16. Orang Misterius

2521 Kata
 Rianti menghembuskan napas lega. "Nggak apa-apa. Cuma pengen tau keadaan ayah aja. Yaudah istirahat aja, udah mau magrib. Aku juga nggak jadi jualan." kata Rianti sembari menjauh.   "Loh, baru pertama berdagang kok udah nggak mau jualan?" tanya ayahnya lagi.  Rianti menggeleng dengan senyum. "Mau di rumah nemenin kalian. Besok pagi jualan lagi," jawab Rianti menatap ayahnya dan Sava bergantian.  Sava nyeletuk. "Oh, mau nemenin aku. Dengan senang hati, ayo Rianti!" seru Sava menarik tangan Rianti pergi masuk kamar. Rianti menoleh ke belakang sebentar. "Ayah, jangan keluar ke mana-mana, ya!" pinta Rianti.   Ayahnya hanya mengangguk dan tersenyum lalu pergi ke kamarnya. Rianti kembali menatap Sava dengan kesal. Setelah menutup pintu kamar, Rianti melepas genggaman tangan Sava paksa, membuat Sava menoleh dan nyengir.   "Maksudnya apa main tarik aja? Sakit tau!" seru Rianti sambil mengelus tangannya.   "Sakit, ya? Haha, aku mau mandi dulu, kamu jangan keluar kamar, ok?" pinta Sava.   "Kalau aku nggak mau gimana? Terserah aku, dong, mau keluar apa enggak." Rianti duduk di ranjang.   Sava menoleh, "Kalau gitu... Oke."   Sava berjalan cuek pergi ke kamar mandi. Rianti menganga. "Ha? Gitu doang?"   Rianti geleng-geleng kepala dan terkekeh. Tidak sengaja menatap jendela kayu kamarnya yang tertutup. Dia mendekat dan membukanya pelan. Terdengar bunyi deritan kecil tanda jendela itu tidak pernah dibuka dalam beberapa hari. Sinar jingga dari barat sangat indah meskipun tertutup pohon dan rumah warga. Rianti diam hanya memandang luar jendela sampai adzan mulai terdengar. Senyum Rianti terbit, matanya mulai meredup. Menghela napas panjang lalu menutup jendelanya lagi. Berbalik badan dan seketika kaget hampir terjungkal.   "Astaghfirullah, Ayah? Ngagetin aja!" Rianti memegang dadanya dengan napas terengah. Ayahnya terkekeh. "Udah magrib. Ayo sholat di masjid!" ajak sang ayah dengan senyum.  "Tapi Sava masih mandi." jawab Rianti sambil menunjuk pintu.   "Udah selesai. Itu ada di depan,"   "Ha? Kapan selesainya?" Rianti bingung.   Ayahnya hanya terkekeh. "Ayo!"   Rianti meringis dan mengangguk. Membiarkan ayahnya keluar dulu dan dia berberes. Saat pergi bersama ke masjid, Rianti terus melirik Sava yang masih acuh padanya. Dengan tangan melipat di d**a dan pandangan lurus seakan tidak menganggap Rianti ada. Rianti berdecak ikut acuh. Melengos tidak mau melihat Sava. Itu membuat Ayahnya heran dan hanya tersenyum. Rianti menatap ayahnya. Tiba-tiba terpikirkan sesuatu.   'Kenapa Ayah selalu senyum? Aku tau belakangan ini emang udah berubah, tapi ini jadi aneh. Kayaknya sejak kembali ke desa, semuanya menjadi aneh. Aku juga nggak sedekat dulu sama Sava. Apa pilihanku pulang ke desa salah?' otaknya sangat kacau seperti hatinya. Semua pemikiran dia pikirkan sampai pusing sendiri. Rianti menggelengkan kepalanya berusaha menghilangkan pusing. Dia terus berjalan dengan hening sampai masjid.  Ramai, sangat ramai seperti biasanya. Masjid itu seakan rumah bagi semua orang di desa. Rianti kembali bercengkrama dengan beberapa orang termasuk teman-temannya di masa kecil. Hal utama yang mereka bicarakan pasti tentang pernikahan dan hilangnya Rianti, lalu ayah Rianti yang mendadak baik. Semua itu masih jadi sorotan warga desa. Namun, Rianti menjawabnya dengan tenang. Tentu saja tidak menceritakan yang sebenarnya, itu hanya akan membuat suasana menjadi heboh.   Sebagian orang sudah kembali, tetapi Rianti menunggu hingga adzan sholat Isya berkumandang. Karena Rianti tidak mau pulang, ayahnya dan Sava juga ikut tidak mau pulang. Rianti masih sibuk melirik Sava yang duduk santai bersandar pilar masjid dengan kerumunan pemuda lain. Meskipun Rianti diajak bicara dan bercanda pelan, matanya terus menatap Sava.   'Dia kelihatan kentara banget. Ganteng sendiri, keren sendiri, Jangan-jangan sok sendiri lagi. Pasti mereka lagi ngomongin aku. Sama kayak aku yang ngomongin Sava, hah!' batin Rianti kesal. Tidak sadar memilin ujung mukenanya dengan cepat. Salah satu temannya menepuk pundak Rianti.  "Rianti? Melamun, ya?"   Rianti terkesiap, "Eh? Enggak kok, haha." tawanya kaku.  "Itu mukenamu sampai kusut. Lihatin apa, sih?" tanyanya lagi sambil menunjuk ujung mukena Rianti, lalu mengikuti arah pandang Rianti.  Segera melepaskan jarinya dari mukena dan menarik wajah temannya sampai menatapnya lagi, membuat temannya bingung.   "Hehe, nggak apa-apa, kok. Lihatin apa emang?" nyengir bodoh.  Temannya hanya berdecak. Selama itu Rianti bergurau pelan di saat para orang tua mengaji di jarak yang cukup jauh dengannya. Namun, perasaannya mulai aneh. Seakan merasa ada yang mengawasinya sejak tadi. Rianti pikir itu hanya tetangga yang masih kepo dengan kehidupannya, tetapi lama-kelamaan rasa curiganya semakin besar saat bulu lehernya berdiri merinding.   Refleks Rianti menoleh pada Sava yang asik tersenyum dengan para pemuda desa. Dia menghela napas lega. Perasaan tidak enaknya masih terasa. Melirik sana-sini seakan memeriksa sesuatu yang mencurigakan.   Itu percuma saja. Semuanya sama seperti pertama dia datang. Kemudian adzan terdengar lagi. Saatnya melakukan ibadah sholat, Rianti mencoba menghilangkan pikiran buruknya. Sia-sia saja, itu tidak hilang dan justru semakin membuat Rianti aneh. Saat memakai sendal untuk pulang, Rianti merasakan kehadiran orang asing yang mengintai dirinya dalam jarak dekat. Rianti melirik dalam menunduk.   'Kok, kayak ada yang ngawasin? Dari tadi sampek sekarang masa? Aneh banget!' batin Rianti. Rianti menggelengkan kepala dan mendongak. Batu maju satu langkah, dia terhenti karena suara seseorang.   "Wah, nggak kusangka bakal ketemu di masjid. Aku rasa kita bakal sering ketemu, Rianti. Aku juga baru selesai sholat di sini. Oh, ya, ngomong-ngomong, aku tinggal di sini sekarang. Tentu saja... Sampai Sava jatuh ke tanganku!"   Orang itu berbisik tepat di telinga Rianti saat di ucapan terakhirnya. Seketika Rianti menoleh ke belakang dan terbelalak. "Layla? Ya Tuhan! Kau masih di sini? Yang benar aja, pergi sana!" pekik Rianti mengusir Layla sambil menunjuk jalan pulang.   Layla berdecak. "Siapa kau menyuruhku pergi, ha? Aku mau ketemu Sava dulu. Dia pasti masih di sini, 'kan?" tanya Layla dan berbalik ingin pergi menemui Sava, tetapi tangannya di cekal Rianti, membuat Layla mengerutkan dahi dan menarik tangannya kasar. "Lepaskan aku!"   "Kau tidak boleh bertemu Sava, orang gila! Kau pasti kabur dari rumah, meninggalkan paman Rayhan sendirian cuma buat narik perhatian suamiku? Ayolah, jangan konyol! Aku selalu tertawa dalam hati kalau melihatmu. Lebih baik pergi dan hidup tenang bersama paman Rayhan. Oh, dan sisa uang dari orang tua Sava dan paman Rey tentunya." ujar Rianti panjang sambil tersenyum miring.  Layla menganga. "Berani sekali kau mengusirku!"   "Ehm," teguran seseorang datang suara berat tepat di depan mereka. Kompak Rianti dan Layla menoleh.  "Sava?" panggil Rianti, sedangkan Layla memasang senyum manis.  Sava hanya melirik Layla. Kemudian menatap Rianti dengan senyum tipis saat Rianti bertanya.   "Di mana ayah?" tanya Rianti.   "Ayah pulang duluan. Aku dengar suaramu yang cerewet, jadi aku ke sini. Ternyata ada...," ucapan Sava terpotong oleh Layla. "Perkenalan, aku Layla Candrika. Kita sudah pernah bertemu, kau pasti tidak lupa, 'kan? Senang banget bisa ketemu kamu lagi!" Layla mengulurkan tangannya sok ramah.  Rianti dan Sava saling pandang. "Oh," jawab Sava singkat tanpa menerima uluran tangan Layla. Seketika senyum Layla luntur dan menurunkan tangannya. Rianti tertawa dalam hati dan Sava tahu itu.  "Kok, kamu ninggalin ayah? Susul sana, aku cemas sama ayah. Nanti aku pulang kalau udah ngusir Layla!" ujar Rianti sambil mendorong Sava untuk pulang.   "Eh, tapi...."   "Udah sana!" Rianti masih mendorong Sava sampai Sava mendesah dan pergi.   Layla juga akan pergi, tetapi Rianti menahan tangannya. "Mau ke mana?" tanya Rianti tidak santai.  "Ikut Sava, lah!" jawab Layla tanpa beban sambil melepaskan tangannya paksa dari cekalan Rianti.   Merasa geram, Rianti menarik Layla lebih dekat dengan sangat kasar, membuat Layla kaget melotot. "Kau dengar baik-baik, Layla. Jauhi suamiku dan buang pikiran anehmu itu. Kalau kau menganggap ini cuma ancaman, kau rasakan akibatnya jika berani mengusikku dan Sava. Ini peringatan buatmu karena kau masih bermain sampai sekarang. Suatu hari nanti kalau kau mewujudkan niatmu, aku akan membalas yang lebih kejam. Kita seumuran, bedanya kau bodoh karena harta dan Sava. Pergilah!" desis Rianti tanpa berkedip menatap tajam mata Layla. Mendorong tangan Layla sampai Layla mundur beberapa langkah.  'Sial! Dia bisa menggeretakku!' batin Layla.  Merasa tidak suka dengan ucapan Rianti, Layla memilih pergi kembali ke toko bibi Parwati. Mengepalkan tangan di setiap langkahnya sambil memikirkan cara agar tidak timbul rasa suka antara Rianti dan Sava.  'Aku masih sangat yakin kalau mereka tidak saling mencintai. Mereka menikah lagi karena terbiasa bersama selama satu bulan. Sava juga tidak menunjukkan tanda cinta pada Rianti jelek itu. Aku masih ada kesempatan, 'kan? Tidak akan kubiarkan Sava mencintai Rianti meskipun Rianti sudah jatuh cinta padanya.' batin Layla hingga tak terlihat lagi dari pandangan Rianti.  Rianti mendesah kesal, melengos kasar. "Ish, Layla gila itu tidak tahu malu! Lucu tau nggak?" gumamnya sambil menghentakkan kaki.  Sekelilingnya sudah tidak ada orang. Masjid masih terang dengan penjaga yang masih ada di dalamnya. Rianti mengendikkan bahu dan pulang. Baru kakinya maju selangkah, hatinya kembali bertalu merasakan ada yang mengganjal. Seseorang sedang mengintainya.   'Apa lagi ini? Perasaanku masih tidak enak' batin Rianti dengan dahi berkerut.   Perlahan matanya melirik sisi kanan dan kiri. Semakin cemas saat melihat tempat laki-laki beribadah.   'Kalau Layla tadi sudah datang tiba-tiba, kenapa aku merasa ada yang masih mengawasiku? Berarti bukan Layla orangnya. Ada orang lain, tapi siapa? Masa tetangga? Semua orang sudah pulang,' batin Rianti dengan napas yang ditahan.  Seketika Rianti terbelalak mengingat ayahnya yang pulang sendirian. Entah Sava sudah menyusulnya atau tidak, Rianti buru-buru berlari ikut menyusul. Pikirannya khawatir dengan sang ayah. Terlebih lagi surat ancaman dari pak satpam yang memuakkan. Rianti terus berlari sampai tidak nampak dari masjid.   Seseorang tinggi tegap dengan wajah rupawan keluar dari masjid dengan tangan terlipat di perut. Mata tajamnya menatap jalanan yang dilalui Rianti. Tiba-tiba bibirnya mengukir senyum miring. Benar, orang itu adalah kecemasan Rianti sejak tadi, Daniel Putra Sara.   "Gadis yang pemberani. Dia mangsaku selanjutnya," gumam Putra.   Orang yang tertawa renyah bersama Sava saat menunggu jam pergantian ibadah. Orang yang Rianti khawatirkan dan membuatnya selalu melirik Sava. Dia bukan tetangga ataupun teman. Jelas saja Rianti tidak tahu. Orang itu dipanggil Putra sang penakhluk.   ~~~  Rianti lega saat ayahnya masih menyungging senyum seakan tidak terjadi apa-apa. Dia tidak menceritakan tentang surat ancaman pak satpam. Hanya Rianti dan Sava yang tahu dan sekarang sedang bingung memikirkan hal itu. Tengah malam, mereka belum bisa tidur. Duduk di ranjang melamun dengan kertas ancaman di tengah-tengah mereka. Ingin rasanya Sava menemukan mantan satpamnya, tetapi Rianti menahan Sava agar tidak mencari dan menunggu sampai pak satpam melakukan tindakan, barulah pak satpam bisa di tangkap tanpa melakukan pencarian. Mereka sempat berdebat sambil berbisik. Sava membantah jika pak satpam akan membahayakan nyawa ayah Rianti. Dia tidak terima dan sangat antusias ingin menemukan pak satpam dan menghajarnya habis-habisan. Itu membuat Rianti tersenyum. Mereka tertawa saat sesekali candaan kecil mengiringi. Setelah itu melamun lagi.  "Rianti?" panggil Sava lirih.  "Iya?" Rianti menjawabnya juga dengan lirih.   "Tadi aku ngobrol sama orang-orang desa. Mereka ramah, tapi ada satu orang yang nanya mulu soal aku. Ya, dia enak, sih, diajak ngobrol. Cuman dia terus yang nanya, kayak pengen tau banget gitu." curhat Sava mendongak menatap Rianti.   Rianti tersentak. Mendadak mendekat membuat Sava bingung. "Kamu jawabnya gimana?" tanya Rianti antusias.   Sava mendelik. "Ya, aku jawab apa adanya. Habis itu... Gosipin kamu, hahaha." tawa Sava pelan.  "Ah, bener, 'kan dugaanku. Kamu tadi lagi ngomongin aku." Rianti kesal.   "Eh, jangan kesel gitu. Kamu juga ngomongin aku, 'kan sama temen-temen kamu? Yaudah kita sama. Lagian orang-orang masih penasaran sama kita." Sava mencolek dagu Rianti.   "Ck, nggak usah colek-colek!" Rianti sok galak. Sava hanya terkekeh.   'Apa aku cerita ke Sava, ya? Soal perasaanku yang nggak enak?' batin Rianti bertanya sambil menatap mata Sava tanpa berkedip. Sampai Sava menjentikkan jarinya baru Rianti mengerjap.  "Jangan lihat aku pakai wajah ragu begitu. Mau aku cium?" ujar Sava.   "Sava...," Rianti justru memanggilnya.   Sava menaikkan kedua alisnya dan mengatur duduknya lebih dekat dengan Rianti. "Ada apa?" tanyanya pelan. Wajahnya yang juga ragu mengikuti Rianti.   "Aku merasa aneh. Aku khawatir padamu dan ayah. Setelah Layla datang dan ngomong konyol, aku masih merasa ada yang aneh. Apalagi surat pak satpam, aku jadi semakin takut. Astaghfirullah, pikiranku selalu yang bukan-bukan." Rianti menceritakan perasaannya.  "Kamu merasa begitu? Aku juga merasakan hal yang sama. Sejak di masjid, seperti ada yang aneh." gumam Sava meneliti wajah Rianti.   Rianti kaget. "Kamu juga? Ada apa, ya, Sava?"   Sava mengendikkan bahu. "Aku juga nggak tahu, tapi entah kenapa aku seakan nggak mau kehilangan kamu. Saat ini, jangan jauh-jauh dariku, ya. Kau jangan jualan dulu. Ikut aja ke kantor sama aku. Gimana?" usul Sava sangat senang.   "Sembarangan! Aku baru jualan sekali tau! Lagipula kalau aku ikut kamu, terus ayah gimana? Dasar nggak dipikir dulu kalau ngomong!"   "Hehe, ya, gimana?" Sava nyengir.  "Huft, kita lihat aja ntar. Nggak ada yang tahu masa depan, 'kan?" desah Rianti kemudian tersenyum.  Sava ikut tersenyum. Mengelus rambut Rianti pelan, membuat Rianti menatapnya bingung. "Tidak ada yang tahu masa depan. Ayo tidur, aku ngantuk." ujar Sava sambil berbaring dengan tangan sebagai bantalan.  Rianti hanya menatap Sava yang menutup matanya. "Aku nggak bisa tidur," gumamnya.   Sava menarik tangan Rianti tiba-tiba, membuat Rianti melotot dan terjatuh di samping Sava. Sava memeluknya dari samping dan menahan pergerakan Rianti meskipun matanya masih tertutup. "Gimana? Udah bisa tidur sekarang?" tanya Sava.  "Ck, apanya yang tidur? Sesak tau! Ih, sana agak jauh! Lepasin, Sava!" pekik Rianti meronta kesal.  Sava hanya terkekeh dan melepaskan Rianti. Kembali memasang tangannya sebagai bantalan. Dia mendesah seakan sangat berat. Rasa kesal Rianti hilang seketika.   "Kita kayak kehabisan waktu bersama. Aku mohon, kamu ikut kerja sama aku, ya. Nggak usah jualan." gumam Sava masih meminta.  Rianti tersentak. "Tapi ayah gimana?"   "Kalau kamu jauh dari aku pagi sampai sore, aku gelisah, Rianti." Sava membalikkan badannya tidur menghadap Rianti.  Kembali lagi Rianti di landa dilema. Dia harus selalu mengawasi ayahnya agar kecemasannya hilang. Namun, Sava juga menginginkannya, sedangkan dia sendiri juga merasakan hal yang sama pada Sava. Rianti memperbaiki posisi dirinya agar lebih nyaman. Memandang wajah Sava yang sudah bernapas dengan teratur. Senyumnya terbit bersamaan dengan desahan pasrah.   "Apa yang bisa kubuat? Aku diantara kalian sekarang. Kalau aku emang nggak boleh kerja, oke aku terima. Lagian aku juga nggak mau uang. Kalau gini aku bisa bersama Sava dan jaga ayah secara bersamaan. Sava benar juga... Aku sama dia kayak kehilangan waktu. Ini harus diperbaiki. Hah, percuma aja jualan baru sekali udah berhenti. Lalu, besok aku akan ikut Sava kerja." racau Rianti terlanjur mengantuk dan tidur.  Berhadapan napas mereka saling menerpa. Hubungan yang semakin tidak tahu arahnya meskipun mereka bisa seperti pasangan suami istri lainnya jika mereka mau. Namun, biar perasaan yang bicara. Usia muda, masalah yang tak kunjung reda, Rianti dan Sava mencoba berjalan sesuai alur takdir. Hanya saja Sava tidak murung lagi dan bingung dengan perasaannya sendiri pada Rianti. Sedangkan Rianti dibimbangkan antara pikiran dan hatinya. Otaknya masih belum bisa berhenti memikirkan kebenaran tentang kematian ibunya, kembalinya sang ayah yang sudah berubah baik, kemudian ancaman dari pembunuh ayahnya, di tambah Layla yang ingin merebut Sava secara terang-terangan.   Hatinya gelisah kala menatap wajah Sava dengan begitu dekat. Terkadang jantungnya juga berdetak dua kali lebih cepat saat Sava didekatnya. Karena Sava bekerja membuat Rianti tidak memiliki banyak waktu lubang dengan Sava seperti satu bulan yang lalu, Rianti menjadi sedikit murung. Rumah mewah milik Sava, Rianti merindukannya. Bukan rindu rumahnya, melainkan kenangan bersama Sava. Dalam tidur mereka yang sangat dekat, terpancar rasa lelah dan gelisah. Sava ingin sekali membawa Rianti pergi jauh dan berpetualang keluar dari kehidupan yang monoton. Apalagi Rianti yang benci uang dan harta, sekaligus ingin menetapkan hatinya pada Rianti. Menikah dua kali dengan perasaan tanda tanya, tetapi saling merasa nyaman. Sebagai laki-laki Sava ingin menghidupkan ikatan pernikahan mereka. Namun, hanya waktu yang bisa menjawab. Karena pak satpam berulah, rasa takut Rianti kehilangan orang tua kembali lagi. Kini giliran Sava yang membantu Rianti keluar dari masalah. Rianti sudah cukup banyak membantunya sampai menguak kebenaran. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN