Aditya selalu menjadi aktor yang pandai. Jangan salah, Santika adalah salah satu kerabat Prita Yuliana. Hubungan mereka sangat dekat dengan wanita perusak rumah tangga Amelia dengan mendiang mantan suaminya--Arsa Subianto. Kisah mereka kelam di masa lalu.
"Angkat aja, Mas, mana tahu penting. Lagian ini juga udah pagi," kata Sashi yang mendadak kehilangan rasa kantuknya.
"Eh? Nggaklah, biasa nomor nyasar. Aku malas ladeni nomor-nomor yang nggak jelas.
Aditya berusaha menetralkan mimik wajah agar tidak terlihat gugup di mata sang istri. Padahal, Sashi tidak peduli sama sekali. Tidak ada hal yang lebih penting dari usaha perhiasannya. Hanya saja, Sashi sedikit merasa janggal dengan Kartika saat ini.
"Mas, kamu ke kantor pagi atau siang?" tanya Sashi yang kali ini bersiap untuk mandi.
"Pagi, ada rapat." Aditya pagi ini memang ada rapat di kantornya.
"Oke, aku siapkan semuanya setelah aku mandi." Sashi langsung masuk ke kamar mandi dan membersihkan diri.
Tidak butuh waktu yang lama, Sashi langsung berkutat di dapur. Tak lama, terdengar suara jeritan dari Santika. Entah apa yang menimpa wanita itu. Sashi tidak langsung mendekat karena sibuk memasak dan pura-pura tidak mendengar jeritan mama mertuanya.
"Ada apa, Ma?" tanya Aditya yang masih bisa terdengar dari dapur.
"Lihat itu." Santika menunjuk ke arah pojokan ruang tengah. "Itu tikus got. Astaga, mana yang katanya beli perangkap tikus?" tanya Santika menyindir sang menantu yang sibuk memasak di dapur.
"Ada kok, aku taruh di gudang. Nggak tahu kalo ada tikus bertamu di ruang tengah." Sashi langsung menjawab sindiran sang mama mertua tanpa peduli jika wanita itu sedang emosi.
"Kamu ini! Harusnya tanggung jawab kamu dong! Bahaya kalo ada tikus berkeliaran di sini. Tikus itu bawa penyakit." Santika merasa tidak terima dengan ucapan sang menantu yang dianggap seolah bukan masalah jika ada tikus di mana-mana.
"Yah, mau gimana lagi, Ma. Got di depan itu terbuka. Butuh dana juga buat nutupnya," kata Sashi sambil mematikan kompor karena semua makanan sudah matang.
Santika mengembuskan napas kasar karena berdebat dengan Sashi adalah hal yang percuma. Beberapa waktu ini, Santika merasa ada perubahan pada sikap Sashi. Dulu sang menantu adalah sosok yang pendiam, tidak banyak tingkah, dan penurut. Santika banyak menduga jika sang menantu menyembunyikan sesuatu.
"Dit, kamu nggak ngerasa apa, Sashi banyak berubah." Santika setengah berbisik saat mengatakan pada sang putra. "Mama, yakin, dia menyembunyikan sesuatu. Kamu harus waspada. Ingat, jangan sampai mengusik atau membuat Sultan marah," kata Santika mengingatkan anak keduanya itu.
"Aku nggak ada masalah sama Om Sultan, Ma. Lagian semua baik-baik saja sejauh ini. Hanya bulan ini aku belum kirim pembagian profit," kata Aditya dengan santai seolah tidak masalah jika belum mengirimkan profit yang sudah mereka sepakati sebelumnya.
Santika tidak lagi memperpanjang urusan mereka pagi ini. Ia harus fokus merawat Tami. Keadaan Tami belum menunjukkan perubahan yang signifikan. Seharusnya, adik Aditya itu dirawat intensif di rumah sakit. Mendadak terdengar suara benda terjatuh dari kamar Tami.
"Ma, kayaknya ada bunyi aneh dari kamar Tami," kata Aditya sambil berjalan cepat menuju ke kamar sang adik.
Betapa terkejutnya Aditya saat melihat Tami tergeletak di lantai. Ia segera mendekat ke arah sang adik dan mengangkatnya. Tubuh Tami luar biasa panas. Ya, Tami demam tinggi dan kini tidak sadarkan diri.
"Ma, ini harus dibawa ke rumah sakit. Sejak kapan dia sakit?" tanya Aditya yang terkejut dengan keadaan sang adik.
Aditya hanya tahu jika sang adik sedang menginap. Ia tidak tahu bagaimana keadaan sang adik yang sebenarnya. Tami sangat jarang sakit sampai seperti ini. Biasanya hanya sakit flu atau penyakit ringan lainnya.
"Barengan kamu masuk rumah sakit. Tapi, Mama paksa pulang aja. Nggak ada dana buat bayarin dia opname." Santika seolah tidak merasa bersalah sama sekali pada anak sulungnya itu. "Dia juga mencemarkan nama baik pabrik Shife. Mereka menuntut balik ratusan milyar," lanjut Santika sedikit berlebihan karena tidak tahu berapa pastinya harus membayar ganti rugi.
"Apa?!" Aditya memekik karena terkejut mendengar pengaduan sang mama.
Sashi menahan napas mendengar obrolan mereka berdua. Ia baru tahu jika tuntutannya sangat besar. Satu lagi, Kartika tidak menginformasikan masalah ini padanya. Sashi memberanikan diri mendekat dan masuk ke kamar Sashi. Tatapan tidak bersahabat langsung dilayangkan oleh Santika.
"Kamu pasti tahu masalah ini 'kan? Kamu bersahabat dengan Kartika. Dia yang memberikan tuntutan itu kemarin," kata Santika sengaja mengadu pada Aditya.
"Apalagi ini? Kok ada saja masalah yang datang. Astaga! Jika benar Shife menuntut sampai ratusan milyar, semua aset dijual juga nggak akan cukup untuk bayar!" Aditya tampak marah pada keadaan dan tidak tahu harus bagaimana menyelesaikannya.
"Kita bisa bahas ini nanti, Mas. Kita bawa Tami ke rumah sakit dulu. Keadaannya nggak memungkinkan dirawat di rumah," kata Sashi menyela amarah Aditya saat ini.
"Halah! Kamu sengaja mengalihkan perhatian saja. Jangan bilang memang kamu tahu sejak awal. Kartika, kalian sangat dekat bukan?" tanya Santika berusaha memancing masalah agar Aditya marah pada Sashi.
Aditnya menatap tajam pada sang istri. Sashi berteman dengan Kartika sejak kanak-kanak. Ucapan sang mama mungkin ada benarnya. Sashi memang seperti menyembunyikan sesuatu.
"Kita akan bicara setelah ini, Sash!" Aditya langsung menggendong sang adik dan membawanya masuk ke dalam mobil.
Santika tersenyum penuh kepuasan. Wanita yang seharusnya memperlakukan Sashi dengan penuh kasih sayang itu seolah memusuhi sang menantu. Dendam pribadi pada keluarga Amelia membuat Santika memusuhi Sashi. Padahal istri Aditya itu menantu yang sangat baik.
"Mama, terserah mau ngomong apa sama Mas Aditya nanti. Tapi, aku sama sekali nggak tahu masalah Shife dengan Tami. Kalo aku boleh saran, nasihati saja Tami agar menjaga jari-jemarinya juga ucapannya saat ber-media sosial. Shife bukan pabrik perhiasan biasa. Pabrik itu akan go internasional. Mama bisa lihat informasinya di internet." Sashi mengatakan dengan nada dingin. "Aku memang dekat dengan Kartika, bukan berarti aku tahu masalah pekerjaannya," lanjut Sashi setelahnya berjalan mendahului Santika.
Sashi merasa tidak terima namanya dibawa-bawa dalam masalah sang adik ipar. Tidak ada sangkut pautnya dengan Sashi. Gegas, istri Aditya itu bersiap untuk pergi menemui Kartika. Nominal gugatan pencemaran nama baiknya terlalu berlebihan.
"Mau ke mana kamu?" tanya Santika yang saat ini sedang sarapan.
Sashi mengabaikan pertanyaan sang mertua. Hal itu membuat Santika naik pitam. Ia beranjak dari duduknya dan mengejar Saahi. Santika mencekal lengan sang menantu lalu menarik tubuh Sashi dengan kasar.
Hampir saja saja Sashi jatuh menabrak tembok di belakangnya. Dengan gerakan cepat, Santika menampar wajah Sashi dengan keras. Pipi putih itu langsung memerah karena tamparan itu. Sashi memegang pipinya yang dua kali kena tamparan dari anak dan ibu ini.
"Jangan pikir karena kamu anak Sultan Anggara lalu bisa sesuka hati menjawab setiap ucapanku." Santika mengacungkan telunjuk ke arah wajah Sashi.
Sashi terdiam seketika mendapat perlakuan dari sang mama mertua. Satu tamparan di pipi sebelahnya kini kembali mendarat. Luar biasa sakit dan panas. Telinga Sashi berdengung karena mendapatkan dua kali tamparan.
"Kamu pikir, gimana kelakuan ayah kandungmu itu? b***t dan nggak ada otaknya. Kamu bukan keturunan orang baik. Bibit, bebet, dan bobot kamu itu di bawah rata-rata!" Santika mengungkit kesalahan mendiang Arsa di masa lalu. "Asal kamu tahu, dulu mama kamu merengek agar Aditya mau menikahi kamu!" teriak Santika di depan wajah sang menantu.
Sashi hanya terdiam karena sangat terkejut mendengar ucapan Santika. Masalah Arsa sudah berlalu belasan tahun lalu, kenapa dibahas sekarang? Lantas, kenapa setuju menikahkan Aditya kala itu? Mereka memang dijodohkan dan sialnya memang Sashi sudah lama mengidolakan Aditya.
"Benar, Sultan Anggara memang punya kuasa di mana saja. Dia boleh berbangga dan merasa paling sukse menjadi pengusaha di negara ini. Tapi, satu hal yang harus kamu ingat, roda bisa berputar kapan saja dan kamu harus siap dibuang oleh Adit ketika dia berada di atas dan melebihi Sultan Anggara." Santika masih saja mengeluarkan kata-kata pedasnya saat ini. "Sadarilah, cepat atau lambat semua pasti akan terjadi," ancam Santika sambil menendang lutut Sashi yang sedang duduk di lantai dengan sangat keras.
Sashi meringis kesakitan karena ditendang Santika. Keterkejutannya membuat tidak bisa berpikir sama sekali. Sashi tidak paham maksud Santika mengatakan hal itu padanya. Wanita yang telah melahirkan Aditya itu pun kini melanjutkan sarapannya tanpa peduli bagaimana kondisi sang menantu sekarang.
Diam-diam ada yang merekam kejadian tadi. Kejadian penyiksaan pada Sashi. Orang tersebut lantas menyimpan video itu. Ia akan membuat Santika dan keluarganya semakin tertekan saat ini.
Sashi beranjak dari duduknya dan segera meninggalkan rumah tanpa pamit pada Santika yang sedang sarapan. Santika semakin geram dengan tingkah Sashi yang dianggap kurang ajar. Bagi Santika, anak Amelia hanya menumpang hidup saja pada Aditya. Ia menganggap sang putra-lah yang bekerja keras selama ini.
Sementara itu, Aditya tengah mengurus semua administrasi Tami. Tami harus opname karena dari hasil pemeriksaan, keadaan lambung dan usus besar Tami tidak baik-baik saja. Perlu penanganan secara khusus. Jika terjadi hal yang lebih parah, maka Tami harus dirujuk ke rumah sakit yang fasilitasnya lebih lengkap lagi.
Selesai melengkapi administrasi sang adik, Aditya duduk di salah satu sudut rumah sakit yang letaknya tak jauh dari ICU. Pandangan suami Sashi tertuju pada sebuah tayangan berita televisi yang ada di rumah sakit ini. Sebuah tayangan yang menceritakan tentang sosok mertua yang menganiaya menantunya. Mata Aditya memicing dan memperhatikan siapa dua wanita yang ada dalam tayangan tersebut.
'Astaga! Apa-apaan Mama ini!' Aditya mengeram kesal dalam hati saat menyadari siapa dua wanita yang ada dalam berita tersebut.
Gegas, Aditya langsung merogoh ponsel dalam saku celana pendek yang dipakainya. Ia membuka media sosial. Kali ini Aditya sangat terkejut. Sang mama menjadi trending topik hari ini. Entah siapa yang mengunggah video itu.