Seperti pemandangan langka, Kak Syam bahkan terus menganga melihat Rianti jualan bersama ayahnya. Mereka berkeliling desa tanpa berhenti di satu tempat kecuali ada pembeli. Sava diam bersama kak Syam melihat Rianti melintas begitu saja di depan toko bangunan kak Syam. "Katanya jimat perlindungan," gumam Sava memberitahu kak Syam. "Ji-jimat apa?" tanya kak Syam kaget lagi. "Gelang benang, tuh!" Sava menunjuk pergelangan tangan ayah mertuanya dengan dagunya. Kak Syam menggeleng kecil. "Sejak kapan Rianti percaya begituan? Dia udah gila!" gumam kak Syam. Sava mendesah. "Hah, gimana ini?" menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Hari masih pukul enam pagi. Dua laki-laki itu mendesah bingung menatap Rianti yang tersenyum. Tidak ada tanda-tanda matahari cerah, mendung membuat suasana

