Beginning after end 6
Setiap manusia jelas memiliki potensi masing-masing, ada yang memiliki kecerdasan yang bisa dikatakan jenius, ada juga yang terbilang jodoh dan hanya mengandalkan kekuatan mereka sendiri, untuk Abigail, dia bersyukur dulu saat di usianya masih menginjak lima belas tahun, dia sudah bisa mengembangkan potensi yang ada pada dirinya. Dan kini saat dia kembali ke masa di mana dirinya bisa jauh lebih berkembang lagi dia tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan yang ada.
"Atur pernapasan mu, jangan biarkan sedikit saja celah untuk merusak konsentrasi mu dalam mengambil langkah, kau harus berpikir dan menyatukan kekuatan itu agar sealiran dengan pernapasan mu!"
Abigail melihat batas dari sahabatnya itu, terlebih saat napas tersengal itu terdengar sangat berat, dia harus pintar melatih pernapasan dan stamina agar dia bisa menjadi lebih kuat lagi. Bahkan tubuh kecil itu harus benar-benar dilatih lagi untuk meminimalkan kekuatan yang dia miliki.
Tidak ada celah lagi untuk Frey, dia harus benar-benar bisa menguasai kekuatannya sebelum melangkah lebih jauh lagi. Akan banyak hal yang akan Abigail berikan untuk sahabatnya itu dan hal itu tidaklah mudah.
Frey seolah mendengar ucapan Abigail, dia meningkatkan kekuatannya dan kapasitas pernapasan, bahkan kini aliran pernapasan Frey lebih teratur dan kekuatan itu mengalir dengan lancar, dia akan diam dan melihat bagaimana Frey menghadapi goblin yang memiliki sihir seperti dirinya.
Sepertinya dia akan terpojok setelah ini. Dan Abigail agak diam sembari memperhatikan sejauh mana anak itu berkembang.
Frey terkejut saat goblin di hadapannya merapal sebuah mantra dan setelahnya bola api muncul di ujung tingkat itu. Dan menyerang Frey dengan kuat. Sungguh ini lah kekuatan yang di hasilkan oleh para monster, walau kekuatan itu tergolong rendah, tapi tetap saja Frey harus merasakan panas dan terluka karena serangan itu.
Benar-benar merepotkan.
Tapi di sisi lain, Frey malah bisa mengatasi keadaan, dengan pernapasan yang lebih teratur dia mulai menyiapkan dan fokus untuk kekuatannya, dia mengalirkan manna ke kedua kakinya lalu pada bagian tangan untuk menambah kecepatan juga kekuatan pada tangan, tak lupa dia menggunakan element es yang dia miliki untuk memadamkan dan melawan sihir api yang di miliki si goblin.
Sepertinya pertarungan ini akan sedikit lebih seru, apalagi saat Frey berlari dengan kecepatannya, menerjang goblin itu dan meraih tongkat sihirnya. Dia memberikan tendangan di bagian perut hingga membuat goblin itu terpental jauh ke belakang, sepetinya tidak lama lagi kemenangan akan dipegang oleh Frey.
Frey mematahkan tongkat sihir milik goblin tadi, dan menatap sesaat sebelum kembali mengambil ancang-ancang dan menyerang goblin itu dengan kekuatan penuhnya. Dia mengaliri tangan tangannya dengan Manna, lalu menghunuskan tangan itu ke bagian perut goblin hingga tembus. Dan setelahnya goblin itu membeku karena kekuatan Frey.
Abigail tersenyum puas, dia melihat banyak perkembangan yang dialami Frey dari pertarungan ini.
"Bagaimana Frey? Kau terluka?"
Frey diam saja dengan napas tersengal. Dia benar-benar kehabisan napas sekarang dan membuat dirinya terduduk di atas tanah dengan wajah mendongak ke atas.
"Kemampuan mu sudah naik cukup banyak, sungguh luar biasa bukan?"
"Luar biasa, tapi ini sungguh melelahkan."
"Kau akan terbiasa dengan itu."
Karena Abigail tahu, semua butuh proses tidak ada yang tidak mungkin di dunia ini, jika dia yakin maka semua akan bisa dia lakukan.
Abigail contohnya, dia pernah menjadi penguasa benua ini, menjadi orang yang berhasil menggulingkan kerajaan dan menjadi satu-satunya orang yang bertahan hingga akhir. Hanya saja kebodohan yang dia lakukan benar-benar membuat dirinya terlena dsn lupa.
Dia menatap Frey sejenak, anak itu sudah sedikit berkembang, tinggal sedikit pelatihan saja maka dia akan bisa diandalkan setelah ini.
"Kau ingin tahu sebuah rahasia?"
"Apa?" Tanya Frey dengan napas yang masih tersengal.
Abigail melangkah mendekati tubuh goblin yang tidak membeku. Lalu melakukan sesuatu yang aneh pada makhluk itu dan mengambil sebuah kristal kecil di dalam sana.
"Setiap monster memiliki sebuah kristal yang berharga, semakin kuat dan tua umur monster, maka semakin besar juga kristal yang mereka miliki."
Abigail melempar kristal itu kearah Frey yang dengan sigap di tanggap oleh pria itu.
"Kau bisa menukarkan kristal itu dengan sejumlah emas yang lumayan banyak. Terlebih saat kau menjualnya di pasar gelap, akan banyak yang membutuhkan benda itu di sana."
"Kau yakin?"
"Tentu saja." Abigail mengambil kristal di setiap tubuh monster, dia tidak akan menyisakan satupun, karena semua itu adalah hasil buruan Frey.
"Kau lihat?" Abigail mengangkat kristal yang baru saja dia ambil dari goblin penyihir tadi. "Kristal goblin dukun ini lebih besar, dan harga dari kristal berwarna merah tua ini bahkan bisa mencapai lima emas koin."
"Jangan bercanda!" Ucap Frey tak menyangka. "Li-lima koin emas? Bahkan hasil ku bekerja selama satu tahun di ladang tidak akan mendapatkan sebanyak itu."
"Dan selamat, kau baru saja menjadi orang kaya karena ini."
Frey terdiam sejenak saat Abigail mengucapkan kata kaya di sana. Apa maksudnya sahabatnya mengatakan hal itu.
"Tunggu! Apa kau yakin kristal itu sangat berharga?"
"Tentu saja."
"Jika kita menjualnya, kita bisa memberi kehidupan yang layak untuk anak-anak di desa bukan?"
Seperti yang Abigail pikirkan. Frey pasti akan memikirkan anak-anak setelah dia mendapatkan uang, bukan pemikiran yang akan dia gunakan untuk dirinya sendiri karena Frey dan Abigail terlahir di kalangan orang tak berada, maka tidak heran jika Frey akan berpikiran demikian.
"Tentu saja, bahkan kita bisa menyekolahkan mereka setelah mendapat uang itu."
"Kau benar, kita bisa memberikan kehidupan yang kayak untuk mereka setelah ini."
Abigail tersenyum. "Tapi sebelum itu kita harus menukarkannya menjadi emas terlebih dahulu, baru bisa memberi mereka makanan yang enak."
Frey menatap Abigail dengan tenang. "Kau benar. Kita juga harus mengumpulkan banyak kristal jika ingin menyekolahkan anak-anak di desa."
"Lalu?"
"Tentu saja kita akan membantu keuangan desa agar desa kita lebih berkembang lagi, akan ada banyak lagi generasi muda seperti kita yang akan memiliki talenta mereka masing-masing, kekuatan dan pendidikan, mereka akan mendapatkan itu semua."
"Kau benar, hanya saja untuk stone, aku berharap kau menyembunyikan hal itu dari siapapun." Abigail terdiam sejenak. Sepertinya hal ini harus ditekankan lagi pada sahabatnya, agar dia benar-benar menyembunyikan kekuatan yang dia miliki.
"Kau tahu?" Abigail menghela napas pelan. "Sebuah kekuatan terkadang membuat orang lupa dan bertindak sesukamu hati mereka. Dan jika mereka tahu, aku tidak yakin jika desa kita akan aman setelah ini."
"Kau benar." Frey tentu tidak bodoh, dia menyadari akan hal itu. Bahkan saat kekuatan mereka masih sebatas sihir dasar saja sudah banyak yang bertingkah arogan dan salin mendominasi. Apalagi saat mereka mengetahui keberadaan stone. Frey yakin mereka akan semakin buta dan kalap dengan hal itu.
"Kita harus benar-benar menyembunyikan kekuatan kita untuk keselamatan para warga desa."
Yah seperti itu lah seharusnya Frey, Abigail tentu saja sangat mengenal sahabatnya itu, dia adalah orang yang paling mengerti dirinya dan tentu saja saat ini Abigail akan mempercayakan semua rahasianya kepada sahabatnya ini.
"Dan sekarang mari kita berburu lagi sebelum membawa barang yang kita dapat ke para pembeli di pasar gelap."
"Tentu saja, aku tidak sabar melihat anak-anak tersenyum puas dengan apa yang kita bawa nanti."
Begitupun Abigail. Dia tidak sabar melihat pasar gelap dan mendapatkan barang yang dibutuhkan.
Tidak ada yang lebih menyenangkan di banding berburu benda langka yang memiliki kemampuan unik di dalamnya. Apalagi saat ini dia memiliki sistem yang bisa membantunya untuk menentukannya barang layak atau tidak.
Terkadang hidup harus sedikit curang untuk busa mendapatkan keuntungan. Tidak harus selalu jujur, karena sejatinya jujur saja tidaklah cukup untuk menghadapi dunia yang gelap ini
----
"Aku harap itu yang terakhir!" Frey berucap dengan napas tersengal, dia terduduk di atas tanah dengan dua tangan menjadi tumpuan tubuhnya.
Benar-benar hal yang melelahkan, entah berapa manna yang dia habiskan untuk meningkatkan batas kemampuannya, tapi semua itu juga memiliki hal yang benar-benar bagus untuk staminanya, sepertinya dia sudah berkembang lebih jauh dari sebelumnya.
Jika di awal tadi dia membutuhkan waktu setengah jam untuk menghabisi lima goblin. Kini dia hanya membutuhkan waktu lima menit saja untuk menghabisi sepuluh goblin dengan dua goblin dukun yang merepotkan.
"Sepertinya itu yang terakhir, hari sudah semakin sore, dan kita harus bergegas untuk menjual kristal ini sebelum terlalu larut."
"Kita pulang sekarang?"
"Tentu saja."
"Hah! Aku masih terlalu lelah untuk berjalan, Gail!"
"Tidak usah terlalu buru-buru, tenang saja kita berisitirahat sejenak dan kita akan pergi setelahnya. Aku tahu jalan rahasia di sekitar sini."
"Aku berharap di jalan itu tidak akan bertemu dengan monster lagi."
"Tenang saja, kau akan beristirahat selama di perjalanan nanti."
"Seperti yang ku harapkan."
Abigail tersenyum lalu mengulurkan tangannya pada Frey yang langsung di tangkap oleh pria itu. Mereka berjalan beriringan menuju ke sebuah tempat yang menjadi pintu rahasia menuju pasar bawah.
Abigail masih sangat hapal dengan tempat ini, tempat yang menjadi lokasi dirinya menuju pasar gelap dan mencari barang yang berguna di sana.
Dia menuju sebuah tebing bukit dan sebuah air terjun yang mengarah ke sebuah dana. Dalam diam Frey hanya mengikuti langkah Abigail sembari menatap sahabatnya itu.
Sosok yang saat ini memiliki kekuatan sangat luar biasa. Bahkan dia tidak kesulitan sedikitpun saat menghadapi lizardman tadi, tepat setelah mereka terpojok dan tak bisa berkutik lagi.
Frey tentu saja tidak akan sanggup mengalahkan mereka seorang diri, maka dari itu abigail harus turun tangan untuk melakukannya dan mengalahkan pasukan lizardman yang menyerang mereka.
"Apakah itu kekuatan yang akan aku dapat jika terus berlatih?"
Abigail berhenti melangkah, dia menoleh kecil sembari melirik Frey.
"Apa kau tertarik?" Tanya Abigail dengan nada tenang.
"Kau tahu, sebenarnya aku tidak tertarik dengan kekuatan seperti ini, semakin banyak kekuatan yang aku miliki maka semakin berat juga beban yang aku tanggung, tapi untuk saat ini kita memang butuh kekuatan untuk melindungi desa dan para warga." Frey menghela napas pelan, semakin hari memang semakin banyak monster yang menyerang desa mereka dan hal itu membuat desa semakin kacau. Beruntung mereka memiliki penjaga yang handal walau setiap pekan akan ada yang tumbang setelahnya.
"Kau benar, alasan kenapa aku memberimu kekuatan adalah untuk ini. Aku tidak pernah mengatakan kenapa aku memberimu kekuatan. Karena aku ingin kau menyadarinya sendiri. Untuk apa kekuatan dalam dirimu saat ini. Kau harus benar-benar menggunakan kekuatan itu untuk melindungi desa."
Frey mengangguk pelan, sebuah kekuatan tentu saja memiliki tanggung jawab yang besar, dan tidak semua orang sadar dengan hal itu.
"Kau tahu, aku malah bersyukur kau mempercayaiku untuk memiliki kekuatan seperti ini, kekuatan yang bisa aku gunakan untuk melindungi orang-orang yang aku sayang."
"Tentu. Karena kau sahabatku, bagaimana mungkin aku tidak mempercayai mu?"
Sayangnya, dulu aku pernah mengkhianati mu dan meninggalkan mu begitu saja, hanya demi orang yang tidak pernah menganggapku sebagai saudara.
Sudahlah, sekeras apapun Abigail menyesal, dia akan membayarnya, kini waktu telah kembali dan dia bisa melakukan semua hal yang seharusnya dia lakukan.
Membalaskan dendam untuk orang yang sudah menikam dirinya, dan mencegah semua hal itu terjadi.
"Apa kau sering pergi ke tempat ini?" Tanya Frey saat menyadari jalan yang mereka lalui sangatlah mudah tanpa ada halangan apapun, Abigail seorang sering berpergian ke tempat ini, melihat dari gelagat yang seolah sudah biasa dengan tempat ini.
"Ya ...." Balas Abigail bergumam. Setidaknya dulu ini adalah tempat yang selalu dia gunakan saat ingin pergi ke pasar gelap. Setidaknya untuk menghindari kekacauan yang ada.
Tapi sekarang, Abigail hanya menggunakan tempat ini karena dia butuh.
"Aku mengetahui jalan ini dari seseorang yang pernah aku tolong."
"Kapan?"
"Saat aku berjalan-jalan dan menemukan stone itu."
"Apakah dia yang memberitahumu tentang batu itu?"
"Em ...." Sejujurnya Abigail tak ingin berbohong sedikit pun tapi dia juga tidak bisa mengatakan rahasia itu. "Seperti itu lah, dia memberiku sedikit informasi dan memberi cara bagaimana menyerap kekuatan itu."
Frey mengangguk pelan saat mendengar ucapan itu, walau sejatinya dia tidak percaya tapi tak mengapa.
Mereka diam untuk beberapa saat hingga akhirnya mereka sampai di ujung lorong, lorong yang menuju ke sebuah pintu belakang sebuah tempat yang terbilang cukup ramai.
"Kita sampai."
Frey terpukau untuk kesekian kalinya, dia benar-benar tak percaya jika di dalam sebuah tebing akan ada tempat yang begitu hebat seperti ini.
"Kau yakin?"
"Tentu saja." Abigail tersenyum lebar. Dia penasaran. Ada barang apa saja yang akan dia temui di tempat ini, sepertinya begitu banyak barang yang memiliki kekuatan sihir di jual di tempat ini. Sungguh luar biasa.
"Ayo pergi."
"Baiklah."
Pertama-tama Abigail akan mengunjungi toko yang menjadi langganannya di masa depan, dia ingin melihat apakah toko itu masih berdiri di tempat ini, seperti halnya dulu.
Semoga saja seperti itu, karena bagi Abigail, hanya toko itu yang memiliki barang dan harga yang terbilang cukup murah.
Tempat di mana dia akan mendapat barang berkualitas dengan beberapa kristal inti yang dia dapat tadi.