senang.
Bibi Parwati semakin melotot marah. "Eh, anak ini benar-benar! Aku naikan denda dua kali lipat dari gajimu! Harus bayar, sekarang!" tekan Bibi Parwati.
"Ha!? Aku nggak mau bayar!" tolak Rianti melengos. Melipat tangannya di d**a .
Bibi Parwati sangat kesal. Dia berdiri ingin menghampiri Rianti. Rianti segera kabur dan membuatnya dikejar Bibi Parwati.
"Rianti, jangan buat aku marah. Berhenti atau aku naikan denda lagi!" ancam Bibi Parwati sambil mengejar Rianti.
"Naikan aja, Bibi. Rianti nggak mau bayar pokoknya!" seru Rianti mengajak Bibi Parwati berputar-putar ruang tamu. Dalam hati Rianti meringis senang. 'Hahaha, kayak dikejar penagih hutang. Mak lampir bakalan encok, tuh,' batin Rianti.
Mengelilingi meja kursi sudah berkali-kali. Rianti menoleh ke belakang, terlihat Bibi Parwati kelelahan sambil memegang pinggangnya.
Bibi Parwati berhenti. "Udah, jangan muter-muter lagi. Aku capek, aduh," keluh Bibi Parwati meringis.
Rianti berhenti dan mengajak Bibi Parwati duduk.
"Bibi, jangan denda aku, ya. Pecat aja aku." bujuk Rianti sambil duduk.
Bibi Parwati menatapnya aneh. "Kau sudah keluar sebulan yang lalu tanpa izin. Buat apa kupecat segala?" tanya Bibi Parwati menyindir.
Rianti mendesah lelah. "Hah, capek ngomong sama, Bibi. Emangnya kena denda berapa, sih?" tanya Rianti penasaran.
"Sebesar gajimu," jawab Bibi Parwati masih meringis memegang pinggangnya.
"Uangku nggak cukup. Aku bayar pakai makanan aja boleh?" tawar Rianti dengan wajah polos.
"Aku mau uang bukan makanan." tolak Bibi Parwati sambil berdecak.
Rianti tertawa. "Haha, bercanda. Aku lama nggak dengar suara cerewetmu, Bi," kata Rianti.
Bibi Parwati tertawa. "Hmm, aku emang ngangenin dan baik hati. Tapi, tetap saja kau harus bayar denda!" ujung-ujungnya meminta. Membuat Rianti mendesah pelan.
"Yah, denda lagi." gumam Rianti menggaruk kepalanya. "Nggak perlu denda, ya. Aku beneran nggak punya uang," sambung Rianti dengan wajah malas.
"Huft, gimana, ya?" Bibi Parwati sok berpikir.
"Ayolah, Bi. Masa Bibi tega sama aku?" tanya Rianti memelas.
"Tetap harus bayar. Aku juga butuh uang, kali." kata Bibi Parwati sambil duduk benar.
"Yaudah, kalau gitu kerja," jawab Rianti asal.
"Apa!?" pekik Bibi Parwati.
"Hehe, bercanda, Bibi." ringis Rianti. "Gajiku cukup buat makan sebulan. Tapi uang sisa yang aku punya, kurang." lanjut Rianti menyangga kepalanya.
"Jangan membuatku kasihan. Minta suamimu sana!" suruh Bibi Parwati.
Rianti ingin membalas lagi, tetapi Sava dan Ayahnya datang. Rianti langsung berdiri dan melotot, mengkode Sava agar keluar. 'Gawat! Sava pake masuk segala. Pasti Bibi Parwati bakal...,' batin Rianti.
Sava mengerti kode dari Rianti. Dia justru tersenyum manis. Membuat Bibi Parwati memekik heboh.
"Aaaa, ya Tuhan, tampan sekali! Kenapa bisa setampan ini? Kau makan apa, ha? Siapa namamu?" pekik Bibi Parwati bertanya. Dia berdiri dan ingin menyentuh wajah Sava.
Seketika Rianti menganga, rahangnya seakan ingin jatuh.
'Dasar genit! Mak lampir jelek!' batin Rianti kesal.
Sava meringis. "Terima kasih pujiannya, Bibi. Aku mendengar semuanya," kata Sava tersenyum ramah.
Bibi Parwati memekik. "Aw, suaramu seksi sekali!"
Rianti terbelalak. 'Apa!? Seksi dia bilang!?' pekiknya dalam hati.
"Berapa yang harus Rianti bayar?" tanya Sava langsung.
"Ah, bukan jumlah besar." jawab Bibi Parwati sambil mengibaskan tangannya. Dia memberitahu nilai dendanya. Sava mengangguk dan pergi, kembali sambil menyerahkan uang ke tangan Bibi Parwati.
"Ini, ambillah. Jangan gertak Rianti lagi soal uang. Dia benci uang." kata Sava.
Bibi Parwati menerimanya dengan senang. "Terima kasih. Kau baik sekali, bukan seperti Rianti." ucapnya sambil melirik Rianti.
Rianti semakin tidak terima, dia mengepalkan tangan ingin berbicara. Namun, Sava menyelanya.
"Pergilah! Kau mengganggu malam pertama kami," ujar Sava.
Mata Rianti rasanya ingin terlepas. 'Ngomong apa barusan!? Malam pertama!?' batin Rianti. Dia terus memekik dalam hati.
"Oh, iya baiklah. Besok mampir, dong ke toko. Bibi traktir makan, deh. Aduh, gantengnya pengen nyubit." tangannya ingin mencubit pipi Sava, tetapi langsung pergi.
Rianti melongo, sadar saat Ayahnya menutup pintu dan menguncinya.
"Ada, ya, orang kayak Bibi Parwati? Sava! Kenapa kamu kasih dia uang? Harusnya langsung usir aja!" sewot Rianti pada Sava dengan menunjuk-nunjuk pintu.
"Hoamm, aku ngantuk. Ayah, ayo tidur." Sava menguap dan mengajak Ayah mertuanya tidur. Ayah Rianti mengangguk dan merangkul pundak Sava, berjalan melintasi Rianti.
Rianti menganga lebar. "Bagus... Bagus banget, kalian kompak. Sejak kapan kalian berteman? Hah, aku diacuhkan," gerutu Rianti lalu menyusul.
Malam pernikahan keduanya, Rianti tidak bisa tidur. Tengah malam dia terjaga, Ayahnya dan Sava sudah tidur karena kelelahan. Rianti duduk di ruang tamu melihat seisi rumah. Tersenyum tenang bisa kembali. Sekarang Rianti bingung harus bagaimana. Pastinya Rianti ingin bekerja, tetapi tidak tahu kerja di mana. Sava akan kerja di perusahaan Ayahnya. Motor besar Sava terlalu bagus terparkir di depan rumahnya. Sava membawa gitar, handphone, motor dan sedikit uangnya. Rianti memaklumi karena Sava memang orang kaya. Dia tidak bisa langsung diajak susah. Namun, Rianti bahagia memiliki Sava.
"Karena Sava nggak sombong. Meskipun iya, dia hanya main-main. Haha, aku menikah dua kali dengannya. Aku masih nggak percaya. Astaga, yang benar aja!" pekik Rianti pelan, takut membangunkan Sava dan Ayahnya.
Rianti tersentak saat Sava tiba-tiba duduk di sampingnya dan merebahkan diri membuat paha Rianti menjadi bantal.
"Eh, eh, ngapain? Bangun sana, bangun. Lagian ngapain, sih, keluar kamar?" tanya Rianti dengan nada kecil sambil menyuruh Sava duduk.
"Hmm," jawab Sava berdeham.
Sava lanjut tidur di pangkuan Rianti. Rianti jadi bingung dan salah tingkah.
"Sava bangun, dong." bisik Rianti mendorong pelan pundak Sava.
Sava justru berdecak dan memeluk perut Rianti. Tubuh Rianti kaku seketika, bernapas saja susah. Menatap Sava melotot.
'Dia tidur di pahaku? Enak, aja! Aku jadi ... Merasa aneh,' batin Rianti.
"Sava, bangun. Ke kamar lagi sana." bisik Rianti menoel pundak Sava.
"Kamu sendiri ngapain di sini?" tanya Sava serak tanpa membuka mata.
Rianti terpengaruh dengan suara Sava. 'Kok, Sava jadi manja gini? Biasanya nggak pernah,' batin Rianti heran. Rianti menelan ludahnya grogi.
"Aku nggak bisa tidur," jawab Rianti lirih.
"Kenapa suaramu jadi kecil?" tanya Sava jahil melirik Rianti.
"Ha? Aku ... Aku cuma nggak mau Ayah bangun," jawab Rianti bingung sebentar lalu meringis.
Sava membuka matanya lebar. Menatap Rianti yang menunduk. "Emang kenapa kalau Ayah bangun?" tanya Sava lagi.
"Ck, 'kan udah malam. Waktunya tidur bukan bangun," jawab Rianti berdecak pelan.
Sava mengangguk-angguk. "Berarti kamu juga harus tidur, bukan terjaga dan duduk di sini," ujarnya.
Tanpa basa-basi, Sava berdiri dan menggendong Rianti. Rianti kaget, refleks memeluk Sava erat karena takut jatuh.
"Eh, eh, ntar jatuh! Turunkan aku! Aku bukan anak kecil!" Rianti panik sambil meronta.
"Sstt, diamlah. Nanti Ayah bangun gimana? Aku nggak pernah gendong kamu, 'kan?" tanya Sava tersenyum manis.
Rianti tersentak. 'Sial! Dia membuat jantungku berdetak lebih cepat,' batin Rianti antara senang dan bingung.
"Ck, turunkan aku, Sava!" desis Rianti.
Sava tidak mendengarkan. Dia membawa Rianti sampai kamar dan membaringkan Rianti pelan. Seketika Rianti duduk dan melototi. Sava tidak peduli, dia memilih tidur lagi di samping.
"Kamu itu nggak malu apa? Menggendongku? Yang benar aja!" omel Rianti berbisik.
"Hmm, benar." jawab Sava mengetuk hidung Rianti pelan dan kembali mencoba tidur.
Rianti tidak terima, dia merasa malu. Melengos kesal tidak tahu harus bicara apa.
"Tidur aja, Rianti. Besok kita berpikir lagi." gumam Sava.
Rianti menatapnya tenang. 'Benar juga. Besok masih ada waktu untuk berpikir,' batin Rianti.
"Aku nggak bisa tidur, Sava," jawab Rianti berbisik.
Tiba-tiba Sava mendorong Rianti sampai berbaring. Mendekat dan memeluk Rianti tanpa membuka suara. Rianti kaku tidak bisa bergerak. Hanya bola matanya yang berputar-putar.
"Sekarang udah bisa tidur?" tanya Sava.
Hembusan napas Sava menerpa dahi Rianti. Rianti sangat gugup, mengerti apa maksud Sava. 'd**a Sava sangat hangat. Ingin meluk tapi malu,' pikir Rianti.
"Peluk aja, udah sah dua kali juga," gumam Sava seakan tahu pikiran Rianti. Rianti tersentak pelan, perlahan dia membalas pelukan Sava, dan menenggelamkan kepalanya di d**a Sava. Tersenyum dalam diam, hingga tertidur.
~~~
Toko bangunan sangat ramai pesanan. Rianti datang di waktu yang tidak tepat. Dia tidak bisa bicara dengan kakak Syam. Rianti terpaksa menunggu sampai semua pelanggan kakaknya pergi. Dua jam di sana hanya diam membuat Rianti bosan. Memilih pergi sebentar setelah izin pada kakaknya. Berjalan tanpa tujuan menyusuri jalan desa. Sesekali bertemu temannya dan menyapa. Sampai Rianti tiba di sungai desanya. Rianti tersenyum menatap sekeliling sungai.
"Wah, airnya mengalir deras." gumam Rianti senang sambil duduk di tepian. Sudah lama tidak bermain di sungai. Rianti menjadi ingat danau di taman dekat rumah Sava.
"Air di danau itu tenang. Kalau sungai ini mengalir deras. Sama aja menurutku. Sama-sama enak dipandang, haha," tawa Rianti renyah.
Menghela napas berkali-kali. Rasa pusing kepalanya mulai mereda. Hati Rianti terasa lebih segar tanpa beban. Diam tidak melakukan apapun, awalnya dia ingin bicara pada kakak Syam soal pekerjaan. Rianti ingin minta pendapat. Sedangkan Sava sudah pergi kerja, ini hari pertamanya. Ayahnya juga sedang mencari pekerjaan. Rianti sudah melupakan harapannya untuk kuliah. Cita-citanya hilang, berganti ingin hidup tenang dan bahagia.
"Kerja, dapat uang, habiskan uang. Nggak ada selain itu apa?" tanya Rianti pada diri sendiri.
Mencabuti rumput memainkannya. Pandangan melamun ke air sungai dengan suara alirannya membuat ramai.
"Kalau soal agama, aku dan Sava bisa tingkatkan bareng-bareng. Lalu, yang membuatku tidak diam aja apa, dong?" bingung Rianti.
Melempar rumput itu ke sungai dan terbawa arus. Seketika Rianti menemukan ide.
"Ah, aku tau. Aku akan berdagang. Dengan begitu, aku akan capek dan hasilnya bisa untung bisa rugi. Tapi, modalku hanya uang sisa jual perhiasan. Aku harus dagang apa?" pikir Rianti lagi. Berpikir usaha yang membuatnya lelah, dan tidak mendapatkan uang terus menerus. "Asalkan bisa buat biaya hidup, aku udah senang. Sava kerja, Ayah juga, pasti uangnya kalau dikumpulkan jadi banyak. Aku nggak suka, deh," sambungnya lalu berdecak.
Tiba-tiba, Rianti terjingkat dan menoleh ke belakang saat seseorang menegurnya dengan sinis.
"Aneh sekali! Sama uang nggak suka. Mendingan buat aku aja," ucap seseorang dan duduk di samping Rianti.
"Layla? Kok, bisa ada di sini?" tanya Rianti bingung.
"Kenapa? Terserah aku, dong, ada di mana." jawab Layla menatap Rianti sok.
"Ini jauh dari desa rumahmu. Kau tau maksudku," ujar Rianti lagi.
"Tepat sekali. Aku menyusul Sava. Kenapa kalian menikah lagi, sih? Nggak mungkin kalian saling suka, 'kan?" tanya Layla langsung dengan mata memicing.
Rianti menganga. "Benar-benar nggak tau malu. Mudah banget ngaku suka sama Sava. Udah tau suami orang juga. Otakmu nggak waras, ya?" geram Rianti sambil menoyor kepalanya sendiri.
"Hey, dia tampan, wajar aja aku suka. Nggak masalah kalau kalian menikah dua kali. Aku akan tetap berusaha merebut Sava darimu. Jangan marah, karena aku lihat ... Kau tidak mencintainya. Kalau kau mencintainya, nggak mungkin malah bawa dia tinggal di rumah jelek. Kasihan Sava, dong." kata Layla sambil meneliti wajah Rianti.
'Bagus banget Rianti. Dulu masalah sakit Sava dan Paman Rey. Sekarang orang gila yang terang-terangan mau rebut Sava. Sangat bagus!' batin Rianti.
"Layla, kalau aku nggak mencintainya, kenapa aku menikah lagi dengannya? Kau jauh-jauh sana! Gila!" maki Rianti tidak marah.
Layla justru tertawa. "Yah, siapa tau kau hanya ingin harta Sava." ucap Layla memancing amarah Rianti.
Rianti paham maksud Layla, dia tidak marah melainkan tersenyum sok manis.
"Layla cantik. Punya kaca di rumah? Ngomongin diri sendiri, ya?" balas Rianti.
Layla melotot. "Apa katamu!?" pekik Layla.
"Nah, marah. Kau sendiri yang mau harta Sava. Dengar, ya! Aku nggak akan biarin Sava ketemu sama orang gila sepertimu. Dia suamiku!" ujar Rianti keras menekan jika Sava suaminya.
"Hmm, lihat aja. Sava akan jadi milikku." tekan Layla lalu pergi.
Rianti menatap punggung Layla heran. "Ada, ya, yang kayak Layla? Mau rebut suami orang dia ngaku," gumam Rianti.
Rianti menggeleng kepala kecil. Dia menatap langit yang semakin cerah. Hari semakin siang, Rianti kembali ke toko bangunan. Ternyata kayak Syam masih sibuk. Rianti terpaksa menunggu lagi. Ucapan Layla tidak dia pedulikan. Menurutnya, Layla terlalu jujur dan terlihat bermain-main. Namun, hatinya juga ada rasa khawatir jika Sava bertemu lagi dengan Layla. Meskipun Sava acuh dan menganggap Layla tidak ada.
Rianti menunggu sampai sore. Akhirnya kakaknya selesai dengan pekerjaannya. Rianti mendesah lemas dan menyangga kepalanya. Duduk berhadapan di meja kasir yang penuh tumpukan cat.
"Kakak, aku kerja apa, ya?" tanya Rianti langsung. Kakak Syam masih menulis sesuatu. "Ha? Kerja apa?" bertanya tanpa melihat Rianti.
"Ck, aku tanya malah balik nanya. Aku lagi bingung, nih." decak Rianti lemas.
Kakak Syam tidak menjawab lagi. Sangat serius membuat Rianti meliriknya. "Sibuk banget, ya, kak?" tanya Rianti.
"Iya, nih. Banyak yang pesan tadi. Aku jadi bingung, hehe." jawab kak Syam nyengir sambil nulis.
Rianti mengerutkan dahi. "Pusing? Aku kerja apa, ya, biar pusing?" tanya Rianti lagi sambil berpikir.
"Yah, malah pengen pusing. Kerja itu dapat uang, bukan pusing," jawab kakaknya.
Rianti melengos sambil berdecak. "Habisnya, aku bingung," gumam Rianti.
Tidak ada suara dari kakaknya. Rianti juga berpikir sendiri. Sampai Rianti menemukan sebuah ide. Memukul meja keras membuat kak Syam terjingkat.
"Aku tau!" pekik Rianti senang.
"Astaghfirullah, Rianti. Ngagetin aja, sih!" ujar kak Syam sambil mengelus dadanya.
Rianti meringis. "Hehe, kalau aku jualan aja gimana?" tanya Rianti dengan mata berbinar.
Kak Syam terkejut. "Apa? Jualan? Emang bisa jualan? Hahaha, mau jual apa emang?" tanya kak Syam meledek.
"Bisa, lah. Belum di coba mana tau. Aku udah mikir, sih, kemaren. Mau dagang keliling, tapi nggak tau dagang apa." ujar Rianti sambil menggeleng pelan.
"Dagang yang kecil-kecil aja. Jangan jauh-jauh pokoknya. Nanti hilang lagi, aku bingung nyari lagi," kata kak Syam.
"Jualan apa, dong?" tanya Rianti.
"Nggak tau. Pikir aja sendiri." jawab kak Syam mengendikkan bahu sambil lanjut menulis.
"Hah, percuma aku nunggu lama. Mau minta saran malah disuruh mikir sendiri," decak Rianti malas.
Kakaknya hanya tertawa. Rianti masih sibuk berpikir sampai kakak Syam nyeletuk lagi.
"Sava gimana?" tanya kak Syam tanpa melihat Rianti.
Rianti menoleh. "Sava gimana? Nggak gimana-gimana," jawab Rianti bodoh.
"Ck, maksudku dia kerja apa?" tanya kak Syam.
"Oh, dia ikut orang tuanya di perusahaan. Sambil jual buku lagi. Udah baikan, nggak murung lagi. Dia beda sama yang dulu pokoknya." cerita Rianti semangat.
"Berkat kamu. Makanya sampai nikah lagi. Cie, kemaren malam pertama, cie." goda kak Syam sambil melirik Rianti dan tersenyum jahil.
Rianti melengos kesal, "Ah, itu lagi yang di bahas. Aku males."
"Mendingan jualan keliling," Kak Syam nyeletuk.
Rianti menoleh semangat. "Ck, tadi emang maunya gitu, gimana, sih? Apa yang kujual?" tanya Rianti antusias.
"Harga diri aja, hahaha." tawa kak Syam meledak.
Rianti sewot. "Kakak, ih! Aku aduin ke kakak ipar, nih!" ancam Rianti.
"Haha, jual apa, sih? Pikir aja sendiri. Udah sana pulang, tungguin Ayahmu, takut dia berubah lagi," suruh kak Syam dengan sisa tawanya.
Rianti berdeham dan pamit pergi. "Yaudah, deh. Aku pulang dulu," ucap Rianti lemas.
"Kalau butuh apa-apa langsung ke aku aja. Jangan bertindak sendiri, Rianti." cegah kak Syam saat Rianti ingin pergi.
Rianti meringis. "Siap kakak," jawabnya.
Rianti kembali pulang. Melihat orang keluar-masuk desa sangat lelah setelah beraktifitas. Rianti tersenyum tipis, ingat dulu dia juga seperti mereka. Ingin bekerja di toko lagi, tetapi merasa bosan.