Putra tidak bisa membunuh ayahnya Rianti di tempat umum. Dia menunggu saat ayahnya Rianti sendirian. Putra mendekat tanpa diketahui kak Syam. Dia sangat percaya diri bersembunyi di balik rumah warga. Pandangannya terus mengintai ayahnya Rianti menunggu saat yang tepat. Sayangnya, dia ketahuan. Ada yang menepuk pundaknya dari belakang.
"Hmm, ini yang kau maksud?"
Kak Syam dengan mudahnya bicara tanpa beban sambil bermain ponsel bahkan tangannya masih ada di pundak Putra. Putra menoleh tanpa ekspresi meskipun hatinya sempat terkejut.
"Ck, salam, Kakak!" ujar Putra tidak suka.
"Salam kembali, Nak! Ngomong-ngomong, kau menasehatiku untuk menjaga Rianti, kenapa yang kau incar ayahnya?" tanya kak Syam basa-basi.
Putra tersenyum miring. "Kau bahkan bisa terancam hal yang sama," jawabnya.
Kak Syam berhenti bermain handphone dan menatap Putra datar. "Aku tidak takut!" desisnya sembari memasukkan handphone dalam celana. Diam-diam dia merekam percakapannya dengan Putra. Setiap detik terhitung di handphone-nya.
"Sudah kuduga kau ancaman. Berhenti sebelum aku membuatmu diam!" ancam kak Syam tajam.
"Kau atau aku yang diam!" desis Putra sambil menepis tangan Kak Syam di pundaknya.
Pandangan mereka saling menyorot tajam.
"Baru semalam kau bersama adikku, sekarang mengintai ayahnya? Apa yang kau mau?" tanya kak Syam.
Putra tersenyum. "Aku hanya ingin melihat. Pikiranmu terlalu jauh!" jawab Putra.
"Imbasnya akan lebih besar? Sebesar apa?" tanya kak Syam menanyakan bisikan Putra kemarin malam.
Putra mendekat. "Seperti jalan menuju kematian!" jawabnya serius.
Kak Syam mencengkeram tangan Putra. "Kalau begitu ikut aku!"
Menarik Putra menuju tempat sepi. Putra mengikuti tanpa melawan meskipun senyum licik tersungging di bibirnya. Tidak ada yang lebih sepi di desa selain sungai yang jalannya tertutup ilalang. Tidak ada orang yang memasuki sungai itu karena jalannya yang lembab dan banyak serangga. Sampai di sana kak Syam masih belum melepaskan tangan Putra.
"Kematian? Aku tidak mau melawanmu, anak konyol! Jadi kau memang mengincar ayahnya Rianti? Jawab!" tanya kak Syam dengan suara lantang.
"Hah, sudah tau kenapa tanya? Yang kuincar lebih dari itu. Rianti itu sangat lugu, aku ingin bermain dengannya!" jawab Putra tanpa beban.
Kak Syam semakin tersulut. "Anak kurang ajar!"
Kepalan tangan siap meninju wajah Putra, tetapi Putra menahannya.
"Aku Daniel Putra Sara. Kau yang akan diam, Syam!" ucapnya datar sambil mendorong tangan Kak Syam yang terkejut mengetahui nama asli Putra.
'Nama sang penakhluk. Jadi dia orangnya?' batin kak Syam.
Putra menarik senjata api di jaketnya dan menembak tanpa ragu tepat di d**a kak Syam. Namun, Kak Syam berhasil menghindar. Ilmu bela diri yang dia pelajari saat remaja tidak hilang. Peluru itu melesat entah ke mana, Kak Syam dengan cepat menarik tangan Putra ingin menjatuhkan pistolnya, tetapi sulit karena Putra memutar tangannya dan berganti menarik tangan Kak Syam. Mereka saling tarik-menarik.
"Tak kusangka begini rupanya rumor yang beredar. Putra sang penakhluk!" seru kak Syam.
Rahangnya bergetar menahan serangan dari Putra yang sangat bertenaga. Dia jengkel melihat senyum Putra yang bangga diri.
"Iya, itu aku!" jawab Putra.
Dia mendorong tangan Kak Syam lagi dengan jarinya. Mundur beberapa langkah dan mengarahkan pistolnya lagi. Kak Syam sangat tersentak. Putra tidak main-main, dia juga harus waspada. Kak Syam berlari mengitari Putra tiga kali hingga pelurunya tak jadi dilesatkan. Kak Syam berhasil menjatuhkan pistol dan meninju perut Putra.
Putra mundur lagi. Tidak terima dia membalas pukulan yang sama di perut kak Syam. "Kau mau berkelahi? Kau mengambil resiko karena menjaga mereka!" ujar Putra dan menyerang kak Syam dengan tangan kosong.
Mereka berkelahi dengan gesit. Kecepatan tangan dan kaki menjadi tumpuan, tetapi pandangan mereka menyorot tajam.
'Sial! Anak ini nggak bisa diremehkan! Kejahatan apa aja yang udah dia lakukan?' batin kak Syam.
Putra berhasil melukai wajah kak Syam berkali-kali. Kak Syam geram, membanting Putra sangat keras. Keduanya meringis menahan sakit. Putra tidak kalah. Dia kembali bangkit dan mebuat kak Syam jatuh dalam sekejap. Meskipun melawan, kali ini kak Syam tidak bisa menyerang hanya bisa menahan. Putra menghantam bertubi-tubi. Tenaganya menjadi dua kali lebih kuat dari sebelumnya.
Dia menahan bogemannya di udara. "Tugasku bukan untukmu, tapi kau suda tau banyak. Aku rasa sudah cukup. Kalau kau berusaha menggagalkan rencanaku, kau juga akan mati!" desis Putra melayangkan satu pukulan lagi di wajah kak Syam.
Lalu, Putra pergi sebelum kak Syam bangun. Kak Syam mendesis kesakitan, duduk sambil menyeka darah di ujung bibirnya. Dia memandang marah punggung Putra yang hampir menghilang di balik ilalang. Mengambil handphone di saku celananya yang masih merekam. Senyum miring terbit bersamaan dia menyimpan rekamannya. Sebagai tanda bukti jika Putra buka orang baik. Dia akan memberitahu Sava dan Rianti nanti. Saat ini dia harus mengejar Putra lagi.
Berusaha terlihat baik-baik saja saat di jalan desa. Orang-orang akan berpikir aneh jika melihatnya terluka. Sampai di tempat kerja ayahnya Rianti, Kak Syam tidak melihat Putra dan juga ayahnya Rianti. Dia panik, menerobos masuk ke tempat kerja, menanyakan keberadaan ayahnya Rianti. Pekerja lain mengatakan jika ayahnya Rianti izin pulang karena merasa tiba-tiba pusing berat.
Kak Syam semakin cemas. Secepat mungkin dia tiba di rumah Rianti. Seperti orang kesetanan, dia membuka pintu rumah paksa. Namun, tidak ada orang.
"Gawat! Pasti Putra membawanya!"
Kak Syam semakin kalang kabut, bingung mencari ke mana. Putra juga tidak terlihat lagi. Dia pikir jika ayahnya Rianti diculik Putra. Bisa jadi langsung dibunuh di tempat. Kak Syam tidak bisa menelpon polisi karena tidak tahu kebenarannya. Bukti rekaman yang dia miliki tidak membuktikan jika Putra pelakunya karena hanya rekaman suara. Kak Syam merutuki dirinya sendiri.
"Mencegah bocah sialan aja nggak pecus!" gerutunya kesal.
Dia kembali menyusuri jalan desa mencari dua orang itu. Justru bertemu Rianti, mebuat kak Syam bersembunyi. Dia mencari jalan lain. Sayangnya Rianti mengetahui keberadaannya.
"Kak, mau ke mana?" tanya Rianti sedikit berteriak.
Kak Syam terpaksa berhenti dan mendekati Rianti. Wajah cemas sangat jelas terlihat. Napas kak Syam diatur sedemikian rupa agar tidak terlihat buru-buru.
"Kakak kenapa, sih? Ada masalah apa, kok, wajahnya pucat gitu? Eh, tunggu dulu! Itu wajah kakak kayak bersemu biru semua. Habis ngapain?" tanya Rianti meneliti wajah kakaknya.
Seorang anak kecil menghampiri ingin membeli bubur kacang hijau sampai kembali lagi karena melihat Rianti dan kak Syam. Seakan takut karena ekspresi kak Syam.
Kakaknya hanya menggeleng mebuat Rianti berdecak dan bertanya menuntut. Kak Syam pikir tidak ada salahnya memberitahu Rianti. Karena ayahnya dalam bahaya sekarang.
Memegang kedua pundak Rianti serius dan Rianti semakin bingung. "Rianti! Ayahmu dalam bahaya sekarang! Mendingan cari dia sampai dapat jangan biarkan dia ketemu Putra! Di tempat kerja, di rumah dia nggak ada! Putra bukan orang baik, Rianti!" ujar kak Syam.
Rianti terbelalak. "Maksudnya apa? Kenapa jadi ke Putra? Tapi kalau menyangkut ayah, aku harus pergi sekarang. Ayo, Kak!"
Rianti ikut panik. Dia dan kak Syam berpencar. Gerobaknya di tinggal tanpa cemas. Sekarang hatinya tidak tenang karena ayahnya dalam bahaya. Bahaya apa, Rianti juga tidak tahu, tetapi pikirannya menuju ke ancaman pak satpam.
'Mungkinkah orang suruhannya udah berulah? Kalau begitu aku marah besar! Ayah... Kumohon tunggu aku!' batin Rianti sembari terus berlari.
Dia menuju ke tempat kerja ayahnya. Saat bertanya pada pekerja lain, ayahnya memang pulang. Sampai di rumah, ayahnya juga tidak ada. Rianti semakin panik sama seperti kak Syam yang sudah mengelilingi jalan yang sama berkali-kali. Rianti mulai berpikir jika ucapan kak Syam benar, Putra orang jahat.
Rianti mengusap wajahnya gusar. "Ke mana aku harus cari ayah?" gumamnya.
Bertanya pada setiap orang yang lewat, tetapi mereka tidak melihat ayahnya. Rianti berlari hingga ke jalan raya. Celingukan tidak ada pertanda. Dia juga tidak bertemu dengan kak Syam lagi.
'Jalan raya? Memangnya kenapa aku ke jalan raya? Apa ayah pergi sampai sini?' pikirnya.
Masih di tempat, justru dia bertemu dengan Bibi Parwati.
"Rianti, kau kenapa? Kok, panik begitu?" tanya Bibi Parwati.
Rianti menoleh. "Bibi, kau lihat ayahku?" tanya Rianti tidak santai.
Bibi Parwati mengernyit. "Ayahmu kerja, 'kan? Kenapa tanya aku? Aku habis dari cabang toko, mana aku tau!" jawabnya lalu melengos pergi.
Rianti tidak tahu harus bagaimana. Namun, Bibi Parwati kembali lagi karena penasaran. "Kenapa memangnya? Ada yang tidak beres?" tanyanya lagi.
"Nggak kenapa-napa!" jawab Rianti lalu pergi.
Bibi Parwati melongo. "Heh, anak itu semakin kurang ajar! Nggak ada sopan sama sekali sama yang lebih tua!" kesalnya.
Namun, dia penasaran melihat tingkah laku Rianti yang ketakutan. Dia berencana memberitahukan hal ini pada Layla. Mungkin bisa memanfaatkan keadaan.
Di sisi lain, Kak Syam mengabari Sava lewat telepon jika ayahnya berada dalam ancaman Putra dan sekarang menghilang. Sava langsung meninggalkan pekerjaannya. Kak Syam terus mencari bahkan kembali ke sungai tempatnya berkelahi. Dia sudah mengitari desa lebih cepat dari pada Rianti.
Dia dia sebentar memikirkan bagaimana Putra akan membawa ayahnya Rianti di tempat keluar dari desa tanpa sepengetahuan orang. Itu membuatnya curiga jika ayahnya Rianti masih berada di sekitar tempat kerja. Putra melakukan sesuatu di sana. Kak Syam segera kembali ke tempat kerja ayahnya Rianti dan mencari dengan tenang tanpa dicurigai orang-orang.
Rianti sendiri sibuk berlari tanpa tujuan di trotoar sambil meneriaki nama ayahnya. Tidak sengaja bertemu Sava yang melaju sangat cepat dengan motornya. Sava langsung berhenti membuat Rianti menatapnya penuh kecemasan.
"Sava! Sava kamu nggak apa-apa? Ayah hilang! Kak Syam bilang ayah dalam bahaya dan nggak boleh sampai ketemu Putra. Putra orang jahat katanya! Aku bingung, nyari ayah nggak ketemu! Aku pikir kamu juga kenapa-napa!"
Rianti heboh sambil meraba lengan Sava memastikan tidak terjadi apapun pada suaminya. Sava memegang kedua tangan Rianti. "Ssttt, aku nggak apa-apa, 'kan aku di kantor. Ikut aku, kita cari ayah di tempat lain. Biar kak Syam yang nyari di desa!" ujar Sava mengangguk.
Rianti mengangguk dan segera naik ke boncengan motor Sava. Sava sudah tau semuanya termasuk rekaman suara kak Syam. Sava pergi ke bangunan mewah bertingkat dua yang terlihat tak tersentuh orang.
Rianti heran. "Sava, ini di mana? Kita harus cari ayah!" tanya Rianti.
"Ini rumah Putra! Nanti aku ceritakan siapa Putra yang sebenarnya. Nggak ada waktu lagi, Rianti! Ayo cari ayah!"
Sava serius menatap pintu rumah itu dan Rianti tanpa berpikir lagi dia mengangguk. Saat ini hanya keselamatan ayahnya yang penting. Meskipun terkejut karena Sava tahu rumah Putra. Sava mendobrak pintu rumah paksa karena terkunci. Rianti kaget.
"Rianti, kau cari lewat belakang!" pinta Sava.
Rianti mengangguk. Berlari memutari rumah hingga ke halaman belakang. Sedangkan Sava masuk tanpa ragu. Rianti celingukan karena pintu juga terkunci.
"Halaman belakang yang kosong! Gimana mungkin ayah bisa ada di sini?" gumam Rianti.
Dia tidak mencari cara untuk membuka pintu belakang, tetapi mengitari halaman belakang sampai kembali ke depan. Tiba-tiba terdengar suara tembakan yang tidak jelas arahnya. Rianti memekik sambil menutup telinga.
Sava juga mendengarnya. Dia keluar panik mencari Rianti. Sedangkan pikiran Rianti melayang pada ayahnya dan Sava. Dia lari ke dalam rumah membuatnya menabrak Sava. Keduanya memekik kesakitan dan mundur. Saat sadar, mereka saling khawatir satu sama lain. Kemudian muncul pemikiran jika tembakan itu berasal dari senjata api.
"Siapa yang pakai pistol? Ayah, di mana?" tanya Rianti sangat gusar.
Sava menatap tajam dan mengingat-ingat di mana asal suara itu.
"Sepertinya ada di gudang sebelah rumah. Ayo kita ke sana!" ajak Sava serius.
Rianti ikut saja. Hanya berjarak dinding pemisah, mereka tiba di gudang luas itu. Tidak ada orang, anehnya suara itu hanya disengaja mereka saja. Sava jadi berpikir jika gudang itu memantulkan suara hanya di rumah Putra.
Rianti bingung menatap isi gudang yang penuh kotak kayu dan besi. Dia mencium bau aneh. Pikirnya itu adalah bau besi. Rianti menatap Sava yang serius mencari sesuatu.
"Rianti, jangan jauh dari aku!" pinta Sava berdesis.
Rianti hanya mengangguk. Dia melihat sebuah ruangan dengan pintu sedikit terbuka di pojok gudang. Sava langsung mengajaknya ke sana dan membuka pintu lebar. Betapa terkejutnya mereka saat melihat bercak darah kering dan foto-foto yang tertempel dengan tanda silang. Rianti memegang erat tangan Sava.
"Sava, tempat apa ini? Mendingan ayo keluar dari sini! Nggak mungkin ayah berada di tempat beginian!" ujarnya mirip berbisik karena ngeri.
Sava tidak habis pikir. 'Mungkinkah ini perbuatan Putra?' pikir Sava dengan dahi mengkerut.
Tiba-tiba handphone-nya berbunyi. Panggilan dari kak Syam. Sava segera mengangkatnya.
"Halo? Apa ayah ketemu?" tanya Sava tanpa basa-basi.
"Iya, di belakang tempat kerjanya! Kalian cepat kesini!" seru kak Syam.
Sava segera mematikan telepon. "Rianti, Kak Syam udah nemuin ayah. Kita harus balik ke desa!" kata Sava sungguh-sungguh dan langsung menarik tangan Rianti sebelum Rianti menjawab.
Mereka kembali ke jalan raya dan melaju sangat kencang. Mereka tiba di desa dalam waktu singkat. Berlari ke belakang tempat kerja ayahnya berharap tidak ada masalah.
'Aku tau kamu pasti punya banyak pertanyaan, Rianti. Jangan sekarang!' batin Sava.
Tiba di sana, Rianti langsung terduduk lemas. Dia bertanya pada kak Syam sambil meraba ayahnya memastikan sesuatu. Sava ikut bingung.
"Kak, ayah kok diam aja? Dia kenapa? Kok, bisa ada di sini? Gimana kakak bisa nemuinnya? Ini... Ini, ayah tidur, ya? Dia nggak apa-apa, 'kan?" tanya Rianti beruntut dengan kecemasan.
"Sstt, tenang, Rianti! Ayahmu nggak apa-apa. Dia pingsan! Mendingan ayo bawa dia pulang, nanti aku ceritakan!" jelas kak Syam pelan.
Rianti mengangguk kuat. Dia mencoba memapah ayahnya, tetapi kesusahan. Sava dengan cepat membantu. Mereka membawa ayahnya ke motor Sava. Boncengan tiga mengapit ayahnya. Kak Syam ikut ke rumah Rianti jalan kaki. Sebelum pergi, Kak Syam menengok ke belakang dengan marah. Tangannya mengepal kuat. Lalu, dia menyusul Sava dan Rianti.
Sedangkan Putra sudah tiba di rumahnya sejak Sava dan Rianti datang. Dia bersembunyi di gudang. Dia tahu semua yang Sava dan Rianti lakukan. Sengaja menembakkan peluru dari gudangnya agar Sava dan Rianti datang melihat kondisi tempat di mana dia menahan mangsanya sebelum dieksekusi. Dia ingin Sava dan Rianti tahu betapa kejamnya dia jika jadi ancaman ayahnya. Putra melakukan itu karena dia ingin melihat, bagaimana usaha Rianti setelahnya. Dia kalah hari ini, bukan berarti besok.
Di sisi lain, Layla mendengarkan Bibi Parwati dengan serius. Menimbulkan pertanyaan bagi Layla. Bibi Parwati tidak mungkin bohong dengan ucapannya. Dia memberitahu gerak-gerik Rianti yang panik. Layla jadi punya ide untuk mengetahui kebenarannya. Dia menunda rencana untuk menculik Rianti sebelum tahu alasan paniknya Rianti. Layla langsung pergi ke rumah Rianti yang masih sepi. Dia menunggu sampai Sava, Rianti, dan kak Syam datang membawa ayahnya yang tidak sadarkan diri. Layla terkejut, dia segera bersembunyi di balik rumah Rianti.
"Bibi Parwati benar. Ekspresinya Rianti bukan main! Kenapa ayahnya begitu?" gumam Layla penuh tanya.
Layla mengintip lewat celah saat mereka masuk rumah. Pintunya dikunci oleh kak Syam. Layla bisa melihat jelas jika ayahnya Rianti dibaringkan di kursi panjang ruang tamu.
"Aku jadi penasaran. Ck, nggak nyaman kalau begini!" gumamnya.
Rianti serasa ingin menangis, takut terjadi sesuatu dengan sang ayah. Dia mengikuti arahan kak Syam untuk mengambil minyak kayu putih. Sava menyarankan untuk memanggil dokter, tetapi kak Syam menolaknya.
"Nanti dokter akan tanya penyebabnya. Masalah bisa semakin rumit. Nanti aku jelasin, yang penting ayahmu sadar dulu!" ujar kak Syam.
Sava menurut. Rianti datang dengan tergopoh-gopoh membawa minyak kayu putih. Kak Syam memakaikan minyak itu pada ayahnya Rianti.
"Kak, ayah kenapa?" tanya Rianti.
Wajahnya menyiratkan berbagai rasa. Sava dan kak Syam menatapnya.
"Rianti, Putra itu jahat. Dia yang buat ayah kamu jadi seperti ini." jawab kak Syam sambil mengoleskan minyak kayu putih lagi.
Rianti menutup mulutnya. "Terus, dia apain ayah? Tadi Sava ngajak aku ke rumah yang katanya milik Putra, aku pikir emang dia jahat. Apa dia ancaman buat ayah? Kenapa kak Syam bisa tau kalau Putra yang ngelakuin ini? Kenapa Sava bisa tau rumah Putra? Kenapa kalian diam aja? Jawab! Ayah diapain sama dia?" tanya Rianti hampir nangis sambil memegang tangan ayahnya. Duduk lemas di samping kursi itu.
Sava menatapnya ikut sedih. "Rianti, jangan panik dulu!" pinta Sava dengan pandangan melemah.
"Gimana aku bisa tenang?! Ayah begini dan aku nggak tau apa-apa! Kamu pikir, Sava!" Rianti marah membentak Sava.
Sava tersentak begitu juga dengan kak Syam.
'Ini kedua kalinya Rianti marah sama aku. Ih, ngeri!' batin Sava.
Layla di luar sana sampai terjingkat. "Galak banget, sih! Putra? Siapa dia? Dia yang ngasih masalah duluan sama Rianti? Seenaknya aja ngedahuluin aku! Harusnya, 'kan hari ini aku nyulik Rianti. Kenapa malah jadi begini? Belum juga siang, udah heboh aja!" gumam Layla.
"Kamu jangan marah dulu. Nangis boleh, tapi ayahmu nggak apa-apa. Untung aku datang tepat waktu. Dia cuma pingsan gara-gara dipukul lehernya, tapi ini nggak apa-apa. Tadi di sana udah aku pijitin dikit. Aku tau gimana ngatasinnya," ucap kak Syam sambil memposisikan kepala ayahnya Rianti dengan nyaman.
"Apa? Dipukul? Siapa yang mukul? Aku pukul balik! Beneran Putra?" tanya Rianti tersulut.
"Ssttt, nanti tetangga dengar malah jadi kacau, loh!" Sava menasehati sambil menaruh telunjuknya di bibir.