15. Surat Ancaman

2505 Kata
 Jalannya sangat lunglai dengan senyum tipis. Di pertigaan jalan melihat penjual jajanan yang di penuhi anak kecil. Terlihat sangat laris dan menyenangkan. Rianti tertarik, senyumnya menjadi lebar, dia berniat untuk ikut berjualan makanan.   Di rumah, sudah ada Ayahnya yang senang karena dapat pekerjaan. Sava belum pulang dan Rianti segera memasak sesuatu. Malam sudah tiba, Rianti bingung ingin bicara dengan Sava. Dia ingin jualan bubur kacang hijau, itu yang terlintas di otaknya. Sava nampak sibuk dengan handphone di teras rumah. Rianti menghampiri sambil meremas jarinya.  "Eee..  Sava," panggil Rianti mirip berbisik.   Sava menoleh. "Ada apa? Duduk sini," ujar Sava.  Rianti ikut duduk dengan perlahan. Membuat Sava menatapnya heran. Rianti meringis kaku sambil mulai bicara. "Aku... Mau jualan boleh?" tanya Rianti pelan.  "Ha? Hahaha, mau tanya gitu aja pakai bingung segala. Ya, boleh, lah." tawa Sava renyah.   Rianti tersenyum lebar. "Boleh? Kenapa boleh?" tanya Rianti bodoh.  "Kenapa kamu tanya? 'Kan kamu yang mau jualan. Ya, pasti boleh, dong. Kamu sendiri kenapa pengen jualan?" tanya Sava.   Rianti mendengus pelan. "Karena nggak ada kerjaan. Aku nggak mau di toko lagi. Trauma kalau bosnya kayak Bibi Parwati gimana? 'Kan ribet," jawab Rianti jujur.  Sava memasukkan handphonenya ke saku celana. "Karena nggak mau punya uang banyak juga, 'kan?" tebak Sava.   Rianti menoleh lalu nyengir. "Hehe, kok, bener?" tanya Rianti sengaja.  Sava mengacak rambut Rianti pelan, membuat Rianti mendelik. "Mau jualan apa?" tanya Sava.  "Bubur kacang hijau." jawab Rianti semangat, tetapi Sava mengerutkan dahinya. "Kenapa bubur?" tanya Sava lagi.  "Karena itu yang ada di otakku." jawab Rianti jujur dengan wajah polos.  Sava menganga. "Apa? Sesederhana itu?" dia terheran dengan pilihan Rianti.  "Emangnya kenapa? Kacang hijau, 'kan enak. lagian kalau ada yang mudah kenapa harus sulit? Aku capek mikir mau jualan apa. Yang ada di otakku bubur kacang hijau, ya udah jualan itu aja," Rianti menjelaskan apa yang ada di pikirannya.  Sava terkekeh dan mengangguk kecil. "Hmm, bagus juga. Jualan aja, aku modalin gerobak sama yang lainnya. Seterusnya kembangin sendiri. Jangan nolak!" tegas Sava saat Rianti membuka mulut ingin menyela.  Rianti menutup mulutnya pasrah. "Iya, makasih," jawab Rianti.   "Hanya itu?" tanya Sava tidak terima.  Rianti menatapnya bingung. "Terus apa lagi? Ya, terima kasih," kata Rianti.   "Setidaknya kasih aku apa, kek." ucap Sava sambil berdecak.  "Kasih apa?" tanya Rianti polos.  Sava mencolek pipi Rianti sambil tersenyum. Rianti mengerti maksud Sava, dia melengos acuh.  "Kok melengos?" tanya Sava jahil.  "Senyummu jelek!" ujar Rianti mengelak.   "Alias kebalikannya, haha. Iya, 'kan?" tanya Sava menyambung.   Rianti meliriknya lalu berdecak. Sava diam sebentar membuat Rianti bingung. Dia akan menoleh, tetapi kaget saat Sava mengecup pipinya singkat. Refleks menoleh dan lebih kaget lagi karena Sava mengecup bibirnya sebentar. Tersenyum tanpa bersalah dan masuk rumah tanpa berkata apapun. Rianti diam bingung dengan pipi merona. Tidak mau masuk rumah sebelum Sava tertidur.   ~~~  Pagi sekali Rianti sibuk belanja untuk membeli bahan bubur kacang hijau. Melihat remaja seperti dirinya yang berangkat sekolah dan kuliah, Rianti sudah tidak tertarik. Meskipun ingin belajar lagi, tetapi cita-cita apa yang ingin dia gapai? Rianti tidak tahu. Rianti memilih hidupnya yang sekarang. Mencoba mengembalikan senyumnya dengan ceria. Pulang dari pasar langsung membuat bubur. Ayahnya dan Sava sudah pergi bekerja. Saat mereka kembali, Rianti langsung menyuruh mereka untuk mencoba bubur kacang hijau buatannya. Setia menunggu dengan senyum di depan mereka.   "Gimana? Enak?" tanya Rianti penasaran.   "Hmm, enak." jawab Ayahnya tersenyum.  Rianti ikut tersenyum senang. Lalu, menatap Sava yang sedikit memiringkan kepalanya. Rianti sangat takut jika rasa buburnya kurang sedap untuk Sava.  "Agak asin bubur ini," kata Sava jujur sambil mengecap.   Rianti menganga. "Ha? Asin? Masa, sih?" tanya Rianti tidak percaya. Dia merebut bubur Sava dan mencobanya. Seketika matanya terpejam keasinan. "Ini nggak asin lagi namanya, tapi sangat asin. Gimana bisa Ayah bilang ini enak?" kata Rianti menaruh bubur itu di meja.   "Setiap masakanmu selalu enak, Nak." kata Ayahnya tersenyum.   Membuat Rianti terdiam. "Ayah, seperti mimpi kau bilang begitu," gumam Rianti. Langsung terbelalak melanjutkan ucapannya sebelum Ayahnya berkomentar. "Aku mau buat bubur lagi. Kalian harus coba!" seru Rianti sambil membawa dua mangkuk bubur itu ke dapur dan membuat yang baru.  Sava dan Ayahnya mendengus pasrah.  "Itu bubur macam apa? Nggak akan ada yang mau beli kalau rasanya kayak gitu. Iya nggak, Ayah?" tanya Sava.   Ayah Rianti mengangguk. Sampai larut malam Rianti baru berhasil membuat yang enak. Besok dia bertekat jualan. Sava memberinya gerobak yang terparkir di samping motor Sava sekarang. Lelah, Rianti memilih mandi. Masuk ke kamar dengan terkejut, Sava berdiri melipat tangan dan menatapnya aneh.   "Kenapa berdiri? Sana tidur." suruh Rianti sambil berjalan ke ranjang. Merebahkan dirinya tanpa menghiraukan Sava. Sava dengan kesal menyusul dan tidak terima.  "Ini nggak adil, Rianti." tiba-tiba Sava nyeletuk.   Rianti bingung. "Apanya yang nggak adil?" tanya Rianti.   "Aku jadi jarang punya waktu bersamamu. Padahal baru sehari di sini," kata Sava menunduk. Rianti langsung duduk meneliti wajah Sava yang murung. "Jangan murung lagi, dong. Aduh, aku bingung harus gimana ini?"   Sava mendongak sendu, "Lebih baik kalau aku sakit, biar dapat perhatian darimu, seperti dulu." jawab Sava sambil mengangguk-angguk.   Rianti menghela napas pelan. "Apa aku mengabaikanmu?" tanya Rianti.   Sava mengangguk. "Entahlah, aku merasa ini nggak kayak dulu," ujar Sava sedih.  Rianti refleks memeluk Sava. Sava membalas pelukannya dengan senyum dan mengelus kepala Rianti.   "Aku juga merasa begitu. Aku... Bingung Sava. Tidak tau kenapa dan apa yang membuatku bingung. Ayah kembali, tetapi aku merasa kehilangan Ayah. Ayah lebih terasa saat dia jahat padaku. Sekarang, dia sudah baik dan aku merasa kehilangan. Mungkin karena itu," jelas Rianti lirih.  "Hmm, aku tau." jawab Sava sambil menutup mata. Merasakan kehangatan Rianti yang seperti hilang arah. "Sava, apa kamu mencintaiku?" tanya Rianti tiba-tiba.   Sava terkejut dan membuka matanya. "Eh, tumben tanya. Kenapa?" tanya Sava.   "Nggak apa-apa. Tanya aja," jawab Rianti.   Sava menghembuskan napas pelan. "Apa itu cinta? Aku nggak bisa jelasin. Yang jelas, aku mau bersamamu. Emang ciri-ciri jatuh cinta itu kayak gimana?" tanya Sava balik.  Rianti menggeleng di sela leher Sava. "Aku juga nggak tau," jawab Rianti jujur.   Seketika mereka tertawa bersama. Rianti nyeletuk lagi.  "Kamu tau Layla anaknya Paman Rayhan? Yang nyekap orang tuamu itu," tanya Rianti.   "Oh, gadis itu. Kenapa?" tanya Sava.   "Dia terang-terangan ngaku suka sama kamu. Mana bilang kalau mau rebut kamu dari aku. Ya, aku ketawa," ucap Rianti sambil melepaskan pelukannya.   Sava terkekeh. "Wah, aku ganteng berarti." kata Sava percaya diri sambil menyibak rambutnya.   Gemas Rianti mengacak rambut Sava jadi tidak beraturan.   "Ganteng apanya? Nih, ganteng, nih!" Rianti mengacaknya lebih parah. Sampai rambut Sava sangat kusut Rianti tertawa senang. Sava menangkap tangan Rianti dan menahannya.   "Mau aku cium lagi?" ancam Sava menatap manik mata Rianti dalam.  Rianti menjadi diam. 'Dia main mengancam sekarang,' batin Rianti.   "Ah, nggak seru!" ujar Rianti melengos.   Sava tersenyum miring dam memajukan wajahnya. Membuat Rianti memundurkan kepalanya. 'Sava mau ngapain?' batin Rianti teriak.  Tanpa berkedip, Sava terus menatap Rianti. Sampai Rianti menutup mata dalam. Seketika Sava tertawa terbahak-bahak. Lalu mengecilkan tawanya saat sadar ini sudah malam.   Rianti melongo heran. 'Oh, dia mengerjaiku ternyata,' batin Rianti tidak terima.   Dia ingin mencakar wajah Sava tetapi diurungkan. Memilih tidur, menutup kepalanya dengan selimut. Sava berhenti tertawa dan ikut masuk ke dalam selimut mengganggu Rianti lagi, membuat Rianti kesal dan berujung saling tendang. Tidak sadar Rianti sudah sangat dekat dengan Sava.   Di sisi lain, Layla melancarkan usahanya untuk mendapatkan Sava, terutama kekayaan Sava. Ayahnya sudah memperingati, tetapi tidak bisa mencegah Layla pergi. Layla menuju toko tempat Rianti pernah bekerja. Menghampiri Bibi Parwati yang sibuk menghitung uang hasil hari ini.  "Ehm, permisi." deham Layla sambil tersenyum manis. Bibi Parwati menatapnya aneh. "Kami mau tutup. Cari saja toko lain." ucapnya kembali menghitung uang.   Layla tersenyum miring. "Aku kesini untuk sebuah penawaran," ucap Layla tanpa basa-basi dan menatap Bibi Parwati tajam.  Bibi Parwati seketika mendongak. "Apa?" tanyanya meremehkan.   "Aku sudah dengar kalau kau meminta denda pada Rianti. Aku yakin kau hanya mau uang cuma-cuma, 'kan?" Layla bermain-main.   "Siapa kau?" tanya Bibi Parwati mengerutkan dahi. Seakan berpikir tentang Layla, dia memasukkan uangnya ke tempat yang aman. Layla melihat itu menjadi berdecih.   "Tenang saja. Aku tidak tertarik uangmu. Siapa aku? Orang yang akan membuat kita untung besar," jawab Layla meyakinkan.   Bibi Parwati menarik napasnya dalam lalu membuangnya kasar. "Hah! Gadis biasa sepertimu bisa apa? Bicara untung denganku? Jangan bercanda!" Bibi Parwati meremehkan.  "Apa kau tidak tertarik uang lagi? Bahkan lebih banyak dari pendapatanmu? Tentunya tidak perlu bekerja," tawar Layla tersenyum percaya diri.   Sangat tertarik namun wajahnya masih tidak percaya. "Penawaran macam apa itu?" tanya Bibi Parwati.   "Macam ini," jawab Layla. Dia menjelaskan semua rencananya dan perlahan Bibi Parwati tersenyum. Layla menghentikan ucapannya dan memandang Bibi Parwati licik. "Gimana? Setuju?" tanya Layla.   "Itu menakjubkan! Hahaha, ternyata soal Rianti dan Sava. Tentu saja aku setuju kalau soal uang." Bibi Parwati sangat senang sambil memainkan jarinya sebagai kode uang. Layla tersenyum senang. Rencananya berhasil untuk mendapatkan bantuan.   "Aku dari desa yang jauh. Tidak mungkin kalau bolak-balik. Sangat melelahkan," ujar Layla memberi kode.  "Ah, itu gampang. Tinggal saja di sini. Selama ada uang, apapun akan kulakukan." kata Bibi Parwati sambil mengibaskan tangannya terhasut.   "Benarkah? Kau tidak keberatan?" tanya Layla memastikan.   Bibi Parwati menggeleng. "Santai saja," jawabnya.   "Bagus! Kita mulai besok." ucap Layla mengulurkan tangan semangat.  Bibi Parwati menjabat tangan Layla. "Tentu saja," jawabnya.   Dalam hati, Layla mengancam Rianti untuk berhati-hati. Karena cepat atau lambat, Sava akan menjadi miliknya. Lalu membagi hasil dengan Bibi Parwati yang gila harta seperti dirinya.  ~~~  Setelah adzan subuh, Rianti bersiap untuk sembayang sholat. Lalu, sibuk di dapur membuat bubur kacang hijau. Masih panas, Rianti sudah berteriak jualan dengan suka cita. Dia senang berteriak. Banyak yang beli untuk sarapan atau anak kecil yang sekedar ingin. Rianti sangat senang dengan pekerjaan barunya. Pukul delapan pagi dia kembali pulang. Berencana jualan lagi nanti sore.  Menunjukkan penghasilannya pada Sava dan di simpan. Saat Sava dan Ayahnya sudah pergi, Rianti kedatangan tamu. Seseorang mengetuk pintu, namun saat Rianti membuka pintu, tidak ada siapapun. Rianti celingukan mencari sampai ke jalan depan rumah, tetap tidak menemukan seseorang. Rianti berpikir kalau itu orang iseng. Dia kembali dan menendang sesuatu di dekat pintu. Sebuah kotak kecil dari kardus tanpa hiasan. Rianti mengambilnya dengan bingung.   "Punya siapa ini?" gumam Rianti.   Berpikir jika itu punya orang yang salah kirim. Rianti membiarkannya saja di depan rumah. Siapa tahu seseorang yang mengetuk pintu tadi mengambilnya lagi, pikir Rianti. Namun, sampai sore kotak itu masih di tempat. Rianti mengambilnya kembali. "Apa emang sengaja ditaruh sini? Tapi punya siapa?" heran Rianti.   Menggoyangkan kotak itu terasa ringan. Rianti membawanya masuk rumah. Karena penasaran, Rianti membukanya. "Loh, kok, kosong? Masa ini sampah, sih?" gumam Rianti. Kotak itu di goyang-goyangkan berharap ada sesuatu yang jatuh dan benar. Sebuah gulungan kertas jatuh membuat Rianti mengerutkan dahi sambil mengambilnya. "Ini apa? Surat?" Rianti terus bertanya-tanya.   "Tadi nggak ada isinya, terus kenapa tiba-tiba ada surat jatuh? Masa terselip aku nggak tau? Mungkin punya anak-anak lagi main kali. Yaudah, buang aja deh." ucapnya sambil menutup kotak itu dan ingin membuangnya. Namun, dia penasaran dengan isi surat. Berdecak pelan dan membuka kertas itu, dahinya berkerut.   "Dulu ibumu. Sekarang... Ayahmu!" gumamnya membaca surat itu. Seketika Rianti terbelalak. Surat ancaman yang memang untuk dirinya. "Siapa yang ngirim ancaman kayak gini? Pakek kotak segala, kurang kerjaan aja!" seru Rianti membuang kotak dan kertas itu asal di halaman rumah.  Rianti langsung tahu siapa pengirimnya. Tangannya mengepal dengan mata memanas. "Pak satpam. Kau tidak terima jika rekanmu tertangkap rupanya? Atau kau takut jika tertangkap jadi mengancamku? Tidak akan kubiarkan itu terjadi!" desis Rianti. Kepalan tangannya semakin kuat. Tidak lama kemudian Sava pulang. Deru motornya sangat keras membuat bising persekitaran. Tetangga masih saja sering mengintip hanya untuk melihat Sava. Rianti masih berdiri di ambang pintu. Tidak memandang Sava yang sudah datang. Membuat Sava mendekat dengan heran. Melambaikan tangan di depan wajah Rianti.   "Hai... Selamat sore." ujar Sava.  Rianti sadar mendengar suara Sava. Dia menatap Sava dengan mata lebar. Sava tersenyum manis.  "Kenapa berdiri di depan pintu? Nunggu aku, ya?" tanya Sava percaya diri. Namun, Rianti menggeleng.  "Terus kenapa diam aja? Kayak patung penunggu pintu, haha." sambung Sava sedikit tertawa.   Tawa kecilnya berhenti karena pandangan Rianti tidak sedang bercanda.   "Hei, ada apa? Ada yang mengganggumu?" tanya Sava sambil menepuk pundak Rianti. Tangannya tidak berpindah dari sana dan Rianti mengangguk.   "Surat ancaman dari mantan satpam. Lihat itu!" ucap Rianti pelan sambil menunjuk kertas dan kotak yang tergeletak di halaman.   Sava ikut memandang ke mana telunjuk Rianti mengarah. Matanya memicing, menatap Rianti sebentar lalu menghampiri kotak itu. Saat ingin mengambil kotaknya, Sava lebih tertarik pada kertas yang sudah tak terbentuk. Sava mengambil kertas itu, membukanya dan mencoba membacanya. Matanya juga terbelalak lalu menatap Rianti lagi. "Ini, siapa yang ngirim ini?" tanya Sava tidak terima.   "Ck, siapa lagi? Pak satpam yang kabur!" jawab Rianti tidak suka. Padahal hatinya juga takut jika ancaman pak satpam benar-benar dilakukan, maka ayahnya dalam bahaya.  Sava membuang kertas itu dan membawa Rianti masuk rumah. Mereka duduk berhadapan di kursi kayu ruang tamu. Sava memegang kedua pundak Rianti dengan serius. Sebelum Sava bicara, Rianti terlebih dahulu bertanya. "Apa? Mau ngomong apa? Itu kotak kardus dari pagi sampai sore ada di depan rumah. Aku buka isinya surat konyol. Ck, dikira aku takut? Enggak! Ancaman murahan dari orang payah! Lari karena takut, habis itu pakek nakutin segala. Aku udah kehilangan ibuku karena dia dan paman Rey. Aku juga hampir kehilangan kamu karena tipuan mereka. Aku nggak mau kehilangan ayah. Kalau aku bisa atasi masalah pernikahan kita, bahkan kematian asli ibuku, maka aku juga akan melindungi ayah. Pak satpam konyol itu nggak bakal bisa apa-apa! Mana? Di mana ayah? Kok, belum pulang? Ini udah jam berapa? Aku sampai nggak jualan lagi, loh. Kamu nggak lihat ayah?" jelas Rianti dan bertanya dengan beruntun.   Sava bingung ingin menjelaskan. "Emm, tenang dulu, Rianti. Tanyanya satu-satu, aku jadi bingung." Sava menggaruk kepalanya.   Rianti berdecak sambil melengos, membuat Sava nyengir dan mendekatkan duduknya sampai menempel Rianti. Rianti mendelik dan kembali menatap Sava.  "Hehe, apa gunanya aku di sini? Lagipula, dulu pak satpam kerja denganku, bukan? Aku juga ada urusan dengannya," tutur Sava mendadak serius.   "Kamu juga nggak terima?" tanya Rianti. Sava mengangguk. Merentangkan tangannya di belakang kepala Rianti dan merangkul dari belakang. Rianti menatap tangan Sava bingung, kemudian dia ditarik lebih dekat ke Sava. "Eh, lepasin tanganmu!" pinta Rianti dengan nada tidak nyaman. "Dia udah bohong sampai aku dibuat batuk berdarah. Meskipun Rey dalangnya, tetap aja pak satpam ikut ambil bagian, 'kan? Menurutmu aku akan diam aja? Ya, enggak, lah!" ucap Sava tersenyum tidak menjawab pertanyaan Rianti.   "Oh, ya? Kalau gitu lepasin tanganmu dulu habis itu cari ayah, sekarang!" pinta Rianti dengan dahi berkerut.   "Aku mau cari ayah, tapi nggak mau lepasin kamu gimana?" goda Sava nyengir. Rianti menganga lalu berdecak mencoba melepaskan tangan Sava dari pundaknya. "Ini tangan apa besi? Berat banget! Lepasin aku!"   "Ini tangan. Kamu aja yang nggak kuat. Ayo, cari ayah sama-sama!" ajak Sava menarik tangan Rianti untuk berdiri.   "Ayo!" Rianti mengangguk. Baru beberapa langkah menuju pintu, ayahnya Rianti sudah datang dengan senyum. Mereka berhenti di tempat. "Assalamualaikum, pada mau ke mana?" ayahnya bertanya.   "Ayah!" pekik Rianti langsung menghampiri dan memberikan keadaan ayahnya. Sang ayah bingung, bertanya pada Sava dengan kode mata, tetapi Sava diam dan hanya mendekat.   "Ayah nggak apa-apa? Ada yang terluka?" tanya Rianti khawatir.   "Aku baik-baik aja. Kenapa?" tanya sang ayah. Tidak biasanya Rianti menanyakan keadaannya dengan sangat khawatir.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN