23. Rianti Takut

2559 Kata
 Beberapa menit kemudian ayah Rianti sadar. Dia tidak mengatakan apapun di depan Rianti dan memilih istirahat. Hanya bilang baik-baik saja agar Rianti tidak cemas. Dalam hatinya, seorang ayah yang telah membuat Rianti kecewa sebelumnya, tidak mau membuat hati Rianti sakit lagi. Jika berkata jujur, dia sangat takut. Apalagi saat Rianti memeluknya erat seakan takut kehilangan. Dia justru semakin takut. Anak muda yang melukainya itu terlihat sangat mengerikan. Dia bersyukur ada kak Syam yang datang tepat waktu.   Pukul sepuluh, tiga orang itu duduk melingkar di ruang tamu. Kursi di anggap tidak ada. Memandang pintu kamar ayah Rianti dengan berbagai macam pemikiran. Tidak peduli dengan pekerjaan. Gerobak masih di pinggir jalan. Perempuan yang bingung cara melayani di toko bangunan. Mereka berbagai cerita sekarang.   Handphone kak Syam berada di tengah-tengah. Di mulai dari rekaman suaranya dengan Putra. Di lanjut Sava yang dengan ceritanya penasaran terhadap Putra hingga tau identitasnya. Kemudian semua tentang Putra mereka jelaskan. Jangan tanya bagaimana reaksi Rianti. Dia bukan lagi terkejut, tetapi sangat terkejut. Teman barunya yang murah senyum itu adalah ancaman kematian bagi ayahnya. Baru beberapa saat, percobaan pembunuhan dia lakukan.  Diam-diam Putra membekap ayah Rianti saat pamit ingin pulang. Dia membawanya ke belakang tempat kerja. Ayahnya Rianti melihat dengan jelas wajah Putra, karena Putra memang sengaja tidak menutupi dirinya. Tanpa basa-basi dia akan memukul kepala ayah Rianti dengan keras, tetapi diganggu oleh kak Syam. Putra geram, dia telah menunggu lama sampai para pekerja sepi dan waktu baik karena ayahnya Rianti pamit undur diri. Selama itu kak Syam mencarinya. Namun, dia digagalkan lagi. Dia tidak bisa membuat keributan di tempat umum. Memilih memukul leher ayahnya Rianti sampai pingsan. Kak Syam segera menolong ayah Rianti tanpa mengejar Putra. Sedikit ilmu bela diri membuatnya mengerti cara menghadapi pukulan di leher. Dia memberi sedikit pertolongan pertama. Dirasa sudah lumayan baik, dia menelpon Sava yang ada di gudang rumah Putra bersama Rianti. Hingga sekarang, semuanya sudah membaik.  "Tapi enggak buat besok," gumam Rianti lemah tiada tenaga.  Dua laki-laki itu menatapnya. Rianti tidak tahu lagi bagaimana harus berekspresi. Dia sedih, marah, cemas, takut, semuanya bercampur menjadi satu. Pandangannya kosong memikirkan sang ayah.   Layla masih setia mengintip. Dia mendengar semua pembicaraan mereka. Ikut terkejut, ternyata rencana orang yang bernama Putra itu lebih kejam dari pada dirinya, pikir Layla. Dia tidak menyangka jika sampai berurusan dengan nyawa. Layla pikir Putra sudah gila. Ilang gila harta dan ketampanan Sava saja tidak separah itu. Bahkan belum bertindak apapun, saat ingin bertindak justru didahului Putra. Kini Layla bingung harus bagaimana. Dia pulang tidak mau mendengarkan lebih lanjut. Jalan melamun sampai menemukan gerobak Rianti. Dia berhenti sebentar. Sempat memiliki ide jahil untuk menyembunyikan gerobaknya, tetapi hatinya tidak tega melihat keadaan Rianti. Lebih tepatnya Sava, dia melihat keadaan yang tidak memungkinkan. Memilih pulang memberitahu semuanya pada Bibi Parwati.   Di ruang tamu itu, Sava dan kak Syam hanya saling pandang sekarang keputusan Rianti yang paling ditunggu.   "Aku payah! Harusnya aku yang jagain ayah, bukannya dagang!" Rianti merutuki dirinya sendiri.   "Kamu ngomong apa, sih? Kita nggak tau kalau Putra bakal bertindak secepat ini. Kalau dilihat dari kemaren dia bicara denganmu, dia mau merusak hubunganmu sama Sava. Kakak yakin itu!" kata kak Syam serius.   "Sekarang dia udah terbukti. Nggak bakal bisa gangguin kita apalagi ngerusak hubungan kita." sambung Sava.  "Tapi soal ayah? Putra bakal terus mengincarnya, 'kan?" tanya Rianti masih tanpa tenaga.   Sava merasa tidak senang. "Kita pikirkan caranya agar Putra tertangkap basah sama polisi. Besok, aku nggak masuk kerja. Aku mau nemenin kamu sama ayah di sini!" kata Sava meyakinkan.  "Itu nggak bisa! Kalau kamu nggak masuk kerja, orang tuamu pasti akan curiga. Putra itu sangat gesit dan mainnya bersih. Susah tertangkap karena dia sang penakhluk. Beberapa orang tau itu. Aku aja kaget waktu dia ngasih tau nama panjangnya. Kalian nggak tau seberapa kejinya dia?" terang kak Syam sambil bertanya.   Keduanya kompak menggeleng. Kak Syam mendesah. "Dia bermain atas suruhan seseorang. Meskipun nggak di bayar, dia bakalan tetap bermain karena dia senang. Aku yakin dia nggak ngelakuin perintah pak satpam sejak surat itu datang sama kalian karena mau main-main sama kalian. Sasarannya, mungkin Rianti. Kemarin aja ngomong ngajak nikah. Dia masih muda, tapi otaknya bahaya!" jelas kak Syam.   Sava terkejut sedangkan Rianti hanya mengangguk.   "Aku baru tau. Sebelumnya, 'kan aku murung di rumah. Sakit jantung membuatku nggak tau keadaan," gumam Sava menunduk.   "Ayahku gimana?" racau Rianti.   Sava dan kak Syam kembali menatapnya kasihan. Mereka tida menemukan solusi karena ingin sekali mengajar Putra saat ini juga. Namun, mereka tidak bisa meninggalkan Rianti sendirian.   "Kepahitan apa lagi ini, Tuhan? Si tampan itu seorang pembunuh?" racau Rianti lagi membuat Sava dan kak Syam mendelik  "Bisa-bisanya kamu masih muji dia?" Sava bingung.   "Kenapa kalian nggak terus terang aja kalau Putra itu jahat? Biar aku kalau ketemu dia langsung bertindak!" omel Rianti tiba-tiba.   Mereka mendelik lagi.  "Kita, 'kan udah nyuruh kamu buat jauhin Putra!" elak Sava.  "Putra datang sendiri, bukan aku yang deketin! Lagian kalau bilang dia jahat dari awal, pasti aku ngelakuin sesuatu sama dia! Bisa aja nggak kejadian kayak gini! Kak Syam nggak sakit semua badannya. Wajahnya sampai biru lebam begitu! Ayah juga nggak bakalan di pukul sampai pingsan. Untung nggak dipakai senjatanya! Kalau Iya, aku bisa nangis darah!" omel Rianti tanpa mengambil napas.  "Waktu itu kita baru curiga, Rianti. Belum tau kebenarannya. Sekarang udah jelas, jadi harus hati-hati!" kali ini kak Syam yang menjawab.   Rianti menunduk. "Aku takut ayah pergi! Itu mengerikan!" ujarnya lirih.   Baik Sava maupun kak Syam diam. Kebenaran terungkap. Rianti ingin tidur dengan ayahnya, kalau bisa dia akan terjaga. Sava ikut apapun yang Rianti lakukan, itu membuat Rianti jengkel. Sava hanya tidak mau meninggalkan Rianti sendirian. Sedangkan kak Syam pulang. Dia melihat gerobak Rianti, menyuruh seseorang untuk membawanya ke rumah Rianti tanpa memanggil Rianti.   Setelah itu siang hari yang panas. Sava masih berdebat soal terjaga nanti malam. Menurutnya itu masih sangat lama. Rianti pergi begitu saja membuat Sava berdecak. Dia ingin mengikuti Rianti, tetapi tidak bisa meninggalkan ayah mertuanya sendirian.   Rianti pergi ke tempat kerja ayahnya. Dia bilang kalau ayahnya memundurkan diri. Rianti tidak ingin ayahnya bekerja lagi. Tanpa perseteruan dan tanpa mendengarkan atasan ayahnya berbicara, Rianti langsung pergi. Pulang dengan napas terengah. Tidak sengaja melihat gerobaknya sudah ada di halamannya, Rianti hanya berdecak dan masuk rumah.  "Eh, habis dari mana?" tanya Sava mencegahnya saat ingin masuk ke kamar ayahnya.  Rianti menoleh dengan kesal. "Aku nyuruh mereka buat mecat ayah alias aku yang buat ayah berhenti kerja!"   Sava mendelik. "Sampai segitunya?" bingung Sava.  "Menurutmu aku harus gimana? Diam aja gitu? Aku pengen banget nampar muka gantengnya Putra pakai balok kayu! Tapi kalau ke sana nanti ayah sendirian gimana? Kali ini aku mau jaga ayah sendiri! Nggak puas kalau cuma kamu atau kak Syam doang! Ngerti!?" kata Rianti sedikit membentak.   Sava hilang kesadaran. Dia membekap mulut Rianti dan membawanya masuk ke kamar paksa. Sava mengunci pintunya dan Rianti meronta.   "Diam! Kalau tidak kamu aku perkosa!" ancam Sava.  Rianti melotot lebih lebar. Seketika dia diam dan melemas. Keduanya mengatur napas mencoba tenang. Di rasa Rianti sudah sedikit lebih santai, Sava mendesah. "Huft, jangan gegabah apalagi buru-buru. Biarpun Putra pembunuh, dia tetap manusia. Kita bisa mengalahkannya dan memasukkannya ke penjara bersama Rey dan pak satpam. Kita pikirkan sejenak, Rianti," kata Sava dengan suara beratnya.   Hati Rianti bergemuruh. Perlahan Sava menurunkan tangannya. Mengajak Rianti untuk duduk di ranjang.   "Kamu buat ayah berhenti kerja dengan cara kayak gitu malah buat warga curiga. Kalau ditanya mau jawab apa?" tuturnya Sava bertanya.   Rianti menatapnya sambil menggeleng. Sava tersenyum, mengelus kepala Rianti kemudian merangkul pundaknya. "Tunggu di sini selagi aku jelaskan baik-baik sama bosnya ayah. Jangan ganggu ayah lagi tidur!" pinta Sava.   Rianti mengangguk. Sava pergi jalan kaki sedikit berlari menuju tempat kerja mertuanya. Dia beralasan ingin ayahnya istirahat. Syukurlah mereka mengerti. Namun, tingkah Rianti menjadi pertanyaan. Sava menjawab sambil meringis jika Rianti sedikit sensitif karena masa datang bulan. Bohong yang dipercaya, setidaknya tidak membuat warga curiga.   Bisa heboh satu desa jika ada ancaman pembunuhan. Perjalan pulang, Sava bertemu Layla. Dia terkejut, tetapi dalam hati. Layla memasang wajah polos dengan senyum malu-malu, justru membuat Sava jijik.  "Hai! Habis dari mana?" tanya Layla basa-basi.   "Bukan urusanmu! Kenapa masih di sini? Pergi sana!" usir Sava sambil kembali melangkah.   Layla melunturkan senyumnya. "Manis sekali!" pujinya bergumam.   Kemudian Bibi Parwati muncul dari persembunyian. "Apanya yang manis? Udah ayo jalan lagi!" bisik Bibi Parwati menepuk lengan Layla.  Mereka sedang mencari orang yang bernama Putra. Setelah Layla menceritakan semuanya pada Bibi Parwati, dia berniat ingin mencari tahu tentang Putra diam-diam. Bertemu Sava di jalan, jadi Bibi Parwati sembunyi.  "Tunggu dulu, Bi! Aku rasa kita nggak percuma susah payah nyari orang itu. Kita tunggu gimana aksinya selanjutnya. Kita awasi aja Rianti. Nanti pasti bakal ketemu sama Putra," bisik Layla.   Bibi Parwati tampak berpikir. "Benar juga. Yaudah kalau gitu.   Mereka kembali pulang dengan santai. Sedangkan Sava bukannya pulang, justru mampir si toko bangunan kak Syam.   "Kak, gimana rupa Putra?" tanya Sava langsung.   Kak Syam mendelik. "Datang-datang nanyain dia! Kenapa? Takut kalah ganteng? Udah ganteng juga!" Kak Syam sewot.   "Ck, bukan gitu. Aku belum tau wajah dia, tapi aku curiga dia ada hubungannya sama orang yang waktu itu," jawab Sava.  "Orang mana?" tanya kak Syam penasaran.   "Waktu aku di masjid, ada orang yang nanya tentang aku sama Rianti. Itupun sama orang banyak. Aku pikir dia warga desa, tapi masih muda seumuranku. Pertanyaannya sangat mencolok seolah-olah ingin tau semuanya tentangku," jelas Sava.  Kak Syam mendelik. "Mungkin itu Putra! Aku nggak punya fotonya, sih! Buat apa juga foto dia?" Kak Syam melantur. Sava hanya berdecak. "Eh, nggak kerja lagi? Ini masih jam kerja, loh!" lanjut kak Syam.   "Hah, kondisi begini mana bisa kerja lagi, Kak? Aku udah serahin semuanya pada orang kepercayaan di sana. Selebihnya, ntar aku ngomong sama Papa Mama buat cuti. Entah apapun alasannya yang penting mereka nggak curiga. Aku nggak bisa ninggalin Rianti sendirian," kata Sava dengan wajah sedih.   "Oh, baguslah! Suami muda yang baik, haha. Aku punya rencana buat nangkap Putra, tapi nanti pasti Rianti ikut. Lalu, nggak ada yang jagain ayahnya." kata kak Syam.  "Mendingan kita lihat dulu apa yang mau Putra lakuin. Kalau gitu, 'kan kita bisa tangkap basah dia tanpa ninggalin ayah mertua," ucap Sava.  "Itu boleh juga, tapi resikonya tinggi kalau kita nggak berhasil halau Putra. Nyawa mertuamu bisa salam bahaya beneran. Anak itu nggak main-main, Sava!" ujar kak Syam serius.   Sava mengangguk. "Emm, aku mengerti. Kita lihat besok, Kak. Saat ini, Rianti mau bikin orang gila! Dia cemas berlebihan. Aku mau pulang dulu!" ujar Sava pamit dan pergi setelah kak Syam mengangguk.   Sava pulang, melihat gerobak Rianti yang masih penuh perlengkapan dia mendesah panjang. Membawa masuk bubur yang masih banyak. Menyimpan rapi seperti Rianti. Kemudian mencari Rianti di kamar, tetapi tidak ada. Ternyata Rianti berada di kamar ayahnya. Tentu saja duduk di bawah melihat ayahnya yang tidur. Sava mendekat langsung memeluk Rianti dari samping. Rianti tidak protes. Dia diam tanpa bicara. Pandangan Sava pada ayah mertuanya seakan harta berharga.   Putaran ingatan tentang Paman Rey yang menyekap ayah mertuanya dulu dengan keadaan tidak baik sampai di bawa ke rumah sakit. Syukur waktu itu masih baik-baik saja. Namun, sekarang keadaannya menjadi tanda tanya. Di sisi lain, istrinya sedang ketakutan ditinggal orang tua.  Siang itu begitu hampa setelah kejar-kejaran. Banyak yang terlintas, banyak pula yang dipikirkan. Asumsi negatif menggentayangi Rianti. Lampiasan amarah menyelimuti Sava. Namun, keduanya tidak bisa berbuat apa-apa. Bagi Sava, ini lebih parah dari obat yang membuatnya batuk berdarah ataupun vonis mati satu bulan. Bagi Rianti, ini lebih kejam dari pernikahan paksa dengan seribu pertanyaan yang tidak terjawab.   Sudah sangat lama mereka diam saling berpelukan dengan objek pemandangan ayahnya. Mereka tertidur di posisi yang sama.   "Rianti, jangan takut. Aku ada di sini. Semuanya akan baik-baik saja," racau Sava dalam tidurnya.   Dia masih terbayar wajah Rianti yang penuh kecemasan. Sedangkan Rianti lebih mendekatkan diri pada Sava. Dia memeluk Sava lebih erat.   Siang berganti sore. Keduanya bangun dan terkejut saat melihat sang ayah tersenyum di depan mereka. Rianti segera mendorong Sava hingga jatuh membuat ayahnya terkekeh.   "Kalian kenapa di sini?" tanya sang ayah.  "Ayah nggak apa-apa? Aku nunggu ayah, dia ngikut!" tanya Rianti sambil mendekat pada ayahnya dan menunjuk Sava yang jatuh.  Sava sedikit kesal. Dia berdiri dan duduk di samping mertuanya.   "Ayah udah nggak apa-apa. Udah lumayan enak ini dibuat tidur. Pusingnya juga udah hilang. Oh, ya, jam berapa sekarang?" tanya ayahnya.  Rianti sama Sava celingukan tidak tahu waktu. Sava keluar melihat jam dinding kemudian kembali lagi.  "Udah pukul tiga sore," jawab Sava bingung.   "Berarti kita tidur lama banget, ya?" balas Rianti.   Dua laki-laki beda usia itu mengangguk kompak membuat Rianti tersenyum.   "Aku senang kalau kalian baik. Jangan buat aku nangis kalau kalian sakit apalagi hilang. Aku jadi sedih lagi." kata Rianti memeluk ayahnya.   "Eh? Sejak kapan jadi manja begini?" tanya ayahnya menggoda sambil mengelus kepala Rianti.   Rianti diam.  "Sejak nikah sama aku, lah, Yah!" jawab Sava.  Rianti mendongak melotot pada Sava yang nyengir. Ayahnya terkekeh. "Anakku udah besar. Dari kecil mandiri sampai sekarang pun mandiri. Ayah bisa agak lega." kata ayahnya.   Rianti bingung. "Kok, ayah ngomong gitu? Apaan, sih?"   Sava memandang Rianti dan mertuanya bergantian. Dia merasa ada yang mengganjal.   "Ayah udah tua. Sering ngerasa capek, pusing, sama pegal. Nggak bisa buat kamu senang, Nak!" tuturnya khas seorang ayah.   "Ayah apaan, sih? Kalau ayah capek nggak perlu kerja! Rianti juga nggak bakal kerja. Lagian buat apa juga kerja? Buat makan aja udah cukup. Mulai besok ayah nggak perlu kerja lagi. Rianti udah bilang sama bosnya ayah, tenang aja," ucap Rianti bangga diri.   Ayahnya mengerutkan dahi. "Kok, begitu?"   Rianti melepas pelukannya. "Karena aku nggak mau ayah capek. Iya, 'kan, Sava?" jawab Rianti bertanya pada Sava.  Ayahnya menatap Sava dan Sava mengangguk. "Kalau gitu, ya udah, nggak apa-apa," katanya sambil tersenyum. "Mau jamaah di masjid?" tawarnya.   Rianti mengangguk. Sava tersenyum melihat Rianti berinteraksi dengan ayahnya seperti anak kecil yang takut. Sava ikut mereka ke masjid. Berjalan beriringan lagi bertiga membuat para tetangga menyapa.   ~~~  Melihat masjid setelah selesai ibadah sholat berjamaah, Sava teringat pada pemikirannya lagi. Dia menelpon kak Syam untuk menjaga Rianti dan ayahnya.   "Rianti, Kak Syam sama istrinya biarkan di rumah buat nemenin kamu sama ayah, ya. Aku mau ngomongin kerja dulu sama Papa Mama biar diizinin cuti. Nanti bisa di rumah sama kamu," bisik Sava.   Rianti mengangguk. "Iya, jangan sampai Papa sama Mama curiga!" balas ringan berbisik.   Sava mengacungkan jempolnya. 'Rianti udah bisa mikir lagi. Baguslah!' batin Sava.  Mereka pulang. Sampai di rumah, Sava segera pergi. Memang dia akan membicarakan pekerjaan dengan orang tuanya. Namun, Sava juga ingin mencari tahu lagi tentang sang penakhluk.   Rumah besar yang masih atas namanya kini Sava menginjakkan kakinya kembali di sana. Para pembantu dan juru masak masih bekerja dan menyapa Sava senang.   "Ke mana Papa sama Mama?" tanya Sava pada mereka.  "Mereka belum pulang, Tuan," jawab salah satu pembantu.   'Benar juga. Mungkin mereka sedikit lembur tugas,' pikir Sava  "Tuan, Rianti mana?" tanya pembantu itu lagi dengan semangat.   Sava menjawabnya dengan senyum, "Dia di rumah. Capek jualan bubur."  Mereka bertiga mengangguk.   "Tuan, kenapa tidak tinggal di sini saja? Kami rindu sama cerewetnya Rianti. Dia baik!" kali ini Bibi juru masak yang bicara.   "Aku ikut Rianti, Bi. Dia masih takut," jawab Sava ramah.  Sava pergi ke kamarnya sebelum ditanya lebih jauh lagi.  "Tuan Sava sekarang beda, ya. Dia ramah banget!" bisik salah satu pembantu.   "Iya. Dulu kita sampai takut bukan lagi segan. Udah gitu kalau ngomong dikit banget. Wajahnya murung, kalau nggak gitu datar," balas Bibi juru masak.   Gosip ala mereka yang Sava tidak mau tahu. Dia menunggu orang tuanya di kamar sembari berbaring di ranjangnya dulu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN