beginning after end 7
Abigail sudah begitu lama tidak mengunjungi tempat ini, rasanya ada perbedaan yang sangat pesat dari tempat yang dulunya begitu banyak memasok barang sihir dan juga peralatan untuk membuat sebuah item, laku kenapa sekarang rasanya sedikit kurang dan agak sepi.
Kakinya melangkah dengan mata mengedar ke seluruh penjuru arah untuk melihat, di mana tempat pak tua itu berada. Karena saat ini dan masa depan, rute setiap toko sangatlah berbeda, mungkin usia yang membedakan. Jika di masa depan semua orang sudah mulai mengerti dengan sihir dan kekuatan, maka wajar saja jika mereka berbondong-bondong mendatangi tempat ini untuk sekedar mencari item yang mereka gunakan.
Tapi sekarang, mereka hanya mencari semesta ilegal dan barang ilegal dengan harga murah, seperti namanya, pasar gelap, di sediakan untuk menghindari mereka membayar pajak pada negara, tapi sayangnya, Abigail datang ke tempat ini bukan untuk mencari senjata, melainkan item yang dapat dia gunakan untuk memurnikan sisa kekuatan dan juga bahan sebuah item yang akan dia buat menjadi senjata.
"Lihat-lihat, kau lihat semua itu, ini gila, benar-benar gila!" Frey terpukau dengan apa yang dia lihat, matanya berbinar saat mendapati barang yang memiliki harga mahal di luar sana dan hanya di pajang murah di tempat ini.
"Kenapa harga barang-barang di sini sangat murah?"
"Karena pasar gelap."
"Ah iya, apakah di tempat ini tidak ada pajak?"
"Pasar ilegal mana ada pajak bodoh! Dan lagi, jangan keras-keras mengatakan pajak, atau kau akan mendapat masalah."
Frey mendelik lucu. "Maaf...," Jawabnya sembari berkata bisik kecil, sebaiknya dia diam saja dan mengikuti kemana Abigail pergi dari pada menimbulkan masalah yang lebih parah lagi.
Dua orang anak kecil yang terlihat sangat lemah berjalan di sebuah pasar ilegal yang rahasianya jelas benar-benar terjaga, tentu saja akan menjadi perhatian banyak orang, mereka berpikir. Dari mana mereka tahu tempat itu, dan apa yang dia orang anak itu lakukan di tempat ini.
"Hoy, hoy, lihat ini. Apakah kalian tersesat anak kecil?"
Abigail menghentikan langkahnya saat ada satu sosok yang menghadang jalannya. Tubuhnya yang besar membuat Abigail harus mendongak untuk memastikan hal itu.
Seorang pria bertubuh besar dengan wajah yang menyeramkan, lalu banyak bekas luka di sekujur lengan dan satu bekas luka di wajahnya. Sepertinya dia seorang petarung. Apalagi saat melihat pedang besar di belakang tubuhnya, terlihat sangat menyarankan dan sangat kuat.
Kuat, jika mereka orang awam yang melihatnya, bahkan aura yang dia keluarkan juga sangat besar. Sepertinya dia sudah mencapai kekuatan dasar tingkat dua.
Tidak terlalu buruk.
"Maaf paman, kami hanya ingin lewat." Abigail hanya menjawab dengan datar, lalu mencoba bergerak ke samping untuk melewati pria besar itu.
"Hei, hei, tunggu dulu anak kecil, siapa yang menyuruhmu lewat, Hem?"
"Tidak ada."
"Lalu kenapa kau lewat begitu saja?"
"Karena ini jalan umum."
"Sialan!" Dia mengeram kasar, sepertinya anak ini memiliki watak yang sangat licik dan keras kepala, bahkan dia terlihat tidak takut saat berhadapan dengan dirinya dan aura yang dia keluarkan.
Sedangkan Abigail hanya menatap pria itu dengan nanar, terkesan santai dan acuh, dia sudah bisa berhadapan dengan posisi seperti ini. Terlebih pasar gelap, hanya orang yang kuat yang bisa mencari masalah dan berbuat semaunya sendiri, di tempat ini tidak ada hukum, kecuali menyakiti atau merampok pedagang, maka secara tak langsung mereka sudah membuat kekacauan dan hukum tingkat gelap.
Di mana para penjaga akan datang dan menyergap siapapun yang membuat masalah kepada pedagang. Namun jika pengunjung, mereka bebas berbuat onar di tempat ini, merampok menekan dan merampas, seolah sudah menjadi makanan sehari-hari. Dan sepertinya tuan besar di hadapan Abigail ini adalah orang yang sudah menguasai tempat ini.
Maka wajar saja jika dia bertindak sesuka hatinya.
"Dengar bocah!" Pria itu menunduk untuk mensejajarkan tinggi tubuhnya dan kedua bocah di depannya. "Di tempat ini aku yang berkuasa, aku yang memberi hukum dan aku yang memberi perintah, jadi jika aku bertanya maka jawab saja dengan benar!"
"Apakah ini tempat paman?"
"Secara umum ya."
"Lalu apakah paman yang membuat tempat ini?" Abigail hanya ingin mengukur waktu dan mencoba tak membuat keributan, tapi sepertinya dia tidak akan mudah keluar dari kekacauan seperti ini.
"Bukan."
"Lalu kenapa paman melarang aku untuk melihat-lihat?"
Pria besar itu mendengkus keras, dia tak menyangka jika satu anak di hadapannya ini sangat pandai berbicara.
"Kau tahu?" Dia menghela napas kasar. "Tempat ini hanya di khususkan untuk orang yang benar-benar memiliki izin dan juga orang yang memiliki uang. Sedangkan kalian?" Dia menunjuk mereka berdua.
"Hanyalah seekor serangga kecil! Jadi jangan coba-coba untuk melangkah lebih jauh. Lebih baik kau pulang dan tidurlah dengan tenang, lupakan apa yang kau lihat di tempat ini!"
"Tenang saja paman, aku sudah tahu aturan di tempat ini, kau tidak perlu cemas akan hal itu."
Pria besar itu beranjak, dia berdiri dan menunduk untuk melihat niat kedua bocah itu, bocah yang seharusnya masih duduk di bangku sekolah. Ke apa harus repot-repot datang ke tempat ini yang jelas bukan di peruntukan untuk anak-anak.
"Pulanglah!"
Suara itu sangat berat dan kasar, Abigail tahu itu bukanlah sebuah peringatan, tapi melebihi sebuah ancaman yang membuat Frey bergetar di tempatnya. Terlebih aura yang di keluarkan oleh pria besar itu sangat menakutkan.
"Maaf tapi aku masih ada keperluan di tempat ini."
Pria besar itu menoleh kuat. "Kau!" Lalu mengerang kasar.
Abigail tak mundur selangkah pun, dia malah mendongak untuk menatap langsung ke arah pria besar itu.
"Jangan halangi jalanku, dan lebih baik urus saja urusanmu sendiri." Ucap Abigail dengan suara keras dan kasar.
Pria besar itu terdiam sejenak, lalu menatap baik-baik anak di hadapannya. Sepertinya anak ini memiliki kemampuan yang lumayan.
Dia menarik pedang besar dari punggungnya, lalu menancapkan di atas tanah tepat di hadapan Abigail berdiri. "Aku akan pergi jika kau berhasil mencabut pedang ini."
Abigail menatap pedang besar yang memiliki bekas gores di sana, jika di lihat dari kemampuan dan keterampilan pedang itu memiliki banyak pengalaman.
[Sistem : pedang Ford knight. Sebuah pedang dari suku Ford yang memiliki khusus, biasanya hanya suku Ford terpilih yang bisa menggunakan pedang itu.]
[Sistem : mengidentifikasi gagal, pedang dalam kondisi rusak dan tidak memiliki kemampuan atau skill khusus di dalamnya.]
Abigail tersenyum, bukankah sistem yang dia dapat setelah dibangkitkan kembali benar-benar membantu.
"Mencabut apakah termasuk dengan menghancurkan pedang ini?" Tanya Abigail dengan santai.
"Gail, jangan berbuat semau mu sendiri." Bisik Frey yang sedari tadi diam saja di tempatnya.
"Tenang saja, kau cukup diam dan lihat." Halah Abigail.
"Kau?" Tanya pria besar itu. "Menghancurkan pedang ini?" Dia seolah tak percaya dengan ucapan seorang anak yang memiliki kesombongan luar biasa. "Untuk seukuran anak, kau memiliki mulut yang besar juga."
Dia menyeringai kasar. "Kau tahu, ini adalah pedang yang aku dapat dari suku Ford, pedang agung yang hanya diberikan oleh para kesatria yang mampu bertahan dari serangkaian ujian yang hanya diadakan sepuluh tahun sekali."
"Dan berarti pedang ini sudah berumur lebih dari sepuluh tahun?"
"Kau pintar juga ternyata." Dia terkekeh pelan merasa congkak karena anak ini sepertinya sudah melihat kehebatan dalam dirinya. "Pedang ini sudah berusia sebelas tahun dan sudah menjadi senjata andalan yang selalu aku gunakan untuk membunuh monster, jika kau tidak berhati-hati maka dia yang akan melukaimu. Pedang ini terkesan haus darah dan ...."
Bla bla bla, Abigail merasa muak dengan ucapan dan penjelasan pria yang hanya besar mulut agar terlihat keren di mata orang-orang yang melihat kearahnya, tak banyak dari mereka hanya melihat sekilas lalu pergi menjauh.
Abigail bosan, dia mencoba mengumpulkan kekuatan pada kaki kanannya, memberi beberapa energi di sana, dan setelahnya dia mengambil ancang-ancang sebelum menendang pedang itu dengan kekuatan yang luar biasa dahsyat.
Dia hanya menendang tanpa menyentuh pedang itu dengan kakinya, hanya saja dia menyalurkan energi yang terkumpul tadi dan mengeluarkan untuk memukul pedang itu.
"Kau tidak akan bisa menghancurkan pedang ini walau kau memiliki kekuatan sihir seka-"
Kretek...
Pria besar itu menghentikan ocehannya lalu menunduk saat mendengar suara retakan dari bawahnya.
Dan betapa terkejutnya dia saat melihat gurat retak pada pedang agung yang selama ini dia banggakan. Tidak sampai di situ, Abigail berjalan mendekat. Lalu dengan satu sentilan jari mungilnya, pedang itu hancur menjadi beberapa bagian dan terjatuh.
"Ka-kamu!" Pria itu benar-benar terkejut dengan apa yang di lakukan oleh Abigail. "Be-beraninya kau melakukan itu!" Dia benar-benar marah sekarang. Senjata kesayangannya bisa dihancurkan begitu mudahnya oleh seorang anak.
"Kau harus mati!"
"Tunggu, bukankah paman sendiri yang mengatakan itu padaku?"
"Tidak ada ampun lagi bagimu!"
Suara pembelaan Abigail sama sekali tidak didengar oleh pria itu. Pria yang saat ini dalam kondisi mengamuk dengan aura yang sudah keluar menutup tubuhnya, sepertinya dia bukan orang sembarangan yang hanya mengandalkan tubuh besarnya saja.
"Mundur lah Frey." ucap Abigail saat menyadari jika pria itu akan menyerang dirinya.
"Ta-"
"Ku bilang mundur dan berlindung lah. Biar aku bereskan masalah ini."
Sepertinya memang yang kuat lah yang bertahan. Tidak ada toleransi yang bisa dia dapat jika menyerah dan terlihat lemah di tempat ini.
"Kau ingin mencoba?" Tanya Abigail sembari mengambil kuda-kuda. "Maka cobalah!"
Pria besar itu berlari kearahnya, teknik dan pergerakan serta pukulan yang di hasilkan di setiap pergerakan seolah memiliki energi dan kekuatan yang luar biasa, sepertinya dia benar-benar orang suku Ford yang bisa mengendalikan kekuatan tubuh yang sangat luar biasa, bahkan belum menggunakan stone tapi sudah memiliki kekuatan sebesar ini.
Sepertinya akan menguntungkan jika Abigail membuat sebuah pertaruhan kecil di sini.
Abigail menunduk untuk menghindari pukulan, melompat keatas untuk menghindari tendangan, dan menyilangkan kedua tangan di depan wajah saat pukulan pria itu hampir mendarat ke wajahnya.
Abigail menancapkan ujung kakinya di atas tanah untuk menahan tubuhnya bergerak mundur. Otot kaki yang kuat. Tubuh yang keras, dan lengan yang kokoh membuat pukulan itu tidak berarti untuk dirinya.
Dia menyeringai kecil.
"Kekuatanmu sungguh luar biasa paman."
"Begitu juga dengan dirimu." Pria besar itu tidak menyangka jika anak sekecil itu bisa menahan kekuatannya, kekuatan yang luar biasa dan bisa menghancurkan satu monster dalam sekali pukul.
"Bagaimana jika kita bertaruh!" Abigail melompat mundur untuk mengambil jarak, dia mengibaskan kedua tangannya saat rasa sakit itu mulai menjalar.
"Bertaruh?"
"Tentu saja."
"Apa untungnya bagiku?"
Abigail menyeringai, lalu mengeluarkan satu kantung berisi kristal ini, dan melemparkannya di atas tanah. "Jika paman menang, paman bisa mengambil semua itu."
Pria itu langsung membulatkan matanya saat melihat satu kandung berukuran besar dengan kristal inti di dalamnya, bahkan seorang anak kecil saja bisa memiliki kristal inti sebanyak itu, sudah berapa banyak monster yang dia kalahkan untuk mendapat semua itu? Bukankah ini gila.
"Jika aku kalah?"
Saat inilah yang Abigail tunggu. Dia menyeringai saat menyadari jika pria di hadapannya ini mulai memakan umpannya.
"Kau akan menjalani kontrak setia kepadaku."
"Tu-tunggu?Apa maksudmu dengan kontrak setia?"
"Jangan terlalu bodoh, kau pasti tahu maksudku bukan?" Tanya Abigail dengan mata memincing.
Kontrak setia salah salah satu kontrak sejenis b***k dan majikannya, hanya saja dalam posisi ini, seseorang hanya akan setia dan patuh kepada tuannya, tidak perlu melayani atau melakukan segala hal seperti b***k. Kontrak setia juga hanya mewajibkan dia mengikuti sang tuan dengan imbalan yang akan dia dapat setiap satu bulannya.
"Apa yang akan aku dapat?"
Abigail melebarkan seringainya. "Kekuatan, dan puluhan ribu inti kristal."
"Ap-apa kau gila!"
Bukan hanya pria bertubuh besar itu, bahkan orang yang melihat mereka pun terkejut saat mendengar imbalan yang akan diberikan oleh seorang anak sombong pada pria itu.
Pria besar itu terdiam sejenak. Lalu menatap Abigail dengan sorot tajam. "Aku akan bertaruh jika kau mempertaruhkan hidup mu untuk menjadi bawahan ku seumur hidup dengan ku."
"Tidak masalah, hanya saja kontrak setia mu juga akan menjadi seumur hidup. Bagaimana?"
"Sepakat!"
Pria itu berlari untuk memberi serangan pada Abigail. Hanya saja pergerakan Abigail yang cepat tak bisa diprediksi oleh pria itu.
Abigail melompat lalu menjaga jarak dan setelahnya mendongak. "Penjaga! Apa kau mendengar ucapan dan taruhan kami?" Teriak Abigail.
Mungkin mereka tidak menyadari. Di tempat ini, di pasar gelap ada seorang yang mengawasi segala tindakan yang dilakukan di tempat ini. Bahkan dia juga akan menjadi saksi dan pengawas untuk segala hal yang terjadi.
Maka setelah pertaruhan itu terjadi, dan pengawas menyetujui, tidak ada yang akan berkhianat setelahnya.
"Aku mendengar. Dan mengizinkan!"
Dan setelahnya Abigail bisa tersenyum dengan sangat lebar. Dia menambah kecepatannya, memberikan beberapa energi di setiap kali dan tangannya, lalu pergerakannya akan bertambah dua kali lipat dari biasanya.
Hal seperti ini sering dia lakukan, walau inti kekuatan dirinya adalah element api, tapi dia juga bisa menggunakan atribut listrik untuk keuntungan dirinya sendiri.
Pria itu juga sepertinya tidak ingin kalah. berbalik, menambah kecepatannya untuk menyerang Abigail dengan sungguh-sungguh. Hanya saja pergerakan dan kekuatan pria besar itu bukanlah masalah untuk anak itu.
Terbukti, setiap pukulan yang diberikan oleh pria besar itu, bisa dengan mudah Abigail tangkis.
Pergerakan yang dengan mudah dia lihat, lalu kecepatan, kekuatan sebesar apapun jika pergerakan terlihat dengan jelas, maka akan dengan mudah dipatahkan, tidak begitu sulit untuk menghadapi pria besar dengan tenaga yang luar biasa.
Abigail menghindari segala serangan yang diberikan pria itu, menepis, lalu memberi serangan balasan yang cukup membuat geli pria itu. Hanya satu dua sentuhan yang Abigail berikan di setiap titik dan sudut tubuh pria besar itu.
Tiap kali pria itu memukul. Abigail akan mengelak lalu menyentuh satu titik di lengan. Pundak dan punggung. Pergerakan yang cepat bukan masalah untuk menghindari tiap serangan. Belum lagi lautan kekuatan dalam dirinya benar-benar tak terbatas, sepertinya skill pemurnian yang dia datang sungguh luar bisa hingga mempu membuat aura dan udara di sekitarnya menjadi sebuah kekuatan yang sangat dahsyat.
"Berhentilah menghindar dan lawan aku sebagai pria jantan bocah kecil!" Teriak pria yang merasa kesal dengan tingkah Abigail yang tidak memberi perlawanan balik kearahnya.
Dia membakar auranya, membetuk energi di kepalan tangannya dengan sebuah rapalan yang sepertinya adalah mantra penguat.
Dan benar saja, kekuatan pria itu bertambah dua kali lipat, bahkan kecepatannya juga ikut bertambah seiring aura yang terpancar dari tubuhnya. Sungguh luar biasa.
Abigail tak pernah menyangka jika dirinya akan menemukan lawan dan calon bawahan yang sangat kuat seperti ini.
"Apakah hanya seperti itu saja kekuatan mu paman?"
Pancing saja emosinya, dan kau akan mendapat kendali dalam permainan ini. Seperti itulah yang selalu Abigail lakukan, karena emosi adalah kelemahan setiap orang.
"Jangan meremehkan ku bocah!" Pria itu menyerang dengan kekuatan yang terkendali. Luar biasa dan kuat, Abigail bahkan harus terkena pukulan di bagian d**a dari pria itu karena dia ceroboh. Dan terhempas ke belakang. Kecepatan pria itu benar-benar bertambah seiring ledakan aura dalam dirinya. Sungguh kekuatan yang luar biasa.
Sayangnya waktu yang menentukan segalanya, Abigail tersenyum kecil saat menyadari aura dalam diri pir situ perlahan menurun dan tekanan yang dia rasakan tadi mulai stabil, sepertinya sudah saatnya permainan uang sesungguhnya di mulai.
"Kenapa paman? Apa kau tiba-tiba menjadi lemah? Apa kau akan kalah? Apa hanya ini saja kemampuanmu?" Tanya Abigail dengan seringai menjengkelkan.
"Jangan mempermainkan ku, bocah! Apa yang sebenarnya kau lakukan pada tubuhku!"
Pria itu berlari, menyerang Abigail dengan membabi buta. Sesuatu yang sangat ceroboh. Karena sebentar lagi permainan akan benar-benar berakhir.
"Bukankah sudah jelas, permainan akan berakhir dan kau akan kalah paman."
"Ka-kau...."
Suaranya jelas bergetar, aura kekuatan itu perlahan menghilang. Membuat permainan jelas berakhir sekarang. Pria itu berlutut di hadapan Abigail dengan wajah tertunduk.
"Apa yang kau lakukan pada kekuatanku?" Pria itu menyadari jika Abigail sudah melakukan sesuatu pada tubuhnya hingga kekuatan dalam dirinya terasa di tekan dengan kekuatan yang sangat besar.
Abigail tersenyum, dia melipat kedua tangannya di depan d**a dengan tatapan yang merendahkan.
"Tidak ada, aku hanya mencoba menekan kekuatan mu agar tidak membahayakan dirinya, kau tahu. Kekuatan saja tidak akan bisa mengalahkan ku dengan mudah, jika tidak diiringi dengan kecepatan yang sepadan. Di akhir serangan aku tahu. Kau sedikit menambahkan sihir kecepatan di bagian kakimu, tapi itu saja tidaklah cukup. Kau terlalu ceroboh dengan menambah banyak di bagian kekuatan mu. Tidak bisa melihat bagaimana musuhmu, jika kau menambah sedikit saja di bagian kecepatan, maka dengan kekuatan yang kau miliki aku akan sedikit kerepotan karena hal itu."
Karena sejatinya, jika kekuatan milik pria itu dipadupadankan dengan kecepatan di bagian kakinya, Maia Abigail akan kesulitan untuk menghadapi di tahap sekarang. Dia harus bekerja keras untuk bisa memenangkan pertarungan ini. Sayangnya pengalaman adalah segalanya, dan pria ini hanya mencintai kekuatannya tanpa berpikir apa yang akan terjadi jika kekuatan itu hanya dia unggulkan tanpa diimbangi dengan kekuatan.
Pria itu tertegun, tangannya mengepal kuat. Sepetinya hari ini dia benar-benar dipermalukan oleh anak kecil yang nyatanya memiliki pengalaman luar biasa dibandingkan dirinya.
Kecil tapi sudah memiliki kekuatan yang sangat besar. Apakah ini sebuah lelucon. Bahkan berapa usia anak ini. Kenapa dia seolah bisa memiliki kekuatan yang sangat dahsyat seperti itu.
Abigail menunduk, lalu meletakkan wajahnya tepat di telinga pria itu. "Menyerah saja dan akan ku berikan kekuatan yang luar biasa setelah mengikat janji setia padaku."
"Ka-kau...?" Ucap pria itu dengan suara terbata. Apakah itu mungkin. Sesuatu yang seperti itu akan diberikan pada seorang anak yang terlihat masih bau kencur itu.
Abigail menyeringai, jika sebuah perkataan saja tidak bisa membuat pria ini percaya maka, satu hal yang akan dia lakukan.
Abigail menekan auranya, mengeluarkan tekanan yang sangat luar biasa hingga membuat udara disekitar terasa sangat berat. Dia hanya tersenyum sembari melirik ke bawah menatap pria itu dengan congkak, saat seperti ini, dia harus menunjukkan harga diri yang tinggi, jangan sampai rasa kasihan dan dan r mudah hati membuat dirinya diinjak lagi. Cukup dulu saja dia mengalami hal itu untuk sekarang dia tidak akan melakukan kesalahan seperti dulu lagi.
"Bagaimana?" Tanya Abigail, padahal dia tahu. Pria di hadapannya itu tak mampu berbicara karena tekanan yang dia berikan. Bahkan orang disekitar saja harus mendapat imbas dan sulit untuk bergerak, padahal tekanan itu hanya sebatas kekuatan kecil saja.
Kekuatan dari stone yang dia serap bukan hanya sebuah kekuatan biasa, tentu saja beberapa hal yang dia dapat sebelum ini sungguh luar biasa. Hanya saja Abigail tidak menunjukkannya.
Frey yang ada di sana hanya menatap dalam diam, tekanan ini. Dia merasakan aura yang sungguh luar biasa, bahkan kekuatannya saja belum sampai ke tahap itu. Dia hanya bisa diam dan melihat, membiarkan Abigail dengan pemikirannya sendiri.