21. Rencana

2535 Kata
 Rianti masih berpikir tentang Putra yang juga tiba-tiba ada di sekitar jalan desanya. Lalu, curhatan Putra yang sangat terbuka padanya tanpa rasa sungkan. Rianti menatap Kak Syam tanpa berhenti berjalan. Penasaran yang sama karena kakaknya itu tiba-tiba muncul setelah Putra bercanda mengajaknya menikah.  "Kakak ngikutin aku, ya? Ngaku!" tuduh Rianti.   "Hah, kepedean! Aku cuma jalan-jalan, eh, nggak taunya ketemu kamu. Di rumah kakak iparmu berisik banget!" elak kak Syam sambil terus mendorong gerobak Rianti.   Rianti tidak percaya. "Hmm, bau-bau kebohongan, nih!"   "Ck, kalau nggak percaya tanya aja kakak iparmu. Suaranya berisik banget!" Kak Syam masih mengelak.  "Eh, Putra itu aneh dan nggak jelas. Jangan dekat-dekat sama dia! Masa ngajak nikah? Anak muda sekarang otaknya udah nggak waras apa, ya?" sambung kak Syam.   "Iya juga, ya. Dia curhat sama ngomongnya ngelantur, tapi aku rasa, Putra itu cuma pengen punya teman yang benar-benar teman. Dia kesepian kayaknya. Ucapannya juga cuma bercanda, kali! Kakak jangan sewot gitu, dong!" ujar Rianti menatap sekeliling yang sepi.   Kak Syam terus menyuruh Rianti berhenti dekat dengan Putra. Dia selalu menjelekkan Putra. Pikiran kak Syam sudah terlampau jauh karena bisikan Putra. Dia sangat yakin jika Putra Akan melakukan hal buruk pada Rianti.   Kak Syam sampai mengantar Rianti pulang. Membuat Sava keluar penasaran. Sedangkan Rianti masuk rumah begitu saja.  "Kenapa dia? Kakak apain?" tanya Sava melirik pintu rumah.  Kak Syam menengok kanan-kiri memastikan tidak ada orang. Dia menyuruh Sava mendekat. Sava bingung, tetapi menurut. Kak Syam berbisik sangat serius.   "Putra nemuin Rianti lagi. Di pinggir jalan raya samping gapura desa...," ucapan kak Syam berlanjut membicarakan peringatan Putra.   Sava langsung mengerti. "Kak, makasih udah jagain Rianti. Yang namanya Putra itu harus diwaspadai!" ujar Sava.   Kak Syam mengangguk. "Udah malam. Aku balik dulu!" katanya sambil menepuk pundak Sava.   Sava mengangguk senyum. Masih melihat bayangan kak Syam yang pergi dia berpikir tentang Putra.   'Ngomong sembarangan! Beraninya deketin Rianti, pakai ngajak nikah lagi! Maksudnya apa pakai imbasnya akan lebih besar? Jangan bilang dia ancaman ayah? Terus mengancam Rianti?' pikir Sava.  Menghela napas panjang, tangan di belakang, menghirup udara desa yang tidak asing lagi. Belum terlalu malam baginya. Tidak ingin tidur apalagi diam di rumah. Tidak sengaja matanya melihat gerobak Rianti. Peralatan yang masih ada di gerobak semuanya kotor, Rianti sengaja meninggalkannya. Sava terkekeh dan menghampiri gerobak itu.  Masih ada sisa bubur dingin. Sava membawa semua peralatan itu dan membawanya ke rumah. Kedua tangannya penuh sampai tidak melihat jalan karena takut barang-barangnya jatuh. Sampai di dapur dia terkejut. Untung saja tidak menjatuhkan apa yang dia bawa.  "Astagfirullah, Rianti! Ngagetin aja!" desis Sava karena takut ayahnya terbangun.   Rianti memasang ekspresi tanpa minat pada Sava. Dia sendekap di depan kompor seakan sengaja menunggu Sava.  "Hmm, bagus! Taruh semua ke tempat cuci piring!" Rianti melirik tempat cucian piring kotor.   Sava bingung. "Eee, emang mau di taruh sana," jawabnya santai.  Rianti mengawasi Sava saat melewati dirinya. Sava semakin bingung, dia menelan ludahnya susah payah.   'Kenapa dia lihatin begitu? Nggak beres, nih!" batin Sava sambil menaruh barang yang dia bawa.  Sava kembali kaget saat berbalik karena Rianti tepat di hadapannya.   "Kamu, 'kan yang nyuruh kak Syam ngikutin aku? Jawab!" tuduh Rianti menunjuk wajah Sava.  Sava mendelik. "Eh, asal nuduh aja!" bola matanya mengarah ke segala arah.  Rianti mendesah. "Huft, Sava, yang di jagain itu ayah bukan aku! Aku bisa jaga diri sendiri! Orang lagi jualan malah diikutin, aneh!" gerutunya sambil melipat tangan di d**a.   Sava tersenyum. "Oh, ya? Bisa jaga diri sendiri? Kalau gitu ngapain biarin Putra teman baru kamu ngomong ngelantur? Andai aja kak Syam nggak ngajak kamu balik, kamu mau jawab apa? Mau di ajak nikah terus ninggalin aku, gitu?" Sava membalik ucapan Rianti.   Rianti ternganga. "Kok, malah gitu? Nah, bener, 'kan kamu yang minta kak Syam? Hah, nggak usah ngawur, deh!"   Bukannya sakit hati, Rianti justru kesal.   "Iya, nggak ada salahnya, kali!" bantah Sava.   "Nggak tau kenapa aku kesel sama kamu! Cuciin itu sekarang juga! Aku nyuruh bukan minta tolong!" seru Rianti menunjuk cucian kotor dan melengos pergi.   Kini Sava yang ternganga. "Apa!? Sejak kapan dia nyuruh aku? Gimana bisa kesal kalau nggak tau alasannya coba? Rianti udah aneh!" gerutunya.   Sava pasrah mencuci peralatan kotor itu dengan bibir mengerucut. Sedangkan Rianti di kamarnya mondar-mandir berpikir tentang Putra.   'Kenapa aku harus jauhin Putra? Baru juga kenal, tapi kalau Sava sama kak Syam nggak suka terus suruh aku jauhin Putra, berarti emang ada apa-apanya,' pikirnya.   Begitu terus sampai Sava datang dia baru berhenti. Menarik tangan Sava untuk duduk di tepi ranjang setelah menutup pintu. Sava bingung lagi.   "Apa lagi?" tanya Sava sabar.   "Heh, bukan apa-apa! Cuma mau mastiin doang. Jawab yang bener, ya! Kamu sama kak Syam tau siapa Putra, 'kan? Dia ada niat buruk, ya?" tanya Rianti mirip berbisik.   Sava mendelik. "Kenapa nanya gitu? Aku cuma nggak suka aja sama dia!"   "Bohong lagi. Beneran aku nanya, kalau emang Putra jahat, aku jauhin dia," kata Rianti.   "Kalau dia nggak jahat, nggak bakal jauhin dia begitu?" sindir Sava.  Rianti meringis. Sava berdecak dan memilih berbaring. "Capek! Mau tidur!" ujar Sava menutup mata.  Rianti cemberut. Dia ikut Sava bersandar kepala ranjang. "Hehe, ngambek, ya?" tanya Rianti sengaja.   Sava hanya diam. Rianti membelakakkan mata Sava membuat Sava bangun dan menjauhkan tangan Rianti kesal. "Kamu apa-apaan, sih!? Sewot Sava.  "Lagian main tidur aja. Pertanyaanku belum kamu jawab, Tuan Sava!" ujar Rianti.   "Jangan panggil aku Tuan lagi! Jadi ingat kalau aku lagi nangis meratapi nasib. Nggak keren!" Sava menunjuk wajah Rianti.   Rianti menarik telunjuk Sava dan menggenggamnya membuat Sava mendelik.   "Kalau gitu jawab pertanyaanku. Biar nanti aku selidiki siapa Putra. Sejak dia jadi temanku, nggak ada yang mencurigakan menurutku." kata Rianti sambil menggeleng pelan.  Sava mengerutkan dahi. 'Itu yang akan kulakukan sekarang, Rianti. Untuk itu kamu harus tidur dulu,' batin Sava.  "Ck, lepasin aku! Kamu pikir aja sendiri! Pokoknya aku nggak suka sama Putra! Dia ganteng, nanti kamu tergoda, lagi!" elak Sava sambil menarik telunjuknya.   "Eh, apa? Kamu cemburu, ya? Gantengan juga kamu. Dia ganteng, sih! Keren, murah senyum, dan...," ucapan Rianti terpotong oleh Sava. "Hmm, lanjutkan!" kata Sava membuat Rianti terkekeh.   "Udah, ah! Selamat malam, Sava!" ujar Rianti mematikan lampu dan berbaring.   Selang beberapa menit, Sava membuka matanya. Memastikan Rianti sudah tidur nyenyak, dia mengambil jaketnya dan keluar rumah. Motor besar miliknya dituntun hingga jauh dari rumah. Kemudian dia pergi menyusuri jalan raya.   Siapa, di mana, dan apa tujuan Putra, kini Sava mencarinya. Satu pun petunjuk tidak dia dapatkan. Di tengah bisingnya jalan raya, dia kebingungan. Hanya nama panggilan yang dia tau. Bahkan wajahnya saja Sava tidak tau.   'Orang itu berani mengganggu Rianti. Aku tidak bisa tinggal diam. Dia bahkan mengancam kak Syam. Malam ini juga aku harus bertemu dengannya!' tekad Sava dalam hati.  Sayangnya hingga satu jam Sava tidak ada petunjuk. Dia berhenti di pinggir jalan seperti orang tak tahu arah. Sava mencoba mengingat sesuatu. Entah kenapa pikirannya terlintas kejadian di masjid waktu itu. Seseorang yang terus bertanya tentang dirinya dan Rianti. Bertepatan dengannya yang bertemu Layla yang berdebat dengan Rianti.   'Kenapa yang aku ingat malah itu?' pikir Sava.   Mengingat lagi lebih jelas. Wajah orang itu kini terselip di benaknya. Sava tahu, tetapi tidak bisa menyimpulkan jika orang itu adalah Putra. Menurutnya tidak masuk akal.   "Ck, biar lebih jelas, mendingan besok aku kembali ke penjara. Nanya sama pak satpam siapa orang suruhannya. Kalau orang lain, berarti Putra bukan ancaman ayah, tetapi iseng sama Rianti," gumam Sava.   Dia mendesah bodoh dan kembali ke desa. Namun, di tengah jalan dia bertemu Layla yang sedang jalan sendirian. Menunduk, kakinya menendang batu kerikil kecil dengan lemas. Sava heran, dia ingin menghampiri, tetapi egonya bilang untuk pergi. Sayangnya rasa penasaran Sava tinggi. Sava menghentikan motornya tepat di samping Layla. Layla mengernyit silau, kaget melihat Sava ada di sampingnya.   "Sava?" tanya Layla.   Sava memasang wajah datar. "Kau Layla, 'kan? Kenapa masih di sekitar sini? Mana Paman Rayhan?" tanya Sava menanyakan ayah Layla.   Layla sumringah. "Kau datang sengaja untukku?"   Bukannya menjawab justru bertanya. Sava mengerutkan dahi. "Lupakan!" ujar Sava cuek dan menghidupkan lagi motornya.   "Eh, tunggu, Sava!" Layla mencegah.   Sava menoleh. "Bisakah kita bicara? Sebentar aja!" pinta Layla dengan wajah sedih.   Sava menatap Layla dengan pandangan menelisik. Sempat berpikir jika Layla ada maunya, tetapi tidak tega melihat Layla sedih. Dia pikir Layla sendirian karena desanya cukup jauh. Tidak mungkin jika Paman Rayhan pindah rumah ke daerah sekitar desanya Rianti.   Sava mengangguk membuat Layla senang. Mereka pergi ke salah satu kursi panjang di trotoar. Sava sangat jaga jarak dan tidak tersentuh. Tidak ada senyum yang dia tampakkan. Layla menatapnya antara berani dan takut. Sedikit rasa malu yang dia punya, memberanikan diri untuk memulai pembicaraan setelah hening beberapa saat.  "Emm, kok, bisa ada di jalan malam-malam? Nyari apa?" tanya Layla melirik Sava.  "Bukan urusanmu!" jawab Sava cuek.   Layla menunduk. "Maafkan aku, Sava. Kalau lancang terang-terangan mencintaimu. Tapi ini bukan salahku. Salahkan saja hatiku kenapa milih kau," kata Layla.  Sava meliriknya. 'Gadis gila!' makinya dalam hati.  Karena Sava tidak menjawab, Layla kembali bicara. "Aku ke sini untukmu. Ayah aku tinggal sendirian dan sekarang aku berusaha menjauhkanmu dengan Rianti. Karena aku pikir kalian nggak cocok. Bukannya kalian nikah terpaksa, 'kan? Huft, tapi Rianti terus menolakku. Dia menganggap ucapanku bercanda," Layla terus terang.   Sava terkejut. "Kau sudah gila, ya? Dengan mudahnya ngaku begini tanpa takut?" heran Sava menoleh.   "Karena aku menyukaimu! Aku tidak punya malu rasanya!" jujur Layla.   Sava hanya diam. Dia menggeleng pelan karena keberanian Layla dalam mengungkapkan perasaannya.   "Aku tau kalian nikah dua kali. Aku akan terus berjuang buat dapatin hatimu. Aku sudah sejauh ini untuk pergi dari rumah. Sampai sekarang belum tau apa yang mau aku lakukan. Aku rasa, dengan bicara jujur denganmu, kau bisa mengerti aku," ucapnya dengan wajah polos.  Sava berdecak kembali menatap jalan raya. "Kau benar-benar hilang akal, Layla! Kau mau mengganggu rumah tanggaku? Apa kurang cukup uang yang Rey berikan padamu dan ayahmu? Bukankah uang itu untukmu masuk kuliah? Lalu, kenapa malah nekat ke sini dan jadi tidak waras!? Aku masih ingat bagaimana kalian menyekap kedua orang tuaku! Aku bisa saja balas dendam pada kalian, tapi tidak kulakukan karena Rianti menganggap semuanya sudah terjadi!" ujar Sava panjang dan Layla menunduk pasrah.   "Iya, aku tidak waras!" kata Layla lemas.   Sava meliriknya lagi. "Lebih baik kau pulang! Paman Rayhan menunggumu!" saran Sava.   Layla mendongak sambil tersenyum. "Aku senang bisa duduk berdua denganmu. Meskipun kau marah, tidak apa-apa. Aku hanya mengutarakan isi hatiku saja. Ingatlah satu hal, Sava. Aku tidak akan menyerah!"   Sava mencebikkan bibirnya. "Otakmu mungkin sudah hilang!"   Dia berdiri dan naik motornya. Dengan cepat menghidupkan mesin motor dan pergi. Layla tersenyum miring menatap kepergian Sava.   "Hah, tampannya! Nggak kusangka dia berhenti menemuiku di pinggir jalan. Ternyata dia juga menaruh perhatian padaku. Padahal aku hanya jalan-jalan aja. Ini kemajuan! Nggak masalah sekarang dia marah, besok pasti akan membutuhkanku kemudian jatuh kepelukanku!" gumam Layla.   Sava menyesal karena menghampiri Layla. Dia terus terngiang dengan ucapan Layla yang akan berusaha merebutnya. Sava merasa gila. Tidak habis pikir dengan Layla. Membenarkan Rianti yang selalu tertawa saat berdebat dengan Layla, karena Layla itu tidak punya malu. Sampai tiba di rumah, Sava lupa mematikan motornya dari jauh. Membuat Rianti bangun karena mendengar suara motor Sava.  Sava masuk rumah dengan ekspresi campur aduk. Dia pergi ke kamar mandi untuk sekedar mencuci tangan dan kaki, setelah itu pergi ke kamar. Sampai tidak sadar jika Rianti duduk menatapnya melepas jaket. Sava terlonjak kaget saat Rianti memanggilnya dengan suara parau. Rianti ikut melotot kaget.   "Kamu habis dari mana? Ketahuan keluar malam-malam!" tunjuk Rianti dari atas ranjang.  Sava menutup bibirnya dengan telunjuk. "Sstt, jangan berisik! Nanti ayah bangun!" ujarnya mendekat ke ranjang.   "Bau angin malam! Kok, nggak bilang kalau keluar?" tanya Rianti memicing setelah mencium aroma Sava.  Sava ikut mencium aromanya sendiri. "Iya, bau angin malam. Ada yang kelupaan di kantor. Tadi aku cuma ngambil doang," jawab Sava.   'Maaf, aku bohong. Karena nggak mungkin aku bilang kalau lagi nyari identitas Putra yang sayangnya nggak ketemu,' batin Sava.  Rianti berdecak. "Nggak bisa besok sekalian? Malam-malam juga!" decak Rianti sambil ingin kembali tidur.  "Ya, 'kan aku lupa. Lagian udah terlanjur." kata Sava ikut merebahkan diri.   Sava sengaja menarik selimut Rianti sampai Rianti tidak dapat selimut.  "Kenapa ditarik selimutnya? Balikin!" sewot Rianti berbisik.   Dia menarik selimutnya, tetapi Sava menariknya lebih kuat sehingga Rianti jatuh di tubuh Sava. Rianti memekik, tangan Sava memeluknya meskipun mata terpejam.   "Gini aja. Ssttt, tidur!" gumam Sava dengan senyum.   Setelah itu Rianti tidak menolak. Dia ikut tersenyum dan membalas pelukan Sava.   Sava tidak tahu jika Putra masih berada di sekitar gapura desa. Dia melihat Sava yang keluar masuk mencarinya. Putra hanya tersenyum licik. Dia sengaja belum menampakkan diri di depan Sava, kecuali saat di masjid itu. Putra terbiasa keluar malam hanya sekedar jalan-jalan melihat lalu-lalang kendaraan. Banyak cahaya lampu membuatnya berpikir lebih tenang.   Saat ini, dia masih melangkahkan kaki di trotoar menuju motornya. Menatap langit dengan senyum hangat. Jaket dia sampirkan di pundak dan memasukkan kedua tangannya ke saku celana. Suara sepatunya sangat merdu. Sangat sayang sekali tidak ada orang yang dekat dengannya.   "Jika Rianti berbahaya dan cerdik, aku lebih dari itu. Sampai sekarang, aku belum tau bagaimana kehebatan Rianti. Kenapa pak satpam payah itu memujinya hebat? Ah, aku lupa. Dia yang membuat rahasia dan usaha pak satpam terbongkar sia-sia. Rianti?...," gumam Putra tanpa menghilangkan senyum.   Jam tangannya berbunyi, menandakan pukul dua belas malam. Putra semakin tersenyum lebar.   "Sava? Bodoh sekali tidak bisa menemuiku! Dua orang itu sangat seru jika dipermainkan. Kalau aku bunuh ayahnya dulu, Rianti akan sedih dan aku akan datang menghiburnya. Sava akan sangat cemburu pasti. Jika Rianti berhasil menggagalkan rencanaku, maka aku akui dia hebat. Kita lihat saja... Besok!" desis Putra di akhir ucapannya.   Tiba-tiba terlintas di otaknya pada Layla. Dia sempat melihat Sava tidak jauh dari tempatnya sekarang sedang duduk di kursi trotoar dengan Layla.   "Siapa gadis itu? Apa kenalan Sava? Aku tidak mendengar dan tidak tertarik percakapan mereka!" ucap Putra dengan kening bertaut. Seketika senyum miringnya terbit lagi. "Kalau memang iya, berarti akan lebih menarik. Aku bisa membuat kesalahpahaman untuk Rianti," sambungnya.   Penuh rencana licik di otak Putra untuk esok hari. Dia kembali dan motornya entah pulang atau pergi ke tempat lain.   Rianti sudah berkutat di dapur setelah adzan subuh. Langsung berjualan dan pamit. Sava memasang senyum di depan Rianti, tetapi senyumnya hilang karena ingat misi pencarian identitas Putra. Dia ikutan pamit setelah jam kerjanya hampir dimulai. Ayahnya juga pergi kerja, rumah sepi.   Sava menunda jadwalnya ke kantor. Dia datang ke penjara pak satpam membuat dua mantan pekerjanya itu kaget.   "Pak satpam, siapa nama orang yang kau suruh membunuh ayah Rianti?" tanya Sava tanpa basa-basi.   Paman Rey ikut terkejut, tetapi diam dan melirik pak satpam.   "Namanya, Daniel Putra Sara." Jawa pak satpam sedikit menunduk.   "Nama panggilannya?" tanya Sava lagi.  "Putra," jawab pak satpam.   Deg!!!  Sava terkejut hebat. Dia segera pergi tanpa berucap.  "Huft, pasti Putra sudah berulah," desah pak satpam.   "Aku percaya, Rianti pasti bisa mengatasi Putra." gumam Paman Rey menatap bayangan Sava yang menghilang di balik pintu.   Sava tidak bisa pergi dan bertindak begitu saja, dia harus bekerja. Sudah beberapa menit hingga jam dia habiskan dalam perjalanan. Memikirkan tindakan selanjutnya dengan menahan marah sambil bekerja.   Di tempat kerja sang ayah, Kak Syam selalu setia mengintai sambil bermain handphone. Tokonya dijaga sang istri. Dia bersembunyi saat melihat Rianti lewat berjualan bubur. Pagi ini sangat cerah. Putra juga ada di desa dengan penampilan segar. Berhasil memikat beberapa gadis desa, sayangnya Putra memberi tatapan yang sangat angkuh. Dia memakai jaket. Di dalam jaketnya terdapat senjata api untuk ayahnya Rianti. 
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN