mencoba

2113 Kata
Beginning After End 5 "Jadi kemana kita sekarang?" Frey dan juga Abigail baru saja keluar dari desa, mereka perlu melatih kekuatan baru mereka di tempat yang lebih luas lagi, terutama Frey, anak itu harus banyak belajar karena dia baru saja mendapat kekuatan barunya. Dan tempat yang tepat untuk ini adalah hutan Jura tempat di mana banyak monster yang berkeliaran di sini. "Ke suatu tempat di mana kau bisa berlatih lebih keras lagi." "Maksudmu?" "Kau tahu hutan Jura?" Tanya Abigail untuk memastikan. "Hutan di mana para monster berkumpul?" Abigail mengangguk pelan. "Selain monster, di tempat itu juga banyak tumbuhan dan beberapa stone yang bisa kita gunakan untuk memperkuat kekuatan kita, setidaknya kita harus naik satu tingkat lagi sebelum melakukan rencana kita." "Memang apa rencanamu setelah ini?" "Mengumpulkan seluruh stone dan melenyapkan kekuatan itu, setidaknya kita bisa menghindarkan masalah dengan tidak ada stone yang di salah gunakan." Frey sepertinya mengerti, kekuatan yang sangat luar biasa itu sangat berbahaya jika sampai disalahgunakan boleh orang yang tak bertanggung jawab, bahkan mereka bisa bertindak dan mendominasi satu tempat dengan kekuatan mereka. "Lalu apa yang akan kau lakukan jika semua stone sudah terkumpul?" Abigail tak menjawab, benar, apa yang akan dia lakukan setelah mendapatkan semua stone itu, bahkan dia tidak pernah berpikir sampai sejauh itu, yang dia pikirkan hanya bagaimana cara mengumpulkan dan merubah masa depan yang membuat dirinya harus mengakhiri hidup dengan sebuah pengkhianatan, tanpa berpikir apa yang akan dia lakukan setelahnya. Terlebih, kekuatan yang besar itu bisa saja membuat dirinya terjebak sebuah ambisi dan keserakahan. Bisa saja bukan. Dengan kekuatan sebesar itu, jelas saja dia akan kalap dan lupa diri. Hanya saja jika bukan dirinya lalu siapa lagi, dia yang sudah melihat jauh ke depan, tepat di mana kerusuhan terjadi setelah stone itu di temukan. "Setidaknya kita kumpulkan semua stone itu, aku tidak ini batu kekuatan jatuh di tangan yang salah dan membuat orang lupa karena keserakahan mereka, apalagi hal ini bisa membuat masa depan hancur. Kekuatan yang berlebihan bisa membuat hati orang gelap dan berubah tamak." Setidaknya dia akan berusaha untuk sekarang, bagaimana nanti biarkan menjadi urusan nanti. "Terserah apa katamu, kalaupun kau yang akan tamak nantinya karena kekuatan itu sendiri. Aku yang akan maju paling depan untuk menghentikan mu." "Begitu juga sebaliknya aku." Ujar Abigail, yah dia tidak akan salah memilih partner kali ini, bagaimanapun juga, Frey adalah orang yang paling tepat ini ini, terlepas bagaimana dirinya dulu, Frey adalah orang yang bisa dia percaya saat ini. Bodoh saja jika dia harus melupakan dan meninggalkan seorang sahabat ini. Sosok yang dulu pernah rela berkorban diri hanya untuk dirinya sendiri. Lalu, sebuah pengkhianatan dia berikan utuk sebuah balasan yang telah diberikan oleh Frey. Maka Abigail tidak akan terkejut jika dia mendapat karma yang setimpal karena ulahnya. Frey mengangkat kepala tangan di udara, tepat di depan d**a Abigail dengan seringai yang lebar, membuat Abigail terkekeh pelan sembari membalas perlakuan itu. "Apapun itu, tolong saling mengingatkan jika kita sama-sama lupa nantinya. Kau salah satu orang yang bisa aku percaya saat ini dan kedepannya." Ucap Abigail pelan. "Tentu saja." Jawab Frey dengan cengir khas miliknya, yah mereka memang sedekat itu. Bahkan dulu pun selalu seperti itu, hanya kebodohan dan ambisi yang membuat dia lupa segalanya. Hal itu tidak akan pernah terulang lagi sekarang, entah esok atau nanti, dia akan mengingat masa-masa ini, dan masih banyak lagi orang yang akan selalu dia ingat dan dia lindungi, jangan sampai kerena kecerobohannya dia melupakan hal penting itu. "Oh ya Gail, menurut mu, apakah hutan Jura tidak terlalu berbahaya, setidaknya selama ini belum ada orang yang berani pergi terlalu jauh kedalam hutan itu, bahkan ketua suku saja belum pernah masuk ke sana." "Tentu saja berbahaya untuk orang awan, berbeda dengan kita yang jelas sudah memiliki kekuatan cukup untuk menjelajah ke dalam sana. Terlebih kau juga butuh pelatihan lebih untuk mengembangkan kemampuan mu itu." "Sepertinya memang seperti itu, belum lagi ledakan kekuatan dan cara menekan aura ini sangat berat untuk ku, aku sepertinya harus berlatih banyak." Frey memandangi kedua tangannya lalu menoleh. "Kau tanu, aku bahkan tidak menyangka bisa memiliki kekuatan seperti ini, element air yang dulu aku dapatkan dengan latihan sangat keras, sekarang bisa berkembang menjadi element es yang luar biasa kuat, ini sungguh luar biasa." "Jangan melupakan siapa dirimu setelah kau mendapat kekuatan itu. Cukup ingat, kekuatan yang kau miliki sebaiknya kau gunakan untuk menolong, bukan untuk melukai, walau sejatinya menolong tanpa sebuah imbalan, itu lebih baik dari pada kau harus melukai untuk sebuah hal yang tidak berguna. Kekayaan contohnya. Apa gunanya kaya saat hatimu gelap dan kau melupakan siapa sejatinya dirimu. Dunia hanya akan sebagai angin lalu, dan kau akan bosan dengan semua itu." "Mati di kelilingi orang-orang yang peduli dengan kita lebih baik dari pada mati karena begitu banyak kebencian yang tertuju pada kita?" Abigail mengangguk, di mendongakkan kepalanya dengan kedua tangan dia letakkan di belakang kepala, melihat sekumpulan awan biru cerah di atas langit yang memanjakan mata. Tempat ini masih terlalu damai dan membuat dirinya sedikit melupakan hal yang terjadi beberapa tahun ke depan, bahkan saat peperangan antar ras terjadi, mereka semua lupa dengan kedamaian ini, dan hanya memikirkan satu tujuan. Ambisi yang tak berujung dan kekuasaan yang tak bertepi. Dan akhirnya mereka hanya akan menyesal di akhir sebuah cerita. Seperti halnya Abigail, dia yang pernah berambisi untuk menguasai benua demi mengembalikan kedamaian yang ada, malah di tikam dan mari setelahnya. Bukankah itu lucu? Saat dirinya ingin mengembalikan keadaan seperti semua tanpa ada kekuatan dan kedengkian yang ada. Dia malah harus meregang nyawa karena orang yang dia percaya itu. Begitulah hidup, terkadang orang yang sejatinya kita anggap sebagai saudara malah menusuk kita dari belakang, semua tentu saja karena iri dengki dsn keserakahan yang ada. Kekuasaan bisa membutakan semua mata dan membuat orang lupa, tujuan awal mereka berjuang. Tak mengapa, anggap saja itu sebagai contoh dan pelajaran. Karena sekarang, setelah dia kembali dan mendapatkan kesempatan untuk kedua kalinya, Abigail tidak akan pernah melupakan kesempatan itu, sebisa mungkin dia akan menyelamatkan apa yang harus dia selamatkan, mencegah apa yang seharusnya dia cegah, tidak akan ada lagi sedikitpun celah yang akan dia lepaskan setelah ini. Pun dengan orang-orang yang sudah mengetahui stone itu, dia akan membuat mereka tidak mendapatkan hasil apapun dari hal itu, karena dia akan mendapatkan semuanya terlebih dahulu sebelum mereka mendapatkannya. "Kau tahu, ini bahkan lebih menyeramkan dari yang aku bayangkan." Ucap Frey dengan waspada, terlebih sekarang instingnya sudah berkembang dari biasanya. Dia bisa merasakan kehadiran makhluk ataupun hewan di sekitarnya, bahkan dia juga bisa mendengar beberapa tahap kaki dan suara yang aneh di telinganya. "Aku mendengar beberapa suara aneh dan asing." Abigail tersenyum. "Tenang saja." Karena dia juga merasakan apa yang sahabatnya itu rasakan, terutama suara aneh yang Frey dengar, itu adalah suara dari para goblin yang tengah berburu di hutan ini, monster kecil berwarna hijau yang memiliki sedikit kekuatan sihir itu terkadang menjadikan manusia sebagai mangsa buruan mereka. Dan wajar saat mereka berdua datang, segerombolan goblin itu langsung mencari keberadaan mereka. Aroma tubuh manusia adalah sesuatu yang selalu di sukai oleh para goblin. "Mereka hanya seekor kecoa kecil di mataku." "Maksudmu?" Abigail tersenyum kecil. "Anggap saja dia sarana latihan awal mu, kau harus benar-benar yakin setelah ini." "Yakin untuk apa?" "Untuk ini!" Abigail membuat sebuah bola energi di tangannya dengan kemampuannya, lalu melemparkan bola itu ke arah kirinya dan menciptakan sebuah ledakan yang cukup kuat. "Ka-kau! Apa yang kau lakukan Gail?!" Tanya Frey panik. Dia yakin kelakuan Abigail sudah memancing beberapa monster untuk datang ke tempat ini, dan saat itu dia berpikir hidupnya akan selesai. "Untuk mengundang pemilik suara yang kau dengar tadi." "Maksudmu?" "Kau tahu goblin?" "Y-ya?" "Nah monster itu yang akan menjadi sarana latihan mu untuk pertama kali, aku akan melihat sejauh mana kau berkembang, dan sejauh mana kau bisa menguasai kekuatanmu itu." "Kau gila!" Sentak Frey seketika. "Tidak." "Lalu kenapa harus dengan goblin?" Abigail terkekeh pelan, tidak ada yang lebih efisien untuk membangkitkan sebuah kekuatan jika tidak sampai mengancam orang itu. Seseorang harus benar-benar berada di bawah tekanan untuk bisa mengendalikan dan menguasai kekuatan mereka. Karena bagi Abigail, orang yang sudah berada di bawah tekanan akan berpikir berkali-kali lebih cepat dan memikirkan tindakan apa yang akan dia lakukan untuk bisa bertahan. Sebuah teknik yang pernah dia lakukan dulu, sayangnya dia mengetahui teknik pelatihan ini dari Fluxy orang yang sudah mengkhianati dirinya dulu. "Karena mereka adalah monster yang paling lemah yang tinggal di hutan ini. Aku tidak yakin jika mereka semua adalah orge, atau lizardman." "Sialan." Abigail terkekeh pelan, apalagi saat derap langkah terdengar mendekat, dia yakin sebentar lagi para goblin akan datang dan menyerang mereka. "Aku akan melihatmu dari sini." Ucap Abigail sembari melangkah mundur, dia memilih bersandar di batang pohon sembari memperhatikan Frey. Tak lama setelahnya segerombolan goblin datang, ada lima goblin yang datang dan membawa tongkat pemukul Nyang berduri. serta satu goblin dan bagian paling belakang dengan saru tongkat yang menyerupai tingkat sihir sepertinya dia yang bertugas untuk menyembuhkan atau merapal sihir untuk p*********n, entahlah, Abigail belum tahu saat mereka belum melakukan p*********n. "Arck!" Salah satu dari mereka berteriak, lalu mengangkat pemukul yang dia bawa. Dan setelahnya tiga goblin di antaranya berlari menyerang Frey. Anak itu masih bergetar di tempatnya, bahkan tak bisa bergerak saat goblin semakin mendekat. Abigail yakin Frey masih sedikit terkejut dengan situasi ini, tentu saja hidup tanpa ada bahaya dan selalu dilindungi oleh penjaga desa membuat dirinya selalu merasa aman. Dan dihadapan dengan situasi seperti ini tentu saja membuat mentalnya belum terlatih dengan kuat. Abigail mengangkat jari telunjuknya, lalu mengeluarkan skill tembakan dari ujung telunjuk, Seperti yang pernah dia lakukan sebelumnya. Hingga membuat para goblin itu terdiam sejenak sembari menatap kearahnya. Abigail sengaja tidak membidik mereka, agar Frey bisa melihat perbuatannya dan berpikir bagaimana cara bertahan di situasi seperti ini. "Jangan diam saja jika kau tidak ingin mati, ingat saja tubuhmu sudah jauh berkembang, gunakan seluruh indera mu dan lalukan pertahan untuk bertahan dari serangan mereka. Mau juga memiliki kekuatan dalam dirimu, gunakan saja itu." Frey mendengkus pelan. Abigail sepertinya benar-benar tidak akan membantu dirinya, dia harus bekerja keras untuk hal ini, jika dia diam saja, maka berakhirlah sudah. "Sialan kau Gail!" Teriak Frey lalu mengambil ancang-ancang untuk menyerang goblin yang ada di bagian paling depan, dia menerjang makhluk itu dan mendorongnya ke belakang. Tentu saja goblin itu tidak akan tinggal diam, makhluk itu berusaha untuk memberi Perlawanan agar Frey melepaskan dorongannya, beberapa pukulan Frey terima hingga membuat dirinya benar-benar tak habis pikir. Dia berusaha untuk menyerang, tapi dia tidak tahu harus melakukan apa. Hanya bertahan dan bertahan. Hingga dia merasa goblin lain mulai berlari mendekat kearahnya. "Gunakan kekuatanmu Frey!" Teriak Abigail dari ujung sana, membuat Frey mau tak mau harus berkonsentrasi untuk menggunakan kekuatannya. Dia mencoba berpikir apa yang seharusnya dia lakukan, hingga terbayang saat bagaimana dia memfokuskan manna di seluruh lengannya dan mendapatkan kekuatan yang berlebih di sana. Dia melakukan hal itu lagi, dan saat merasakan kekuatan itu mengalir di lengannya, segera saja Frey mengangkat goblin itu tinggi-tinggi dan membantingnya ke depan. Tidak sampai di sana, dia segera meraih kaki goblin itu dan melempar ke salah satu goblin yang berlari ke arahnya. Yah inilah kekuatan yang dia inginkan, dia harus mulai membiasakan diri. Kini dia fokus untuk mengumpulkan mana di telapak tangan kanannya, lalu membayangkan sebuah bola itu hadir di sana, sesaat setelahnya dia berhasil membuat bola energi berwarna biru di sana. Dan setelahnya dia tak ingin menunggu lama lagi, sebelum goblin itu benar-benar menyerang dirinya. Frey segera melempar bola energi itu ke salah satu goblin yang ada. [BOOM!] Ledakan dan Kilat biru dengan aura dingin itu terlihat jelas, membuat para goblin membeku seketika, hal itu membuat Frey terkejut. Apakah benar ini kekuatannya? Dia menoleh. Menatap Abigail seolah menanyakan prihal kekuatannya. Dan sialnya, Abigail hanya mengedikkan bahunya sembari menunjuk dua goblin yang tersisa. "Sialan! Kau Gail!" Frey meraih tingkat pemukul miliki goblin yang membeku tadi, lalu berlari dengan kencang menuju satu goblin di depan, dia memberikan pukulan demi pukul yang dengan mudah mampu di tepis oleh goblin itu. Kecepatan masih sangat lambat, dia harus menaikan tempo serangannya. Dia harus lebih cepat sebelum goblin itu berhasil melukainya. "Berpikir. Berpikir. berpikir!" Berkali-kali dia berkata demikian, bagiamana mana cara menghentikan laju serangan dari goblin ini. Hingga terpikirkan sebuah cara di kepalanya, jika dia bisa meledakkan dan membekukan tiga goblin tadi, lalu apakah dia bisa menggunakan kekuatannya untuk memperlambat goblin ini? Dengan pemikiran itu dia mulai memfokuskan kekuatannya di tangan kiri, lalu melepaskan kekuatan itu dan dia arahkan di kaki goblin tersebut, dan benar saja. Kaki goblin itu membeku, dan hal itu memberi Frey kesempatan untuk menyerang. Satu pukulan dia berikan pada goblin itu hingga membuat satu goblin tewas di tempat. Napasnya tersengal, sayangnya masih ada satu goblin lagi yang tersisa, dia harus benar-benar memanfaatkan kekuatannya. Belum lagi stamina yang dia miliki seolah terkuras habis karena penggunaan kekuatan tadi. "Sial!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN