Pukul sebelas siang Rianti kembali ke kantor Sava bersama Putra. Dia bertanya-tanya kenapa Putra tidak pergi seakan terus mengikutinya. Kak Syam juga memperingatkan agar menjauhi Putra. Seolah-olah Putra orang yang mencurigakan. Rianti mencoba berpikir positif.
'Mungkin karena Putra datang di saat aku sedang di landa takut. Jadi, dia terlihat... Aduh, senyum lagi dia,' batin Rianti memandang Putra yang kembali tersenyum memandangnya.
Di depan pintu kantor mereka berhenti. Putra pamit pergi dan Rianti memandangnya hingga menghilang bersama lalu lalang orang. Mendesah pelan dan masuk gedung perusahaan. Dia menuju ruangan Sava yang tertutup. Mengetuk pintu dengan hati-hati sampai Sava menyuruhnya masuk. Sava justru kaget karena Rianti datang, membuat Rianti juga kaget sembari menutup pintu.
"Ngapain balik? Sana pergi!" sindir Sava mengusir.
Rianti cengengesan. "Idih, marah! Jangan ngambek, kalau beneran ada penyakit jantung ntar bisa kambuh, loh!" Rianti mengatakannya sangat ringan seakan Sava tidak pernah mengalami masalah tentang jantung.
Duduk di hadapan Sava dengan wajah polos tanpa bersalah. Sava merasa geram ingin meremas wajah Rianti, tetapi tidak tega. Dia hanya mendesah pasrah kala Rianti mengerjap-ngerjap.
"Huft, kamu itu udah dibilangin jangan nekat. Ada kak Syam di sana." terang Sava dengan wajah bingung menjelaskan pada Rianti.
Rianti hanya tersenyum. "Aku tadi ketemu orang ganteng. Senyumnya manis banget." pamer Rianti.
"Terus kamu ajak dia ke desa bahkan ketemu sama kak Syam," lanjut Sava dengan datar.
"Ih, kok, tau? Pasti kak Syam yang bilang, 'kan?" tanya Rianti dengan sumringah.
"Ck, nggak ada bersalahnya ngomongin orang lain di depan suami sendiri." gumam Sava sambil menggelengkan kepala.
"Emang kenapa? Aku cuma memuji bukan berarti aku suka." elak Rianti.
"Terus, berarti kamu suka aku?" tanya Sava berubah menjadi semangat.
"Emm, bentar aku pikir dulu." ekspresinya seakan berpikir keras, membuat Sava mengetuk dahinya keras pakai bolpoint.
"Aduh, sakit tau!" pekik Rianti melotot.
"Apa? Sakit mana sama aku yang istrinya nggak ngakuin kalau suka? Gila aja!" Sava balas memekik.
"Sstt, ini di kantor loh, bukan di rumah. Suaramu malah lebih keras dari aku." Rianti berbisik menaruh telunjuknya di bibir. Seketika Sava menutup mulutnya.
"Eh, jauhi dia! Kita fokus sama keselamatan ayah dulu." bisik Sava.
"Ya, mana tau kalau besok ketemu lagi? Gimana cara ngejauhinnya coba?" elak Rianti lagi.
Sava berdecak gemas. "Yaudah lah, ayo ikut aku!" ajak Sava berdiri dan menarik tangan Rianti. "Eh, eh, mau ke mana?" tanya Rianti membuat Sava berhenti dan berbalik menatapnya. "Kita ke penjara Rey," jawab Sava serius.
Rianti tersentak. "Paman Rey? Penjara?" tanya Rianti dengan bingung.
Sava mengangguk. Tiba-tiba hatinya bertalu seakan tidak mau berurusan lagi dengan paman Rey.
"Sava, dia itu udah menipumu. Ngapain kita ke sana? Mau jenguk terus nanyain kabar gitu?" dahi Rianti berkerut ada rasa takut bercampur penasaran.
"Mau tau soal pak satpam? Jadi kita harus tanya Rey." jawab Sava tanpa raut bercanda.
"Kalau Paman Rey nggak mau jawab? Lagian apa yang mau ditanyain?" bingung Rianti.
"Kita paksa. Apapun, ayo!" jawab Sava sembari mengangguk mantap menggandeng Rianti keluar dari ruangan.
Rianti tidak bertanya apakah pekerjaan Sava sudah selesai atau belum. Pikirnya jika Sava membawanya keluar, berarti Sava sudah mengatur semuanya. Tanpa sepengetahuan kedua orang tua Sava, mereka pergi ke penjara. Rianti terus memegang tangan Sava takut dengan tepat yang tidak pernah dia datangi.
Terus berjalan menyusuri lorong penjara yang berisi banyak orang. Sava melirik Rianti, dia mengerti jika Rianti sedikit takut. Dia memegang tangan Rianti yang menggenggamnya kuat. Membuat Rianti mendongak dan Sava tersenyum. Sampai di sel Paman Rey, Rianti terbelalak.
"Paman Rey," panggilnya lirih.
Mantan asisten sekaligus orang kepercayaan itu duduk dengan pakaian penjara, tidak sadar jika Sava dan Rianti datang menjenguk.
"Rey," panggil Sava dengan nada yang sama saat dia menjadi atasan Paman Rey.
Seakan kaget, Paman Rey langsung menoleh tidak percaya. Dia berdiri memegang jeruji besi sampai menimbulkan suara. Entah kenapa Rianti mundur sembunyi di belakang Sava. Belum hitungan bulan, kedua mantan majikannya itu datang menyapa.
"Tuan Sava?" Paman Rey bingung.
Rianti terjingkat dan Sava tersenyum miring.
'Bahkan dia masih memanggil Sava dengan sebutan tuan. Begitu lamanya dia bekerja dengan keluarga Sava. Mungkin, masih ada rindu dalam dirinya,' batin Rianti dengan mata berkaca-kaca menatap Paman Rey.
Saat pandangan Rey tertuju pada Rianti dan memanggilnya, napas Rianti tercekat.
"Rianti?" panggil paman Rey.
Mereka diam membuat Sava membawa Rianti lebih dekat. Basa-basi hingga ke inti Rianti hanya diam. Sava yang membuat Paman Rey angkat suara tentang pak satpam. Segala informasinya mulai dari rumah, keluarga, hingga rasa takut pak satpam yang membuatnya melakukan hal buruk termasuk ikut membunuh ibu Rianti karena takut ketahuan bersama Paman Rey. Semua dikatakan membuat Rianti meremas lengan Sava.
"Rianti," panggil paman Rey setelah lama berbicara dengan Sava.
Rianti tetap diam.
"Jaga Tuan Sava. Pak satpam lebih dari berencana untuk ayahmu. Jaga Tuan Sava!" pinta Paman Rey.
Rianti tersentak begitu juga dengan Sava.
"Untuk apa kau peduli dengan Sava? Kau, 'kan juga mau membunuh Sava? Batuk berdarah, penyakit jantung, dan divonis mati dalam sebulan? Haha, konyol!" jawab Rianti sekali bicara sangat tajam.
"Rianti, jangan begitu. Ini di penjara, kamu masih marah?" bisik Sava memperingati.
Rianti tetap menatap Paman Rey. "Aku bisa melihat bayangan ibu yang tiada karena dia, Sava. Bagaimana bisa aku tidak marah?" jawab Rianti.
Paman Rey mendesah pasrah.
"Rey, permisi!" ujar Sava datar dan mengajak Rianti pergi. Dia sendiri bingung mau berekspresi seperti apa. Paman Rey sangat berpengaruh untuknya.
"Baik, Tuan!" ujar Paman Rey bingung dengan keadaan.
Sepanjang jalan melintasi lorong penjara, Rianti melamun. Tangannya digandeng Sava.
'Kesalahan, kegilaan, kasih sayang, semua ada di sini. Aku tidak mengerti apa ada rasa bersalah dan penyesalan di hati paman Rey atau mungkin hatiku. Aku bodoh atau munafik karena tidak tega memenjarakan orang yang jahat meskipun setia,' batin Rianti.
"Sekarang giliran pak satpam, jadi jangan pikirkan Rey," ucap Sava tanpa menoleh pada Rianti seakan dia mengerti apa yang Rianti lamunkan.
Rianti mengerjap. "Iya," jawabnya singkat.
Kembali ke jalan raya yang sangat panas. Tepat pukul dua belas siang mereka menuju ke kantor. Saat sampai di sana, Sava menahan Rianti untuk tetap di ruangannya. Tidak ada makan siang, keduanya tidak nafsu makan. Rianti sibuk melamun dan Sava bekerja lagi dengan pikiran yang kosong.
'Maksud Paman Rey, jaga Sava? Apa rencana pak satpam sampai berpengaruh pada Sava? Huft, aku yakin Layla juga sedang mengatur rencana merebut Sava. Sekarang di tambah Pak satpam mengancam Sava juga? Kenapa nggak aku aja yang terancam? Kenapa harus Sava sama ayah?' tanya Rianti dalam hati.
Di sisi lain, toko Bibi Parwati sedang ramai pelanggan. Dia sibuk melayani dan menghitung uang di waktu renggang. Layla hanya duduk menyangga kepala menunggu Bibi Parwati bersedia menjalankan rencananya.
"Bibi, kapan kau berhenti menghitung uang? Ayo kita kerja nyata!" ujar Layla berdecak malas.
"Ini namanya kerja nyata, dapat uang! Kalau kau masih dalam rencana yang berangan-angan dapat uang banyak. Hah, lebih baik aku kerja dulu," jawab Bibi Parwati tanpa melihat Layla.
"Terus kapan rencanaku berjalan?" tanya Layla kesal.
"Anak cerewet! Nanti sore!" putus Bibi Parwati.
Layla terlonjak senang. "Nanti sore? Sebentar lagi dong? Kau jangan menipu ya, Bibi!" seru Layla.
"Kapan aku menipu jika demi uang?" Bibi Parwati membanggakan diri seakan itu hal baik.
"Siapa tau aja." Layla melengos dengan senyum.
Bibi Parwati menoleh. "Kenapa kau gila sama suaminya Rianti? Aku dengar dia sakit parah, tetapi sudah sembuh. Kalau sakitnya kambuh, percuma saja kau mendapatkannya." tanyanya.
Layla juga menatapnya. "Itu semua bohong. Sava tidak sakit sama sekali. Hah, Sava... Tampan sekali," Layla membayangkan wajah Sava.
Bibi Parwati menjentikkan jarinya dua kali membuat Layla mengerjap. "Anak muda yang dipikir cuma pasangan! Pikir uang yang banyak!" seru Bibi Parwati.
Layla hanya mencebikkan bibirnya. 'Dasar gila uang! Setidaknya aku nggak kayak dia!' batin Layla.
"Kalau aku berhasil membantumu menikah dengan Sava, kau aka beri aku uang banyak, 'kan?" Bibi Parwati tanya untuk kesekian kalinya.
"Ck, aku bosan sama pertanyaanmu, Bibi. Iya, berapapun yang kau mau!" jawab Layla keras membuat Bibi Parwati tertawa.
Waktu terus berlalu. Jam menunjukkan pukul empat sore. Sava mengajak Rianti pulang, tetapi kedua orang tuanya menahan.
"Rianti, malam ini menginap di rumah, ya. Mama pengen banget ngobrol banyak sama kamu," bujuk Mamanya Sava.
"Sava, ajak Rianti ke rumah," pinta ayahnya Sava.
"Bukannya Rianti nggak mau, tapi ayah gimana? Nanti sendirian." jawab Rianti sabar.
"Sehari aja. Ayahmu ajak sekalian juga nggak apa-apa. Kami kesepian, rumah nggak ramai!" Mamanya Sava terus meminta.
"Ma, lain kali aja, ya. Ntar Sava mampir beneran. Kalau sekarang nggak bisa," ucap Sava.
"Kenapa nggak bisa?" tanya sang Mama.
"Karena Rianti mau jualan bubur kacang hijau nanti malam. Jadi harus siapin bahannya. Kami pulang dulu, ya. Assalamualaikum, Ma, Pa!" jawab Sava dan menarik tangan Rianti segera.
"Waalaikumsalam. Sejak kapan menantu kita jualan bubur?" jawab sang Mama sambil bertanya.
"Sstt, itu mungkin cuma alasan. Siapa tau mereka butuh waktu biar nggak di ganggu. Nanti biar cepat punya cucu," jawab Papanya Sava tersenyum.
"Ah, iya. Wah, senangnya!" pekik Mamanya Sava heboh.
Mereka tidak tahu kesulitan yang dialami anaknya. Rianti bertanya saat masih di jalan raya. Suara bising membuatnya bicara sangat keras.
"Kenapa kamu bohong sama mereka? Aku nggak jualan, kok!" tanya Rianti.
"Karena aku mau ajak kamu ke rumah pak satpam. Dari yang Rey bilang lokaisnya tidak jauh dari rumahku. Sebelum itu kita pulang dulu," Jawa Sava juga dengan suara keras.
Dahi Rianti berkerut. "Terus ayah? Nanti sendirian, dong? Nggak mau!"
"Aku minta kak Syam sama istrinya nemenin ayah di rumah. Nanti kita alasan mau pergi buat acara kantor gitu," jawab Sava.
Rianti berdecak. "Kamu bohong terus. Emang istrinya kak Syam juga tau masalah ini?"
"Kak Syam udah atur semuanya. Rianti, kita nggak bakal tau rencana pak satpam kalau nggak nemuin dia." bantah Sava.
"Iya juga, sih." lirih Rianti.
Saat mereka tiba di rumah, ayah Rianti belum pulang. Ternyata sedang berada di toko bangunan bersama kak Syam. Rianti segera pergi menyusul dan Sava ikut. Melihat Rianti yang terus merasa khawatir, Sava menjadi sendu.
Di rumah kak Syam, Rianti memeluk ayahnya. Justru membuat sang ayah penuh tanda tanya. Kak Syam segera menguasai suasana dan membuat Rianti pergi dengan Sava. Ayah Rianti di tahan agar tetap bersama kak Syam.
"Kenapa aku harus di sini? Aku mau pulang!" tanya ayah Rianti heran.
"Paman, mengertilah! Aku rindu denganmu! Kau tidak pemarah lagi dan mau melupakan aku? Teganya tidak pernah mengunjungiku!" jawab kak Syam pura-pura merajuk.
Ayah Rianti terkekeh. "Begitukah? Baiklah, aku menginap sehari," putusnya.
Kak Syam menepuk pundak ayahnya Rianti. "Nah, begitu dong!"
Sedangkan Rianti kembali diam di boncengan Sava. Menuju rumah pak satpam. Pukul lima sore yang penuh polusi. Jalan raya tidak ada habis-habisnya di penuhi kendaraan. Sava telah melewati gerbang masuk rumahnya. Dia celingukan kanan-kiri mencari alamat yang diarahkan Paman Rey. Rianti juga serius mencari.
Sedangkan Bibi Parwati dan Layla di sini juga menjalankan rencananya. Niat ingin memisahkan Sava dengan Rianti sejenak agar Layla bisa bicara dengan Sava cukup lama, tetapi mereka tidak menemukan Rianti dan Sava di rumahnya. Mereka bingung, bahkan ayahnya Rianti juga tidak ada.
"Loh, mereka ke mana?" Layla mengintip di celah tembok rumah.
"Layla, udah ayo pulang! Dilihatin tetangga aku yang malu. Besok aja, deh." bujuk Bibi Parwati yang tersenyum menyapa tetangga.
Layla berdecak dan menuruti Bibi Parwati. "Kemana Sava? Kalau Rianti pergi, ya, bagus, dong! Tapi kenapa Sava juga ikut pergi, sih!?" Layla bergumam dengan kesal.
Bibi Parwati hanya mendesah. "Kalau lama ngerayu Sava, lama juga aku dapat uang darimu!" gerutu Bibi Parwati.
Layla memutar bola matanya jengah. Mereka kembali dan berencana untuk besok pagi.
Layla tidak memikirkan bagaimana ayahnya yaitu Paman Rayhan tinggal sendirian. Dia hanya memikirkan Sava, Sava, dan Sava.
Kemudian Putra. Rumah tingkat dua yang sangat sunyi dan dingin. Dia bermain dengan foto Rianti dalam Handphone yang diambilnya diam-diam. Sang penakhluk yang dimintai pertolongan pak satpam tanpa bayaran.
"Entahlah, Rianti. Aku tertarik denganmu dan Sava. Aku bisa saja membunuh ayahmu saat ini juga, tapi... Sepertinya menghancurkan rumah tanggamu itu lebih menyenangkan. Kita lihat bagaimana usaha kalian menghentikanku. Pak satpam bodoh itu tidak akan berdaya meskipun kalian berhasil menemukannya." gumam Putra tersenyum miring.
Paras tampan nan dingin itu terlihat keji saat serius. Namun, dia belum menemukan apa yang membuat hatinya merasa tenang. Semua kebahagian yang dia dapat kala melakukan tugas yang menantang tidak berhasil mengubah hatinya. Apa yang Putra cari, dia sendiri tidak tahu.
Benar, Sava dan Rianti berhasil menemukan rumah pak satpam. Tidak ada orang, lampu redup dan senyap. Tidak ada satupun orang.
"Benar ini rumahnya, 'kan?" tanya Rianti.
"Kayaknya sih, iya," jawab Sava celingukan.
Mereka mengetuk pintu, tetapi tidak ada jawaban. Memberi salam juga tidak di balas. Sava memaksa membuka pintu dan masuk, rumah itu kosong. Rianti bingung, "Kenapa bisa kagak gini?"
Sava menggeleng, "Nggak tau. Apa mereka udah pindah rumah?"
Mereka bertanya pada tetangga, jawabannya tidak pindah. Itu memang rumah mantan satpamnya. Rianti dan Sava saling pandang, memikirkan hal yang sama yaitu sembunyi untuk menunggu pak satpam kembali.
Malam yang dingin, Rianti sibuk mengelus lengannya. Sembunyi di balik rumah tetangga. Sava melihat lengan Rianti. "Kamu kurus banget. Dingin, ya?" tanya Sava berbisik.
"Sstt, diam! Nanti kalau Pak satpam masuk kita bisa nggak tau!" balas Rianti ikut berbisik.
Sava menahan tawa. Dia melepas jaketnya dan menaruhnya di pundak Rianti, membuat Rianti menoleh.
"Pakai aja. Aku kasihan sama tulangmu," ucap Sava.
Rianti menganga. "Kasihan sama tulang? Aku kasihan sama otakmu! Kalau jaketnya aku pakai terus kamu pakai apa? Sana pakai balik!" Rianti menyerahkan jaket itu lagi.
Sava menerimanya bingung. "Kok nggak mau, sih? Aku baik, loh," memasang wajah polos.
"Udah aku nggak apa-apa. Lihatin aja rumahnya biar kita juga cepat pulang." suruh Rianti kembali menatap depan. "Entah gimana kak Syam jaga ayah. Dia pasti curiga terus nanyain yang enggak-enggak," sambung Rianti.
Sava hanya mendesah. "Perasaan kalau yang lain suka. Kenapa dia enggak?" gumam Sava sambil memakai jaketnya.
Tiba-tiba Rianti menepuk lengannya cepat. "Itu, tuh ada yang datang," tunjuk Rianti.
Sava ikut menatap rumah itu serius. Dia mengajak Rianti masuk perlahan. Saat lampu menyala, terlihat pak satpam yang menyalakan lampu. Dia menoleh ke belakang dan terkejut. Sava dan Rianti menatapnya tajam.
"Akhirnya aku menemukanmu, pembunuh!" seru Rianti.
Pak satpam sangat ketakutan. Dia hendak lari, tetapi Sava mencegahnya. Keringat dingin sudah keluar dan dia tidak bisa lari.
"Mau kemana pak satpam? Kau tidak rindu denganku?" tanya Sava tanpa ekspresi.
"A-aku.. Aku.. Tuan, lepaskan aku!" Pak satpam memohon seperti ingin menangis.
Rianti mencekal tangannya, Pak satpam kaget. "Mau kabur? Setelah ancaman bodohmu itu?" tanya Rianti.
Pak satpam menggeleng.
~~~
Pukul tujuh malam, Sava dan Rianti memenjarakan pak satpam. Paman Rey tau dan hanya diam. Rekannya sudah tertangkap. Namun, Rianti masih cemas. Sejak di rumah itu Sava menekan pak satpam dengan untaian pertanyaan tentang ancaman pembunuhan ayahnya Rianti. Semuanya sudah jelas, jika memang pak satpam yang mengirim surat itu. Karena dia bingung dengan dirinya sendiri yang takut. Takut jika Rianti membongkar dirinya dan di penjara. Membuatnya hilang akal untuk membunuh ayah Rianti.
Dia mengaku mengutus seseorang untuk melakukannya, tanpa bayaran. Sava pikir pak satpam sudah gila. Orang yang menerima suruhannya lebih gila lagi. Namun, sekarang pak satpam memang sudah tertangkap dengan mudah.
Perjalanan pulang, Sava membawa Rianti singgah di taman kota. Sedikit senyum Rianti yang Sava dapat. Sava tahu jika Rianti memikirkan orang suruhan pak satpam.
"Kamu pikir ada orang yang mau ngelakuin pembunuhan secara cuma-cuma?" tanya Rianti bingung.
"Emm, aku rasa ada. Karena yang dia cari bukan uang." jawab Sava semakin membuat Rianti gelisah.
"Huft, aku takut, Sava." lirih Rianti menunduk.
Duduk di taman kota melihat cahaya lampu yang terang. Bising kendaraan masih bisa di dengar. Kegundahan melanda mereka.
"Jangan takut. Nggak bakal terjadi apa-apa. Ada aku di sini," ucap Sava meneliti wajah Rianti.
Rianti kembali mendongak, "Ancaman kematian selalu menghampiriku, ya. Waktu itu kamu dan sekarang ayah." ucap Rianti tersenyum pada Sava.
Sava ikut tersenyum. "Coba bayangin kalau aku beneran sakit jantung. Harusnya aku ada di dalam tanah sekarang. Mungkin juga kamu nggak pernah bertemu ayahmu lagi saat di sekap Rey," kata Sava.
"Eh, jangan begitu! Aku susah payah membongkar kebenarannya. Kamu nggak bisa hilang gitu aja dari aku! Benar juga, sih, kalau waktu itu aku diam aja, pasti ayah juga nggak bakal baik lagi dan kamu mungkin tiada beneran karena obat itu," kata Rianti.
Sava terkekeh. "Rianti," panggilnya.
"Ck, apa?" decak Rianti menatap Sava malas.
Sava tergerak menaruh tangannya di kepala Rianti, membuat Rianti terbelalak. "Aku berjanji, sampai mati pun akan bersamamu, Istriku!" ujar Sava serius.
Rianti tersentak.