Suara mobil masuk garasi pukul delapan malam. Sava segera keluar dari kamarnya dan membukakan pintu rumah. Betapa terkejutnya orang tua Sava saat melihat anaknya membukakan pintu.
"Sava? Kamu ke sini, Nak? Akhirnya mau nginep, 'kan?" tanya Mamanya masih di ambang pintu.
"Masuk dulu Pa, Ma," ucap Sava tersenyum.
Mereka masuk, salam dan Sava meminta mereka untuk duduk di sofa. Tanpa basa-basi, Sava langsung meminta izin cuti dengan alasan ingin ikut Rianti jualan bubur.
"Apa?! Kekonyolan apa lagi ini, Sava? Jangan aneh-aneh, deh! Kok, malah suka hidup susah!" pekik Mamanya.
"Ma, seminggu aja. Masa tiap siang nggak pernah lihat Rianti? Cuma malam doang, ya udah capek, lah!" bujuk Sava.
Orang tuanya saling pandang.
"Sava, pulang aja kesini lah, Nak! Kita tinggal bareng-bareng di sini. Ngumpul jadi satu. Mama pengen sama kamu lagi," ucap Mamanya.
"Tapi dia mau sama Rianti, Ma," jawab sang Papa.
"Papa, kok, berani Sava, sih?" Mamanya Sava sewot.
Sava berdecak. "Udah, ah! Pokoknya Sava minta tolong sama Papa Mama buat izinin Sava cuti. Habis itu janji nggak bakal ambil cuti lagi. Sava pulang dulu, ya. Udah malam, kasihan Rianti sama ayah sendirian," kata Sava.
Sava pamit pulang. Wajah orang tuanya kembali sedih karena Sava tidak mau tinggal di rumahnya.
"Assalamualaikum," salam Sava sambil tersenyum.
"Waalaikumsalam," jawab orang tuanya kompak.
Deru motor Sava bergabung dengan kendaraan lain. Malam yang hampa seperti siang ini. Sava kembali ke rumah Putra. Lampu rumah itu menyala, menandakan ada pemiliknya. Sava tidak bertamu, melainkan menyusup diam-diam. Dia berbelok ke gudang Putra. Sangat sepi tanpa penerangan. Dia mengendap-endap di tepi gudang. Mengitari dari depan hingga kembali ke depan lagi. Tidak menemukan sesuatu yang mencurigakan, kecuali lubang di pohon mangga belakang gudang. Sava pikir itu bekas tembakan yang dia dengar tadi pagi.
'Aku rasa Putra sengaja ingin aku sama Rianti datang ke sini biar tau kalau dia keji,' pikir Sava.
Pintu gudang tertutup, tetapi tidak terkunci. Sava masuk perlahan. Celingukan memastikan keamanan. Tidak ada jembatan ataupun hal aneh, dia masuk tanpa menimbulkan suara. Kotak-kotak kayu itu mebuat Sava penasaran. Dia membuka salah satunya dan kosong. Dia buka satunya lagi, masih kosong. Beberapa dia buka, tetapi tidak ada isinya. Sava bingung, apa fungsi kotak-kotak itu. Melihat pintu satu ruangan di pojok gudang, Sava mendekatinya.
Pintu itu berderit saat di buka. Sava sedikit terkejut kemudian menoleh ke belakang. Dia pikir ada yang mendengarnya. Sava mendesah karena tahu telah takut berlebihan. Dia masuk ke ruangan itu. Berhak darah kering di tembok dan ada kursi panjang serta meja di sana. Sava melihat foto-foto yang terpasang di dinding. Ada puluh foto yang Sava tidak kenal satu pun dari mereka. Semua telah diberi tanda silang merah.
'Ini pasti mangsanya Putra,' pikir Sava.
Ruangan itu sangat pengap meskipun bersih. Seperti dimasuki setiap hari dan dibersihkan. Sava masih fokus pada foto-foto. Berpikir tentang apa yang Putra lakukan pada semua orang di foto itu. Menurutnya Putra layak mendapat hukuman yang berat. Sava harus mengumpulkan bukti lebih banyak agar bisa menangkap Putra.
Berganti pada meja da kayu itu. Sava tidak mau menyentuhnya. Dia hanya mengamati dengan pandangan menelisik. Seakan meja dan kursi kayu itu sudah sangat lama. Sava melihat arloji di tangan kirinya. Pukul delapan malam sudah lewat. Rianti pasti khawatir mencarinya. Sava memfoto semua berhak darah kering dan meja kayu itu. Dinding dan foto-foto itu juga dia ambil gambarnya. Dia akan berdiskusi dengan kak Syam.
"Masalah ini, Rianti tidak baik sendirian. Aku nggak mau dia juga dalam bahaya." gumam Sava sambil memasukkan handphone dalam saku celana.
Dia kejar dari gudang. Menatap rumah bertingkat dua dan gudang itu bergantian dari atas motor.
'Mungkin rumah itu terpasang kamera pengintai. Tidak mungkin seorang sang penakhluk melalaikan penjagaan di rumahnya. Jadi, Putra emang biarin aku tau tentang dia. Apa rencananya?' batin Sava.
Sava memberikan salah dua jari di dahi, kemudian pergi dengan sangat cepat. Dugaannya Sava benar. Di rumah itu Putra sedang duduk mengawasi laptop yang tersambung dengan kamera pengintai. Dia melihat Sava memberi salam dengan tenang tanpa takut membuatnya tersenyum miring.
"Jaga ayah mertuamu, Sava. Ah, jaga Rianti juga sebelum aku yang jaga, haha. Gadis itu payah!" gumam Putra bersendekap menatap layar laptop.
Sampai di rumah, Sava duduk di teras karena pintu rumah terkunci. Dia tahu Rianti sengaja tida membiarkannya masuk karena pulang malam. Sava jadi teringat saat dirinya mengunci rumah dan tidak membiarkan Rianti masuk saat kembali dari sungai taman. Kini dia bermain handphone dengan serius. Mengirim semua gambar yang dia ambil pada kak Syam. Mereka bertukar pendapat.
Sekitar setengah jam Sava ada di teras. Rianti berdecak dan membuka pintu pasrah. "Kenapa nggak cari cara buat bisa masuk, sih? Manggil, kek! Salam, kek! Teriak atau gedor-gedor pintu gitu! Ini malah diem di sini!" omel Rianti di belakang Sava.
Sava kaget, menoleh ke belakang sambil mengelus d**a. "Kamu ini ngagetin terus! Santai aja kali!" balas Sava kembali menatap handphone.
Rianti menganga. Duduk kesal di samping Sava. "Mama sama Papa gimana?" tanya Rianti dengan raut masih marah.
"Pasti dibolehin, dong! Tapi mereka nyuruh kita buat tinggal di sana terus," jawab Sava sambil mematikan handphone-nya. Urusannya dengan kak Syam selesai. Dia tersenyum menatap Rianti.
"Aku jadi merasa merebut kamu dari mereka," ucapnya sudah tidak marah.
"Namanya juga orang tua. Kalau aku, ikut Kemanapun kamu pergi," ucap Sava.
Pandangan mereka bertemu.
"Kalau aku ke kamar mandi kamu ikut, dong?" tanya Rianti asal.
"Oh, jelas aku ikut!" jawab Sava semangat sambil mengangguk.
Rianti menganga lagi. Dia mendorong Sava sedikit menjauh membuat Sava terkekeh. "Apaan, sih?! Nggak jelas! Ke kamar mandi pakai ngikut!" Rianti kembali sewot.
"Haha, lagian pertanyaannya gitu. Eh, coba hitung bintang di sana!" kekeh Sava mendekat lagi sambil menunjuk langit.
Rianti mendongak. "Mana bisa ngitung bintang?" katanya bertanya.
"Kalau nggak bisa, coba gambar sesuatu di sana," kata Sava masih memandang langit.
Rianti nampak berpikir. "Gambar gimana? Aku nggak bisa gambar!"
"Gambar masa depan!" jawab Sava sambil menoleh, bertepatan dengan Rianti yang juga menoleh. Sejenak mereka saling pandang, berbicara lewat mata ke mata. Kata masa depan itu penuh tanda tanya. Membuat Rianti berdebar-debar.
Rianti mengerjap dan kembali menata langit. "Ekhm, masa depan itu yang kayak gimana?" tanya Rianti lagi.
Sava terkekeh. "Masa depan itu adalah masa depan. Gimana, sih?" jawab Sava sambil merangkul pundak Rianti.
Rianti mendelik. "Jawaban kayak apa itu? Nggak usah rangkul-rangkul, deh!" Rianti mencoba melepaskan tangan Sava dari pundaknya, tetapi tidak bisa.
"Eh, main gitar, yuk! Ayah udah tidur, 'kan?" tanya Sava.
"Iya, ayah istirahat lagi. Buat apa main gitar? Ntar ngundang tetangga pada kepo terus datang ke sini. Bikin pusing aja!" jawab Rianti.
"Yah, padahal mau buat suasana syahdu. Biar nggak kayak tadi pagi," desah Sava.
Rianti menoleh menatap Sava. "Suasana syahdu nggak harus main gitar, kali! Ini kurang syahdu apaan? Angin dingin begini udah syahdu ini," kata Rianti.
"Belum, masih kurang!"
Lama-kelamaan Rianti merinding mendengar suara Sava. Tepat di telinganya karena mereka sangat dekat.
"Lebih syahdu lagi kalau pelukan kayak gini." bisik Sava sambil memeluk Rianti. Senyumnya jahil membuat Rianti mendelik.
"Iihhhh! Lepasin! Dilihat tetangga nggak enak tau!" omel Rianti melepaskan diri dari Sava.
"Oh, kalau gitu di dalam aja. Berdua lebih syahdu!" ujar Sava di depan wajah Rianti.
"Apa?" Rianti mengernyit.
Sava terkekeh sedikit. Segera menggendong Rianti dan membawanya masuk kamar. Rianti kaget, dia memekik pelan takut ayahnya terbangun. Kakinya menendang-nendang meskipun tangannya berpegangan di lengan Sava.
"Hehh, turunin aku! Kamu apa-apaan, sih?" desis Rianti tajam.
Sava hanya tersenyum memandang wajah Rianti yang bingung. Dia menidurkan Rianti di ranjang dengan kaki bergelantung. Saat Rianti ingin bangun, Sava mendorongnya hingga kembali terlentang dan dia berada di atasnya. Rianti menahan pekikan sambil menutup wajahnya.
"Nah, kalau gini udah bisa pelukan belum? Kayaknya mau yang lebih juga nggak apa-apa." kata Sava dengan nada pelan.
Rianti menutup matanya rapat-rapat. Napas Sava meneriaki punggung tangannya. Suaranya itu menggelitik telinga Rianti.
"Omonganmu menakutkan! Jangan di atasku dong, Sava!" lirih Rianti.
Sava tersenyum lebih lebar. Dia membuka tangan Rianti pelan meskipun sekuat tenaga Rianti menahannya. "Sayang banget kalau ditutupi. Kamu cantik!" lirih Sava.
Rianti tersentak. "Sava, jangan aneh-aneh, deh! Aku takut beneran, nih!" mata Rianti sudah ingin menangis.
"Loh, kok nangis? Belum juga diapa-apain." Pandangan Sava meredup.
Detak jantungnya berdegup lebih cepat. Suaranya dapat terdengar Rianti.
'Gawat! Sava kambuh!' batin Rianti.
Rianti melotot saat Sava mencium dahinya. Turun ke hidungnya, kemudian merambat di pipi. Rianti refleks menutup matanya lagi. Sentuh bibir Sava yang begitu dingin karena dari luar, seperti siput yang menggelikan.
Kecupan itu beralih menjadi sapuan. Rianti bergetar. Napasnya memburu. Dari kanan ke kiri. Sava mencium semua bagian wajah Rianti. Rianti memekik saat Sava mengulum telinganya. Menggigitnya kecil membuat Rianti mendesis. Bukannya menoleh, meski rasa takut Rianti juga penasaran. Puas dengan telinga, Sava turun ke leher. Rianti bergetar hebat merasakan bibir Sava mencium lehernya. Dia mulai mendesah pelan. Sava semakin gencar bermain di leher Rianti.
Sava menjilatnya. Tahu Rianti akan mendesah lebih keras, Sava membekap mulut Rianti. Sava menambah jilatannya mebuat Rianti menggeliat.
"Sava, sshhh!" lirih Rianti di bekapan tangan Sava.
Pikirannya seakan gila. Tubuhnya bereaksi hebat. Sava berhenti menciumi leher Rianti. Dia terengah di depan wajah Rianti. Pandangannya mengabur. Melepaskan tangannya di bibir Rianti dan mengganti dengan bibirnya. Rianti terkejut. Sava menciumi bibirnya tanpa ampun. Dia menyecap sudut bibir Rianti seakan sangat manis. Rianti menggigit bibir bawahnya dengan bergetar. Namun, Sava meyibaknya paksa dengan lidah membuat lidahnya bertaut dengan Sava. Gemuruh Rianti semakin besar. Dia tidak bisa berpikir jernih. Sava membuatnya gila. Sava mengulum bibirnya lembut semakin menambah gairah.
Ciuman lembut itu berubah menjadi sensual yang menuntut. Sava sangat rakus seakan ingin memakan bibir Rianti. Lidahnya menggelut lidah Rianti. Namun, Rianti tidak berani membalas. Kepala pusing menahan gairah, dia mencoba membalas ciuman Sava dengan kaku. Sava mendesah. Dia memegang kepala Rianti dan tubuhnya menempel dengan tubuh Rianti. Perlahan Rianti bisa mengimbangi ciuman Sava. Bertukar saliva dan saling mendesah pelan. Tangan Rianti tidak tinggal diam. Dia berani meremas rambut Sava menjadi tidak karuan.
"Ahhh!" desah Sava saat Rianti menahan lidahnya.
Rianti merasakan sesuatu yang mengeras dan semakin besar menempel di pahanya. Seketika Rianti sadar. Matanya terbelalak dan melepaskan ciumannya paksa. Sava terengah dengan pandangan bingung. Rianti menatapnya takut dan ragu.
"Sava, aku...," Rianti gugup.
Sava mencium bibirnya lagi lebih ganas. Tidak memberikan Rianti kesempatan bicara. Rianti meronta hebat, justru Sava membawanya ke tengah ranjang dan menindih tubuhnya lagi. Sava mencekal kedua tangan Rianti membuat Rianti hanya bisa memekik pelan. Decakan menggema di kamar, napas mereka beradu. Sava melepaskan ciumannya dan beralih ke d**a Rianti. Mulut Rianti kembali dia bekap.
Sava meremas salah satu p******a Rianti, membuat Rianti terbelalak lebar. Sekuat tenaga dia mendorong Sava hingga menendangnya. Sava hampir terjungkal. Rianti buru-buru mundur hingga ke kepala ranjang sambil memegang bantal kuat-kuat.
"Sava jangan gitu! Aku takut! Aku takut!!" lirih Rianti dengan napas terengah.
Sava mengerutkan dahi. Dia mengusap bibirnya dengan ibu jari. Mendekat, tetapi Rianti ketakutan.
"Aku... Aku...," Sava bingung.
Melihat tangannya yang telah meremas sesuatu yang kenyal itu. Rianti menahan tangisannya. Sava kembali menatap Rianti.
"Eee, jangan nangis!" pinta Sava.
Sava mendesah pasrah. Dia meredam miliknya yang sudah keras susah payah. Namun, gairahnya membuncah saat melihat Rianti yang ketakutan dengannya.
"Apa aku menyakitimu? Ada yang sakit?" tanya Sava dari jarak yang sama.
"Jangan mendekat!" pinta Rianti saat Sava ingin menghampirinya.
Sava nekat duduk lagi di ranjang. Rianti sedikit menepi melirik Sava.
"Ma-maaf, Rianti. Aku kelewat batas!" ujar Sava menunduk.
Rianti perlahan menoleh. Melihat pandangan Sava yang meredup membuatnya tidak tega.
"Aku hanya belum siap," cicit Rianti.
Sava kembali menatapnya. "Kamu nggak marah?" tanyanya pelan.
Rianti menggeleng.
"Tadi aku kasar, ya?" tanya Sava was-was.
Rianti mengangguk. Sava berdeham. "Aku ke kamar mandi sebentar," kata Sava dan langsung pergi begitu saja.
Rianti menatap Sava yang menutup pintu kamar. Dia menggigit bibir bawahnya. Memegang dadanya yang masih bergemuruh.
'Astaga! Apa yang aku lakukan? Aku menikmatinya!' batin Rianti.
Sava menuntaskan hasratnya di kamar mandi. Sungguh dia tidak tahan dengan Rianti. Dia juga takut jika itu terus berlanjut akan melukai hati Rianti. Namun, terlintas saat Rianti membalasnya. Ada perasaan senang yang luar biasa. Itu berarti Rianti menerimanya, hanya saja belum siap, pikir Sava.
Setelah semua itu, Sava kembali ke kamar dengan gugup. Ternyata Rianti tidur menutup kepalanya dengan bantal. Sava tahu Rianti belum tidur bahkan mungkin tidak bisa tidur. Sava tidak berani naik ke ranjang. Dia duduk di lantai sambil melihat Rianti di sisi ranjang yang lain.
Sava mendesah pasrah.
'Sabar aja, lah,' batinnya lelah.
Puas memandang punggung Rianti yang tertutup selimut dengan senyum, Sava memanggilnya.
"Rianti, jangan pura-pura tidur! Aku udah nggak kayak tadi, kok, tenang aja!" kata Sava lembut.
Rianti semakin memejamkan matanya kuat.
"Aku juga nggak bisa tidur," lanjut Sava.
Mendengar suara Sava yang kembali santai membuat Rianti membuka mata. Dia membuka bantal di kepalanya dan bersandar di kepala ranjang. Berdeham melirik Sava yang tidak berhenti tersenyum.
"Ekhm, nggak usah lihatin aku!" galak Rianti.
Sava justru terkekeh. "Siapa yang lihatin kamu? Kepedean!" elak Sava.
Rianti melotot, tidak mau melihat Sava. "Ngapain di lantai?" tanya Rianti cuek.
"Emangnya aku boleh di ranjang?" tanya Sava balik.
'Pertanyaan menyebalkan!' batin Rianti.
"Ya... Antara boleh dan nggak boleh." jawab Rianti melengos.
Sava terkekeh lagi. "Hah, kalau gitu aku tidur di lantai aja!" kata Sava bercanda meskipun berbaring sungguhan di lantai.
'Eh, ntar dingin!' cegah Rianti dalam hati.
"Yaudah! Bagus kalau gitu! Nih, bantal sama selimut!" Rianti melempar bantal sama selimut ke Sava.
Sava kembali duduk. "Kok, dibiarin?" tanyanya polos.
Rianti melengos tida menjawab. Dia tiduran dan menutup kepalanya lagi dengan bantal. Sava hanya mendesah pasrah kemudian tertawa kecil.
'Aku tau kamu sebenarnya nggak tega. Dasar, sok cuek!' batin Sava.
Dia melamun meletakkan kepalanya di tumpukan tangannya bertumpu tepian ranjang. Menatap punggung Rianti yang tanpa selimut. Malam semakin larut, napas Rianti sudah teratur. Sava berpindah naik ke ranjang dan tidur jaga jarak dengan Rianti. Menutupi tubuh Rianti dengan selimut, sedangkan dia juga memunggungi Rianti ikut menutup kepalanya dengan bantal.
~~~
Kembalinya Rianti dari masjid setelah sholat subuh, dia membacakan segala macam doa pada ayahnya. Sava sampai bingung melihatnya.
"Rianti, kau ngapain, sih?" tanya Sava mendelik.
Rianti sedang memakaikan gelang kain di pergelangan ayahnya. Ayahnya menatap Sava bertanya, Sava mengendikkan bahu tanda tidak tahu.
"Ini jimat perlindungan. Kata pak ustad harus dikatakan doa terus dipakaikan ke orangnya. Aku ngelakuin ini biar ayah terhindar dari segala macam bahaya," kata Rianti mengerti mereka.
"Apa?!" kompak Sava dan ayahnya. Rianti mengerjap
"Ck, ini salah, Rianti! Kalau mau minta keselamatan berdoa sama Tuhan. Nggak perlu juga pakai gelang beginian!" kata Sava menunjuk gelang itu.
"Heh, diam! Terserah aku, dong!" balas Rianti.
Sava diam menutup mulutnya rapat-rapat. Ayahnya hanya menggeleng pusing.
"Sava, kamu nggak kerja?" tanya sang ayah.
"Hehe, aku ambil cuti seminggu." cengir Sava.
"Loh, kenapa?" tanya ayahnya bingung.
"Soalnya dia pemalas!" Rianti yang menjawab sambil melirik Sava.
Rianti pergi begitu saja menuju dapur. Mempersiapkan jualan bubur kacang hijau lagi. Berniat membawa ayahnya berkeliling agar selalu dia jaga.