20. Penyesalan

2507 Kata
 Tidak sadar kakinya melewati cabang toko. Layla terheran, dia memanggil Bibi Parwati berkali-kali, tetapi tidak dihiraukan. Sampai akhirnya Layla yang mengejar dan membuat Bibi Parwati sadar. Mereka kembali ke cabang toko dan duduk di kursi depan.  "Ada apa denganmu? Jalan melamun sampai aku panggil nggak dengar? Eh, gimana? Rianti mau kerja di sini?" tanya Layla semangat.   Bibi Parwati mendesah dan memijit pelipisnya. "Hah, aku melamun nggak jelas. Anak itu susah di bujuk. Kita harus cari cara lain," jawabnya.   Layla berdecak. "Kalau begitu, kita culik aja dia. Pokoknya aku harus bisa kelihatan baik di depan Sava. Nanti kalau Rianti hilang, aku bisa bantu Sava nyari Rianti. Kita akan punya banyak waktu nanti. Terus, perlahan Sava pasti terpikat denganku, terus Rianti akan dilupakan, haha. Bibi, kita harus culik dia!"   Layla membayangkan saat dia bersama Sava dan menarik tangan Bibi Parwati semangat.   "Emm, mau nyulik kapan? Disembunyikan di mana? Asal jangan sakiti anak itu. Kasihan, dia sangat baik sebenarnya. Dulu, waktu ibunya meninggal, dia dimarahi terus sama ayahnya. Dia kerja di tempatku buat bayar sekolah, buat makan, ayahnya nggak ngasih nafkah. Terkadang, aku kasihan padanya. Untung ada Syam yang mau jadi kakak angkatnya. Selalu membantu Rianti jika dalam kesulitan." Bibi Parwati bercerita sambil mengenang masa lalu.  "Ck, emangnya aku pikirin? Yang penting sekarang, Sava harus jadi milikku. Nanti kau juga cepat dapat uang. Itu masa lalu, jangan terbawa perasaan, lah!" bujuk Layla.   "Kenapa aku bertemu orang aneh sepertimu? Gara-gara uang, nih, aku mau mengikuti rencanamu." decak Bibi Parwati. Layla hanya tersenyum, membuat Bibi Parwati melanjutkan ucapannya. "Oh, ya, bagaimana dengan ayahmu?"  Layla melepaskan tangan Bibi Parwati. "Ayahku itu sejak dibongkar sama Rianti dia jadi lebih baik dan nggak mau uang banyak lagi. Jadi, aku pergi saja mengejar Sava. Sebenarnya, dia sempat marah dan melarangku, tapi aku tetap pergi. Dia terlihat sedih, aku juga rindu dengannya, tapi tujuanku belum tercapai. Bukannya kalau aku berhasil, ayah juga ikut senang? Aku nggak mau mundur sebelum Sava jatuh ke tanganku!" seru Layla serius.   "Haha, kau keterlaluan!" tawa Bibi Parwati mengejek.  "Ya, itulah aku!" Layla justru berbangga diri.   'Rindu? Ayah? Sepertinya peranan keluarga memang penting. Ah, tidak tau!' batin Bibi Parwati bingung.   ~~~  Paman Rey kembali bingung saat pak satpam ikut masuk penjara. Rianti dan Sava seakan menyelesaikan masalahnya sendiri, tetapi masih ada bayangan seseorang yang belum jelas. Pastinya akan membunuh ayah Rianti nanti. Satu sel penjara, membuat dua rekan itu berbicara.   "Apa yang kau lakukan pada Tuan Sava?" tanya Paman Rey. Suaranya masih sama. Sangat menenangkan seakan dia masih menjadi orang kepercayaan.   "Aku tidak tau. Sayangnya ketakutanku menjadi kenyataan sekarang. Hah, biarkan aku menembus dosa di sini." jawab pak satpam menatap langit-langit penjara.   "Lalu, orang suruhanmu?" tanya Paman Rey lagi.  "Dia itu Daniel Putra Sara sang penakhluk. Kau tau dia, 'kan?" bisik pak satpam.  Paman Rey melotot. "Bocah gila itu? Suka tidak suka, dia tetap akan melakukan perintahmu. Apa yang kau minta?" tanya Paman Rey lagi.  Pak satpam mendesah. "Aku memintanya untuk membunuh ayah Rianti," jawabnya melengos.   Deg!  Paman Rey terkejut. "Kau sudah gila!"  "Iya, aku gila! Terbawa suasana tepat saat semuanya terbongkar. Kau masuk penjara dan aku menemui Putra. Aku gila waktu itu! Rencana kita gagal, Rey! Semuanya gagal karena Rianti. Aku... Yang kurasakan sekarang sangat berbeda dengan waktu itu. Saat ini hanya penuh rasa penyesalan." terang pak satpam.   Paman Rey meraup wajahnya gusar. "Huft, kau menanggung rasa sakit yang sama. Bedanya, Ibunya Rianti kita lenyapkan di tangan kita dengan kecelakaan, kemudian ayahnya Rianti, cepat atau lambat akan terbunuh di tangan Putra," katanya.   "Kau sudah berubah, Rey? Kau tidak tertarik dengan harta lagi?" tanya pak satpam.   Paman Rey mendesah panjang. "Apa yang kuharapkan, gadis itu seakan menusuk pikiranku. Bertahun-tahun aku melayani keluarga Tuan Sava, dengan bodohnya aku ingin menguasai perusahaan sampai melibatkan banyak hal. Sekarang, aku dalam jeruji besi. Keberanian Rianti membuatku sadar kalau semua itu bukanlah apa-apa. Dia ingin menyelamatkan Tuan Sava, tetapi kita merusak hatinya dengan kebenaran jika kita membunuh ibunya. Apa lagi yang aku inginkan? Aku jadi tidak tertarik pada harta," jawab Paman Rey sangat lemah.  Pak satpam menunduk. "Aku... Tidak tau arah hidupku. Semua ini... Karena kekayaan dan Rianti melakukan semua itu untuk Tuan Sava," gumam pak satpam.   "Kau benar. Entah bagaimana perasaan gadis itu saat melihat ayahnya terbunuh." Paman Rey menggeleng kecil.   "Ini salahku!" lirih pak satpam.  Penyesalan selalu terjadi untuk orang-orang yang masih mempunyai hati. Pikiran yang tercemar bisa menjadi jernih. Namun, semua itu tidak akan kembali seperti semula. Nasi sudah menjadi bubur. Layaknya bubur yang Rianti aduk malam ini.  Ucapan Bibi Parwati tadi siang membuat Rianti sadar, jika semua itu karena sebab dan akibat. Pikirannya menjadi melayang ke mana-mana. Dia sempat memikirkan Paman Rey dan pak satpam. Melihat Paman Rey yang menyuruhnya menjaga Sava saat di penjara, membuatnya berpikir jika masih ada rasa yang tidak bisa diutarakan.   'Mungkinkah Paman Rey menyesal?' pikir Rianti.   Kala dia dan Sava membawa pak satpam seperti tahanan ke penjara, dia juga sadar, langkah pak satpam yang sangat pasrah. Dia bahkan terang-terangan memberi tahu tentang rencana pembunuhan ayahnya. Rianti pikir jika pak satpam sudah menyerah.   'Siapa orang suruhan pak satpam?' pikir Rianti bertanya-tanya.   Asap panas mengepul dari panci. Tangannya tidak merasa pegal ataupun panas karena mengaduk. Memang sangat sulit untuk terlepas dari bayangan masa lalu. Apalagi yang sangat menyakitkan hati. Kisah pilu saat dirinya tinggal berdua dengan sang ayah juga berputar di otaknya. Tidak sadar Rianti meneteskan air mata.  Tanpa uang, tanpa kasih sayang, tanpa perhatian, bicara pun jarang jika bukan karena marah-marah. Pukulan dan tamparan keras seakan mengecap di seluruh tubuhnya. Terakhir kali dia ditampar ayahnya saat masuk ke rumah Sava untuk menikah.   Semuanya terbayar saat masalah sudah selesai. Rianti menggeleng kuat. Dia tidak bisa membiarkan ayahnya dalam masalah. Ancaman orang suruhan pak satpam masih menghantuinya.   Rianti menghapus air matanya kasar. Mengingat senyum sang ayah yang dia lihat belakangan ini membuatnya ikut tersenyum.   "Aku nggak boleh biarkan ini terjadi. Besok, aku bakal jualan di tempat ayah kerja aja. Biar bisa jagain ayah," gumam Rianti penuh tekad.  Dia lanjut membuat bubur kacang hijau. Pukul tujuh malam, Rianti sudah siap mendorong gerobaknya untuk berkeliling. Ayahnya istirahat dan Sava memandang Rianti yang sibuk berkemas.  "Kamu kok nggak bilang kalau jualan lagi? Tadi pagi aku panik nyariin kamu tau nggak!?" katanya sambil melipat tangan di d**a.   "Hmm, kamu nyenyak banget kalau tidur. Mana tega aku ganggu? Lagian terserah aku dong mau jualan apa enggak, wekk!" Rianti menjulurkan lidahnya dan kembali berbenah.   Sava ternganga. "Wah, berani ngejek, ya? Kalau gitu aku mau ikut jualan!" putus Sava mendekati Rianti.   Rianti menoleh. "Heh, nggak bisa! Kamu di rumah aja nemenin ayah!" tolak Rianti.   "Kok, gitu?" Sava heran.  "Kemaren udah ninggalin ayah gara-gara kita nyari kebenaran pak satpam. Sekarang, ayah harus ada yang jaga. Kamu di rumah aja, ya. Lagian pasti juga capek, 'kan, habis pulang kerja." jelas Rianti kembali menata barang di gerobak.  Sava mendesah sambil berpikir. "Oke kalau gitu. Aku bingung, kenapa daganganmu laris banget? Pagi jualan, siang jualan, sekarang malam jualan lagi. Kamu pakai mantra apa emang?" Sava curiga.   Rianti menoleh sambil nyengir, "Mantra pengikat hati! Hehe, ya itu berarti bubur buatanku enak! Semua orang pada suka, ya, bagus! Gimana, sih? Udah siap, aku mau berangkat dulu." Rianti menarik tangan Sava dan mencium punggung tangan Sava berpamitan. Sava justru kaget dan hanya diam.  "Assalamualaikum!" seru Rianti setelah melepaskan tangan Sava dan pamit pergi.   "Waalaikumsalam. Tanganku dicium. Kenapa nggak bibirku aja yang dicium?" racau Sava masih mematung.   Tidak sadar jika Rianti sudah pergi. Dia menggeleng sadar mengusir pikirannya yang kembali aneh tentang Rianti. Dia segera mengambil handphone-nya di saku dan memanggil kak Syam.  "Halo, Kak? Rianti jualan malam ini. Aku harus sama ayah. Tolongin buat jaga Rianti, ya? Aku khawatir sama dia," ucap Sava.   Kak Syam menyetujui permintaan Sava. Kini Sava bisa lega. Dia kembali masuk rumah, bolak-balik menengok ayah mertuanya.   Rianti sudah capek keliling desa. Kak Syam juga lelah mengikutinya, meskipun sambil bermain handphone. Rianti memilih keluar dari desa dan berjualan di samping gapura. Ramai kendaraan memeriahkan suasana. Hawa dingin menyeruak, buburnya juga sudah tidak hangat lagi. Rianti mendesah dengan senyum dan duduk di samping gerobaknya.   "Wah, jalan raya emang selalu ramai. Kalau malam begini lumayan indah soalnya banyak lampu. Kalau siang? Polusi di mana-mana." gumamnya dengan pandangan mengikuti setiap motor yang lewat.   Kak Syam hampir keluar dari gerbang desa. Dia sembunyi di balik gapura mengintip Rianti. "Hah, anak itu emang niat nyiksa diri apa gimana? Di sini dingin banget, dia malah senyum-senyum lihatin motor." gumam kak Syam sambil mengelus lengannya yang terbalut pakaian panjang.   Satu pelanggan datang dan Rianti melayaninya. Melihat Rianti berjualan sejak tadi membuat senyum kak Syam terukir.   'Rianti, dia udah besar. Usianya belum genap dua puluh tahun. Dulu, ingin banget ngangkat dia jadi anak, sayangnya dia nggak mau dan tetap milik ayahnya meski jahat. Andai aja aku punya anak, pasti dia juga baik kayak Rianti. Waktu dan takdir emang udah ditentukan Sang Kuasa. Hah, aku cuma bisa jaga dia sebagai kakak sekarang,' batin kak Syam.   Pelanggan itu pergi dan Rianti kembali duduk. Tidak lama kemudian datang lagi satu pelanggan dengan pakaian serba hitam, kak Syam mengerutkan dahi. "Kayak pernah lihat postur tubuh begitu?" gumamnya.  Dia melihat lagi dengan teliti. Sedangkan Rianti kembali berdiri dan bertanya pada pelanggan itu.  "Mau beli bubur kacang hijau, ya?" tanya Rianti sambil senyum.   "Mau menemanimu aja boleh?" jawab orang itu sekaligus bertanya. Mendongakkan wajah dengan senyum menawan. Seketika Rianti terbelalak. "Putra? Kau ada di sini? Kok, bisa?" bingung Rianti.   "Haha, aku jalan-jalan. Bosan di rumah. Nggak taunya sampai sini." ujarnya basa-basi sambil melirik sana-sini.  Rianti tertawa renyah. Kak Syam melotot di belakangnya. "Anak itu masih menemui Rianti. Dia misterius, Rianti nggak boleh dekat-dekat sama dia!" desisnya dan ingin melangkah menghampiri Rianti, tetapi tertahan. "Jangan dulu! Lihat dulu apa yang mereka lakukan," sambungnya. Serius mengamati Rianti dan Putra tanpa berkedip.   "Eh, duduk sini. Emang mau nemenin aku? Nggak apa-apa, nih?" tanya Rianti mempersilahkan Putra duduk.   "Nggak masalah, kok. Lagian aku seneng juga ada temen." jawab Putra sambil duduk di kursi itu.   Rianti mengambil kursi lagi dan duduk di sebelah Putra. "Eee, hehe. Ke sini naik apa?" tanya Rianti basa-basi.   "Naik motor," jawab Putra singkat.   'Aduh, senyumnya... Kenapa dia senyum terus? Menawan banget!' batin Rianti.   "Kenapa lihatin aku begitu?" tanya Putra heran.  Rianti mengerjap. "Ha? Ah, enggak, kok. Cuma bingung aja, kenapa kau terus tersenyum. Murah senyum, ya?" tanya Rianti bodoh.  Putra terkekeh. "Aku emang begini. Terserah kau anggap kayak gimana," jelasnya. Rianti hanya mengangguk. Putra melihat gerobak Rianti. "Aku nggak nyangka kalau istrinya anak pemilik perusahaan besar jualan bubur kacang hijau. Aku juga masih heran kenapa kau tinggal di desa," kata Putra tanpa sungkan.  "Apa? Emangnya kenapa kalau aku jualan? Biarpun aku istrinya orang terpandang, aku ya tetap aku. Kalau aku mau jualan, ya aku jualan. Mau tinggal di desa, ya aku tinggal di desa," jawab Rianti enteng.  Putra mengangguk-angguk. "Lalu, Sava?"   Rianti menghela napas panjang dan menghadap jalan raya. "Dia ikut denganku. Haha, orang itu lucu!" jawab Rianti asal.  Putra mendelik. "Apanya yang lucu? Lucu mana sama aku?" tanya Putra tiba-tiba sedikit mendekat.   Rianti tahu jika Putra menggodanya bercanda. Dia mendorong pundak Putra hingga Putra terkekeh sambil menjauh. "Mana bisa dibandingkan? Sava itu suamiku, kamu temanku," jawab Rianti membuat bingung.   "Hmm, menikah muda itu enak nggak? Aku jadi penasaran," Putra sok berpikir.  "Emm, enaknya karena kita punya teman hidup, hahaha." tawa Rianti garing.   Putra ikut tertawa. "Eh, kau tidak mau membuatkanku bubur? Pasti aku bayar nanti," goda Putra.   Seketika Rianti berdiri. "Oh, iya, sampai lupa. Aduh, maaf, ya, hehe. Bentar aku buatin dulu, tapi ini udah agak dingin. Aku malas manasin lagi," kata Rianti jujur sambil membuat semangkuk bubur.  Putra hanya tersenyum melihatnya. Di belakang gapura, Kak Syam sangat tidak suka dengan Putra. Kak Syam tidak sabar ingin membawa Rianti kembali dan memberi peringatan pada Putra, tetapi itu akan membuat Rianti kecewa nanti.   "Nih, semangkuk bubur kacang hijau yang dingin, haha, jadi malu." kata Rianti sambil memberikan mangkuk itu pada Putra. Duduk lagi sangat senang teman barunya datang. Dia lupa peringatan kak Syam dan Sava untuk menjauhi Putra.   "Wah, kayaknya enak, nih. Aku nggak pernah makan di pinggir jalan bareng seseorang. Baru kau," ucap Putra, menoleh menatap Rianti.   Rianti tersentak. "Ha? Masa', sih?" tanyanya basa-basi.   "Iya, ngapain bohong?" Putra mengangguk sambil memakan buburnya.   "Nggak mungkin, lah. Pasti temanmu banyak. Makan pun nggak di pinggir jalan juga, 'kan?" tanya Rianti.   Putra menggeleng. "Aku nggak punya teman," jawabnya membuat Rianti bingung. "Kerja bagus, rumah bagus, penampilan bagus, semuanya bagus. Sayangnya, aku sendiri. Hah, dunia ini permainan sekali," sambungnya.  Pandangan Putra ke jalan raya. Rianti bisa melihat pantulan cahaya lampu di mata Putra. Teman barunya itu melamun.   'Sendiri? Apa dia nggak punya keluarga?' batin Rianti.   "Banyak yang hilang, banyak yang dikorbankan, semua itu meninggalkan luka yang sangat dalam. Aku menggenggam semuanya. Kau mengerti maksudku?" tanya Putra kembali menatap Rianti.   Dalam hati Rianti sangat terkejut. Sorotan hangat yang selalu Sava berikan untuknya kini ada di mata Putra. Rianti diam tidak menjawab.  'Kenapa dia curhat?' batin Rianti.   "Kau... Haha, jangan memandangku seperti itu. Jika suamimu melihatnya pasti akan tidak suka." kembali memakan buburnya dan melihat lalu-lalang kendaraan.   Rianti mengerjap. "Sembarangan! Kau yang menatapku duluan!" elak Rianti.   "Hmm, gimana rumah tanggamu?" tanya Putra tanpa menoleh.  "Kau banyak tanya, ya!?" sewot Rianti bercanda.   "Haha, nggak niat buat punya anak?" tanya Putra lagi.  Rianti melotot. "Eh, itu masih jauh, kali! Kita masih muda, masih anak-anak, gimana mau punya anak?"   "Yah, siapa tau aja," ucap Putra.   Hening di antara mereka. Hanya suara kendaraan yang berisik. Hingga bubur Putra tandas tanpa sisa. Dia kembali bertanya.  "Biar punya teman beneran, nikah aja kali, ya?" celoteh Putra.   "Eh?" hanya itu jawaban Rianti.   Putra menoleh dengan senyum manis. "Sama kamu!" sambungnya.   Rianti melotot, begitu juga dengan kak Syam. Tanpa pikir lagi, Kak Syam keluar dari gerbang desa menghampiri Rianti membuat dua orang itu kaget.   "Anak aneh! Baru kenal ngajak nikah! Rianti udah jadi istri orang! Mendingan pergi dan jangan dekati Rianti lagi! Ayo Rianti!"   Kak Syam kesal menunjuk wajah Putra dan menarik tangan Rianti berdiri. Putra hanya memandangnya polos, Rianti bingung.   "Loh, Kakak? Kok, ada di sini? Putra tadi... Tadi ngomong sembarangan aja! Bercanda doang dia!" menata kak Syam dan Putra bergantian.   "Nih anak nggak beres, Rianti. Putra, aku sarankan bergaul sama banyak orang, biar nggak gangguin Rianti lagi!" ujar kak Syam masih sewot.   Rianti menggaruk kepalanya. "Jadi begini, ya? Ini kak Syam ngapain di sini? Aku bingung!" gumamnya.   Tiba-tiba kak Syam mendorong gerobak Rianti dan menarik tangan Rianti lagi. "Udah ayo pergi! Jualan besok lagi!" serunya.   "Eh?" Rianti menurut meskipun ingin menyela.   Namun, baru maju selangkah kak Syam berhenti karena Putra menepuk pundaknya. "Jaga Rianti baik-baik. Imbasnya akan lebih besar nanti, Syam!" desis Putra berbisik tepat di telinga kak Syam.   Seketika kak Syam melotot mengerti niat Putra. Dia menoleh, tetapi Putra sudah berpindah di sisi Rianti. Dia memberikan uang untuk buburnya.   "Ini uangnya. Rasanya enak, lain kali ajak aku jualan, ya! Aku pergi dulu, Rianti! Selamat malam!" ujarnya penuh senyum dan pergi sambil melambaikan tangan.  Rianti juga melambaikan tangan. "Selamat malam juga! Hati-hati di jalan!" teriak Rianti senang.   Kak Syam menarik tangannya. "Eh, sudah! Ayo pulang!"   Dengan wajah cemberut kak Syam memaksa Rianti. Rianti hanya berdecak pasrah. Mereka sudah kembali masuk ke desa. Penerangan redup tidak seperti jalan raya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN