Wajah Santika berubah sumringah saat ini. Ia membayangkan banyaknya uang yang akan didapat oleh Aditya. Lumayan, Santika berpikir jika bisa meminjam atau bahkan meminta uang untuk keperluan toko emasnya. Mungkin saja Aditya mau memberi uang itu dengan cuma-cuma.
"Ya, sudah kalo gitu. Sediakan makanan untuk Aditya setelah membuat bubur untuk Tami. Siapa tahu, dia belum makan," kata Santika sambil membalik badannya dan keluar dari dapur.
Bubur telah matang dan sudah diangkat dari atas kompor. Sashi meletakkan panci kecil berisi bubur itu di atas meja kecil dekat dapur. Ia lalu pergi ke kamar untuk memastikan sang suami benar sudah pulang. Benar saja, Aditya sedang membongkar baju dalam tas yang kemarin dibawa ke rumah sakit.
"Kamu ngapain berdiri di depan pintu? Bantuain suami kamu, kek, malah berdiri aja." Aditya mengatakan dengan nada penuh kekesalan.
"Bukannya Mas Adit udah bisa melakukan semua sendirian," jawab Sashi membuat Aditya terdiam seketika.
Jawaban sederhana dari Sashi membuat Aditya tidak berkutik. Jawaban itu merupakan sindirian halus untuk Aditya. Sashi tidak peduli dengan apa yang dilakukan sang suami. Hingga dering ponsel saudara kembar Arusha itu membuat Sashi mengambil ponsel di atas meja riasa.
"Halo."
Panggilan itu rupanya dari Arusha. Hampir dua minggu mereka tidak berkomunikasi. Arusha pasti baru saja selesai bertugas. Lagi pula, tidak masalah bukan jika mereka berkomunikasi.
"Sash! Kamu lagi ngapain?"
"Mau tidur. Udah di Indonesia?"
"Udah kemarin. Suami kamu ada?'
"Ada. Mau bicara?"
"Nggak, sama kamu aja."
"Oke. Jadi, apa yang akan kamu bicarakan Arusha. Jangan sampai buang waktuku."
"Ck! Besok disuruh Papa dan Mama ke rumah. Ada acara, si kembar ulang tahun."
"Ultah kita masih lama, Ru. Nggak usah ngarang. Kamu kalo mau ngerjain aku mikir dulu."
"Ck, adik bungsu kita ulang tahun, Sashi. Astaga, bisa nggak, ya, kamu nggak ngerasa kita aja yang kembar."
Mendadak ada suara perempuan di dekat Arusha. Panggilan pun terputus seketika. Sashi hanya menggeleng pelan, kebiasaan saudara kembarnya pasti banyak perempuan yang mendekat. Entahlah, pesona apa yang dimiliki oleh Arusha itu? Sashi merasa jika saudara kembarnya biasa saja.
"Ada apa, Sash, Arusha nyari aku?" tanya Aditya yang ternyata mengupinh obrolannya dengan Arusha.
"Ngabarin aja kalo di rumah Papa dan Mama ada acara ulang tahunnya adik kembarku." Sashi menjawab dengan santai. "Kalo Mas Adit, nggak bisa datang, aku bisa datang sendiri," kata Sashi dengan santai.
"Ck! Kenapa kamu jadi sok tahu? Kalo aku bisa datang?" tanya Aditya dengan wajah kesal.
"Ya, udah, datanglah. Nggak usah ngegas. Orang, aku-nya santai aja kenapa Mas Adit marah. Aku juga santai aja pas Mas Adit kabur dari rumah sakit." Sashi kembali menyindir sang suami.
Aditya mengembuskan napas panjang saat sang istri kembali menyindirnya. Sashi tampak sangat santai seolah tidak masalah setelah menyindir sang suami. Tanpa banyak bicara, Aditya langsung mendorong Sashi ke kasur. Ia akan memaksa sang istri melakukan hubungan suami dan istri dengan kasar.
"Ka-kamu mau apa? Aku lagi datang bulan hari kedua." Sashi berusaha memberontak pada sang suami.
Aditya langsung berguling ke arah samping tubuh sang istri. Ia mengeram kesal karena harus menahan hasratnya kali ini. Padahal tadi sudah dipuaskan oleh wanita simpanannya. Sashi merasa lega saat sang suami tidak memaksanya lagi.
Sementara itu, Sultan masih berada di kantor. Ia masih harus memeriksa semua berkas yang masuk sore tadi. Jika besok baru dikerjakan, maka akan menambah beban pikiran dan pekerjaan. Perusahaan Sultan baru saja memenangkan tender dengan nilai yang sangat fantastis.
"Pak, kemarin saya melihat menantu, Anda, Aditya keluar dari salah satu apartemen yang ada di jalan Gajah Mada. Apartemen itu milik seorang perempuan." Salah satu orang kepercayaan Sultan melaporkan kejadian siang tadi.
"Awasi Aditya, dia nggak sadar sedang bermain api," kata Sultan sambil mengemas semua barangnya.
Sultan merasa tidak mood lagi mengerjakan pekerjaan malam ini. Ulah Aditya sudah di luar batas saat ini. Menantunya itu berselingkuh di belakang istri sahnya yang tak lain adalah Sashi. Entah, Sashi menyadari atau tidak.
"Baik, Pak. Kami akan mengawasi setiap saat. Atau perlu diberikan pelajaran?" tanya salah satu orang kepercayaan Sultan.
Sultan berpikir sejenak tentang ucapan orang kepercayaannya itu. Benar juga, bukankah perusahaan Aditya masih dalam proses berkembang? Pasti butuh banyak dana atau tender yang harus dimenangkan. Mendadak papa sambung Sashi itu mendapatkan ide.
Sultan menjelaskan idenya pada keempat orang kepercayaannya. Aditya harus diberikan banyak pelajaran agar kapok. Berani-beraninya berselingkuh di belakang Sashi. Entah apa yang ada di otak laki-laki itu
"Siap, kami akan laksanakan. Tapi, harus bertahap agar tidak ketahuan. Aditya juga bukan orang yang bodoh." Salah satu dari mereka tahu bagaimana menantu Sultan Anggara. "Aditya itu pengusaha muda yang punya insting luar biasa. Ia pandai mengecoh lawan dengan banyak trik. Selama ini, saya perhatikan, dia banyak memanipulasi segala hal agar memenangkan tender penting," lapornya sambil berusaha mengingat lagi apa saja kelebihan Aditya.
"Ya, tapi, itu tidak akan berpengaruh padaku. Kartu As dia ada di tangan kita. Hanya saja bagaimana kita memainkan semua itu secara perlahan. Oke, mungkin saja Sashi, putri saya akan jadi korban. Kalian harus mengawasi Sashi agar tidak membahayakan nyawa anak saya," kata Sultan yang tampak jelas menyayangi putri sambungnya itu.
"Baik, Pak." Mereka berempat menjawab dengan serempak.
"Kalian boleh pulang, saya juga akan pulang. Tidak ada mood lagi mengerjakan pekerjaan ini." Sultan beranjak dari duduknya lalu meninggalkan ruangan kerjanya.
Keempat orang kepercayaannya itu pun mengikuti Sultan dari belakang. Ada orang yang khusus disewa Sultan untuk menjaga keamanan kantornya. Sejauh ini, belum pernah ada ada kejadian yang tidak mengenakkan. Tentu, mereka yang disewa Sultan bukanlah orang sembarangan.
Sesampainya di rumah, Sultan langsung menemui sang istri. Amelia baru saja selesai merekap semua uang yang masuk ke rekeningnya. Uang yang berasal dari restoran milik istri Sultan itu bekerja sama dengan sahabat baiknya yang memang gemar memasak--Diana. Kerja sama mereka sudah lumayan lama dan saling bagi hasil.
"Mas, baru pulang? Mau siapkan makan malam?" tanya Amelia setelahnya mencium takzim punggung tangan sang suami.
"Boleh. Tapi, aku mandi dulu." Sultan merangkul sang istri dan berjalan menuju ke kamar mereka. "Bagaimana harimu? Apakah semua baik-baik saja?" tanya Sultan yang selalu perhatian pada sang istri sejak pertama kali mereka menikah.
Sultan paham, bagaimana beratnya seorang istri setiap harinya. Oleh karena itu, Sultan tidak pernah menekankan apa pun pada Amelia. Dulu, saat si kembar baru saja lahir, rumah mereka seperti kapal pecah. Sultan selalu memaklumi dan tidak pernah lupa membantu sang istri.
Hari sudah terlalu larut, Sultan tidak sampai hati menyampaikan apa yang diketahuinya tentang Sultan. Amelia sosok ibu yang pemikir. Sudah pasti, jika diceritakan perihal menantu mereka, pasti akan membuat penyakit darah tingginya kambuh. Sultan berjanji akan mengatasi masalah ini sendiri.
"Sudah lama Sashi dan Arusha tidak menginap di sini." Sultan sengaja memancing obrolan perihal kedua anak kembar mereka.
"Aru tadi siang datang. Dia juga menghubungi Sashi. Dia ngabarin kalo si kembar bungsu akan ulang tahun. Sashi nggak jawab mau datang atau tidak." Amelia mengatakan hal yang sebenarnya.
"Arusha sudah pulang dari luar negeri? Kok nggak disuruh nginap aja?" tanya Sultan sambil memeluk sang istri dengan erat.
Amelia menggeleng, setelah kedua anak kembarnya bisa mencari nafkah, mereka memilih tinggal mandiri. Berat melepas mereka semua, tetapi sudah menjadi niat Amelia agar anak-anaknya mandiri. Sashi memang tidak tinggal mandiri, karena langsung menikah. Kadang rasa rindu itu sangat menyiksa batin Amelia.
Malam semakin larut, Amelia dan Sultan pun tertidur. Sebelum tidur, mereka memang selalu mengobrol singkat. Obrolan ringan menceritakan hari yang mereka lewati. Cara sederhana yang membuat mereka selalu dekat satu dengan lainnya.
Sementara itu, Aditya sama sekali tidak bisa memejamkan mata. Ucapan Sashi masih teringat jelas dalam otaknya. Wanita yang sudah dua tahun menemaninya seolah tahu sesuatu. Hanya saja Sashi tidak pernah terbuka terhadap sesuatu.
Sashi seperti misteri yang harus dipecahkan. Wajar jika ia seperti itu, masa lalunya sangat menyakitkan. Hanya saja, Aditya mencurigai sesuatu pada sang istri. Bukan tentang perselingkuhan, karena Sashi selalu bersikap dingin pada laki-laki.
'Sial, aku yakin dia tahu sesuatu. Tapi, apa dan sejak kapan?' Dua pertanyaan itu membuat Aditya tidak bisa memejamkan mata.
Ada rasa ketakutan luar biasa dalam hati Aditya, Sashi jelas punya pengaruh besar karena menjadi anak sambung Sultan. Papa sambung Sashi seperti dewa kematian bagi Aditya. Dana yang dikucurkan berhenti, maka perusahaan Aditya bisa gulung tikar. Anggap saja dana pinjaman tanpa bunga untuk meringankan perusahaan properti milik Aditya.
"Kamu ngapain, Mas? Baru keluar rumah sakit malah begadang nggak jelas. Mau pembuluh otakmu itu pecah dan kena Stroke?" tanya Sashi secara mendadak dan membuat Aditya terkejut.
Sashi menguap lalu berusaha untuk duduk. Ia meraih air dari meja lalu meminumnya. Tak lama, Sashi ke kamar kecil untuk menuntaskan hajatnya. Tidak banyak yang ia lakukan dan saat ini memilih kembali memejamkan mata.
"Sash! Apa kamu mencariku ke kantor?" tanya Aditya dengan hati-hati agar tidak dicurigai sang istri.
"Ngapain? Aku mending tidur siang di rumah. Sore aku ke rumah sakit dan kamu udah keluar dengan mandiri. Artinya kamu sudah sangat sehat, Mas. Tidak ada lagi yang harus aku cemaskan saat ini. Pekerjaanku sekarang ringan," jawab Sashi penuh makna mendalam.
Mendadak ponsel Aditya berdering. Sashi melirik sepintas dan nomor tanpa nama yang menghubungi sang suami. Aditya tampak panik saat ini. Ia tidak mau Sashi tahu tentang kecurangannya.
"Kenapa nggak diangkat, Mas? Siapa tahu penting. Bukannya kamu habis menang tender penting?"
Entah pertanyaan atau sindiran dari Sashi. Aditya kali ini bingung harus menjawab apa pada sang istri. Tender apa yang dimaksud? Aditya sama sekali belum mendapatkan tender saat ini.
"Siapa sih? Ganggu orang aja pagi-pagi." Aditya langsung menekan tombol tolak agar sang istri tidak curiga.