Sinar mentari sangat cerah. Jalan raya padat kendaraan. Rianti mengernyit di balik helm menunggu lampu merah berubah hijau. Dia ikut Sava ke kantor setelah mengantar ayahnya berangkat bekerja. Sungguh Rianti masih memikirkan ayahnya. Semua hal negatif tentang pak satpam ada di otaknya. Sava melihat wajah Rianti yang cemas lewat kaca spion.
"Sstt, tenang aja. Aku ada rencana. Jangan mengkerut gitu mukanya. Udah jelek tambah jelek!" ujar Sava sengaja sambil tersenyum miring.
Rianti melotot sewot. "Eh, aku risau tau nggak? Risau itu... Ya, risau. Taulah, pokoknya ayah harus terus dalam pengawasan!"
"Hah, dibilangin disuruh tenang nggak bisa. Aku, 'kan ada sama kamu, jadi nggak usah takut kayak gitu. Lagipula pak satpam bisa apa kalau urusan sama aku? Ck, konyol!" decak Sava lalu menatap lampu merah.
Rianti tidak menjawab. Hanya mengerucutkan bibirnya karena tidak paham maksud Sava. Warna merah itu berubah menjadi hijau. Rasa lega dapat dirasakan banyak orang termasuk Rianti dan Sava. Setengah jam kemudian mereka sampai di kantor. Tentu saja Rianti langsung di sambut oleh kedua mertuanya dan Sava diabaikan. Sava memilih pergi ke ruangannya sedangkan Rianti ditahan oleh orang tuanya.
Ekspresi itu berubah menjadi datar. Langkahnya pasti menuju ruangan tanpa berpaling. Beberapa orang menyapa, Sava hanya menjawab sekadarnya. Duduk di kursi yang baru beberapa hari dia tempati, senyum miring merekah. Terlebih lagi saat mengambil handphone dan menelpon seseorang. Jawabannya sama yaitu tidak dijawab. Pak satpam benar-benar sudah melupakannya dan berniat balas dendam.
Sava berdecak. "Harusnya Rey yang balas dendam. Kenapa pak satpam jadi bodoh begini?" gumamnya menggeleng dengan senyum.
Tidak tahu jika pak satpam sudah punya rencana sendiri untuk membunuh ayah Rianti. Sava melihat jam yang menunjukkan pukul sembilan pagi. Masih banyak waktu hingga masa istirahat. Sava menunggu Rianti datang sembari mengerjakan pekerjaannya. Sedangkan, Rianti di sini bingung dengan kedua mertuanya yang memperlakukan dirinya seperti tamu terhormat. Mereka tidak henti-hentinya berbicara lantaran senang. Rianti hanya menjawab seadanya sambil tersenyum. Jika mereka membuat lelucon, Rianti ikut tertawa meskipun tidak mengerti. Rianti ingin ikut Sava, tetapi tidak berani izin pada kedua mertuanya. Mendesah pasrah dan terus memasang senyum lebar, duduk tenang dengan perasaan tidak tenang.
"Sava nggak kesini apa? Ini lagi dua orang ngoceh mulu dari tadi." gumam Rianti tidak didengar oleh mertuanya.
Celingukan mencoba melihat pintu berharap agar terbuka karena Sava. Sampai akhirnya mertuanya pamit untuk bekerja. Dia sudah cukup menghabiskan waktu dengannya. Rianti sangat senang, segera dia keluar dan masuk ke ruangan Sava. Sayangnya, ada seseorang di dalam ruangan. Rianti yang sudah terlanjur membuka pintu kembali menutup pintunya dan menunggu di luar. Duduk lagi membuat Rianti bosan.
"Iya juga, ya? Sava kerja, harusnya aku nggak ganggu dia." gumamnya sambil memilin jari tangannya.
Tidak lama kemudian orang itu keluar dan melewati Rianti begitu saja. Rianti segera masuk ke ruangan Sava, tanpa basa-basi menggebrak meja Sava sampai Sava kaget.
"Kamu apa-apaan, sih?" Sava kesal.
"Eh, katanya punya rencana? Rencana apa? Aku nggak mau diam di sini terus. Mama sama Papa ngoceh mulu. Untung mereka pergi." Rianti tidak sabar.
Sava menghela napas panjang. "Mereka kangen kamu kali. Udah santai aja. Nanti kalau kerjaku udah beres. Lagian, aku udah minta tolong kak Syam buat jaga ayah." ujar Sava sembari menatap laptop.
Rianti duduk di kursi depan Sava yang terhalang meja. "Kak Syam? Sejak kapan?" Rianti bingung.
"Sejak tadi. Sekarang teknologi canggih. Hehe, aku menelponnya." Sava mengangkat handphone miliknya.
Rianti menganga. "Kok bisa tukeran nomor?" dia bingung lagi.
"Ya, bisa, lah. Kenapa nggak bisa?" Sava mendelik.
"Ck, maksudku kapan kalian kenal dekat? Nggak pernah, tuh, aku lihat kamu sama kak Syam barengan." Rianti menelisik wajah Sava.
"Emangnya kalau aku mau ketemu kak Syam harus laporan sama kamu?" balas Sava lanjut bekerja. Rianti mencebikkan bibirnya. "Udah diam aja. Aku mau fokus. Jangan kemana-mana, ya. Di sini aja." pinta Sava tanpa melihat Rianti.
"Kalau orang masuk kayak tadi gimana? Ini namanya aku ganggu tau! Udah, ah, aku mau keluar aja. Jalan-jalan!" seru Rianti berdiri.
"Jangan kira aku nggak tau maksudmu. Jangan nekat pulang atau temui ayah, Rianti! Kita nggak tau rencana pak satpam. Pokoknya harus sama aku!" tekan Sava menatapnya serius.
Rianti mendesah lemas. "Iya. Cuma lihat-lihat kantor aja." jawab Rianti kesal.
"Kantor kok dilihat. Isinya ya cuma orang kerja." Sava sengaja bergumam dengan suara keras.
Rianti memukul meja lagi membuat Sava terjingkat. "Kamu itu kenapa, sih!?" pekik Sava.
"Mau lihat-lihat siapa tau ada orang yang lebih ganteng dari kamu." tekan Rianti mengangguk sedikit meyakinkan.
Dia langsung keluar ruangan sedangkan Sava masih kaget. "Dia gila! Kalau aku sakit jantung beneran pasti udah kambuh. Rianti gila!" gumam Sava sambil mengelus dadanya.
Rianti tersenyum tipis di setiap langkahnya. Tidak ada yang menghentikan Rianti lagi karena statusnya sudah diketahui semua orang. Apalagi kedekatan Rianti dengan pemilik perusahaan sangat terlihat jelas. Saat ingin keluar gedung, Rianti ditabrak seseorang yang juga ingin masuk.
"Aduh, maaf nggak sengaja." Rianti yang minta maaf sangat merasa bersalah.
"Tidak apa-apa. Harusnya aku yang minta maaf." ujar orang itu mendongak dan tersenyum.
Rianti ternganga. 'Astaga! Ketemu orang ganteng beneran!' pekiknya dalam hati.
Tersenyum sok sopan, "Iya, nggak apa-apa."
"Kalau begitu, permisi." ucapnya sambil melewati Rianti. Rianti hanya tersenyum.
'Orang-orang kantor emang cakep, ya. Apalah aku yang cuma anak desa,' batin Rianti masih belum berhenti tersenyum.
Rianti pergi keluar kantor. Tidak menghiraukan ucapan Sava yang melarangnya, Rianti memang pergi untuk menemui ayahnya. Entah apa rencana Sava dia tidak peduli. Pikiran kalut membuat dirinya lupa akan ucapannya sendiri kemarin malam yang berniat menemani Sava. Di dalam sana Sava tahu jika Rianti nekat pergi. Dia tidak bisa keluar sebelum semua pekerjaannya selesai. Meskipun menyuruh hatinya tetap tenang karena ada kak Syam yang akan menjaga ayah mertuanya, dia tetap cemas jika Rianti datang ke sana.
Pak satpam tidak hanya mengincar ayah Rianti, tetapi juga Rianti. Itu yang dipikirkan Sava. Dia tidak bisa membiarkan itu terjadi. Sayangnya kekhawatiran Sava menjadi kenyataan. Orang yang menabrak Rianti itu mengikuti perginya Rianti dan Sava tidak tahu.
Rianti yang menunggu di halte, orang itu hanya diam agak jauh. Namun, dia tersenyum sekilas dan melangkah mendekat dan menjalankan aksi pertamanya. Tiba dia duduk di samping Rianti sambil mendesah menatap jalan raya.
"Kenapa kendaraan selalu bising? Tidak ada ketenangan sama sekali." racaunya.
Rianti menoleh kaget. "Kau? Kau orang yang tadi, 'kan?" tanya Rianti spontan menutup mulutnya dengan tangan.
Orang itu menoleh dan tersenyum manis. Rianti memekik dalam hati.
"Hai, kita bertemu lagi secepat ini." sapanya.
Rianti ikut menyapa dengan melambaikan tangannya pelan, meringis bodoh, "Hai."
Lebih terkejut lagi saat orang itu mengulurkan tangannya. "Perkenalkan, aku Daniel Putra Sara. Panggil saja aku Putra. Aku dengar, kau istri dari anak pemilik perusahaan itu. Siapa namamu?" ujarnya sangat sopan.
Rianti segera menerima uluran tangan orang itu. "Hehe, iya aku istrinya Sava. Namaku Rianti Salsavitri, panggil saja Rianti. Kau kerja di sana juga?" tanya Rianti basa-basi dan melepaskan jabatan tangannya.
Putra menggeleng. "Tidak. Aku hanya menyampaikan pesan saja sebentar. Melihatmu di sini, aku jadi penasaran. Kenapa istri anak bos menunggu bus? Bukannya punya kendaraan pribadi?" tanyanya langsung.
Senyum Rianti menjadi sedikit luntur. 'Orang ini kalau ngomong langsung ke tujuan,' batin Rianti.
"Haha, karena aku suka naik bus. Ramai orang," jawab Rianti asal.
Putra menghembuskan napas gusar, membuat Rianti heran. "Kenapa? Ada masalah?" tanya Rianti. Kemudian dia menggigit lidahnya sendiri.
'Rianti payah! Bisa-bisanya nanya gitu sama orang asing!' batinnya.
Orang itu justru terkekeh." Iya, sebenarnya masalah yang sederhana. Aku hanya tidak mau pulang."
Rianti heran. "Tidak mau pulang? Kenapa?" tanyanya lagi.
"Karena aku memang tidak ingin pulang. Aku juga tidak tau ingin pergi ke mana. Tidak ada tujuan, aneh, 'kan?" tanyanya menatap Rianti.
Rianti mendelik. "Tidak ada tujuan? Aneh sekali!" Rianti seakan tidak merasa bersalah mengatakannya.
Putra kembali terkekeh. "Bisakah kita berteman? Suamimu tidak akan marah, aku yakin. Aku rasa kita hanya berjarak beberapa tahun," ujarnya.
"Ah, iya. Aku memang baru lulus SMA. Kenapa tidak dengan berteman, haha." tawa Rianti kaku.
'Kalau Sava tau, dia pasti sewot. Haha, wajahnya lucu kalau cerewet,' batin Rianti memikirkan Sava.
"Baiklah, kita teman. Boleh aku ikut denganmu? Bantu aku mengusir ketidakjelasan ini. Aku tidak mau pulang." Putra merayu Rianti dengan wajah memohon.
Rianti bingung. "Tapi aku ada urusan. Mungkin lain kali aja, ya," bujuk Rianti.
"Ayolah, teman. Ajak aku pergi, ya!" pinta Putra lagi.
Rianti tersentak. 'Dia manggil aku teman kayak Sava,' bicara dalam hati.
"Beneran, Putra. Aku lagi ada urusan." tolak Rianti dengan baik.
Putra nampak berpikir. "Kalau begitu aku ikut aja. Siapa tau aku bisa membantu urusanmu. Ini saling menguntungkan, aku bisa pergi dan kau bisa dapat bantuanku jika perlu. Lagipula kita, 'kan teman sekarang? Lebih baik lagi kalau kita saling kenal, benar, 'kan?" bujuk Putra dengan senyumnya yang memikat.
Rianti memutar bola matanya bingung. Membenarkan Putra jika teman harusnya lebih dekat, tetapi Rianti tidak ingin membawa Putra mengetahui urusannya apalagi sampai ikut campur. Namun, dia tidak tega melihat Putra memohon.
"Huft, baiklah. Naik bus, loh ini." Rianti memperingatkan.
"Tidak masalah. Biar asik." Putra mengendikkan bahu dan tertawa ringan.
Rianti ikut tertawa. "Rumahmu di mana? Kau sudah menikah apa belum? Atau kau kuliah sambil kerja?" tanya Rianti menebak.
"Rumahku di dekat sini. Aku belum menikah dan tidak kuliah. Hanya bekerja," jawab Putra tanpa berbohong. Memang dia tinggal di dekat jalanan itu dan tidak melanjutkan pendidikan. Rianti hanya mengangguk dan tidak bertanya lagi. Putra juga diam tidak membuka percakapan. Dia melirik Rianti dari ujung rambut hingga kaki.
'Sangat sederhana. Bagaimana gadis ini bisa bahaya? Kalau dilihat dari sikapnya kemaren di masjid, dia memang pemberani. Menarik!' pikir Putra.
Putra sang penakluk yang rela melakukan apa saja demi tugasnya. Buka uang dan harta yang dia cari. Hanya kesenangan dan menerima tugas apapun yang dia berikan. Ambisinya adalah rasa puas saat berhasil menyelesaikan tugas berbahayanya dan tantangan yang membuatnya semangat. Siapa yang mengenal Putra, maka tujuan orang itu dipastikan tercapai. Putra terkenal di kalangan orang yang frustasi tidak bisa menyelesaikan tugasnya sendiri, termasuk pak satpam. Tugas pak satpam yang tidak Rianti dan Sava sadari. Ancaman Rianti yang sesungguhnya adalah Putra. Niat buruk itu akan terus tertutupi sampai waktunya tiba. Putra ingin bermain sebentar sebelum menyelesaikan misi membunuh ayah Rianti sesuai keinginan pak satpam.
Bus datang dan Putra ikut Rianti naik dengan senyum yang tidak pernah menghilang. Siapapun yang memandangnya terkesima. Sampai di halte dekat gang desa Rianti bus itu berhenti. Rianti mengajak Putra untuk berjalan kaki masuk desa.
"Kau tidak keberatan jalan kaki?" tanya Rianti tanpa berhenti berjalan.
"Tidak. Lagipula jalan, 'kan sehat." jawab Putra sok akrab. Mereka tertawa ringan.
Dalam hati Rianti berpikir orang-orang yang akan menggunjingnya lagi karena berjalan dengan laki-laki tampan selain Sava. Rianti tidak peduli, karena tidak melakukan kesalahan. Namun, dia sedikit risih. Putra sering meliriknya tanpa berkata apapun.
"Kenapa kau melihatku terus? Ada yang mau kau sampaikan?" tanya Rianti langsung.
Putra menaikkan kedua alisnya. "Tidak ada. Hanya, tidak kusangka bisa berjalan seperti ini di desa bersamamu. Lumayan, agak damai dari pada bisingnya jalan raya, haha." tawa Putra renyah.
"Hahaha, kau tidak suka keramaian, ya?" tanya Rianti.
Putra mengangguk. "Iya, tapi aku suka membuat keramaian," jawabnya sambil menatap Rianti.
'Termasuk membuat rumahmu ramai dengan kabar duka,' sambung Putra dari hati.
"Contohnya kayak gimana?" tanya Rianti bingung.
"Emm, seperti aku suka membuat ulah," Putra kembali menatap ke hadapan.
Rianti mengangguk seakan mengerti. 'Mungkin dia kayak pembuat onar, ya, kalau di sekolah? Hahaha,' pikir Rianti.
Mereka sampai ke toko bangunan milik kak Syam. Rianti berbelok untuk memastikan kakaknya ada di toko atau mengawasi ayahnya. Mengamati sebentar dan ternyata kak Syam sibuk menulis di mejanya, Rianti segera lari dan menggebrak meja kak Syam.
"Astaghfirullah, Rianti! Datang itu salam dulu, kek! Main gebrak meja aja. Kaget tau!" sewot kak Syam.
"Kakak, kenapa masih di sini? Kata Sava kakak ngawasin ayah kerja. Kalau duduk aja mana bisa jagain ayah, gimana, sih!" omel Rianti.
"Kau sendiri? Bukannya harusnya ikut Sava? Kenapa ada di sini? Oh, kamu kabur, ya!?" tuduh kak Syam menunjuk wajah Rianti.
"Iya aku kabur. Ayolah, Kak, temenin ayah, ya. Ayo kita ke sana!" semangat Rianti mengajak kak Syam pergi.
"Eh, tenang, Rianti. Kau takut tanpa sebab. Ayahmu baik-baik aja, percaya padaku. Sava mau mengajakmu, dia ada rencana sendiri, kenapa kau malah lari?" Kak Syam mencoba menenangkan Rianti.
"Jadi, Kakak sudah tau ancaman itu?" tanya Rianti dengan dahi berkerut.
Kak Syam mengangguk. "Sava menceritakan semuanya. Tenang aja, keselamatan ayahmu ada ditanganku sekarang. Tidak akan kubiarkan orang asing mendekatinya." ujar kak Syam serius.
Putra mendengarnya. 'Ada orang yang selalu bersama ayah Rianti setelah ini. Hmm, kalau begitu aku tidak boleh terburu-buru,' batin Putra.
Tidak sengaja kak Syam menoleh melihat Putra yang melipat tangan sembari melihatnya. "Rianti, siapa dia?" tanya kak Syam.
Rianti mengerjap. "Oh, dia teman baruku. Namanya Putra," jawab Rianti menunjuk Putra.
Putra mendekat dan memberi salam.
"Kenapa kau bawa ke sini? Sava tau nggak?" tanya kak Syam terlihat tidak suka.
"Ck, Sava nggak tau. Dia bosan dan nggak mau pulang. Kasihan lah, Kak. Biar dia jalan-jalan di desa. Lagian orangnya ganteng, hehe," bisik Rianti.
Kak Syam melotot. Mendorong dahi Rianti pakai telunjuknya. "Sejak kapan tau orang ganteng, ha? Aku juga ganteng nggak pernah dipuji. Lebih gantengan Sava kali!" bisik kak Syam membalas.
Rianti memutar bola matanya malas. Teringat lagi tujuannya, menarik tangan kak Syam keluar dari balik meja dan membawanya paksa menuju tempat kerja ayahnya.
"Eh, Rianti, jangan buru-buru. Malah bisa ganggu Ayahmu kerja ntar!" decak kak Syam masih mencoba membuat Rianti mengerti.
"Putra, kau jangan ikut aku lagi, ya. Jalan-jalan ke mana gitu. Aku mau ada urusan sama kakakku dulu. Kalau mau pergi atau pulang juga nggak apa-apa, hehe." ringis Rianti menyuruh Putra pergi saat berada di hadapannya.
Putra hanya tersenyum. Pandangan kak Syam sangat tidak suka pada Putra. 'Dari mana datangnya anak ini? Sejak kapan Rianti punya teman kayak dia? Semenjak masalah pernikahannya, nggak pernah aku lihat Rianti berteman baik, apalagi sama cowok.' batin kak Syam meneliti Putra dari atas sampai bawah.
"Kau tidak mau aku tau urusanmu, ya? Baiklah, aku tunggu di gerbang desa nanti. Sampai jumpa lagi, Rianti." ujar Putra melambaikan tangannya dan pergi duluan.
Rianti membalas lambaian tangannya. "Aduh, senyum terus kemanisan," gumam Rianti terpesona.
Kak Syam berdecak dan melepaskan tangannya dari genggaman Rianti, membuat Rianti kaget dan menoleh. "Manis apanya? Pahit! Ah, udahlah aku mau lanjut nulis pesanan orang. Kau balik aja ke kantor sana! Kalau Sava nyariin aku nggak mau ikut campur!" Kak Syam kembali ke tokonya.
"Aku nggak mau balik! Ayo, Kak, temenin sebentar. Aku mau lihat ayah." pinta Rianti sedikit memohon.
Kak Syam mendesah. "Rianti, kalau kau kesana, Ayahmu bisa terganggu. Malah curiga kenapa kau datang. Percaya sama aku nggak? Kalau percaya balik sana! Ayahmu aman. Dia terus dalam pengawasan. Habis ini biar aku ke sana sendiri aja. Aku mau nulis pesanan dulu. Ngerti?" jelas kak Syam perlahan.
Rianti menggeleng. Kak Syam menepuk dahinya frustasi. "Gini, ya adikku yang pintar! Anggap aja ini pembagian tugas. Ancaman pembunuhan itu bukan main-main. Kau tidak mau kehilangan ayahmu, 'kan? Setelah tau kalau pak satpam ikut Rey dalam membunuh ibumu, maka kali ini juga bisa menjadi nyata kalau kita tidak mencegahnya dengan waspada. Sava ada rencana, dia mau mengajakmu dan nanti kau akan tau sendiri. Sedangkan aku dia tugaskan buat jaga ayahmu. Tanpa diminta pun aku akan menjagamu dan keluargamu, Rianti. Jadi... Sekarang kembali lagi sama Sava. Mungkin dia udah nungguin, bingung yang ternyata kau malah malah kabur. Kita perlu tau rencana pak satpam terlebih dahulu, bukan? Satu hal lagi, jangan berteman sama Putra teman barumu itu. Dia orang asing tanpa asal usul yang jelas. Udah sana pergi! Ganggu orang kerja aja!" jelas kak Syam sangat panjang yang berujung mengusir Rianti.
Rianti sedikit berpikir. "Emm, begitu, ya? Aku cuma cemas, Kak. Pak satpam membuatku takut kehilangan." gumam Rianti sembari menunduk. Kak Syam melihatnya menjadi ternganga seakan membuat Rianti sedih, tetapi Rianti kembali mendongak dengan senyum. "Pokoknya kau harus awasi ayah! Kalau ada apa-apa beritahu aku, ya! Aku mau kembali ke kantor. Bye, Kak Syam!" seru Rianti semangat sambil berlari menuju gerbang gang desa.
Pembicaraan mereka tidak luput dari pendengaran Putra. Dia tidak pergi, melainkan sembunyi di balik toko. Tersenyum miring karena rencana Sava dan kak Syam.
'Mereka membuat persiapan dan menantikan Pak satpam. Sayangnya bukan dia, tapi aku yang bertindak.' batin Putra.
Kemudian dia pergi mencari jalan pintas menuju gang desa sebelum Rianti tiba terlebih dahulu dan bingung karena Putra belum ada di sana.