Hawa dingin menusuk tulang. Membeku menahan napas. Telapak tangan besar nan hangat itu masih di kepalanya. Beraninya mengucap janji sampai mati membuat Rianti mati gaya. Dia baru sadar saat Sava kembali terkekeh dan menarik tangannya.
"Kayak patung!" ejek Sava memukul hidung Rianti pelan.
Rianti mengerjap. "Eee... Emm, aku.. Tadi itu..." Rianti memutar pandangan ke segala arah.
Sava terus terkekeh. "Lucunya!" ejek Sava lagi.
Rianti menoleh. "Ish, kamu tuh ngomong mati mulu. Jangan gitu, ah!" karena tidak tahu ingin menjawab apa, Rianti jadi kesal.
"Heh? Kenapa marah? Itu bener tau, aku bakal sama kamu sampai aku mati." Sava mengulangi ucapannya lagi.
Rianti melengos bingung lagi. "Kamu nih!... Hah, tau lah!"
Sava tergelak. Dia menarik tangan Rianti dan menggenggamnya membuat Rianti menoleh lagi. Pandangan mereka bertemu.
"Rianti, jika dunia mengetahui ini... Aku berjanji di hadapan dunia dan Tuhan jika aku bersedia mati untukmu."
Rianti segera membekap mulut Sava. "Jangan bodoh! Ngomong apa sih dari tadi hidup, mati, janji...," ucapan Rianti terpotong oleh Sava.
"Ssttt, aku serius!" ucapnya lirih dengan mata menghunus tepat ke netra Rianti. Rianti tersentak dalam hati. Jantungnya berdegup lebih cepat saat Sava menarik tangannya lebih dekat. Perlahan Sava memajukan wajahnya tanpa berkedip.
"Eee, Sava," panggil Rianti tidak bisa bergerak karena Sava sangat dekat.
Semakin dekat hingga jarak tidak ada sejengkal. Pandangan Sava redup, napas Rianti tiba-tiba memburu. Sava berhenti. Rianti semakin di buat bingung. Tiba-tiba Sava mencium bibirnya membuat Rianti terbelalak. Dia melemah saat Sava melumat bibirnya. Napasnya tercekat. Gemuruh di dadanya semakin besar. Bahkan Rianti lupa kalau dia di tempat umum. Sava terbawa suasana. Dia membawa Rianti lebih dekat dan bermain dengan bibirnya. Atas bawah bergantian meracuni pikiran. Sava memeluk pinggang Rianti yang masih kaku tanpa membalas ciumannya. Decakan mulai terdengar. Sava hanya bisa mendengar napas Rianti yang turun-naik tanpa mendesah. Sava tahu jika Rianti menahan gejolak di hatinya.
Pertama kali Sava melumat bibir Rianti. Saat lidahnya ingin menerobos masuk, Rianti mendorong d**a Sava hingga terlepas dan mundur. Sava mendesah dan terengah. Memandang Rianti dengan kabut di matanya. Sedangkan Rianti memalingkan wajahnya. Memegang d**a kirinya yang masih berdegup kencang. Rianti tidak mengira jika Sava seberani itu.
Rianti kaget saat Sava menampar pipinya sendiri. "Sava!"
"Hah... Apa yang aku lakukan?"gumam Sava bingung.
Melihat Sava, Rianti jadi tidak enak hati. Dia ingin menyentuh pundak Sava, tetapi Sava menjauhkan diri. Rianti tersentak dan menarik tangannya lagi.
"Ekhm... Nggak apa-apa, kok. Cuma dikit doang, haha. Lagian juga kebawa suasana, ekhm." Rianti sok tersenyum.
Sava menatapnya. "Ma-maaf, aku khilaf."
Rianti mencebikkan bibirnya sambil mengibaskan tangan, "Hah, kayak kamu ngga pernah nyium aku aja. Udah, lah, haha."
Sava menekan salivanya susah payah, masih merasakan sisa bibir Rianti di kecapannya. Rianti sibuk memutar bola matanya tanpa melihat Sava.
"Tapi tadi lumayan... Aku udah kelewatan." kata Sava lalu menunduk.
Rianti menoleh. "Emm, udah terjadi, ya, udah. Lagian aku nggak apa-apa, kok. Kita nggak bakal dosa juga," ucap Rianti senyum.
'Padahal dalam hati, hmm... Rasanya jantung mau copot. Astaghfirullah, aku ciuman tadi?!' batin Rianti memekik.
Sava melirik Rianti. "Kalau gitu... Pulang, yuk! Apa mau makan dulu? Dari pagi belum makan," tawar Sava.
Rianti mencoba bersikap santai. "Aku nggak nafsu makan. Kalau kamu mau makan, aku temenin," jawabnya.
Sava menggeleng. "Yaudah, pulang?" tanyanya lagi.
Rianti mengangguk. Tidak ada yang memulai pembicaraan hingga sampai di rumah. Mereka kembali tinggal berdua malam-malam. Kali ini karena ayahnya bersama kak Syam. Suasana canggung. Rianti memilih pergi ke kamar mandi sedangkan Sava di kamar.
"Rianti, Rianti, Rianti... Barusan itu apa? Rasanya lembut banget. Jantungku masih berdebar. Bibir Sava serasa masih ada di sini,' batin Rianti memegang bibirnya bawahnya dan bersandar pintu kamar mandi.
Sedangkan Sava di kamar juga bingung. Duduk di tepi ranjang sambil meraup wajahnya. "Huft, Sava, tadi hilang kendali! Sial!" decaknya. "Rasanya... Ah, aku masih terbayang. Gimana kalau Rianti datang terus aku nggak bisa nahan? Dia pasti merasa kacau," sambungnya.
Terdengar suara gemericik air menandakan Rianti sedang mandi. Sava buru-buru pura-pura tidur agar tidak melihat Rianti yang habis mandi. Menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut sambil menutup mata kuat-kuat.
Rianti sudah selesai mandi. Aroma sabunnya menyeruak ke seluruh sudut kamar. Menggelitik penciuman Sava. Dia gelisah, ingin mengintip apa yang Rianti lakukan, tetapi diurungkan karena Rianti memanggilnya. Sava terkejut.
"Sava, mandi sana!" suruh Rianti sambil duduk di tepi ranjang. Sava kelagapan. Harum Rianti semakin kuat membuatnya tak karuan.
"Sava? Kamu tidur?" tanya Rianti bingung karena Sava hanya diam. Dia mendekat dan ingin menyibak selimut Sava, tetapi Sava membuka selimutnya terlebih dahulu dan langsung berdiri membuat Rianti terkejut.
"Enggak tidur, kok. Aku mau mandi!" jawab Sava tanpa melihat Rianti dan langsung keluar kamar.
Rianti menatap punggung Sava heran. "Ha? Kenapa dia? Jangan-jangan masuk angin!"
Sava menutup pintu kamar mandi dengan keras. Dia kesal karena dirinya gelisah. Otaknya hanya ada Rianti. Karena ciuman itu dia jadi ingin lebih. Sesuatu miliknya sudah keras hanya karena aroma sabun Rianti.
Dia berdecak kasar, "Sial! Biasanya aku nggak pernah begini. Kenapa hari ini.... Ah, sshh, aku nggak tahan."
Segera dia melepaskan semua pakaiannya. Telinganya berdengung dan pandangan kembali berkabut. Tidak sabar saat melepaskan celana. Miliknya itu tidak kuat untuk terus berada di dalam celana. Sava telanjang bulat. Segera dia menangkup miliknya yang tegang sambil meringis. Menutup matanya merasakan ngilu saat meremas pelan.
"Ahhh!" desah Sava terdengar hingga ke kamar.
Rianti panik. Dia langsung keluar kamar dan menggedor pintu kamar mandi. Sava kaget tidak karuan.
"Sava, kamu nggak apa-apa?" tanya Rianti khawatir.
Sava tidak bisa berhenti mendesis, "Eee, enggak apa-apa. Tadi cuma lidahku kegigit. Iya, lidah kegigit, hehe," jawab Sava dengan suara yang berbeda.
Rianti mengerutkan dahi. 'Lidah kegigit? Oh, mungkin lagi sikat gigi kali,' pikir Rianti.
"Kirain ada apa. Yaudah jangan lama-lama, nanti kedinginan masuk angin!" seru Rianti dan beranjak pergi.
"I-iya!" jawab Sava juga berseru.
"Aahh, sshh!" desah Sava lagi.
Sebisa mungkin dia menahan desahannya. Rianti yang bicara di depan pintu membuatnya bertambah tidak tahan. Dia baru selesai mandi setengah jam kemudian.
Di kamar dia langsung tidur menutupi wajahnya dengan bantal membuat Rianti heran.
"Kok, lama banget? Kamu masuk angin beneran, ya?" tanya Rianti ingin sambil menyentuh dahi Sava.
Sava terbelalak dan menyingkirkan tangan Rianti. "Nggak masuk angin. Aku mau tidur. Kamu juga tidur aja, udah malam," jawab Sava. Dia memunggungi Rianti.
Rianti ternganga. "Dia kenapa? Dasar aneh! Sava aneh! Huh!" seru Rianti ikut berbaring dan menarik selimut.
Sava mendesah lega karena Rianti tidur dengan cepat. Perlahan dia menghadap Rianti dengan tangan menyangga kepala. Senyumnya terukir.
"Aku sudah gila. Nafsu membuncah gara-gara kamu? Baru kali ini aku ingin menyentuhmu." gumam Sava.
Tangannya tergerak mengelus rambut Rianti pelan. Lalu, terlintas kata cinta. Dahinya berkerut. 'Apa aku mencintaimu? Apa cinta seperti ini? Aku sangat berani berjanji mengorbankan nyawa untukmu. Aku tidak peduli dengan diriku sendiri. Menurutku kamu itu penyelamatku Rianti. Jadi, apa ini keinginan atau cinta? Aku tidak tau,' batin Sava seolah-olah Rianti mengerti.
Tangannya ditarik kembali dan mengecup dahi Rianti sebentar. Kembali tidur tanpa memunggungi Rianti lagi.
Ternyata Rianti juga belum tidur. Dia hanya terpejam tidak bisa tidur. Mendengar gumaman Sava, merasakan sapuan tangan Sava di kepalanya. Rianti sudah menduganya.
'Kamu menginginkan aku ternyata. Bukankah ini terlalu cepat? Biar waktu yang menjawab, Sava,' batin Rianti.
Malam kegelisahan antara tiga orang. Rianti Sava, dan ayahnya. Di rumah kak Syam, ayah Rianti terus berpikir jika dia serasa di tahan. Namun, dia diam saja. Besok pagi sebelum berangkat bekerja akan pulang ke rumah.
~~~
Matahari sudah terbit. Handphone Sava berbunyi ada sebuah panggilan. Dengan malas Sava mengangkatnya.
"Halo? Siapa?" tanya Sava dengan suara serak baru bangun.
Seseorang di seberang sana memberi tahu ada hal penting di kantor. Sava harus segera berangkat.
"Hmm, baiklah, terima kasih." jawab Sava masih malas dan meletakkan handphone-nya begitu saja di meja.
Dia bangun dan pergi mandi. Semuanya sudah siap tinggal berangkat, tetapi ada yang kurang. Seketika Sava menepuk dahinya. "Rianti mana? Rianti hilang!" pekiknya panik.
Mencari Rianti ke sekitaran rumah. Semua pintu dia buka dan tidak menemukan Rianti. Ayahnya baru datang dan mengucap salam sampai tidak dihiraukan.
"Sava, kamu kenapa? Cari apa?" tanya ayahnya Rianti.
Sava menoleh. "Ayah? Yah, Rianti hilang! Siapa yang mau nyukik dia?!" Sava heboh.
"Sstt, dia lagi jualan! Tadi habis subuh ketemu dia di perempatan jalan." terang ayahnya sambil menggeleng dan melalu pergi ke kamarnya.
Sava melongo. "Ha? Jualan? Bubur kacang hijau?" Kok, nggak bilang?" menggaruk kepalanya bingung.
Dia pamit dan pergi ke kantor karena sudah terlambat. Berharap ketemu Rianti di jalan, sayangnya tidak. Pekerjaan sudah menunggunya, Sava membiarkan Rianti berdagang dan ayah mertuanya bekerja. Urusan pak satpam sudah selesai, hanya saja orang suruhannya yang belum menampakkan diri.
Sava tidak khawatir karena kak Syam selalu membantunya mengawasi ayah mertuanya. Kali ini yang Sava pikirkan hanya Rianti. Seakan terobsesi, tetapi dia tidak tahu namanya. Bekerja pun tidak fokus, ingin segera bertemu Rianti yang jualan bubur.
Rianti sendiri sedang menjaga gerobak di samping jalanan sekolah. Menunggu jam pulang sekolah anak-anak. Biasanya anak kecil suka bubur kacang hijau, pikirnya. Tadi subuh sudah habis. Rianti pulang dan membuat lagi dengan cepat. Siang ini kembali jualan.
Dia melamun, tentang Sava. "Kapan, ya, jam pulang sekolah? Biar ada yang beli terus aku nggak ngelamun lagi," gumamnya.
Sudah dua mangkuk bubur kacang hijau dia habiskan. Bayangan di taman kota semalam selalu muncul. Rianti hanya mengerjap, bibirnya mengerucut.
'Hehe, kasihan juga Sava. Kita nikah aja dua kali. Dia nggak dapat jatah,' batin Rianti.
"Ih, bayanginnya aja ngeri, apalagi ngalamin beneran?" gumamnya sambil bergidik.
Tiba-tiba seseorang datang membeli buburnya. Rianti terbelalak. "Bibi Parwati? Kok, di sini?" tanya Rianti.
"Anak konyol! Kau melihatku seperti melihat setan aja!" omel Bibi Parwati.
Rianti berdecak. "Bibi, bukan lihat setan, tapi hantu!" bantah Rianti.
Bibi Parwati melotot. "Sembarangan!"
Rianti nyengir. "Hehe, ada keperluan apa sih, Bi? Mau ke mana?" tanya Rianti baik-baik.
Bibi Parwati berdeham sebentar. "Aku mau beli bubur kamu, lah. Mau nyobain gimana rasanya," jawabnya sambil memutar bola matanya kemana-mana.
"Oh, mau beli. Makan sini apa bungkus?" tanya Rianti kemudian berdiri.
"Makan sini aja." Bibi Parwati duduk di kursi Rianti.
Rianti kaget. "Tumbenan, kenapa? Pasti ada maunya, nih!" Rianti terus terang jika curiga sambil membuatkan semangkuk bubur kacang hijau.
"Yah, kau mengenalku sekali," Bibi Parwati berbangga diri.
Rianti meliriknya. 'Ck, mau apa lagi nenek lampir ini? Bikin tambah pusing aja!' batin Rianti.
Memberikan mangkuk berisi bubur hangat itu pada matanya bosnya. Rianti mengambil satu kursi plastik lagi dan duduk di samping Bibi Parwati.
"Terima kasih." ucap Bibi Parwati menerima mangkuk bubur itu.
"Hmm, mau perlu apa?" tanya Rianti langsung dengan dahi mengkerut.
Bibi Parwati baru akan memakan buburnya, tida jadi dan menatap Rianti kesal. "Kau benar-benar tidak punya sopan santun, ya? Aku mau makan, bentar dulu, dong!" kesalnya.
"Hah, cerewet!" gumam Rianti sambil memalingkan wajahnya.
Bibi Parwati mendengarnya, tetapi menahan amarahnya. Dia memilih mencicipi buburnya dulu baru bicara.
"Hmm, lumayan enak. Ngomong-ngomong, aku ada kerjaan bagus untukmu. Dari pada dagang beginian." tawar Bibi Parwati sambil memakan buburnya.
Rianti menoleh. "Hah! Aku nggak tertarik sama tawaran, Bibi! Aku nggak suka uang!" tolak Rianti jelas.
Bibi Parwati sampai mendelik. "Ck, dengarkan dulu, anak konyol! Kalau kau tida mau uangnya tidak masalah, biar aku yang dapat uangnya, hehe. Kau hanya perlu membantuku," ucapnya.
Rianti berdecak. "Ck, bilang aja butuh bantuanku. Aku nggak mau!"
"Hmm, malam ini semua barang-barang dari pabrik datang ke cabang tokoku. Rencana mau aku buka malam ini. Jelas-jelas aku nggak bisa ngurusin dua toko sekaligus. Aku mau memberimu kesempatan buat jaga cabang toko tiap hari. Kalau nggak mau uangnya, ya nggak apa-apa. Aku yang untung, haha." terang Bibi Parwati sesekali menyendok buburnya.
Rianti mengerutkan dahi. "Kenapa aku?" tanyanya bingung.
"Karena kau tidak suka uang. Di tambah, semua karyawan yang kerja denganku hanya kau yang kelihatan baik dan jujur. Hmm, harusnya kau beruntung." jawab Bibi Parwati.
Rianti berdecak malas, "Cari aja orang lain." Rianti kembali melengos sambil mengibaskan tangannya.
Tiba-tiba Bibi Parwati menghadapnya dengan kesal. "Kau ini susah sekali di ajak kerja sama! Aku tidak percaya pada siapapun selain kau! Orang polos dan bodoh sepertimu wajib dimanfaatkan! Kenapa nggak mau?" omelnya.
Rianti mendelik. "Hahaha, Bibi, kau sangat jujur sekali. Memangnya aku bodoh sampai mau dimanfaatkan, ha!?" Rianti balas kesal.
"Ih, dasar payah! Itu memang kata-kataku untuk memujimu. Kau seperti tidak kenal aku aja!" Bibi Parwati geram. Dia makan bubur dengan sangat lahap.
Rianti menggeleng pelan. "Iya, aku paham, tapi aku nggak suka di puji," ucap Rianti.
"Terus apa yang kau suka?" Bibi Parwati bingung.
Rianti mengetuk dagunya berpikir. "Iya, ya? Apa yang aku suka? Aku juga nggak tau!" ujarnya.
Bibi Parwati menepuk pundak Rianti sampai Rianti hampir tersungkur. "Anak baik nggak boleh bodoh! Sudahlah, ikuti saja kemauanku. Daripada kau capek berjualan begini. Habis subuh, siang, terus sore. Melelahkan!" ujar Bibi Parwati.
"Huft, Bibi... Ini yang aku mau. Aku cari kesibukan bukan cari uang. Aku harap kau mengerti. Kalau aku menjaga tokomu, aku hanya diam di tempat. Kalau aku jualan bubur, aku bisa keliling dan berhenti sesuai yang aku mau. Mendingan, Bibi cari orang lain yang lebih tepat. Aku rasanya nggak semangat lagi. Satu-satunya penyemangat hidupku hanya ayah dan suamiku." terang Rianti dengan suara tenang dan senyuman.
Bibi Parwati mendengarnya menjadi tersentuh. 'Anak ini... Sepertinya tidak tertarik hal duniawi. Susah sekali membujuknya. Kalau begini, gimana caranya menjauhkan Rianti dan Sava? Rencana ingin mengunci Rianti di toko sampai berhari-hari agar Layla bisa cari muka dihadapan Sava kayaknya gagal. Harus cari cara lain,' pikirnya.
"Ekhm, jangan curhat! Aku lebih tau banyak tentangmu. Kalau kau sudah bosan dengan hidupmu yang membosankan, pasti kau akan butuh yang namanya bersenang-senang. Salah satunya uang. Kau bisa beli apapun dengan uang dan keingingan tercukupi. Hah, bisa saja suatu saat nanti, kau jadi sepertiku. Gila uang, karena penyesalan masa lalu yaitu bosan," balas Bibi Parwati.
Rianti justru tertawa. "Bibi, kau terlalu baik buat ceramah. Aku nggak peduli dan aku jamin nggak bakal berubah sepertimu. Aku bukan bosan, hanya saja nggak tau apa tujuan dan keinginanku. Kau benar... Aku memang udah berubah. Semenjak lulus SMA dan menikah," kata Rianti lagi.
Bibi Parwati diam sebentar. Memandang Rianti yang tiba-tiba melamun menatap jalanan. "Baiklah, tidak masalah. Kau membuang kesempatan. Ini uangnya. Hah, aku kenyang! Sampai jumpa di lain waktu, Rianti!" ujar Bibi Parwati membayar buburnya dan pergi.
Rianti hanya memandang kepergian mantan bosnya itu hingga tidak terlihat. Lalu, pandangannya mengarah pada uang dan mangkuk kosong Bibi Parwati. Dia tersenyum miris, "Tak kusangka kau mengatakan apa yang tidak pernah kau katakan, Bibi. Aku mengerti sekarang, kalau kau gila uang karena ingin memuaskan dirimu sendiri. Di masa lalu, pasti ada hal yang sangat mengganggumu sehingga merubahmu menjadi seperti sekarang."
Mengambil mangkuk kosong itu dan menaruhnya bersama mangkuk kotor yang lain. Menyimpan uang yang tidak seberapa banyak di laci gerobak. Kembali duduk dan menyangga kepala menatap jalanan. Gerbang sekolah masih belum terbuka. Rianti tetap menunggu sampai pembeli selanjutnya datang.
Bibi Parwati menuju cabang tokonya yang tidak jauh dari gerbang desa. Di sana sudah ada Layla yang menanti. Bibi Parwati terus memikirkan ucapan Rianti jika ayah dan suaminya yang menjadi penyemangat hidup Rianti. Sedangkan dia tidak punya siapapun.
'Apa yang terjadi denganku? Tidak mungkin terpengaruh sama ucapan gadis itu. Penyemangat dia bilang? Aku tidak punya penyemangat, jadi jangan kasihan, Parwati!' serunya dalam hati.
Namun, ekspresi wajahnya menunjukkan reaksi yang berbeda. Dia sangat terpengaruh dengan Rianti. Keluarga, harapan, kebahagian, semua itu seakan terlepas darinya. Dia hanya berbuat untuk keinginannya. Bibi Parwati mengelak jika dia kesepian, rindu kehangatan keluarga.