Seseorang memberi tanda X dengan tangannya kepada MC ketika dia mengucap kata kalimat kita sambut. Memahami kondisi yang ada, MC langsung mengubah topik pembicaraan.
" Para hadirin yang kami hormati, terima kasih atas kehadiran Bapak dan Ibu sekalian. Hari ini adalah acara yang selalu kita tunggu. Dimana para Mitra, Kolega, Pemegang Saham, Pemangku kepentingan, Pemilik Perusahaan berkumpul menyampaikan gagasan kedepan dan membuka peluang usaha baru bagi yang berkepentingan. Selain itu juga pengumuman pengumuman yang telah diatur dan disiapkan sebelumnya oleh para tamu disini. " Kata MC panjang lebar
Tepuk tangan riuh memecah suasana pesta hari itu. Masing masing orang akhirnya melupakan kejadian yang baru saja terjadi. Namun tidak demikian dengan keluarga Brian. Mereka seakan tercoreng wajahnya oleh tingkah laku Brian hari ini.
Nala datang bersama Tuan Bernard tentu saja dengan para Bodyguardnya. Tuan Bernard memimpin perusahaan terbesar kedua di Greenville yaitu Appleberrys Group yang dimiliki oleh Keluarga Alma. Sedangkan perusahaan terbesar pertama adalah Kingston Family yang dipimpin langsung oleh Anak tunggal keluarga Kingtons yaitu Dimitri Kingston. Namun sejak acara dimulai Dimitri tidak tampak batang hidungnya.
Dimitri memang terkenal misterius tapi bertangan dingin dalam setiap investasinya. Dia adalah Icon bisnis di kota Greenville. Setiap gagasannya selalu menarik dan menghasilkan pundi pundi uang. Hanya orang orang tertentu yang mengenali wajahnya. Jadi jika hari ini dia menghadiri acara itu tentu hanya orang yang berpengaruh yang mengenali wajahnya.
Tuan Bernard dan Nala tampak mulai gusar, terlihat Nala mencoba menghubungi seseorang tapi malah membuatnya tampak panik.
"Apa yang terjadi Nala? bukankah aku memintamu menjemput Nona Wright pagi ini?" tanya Tuan Bernard
"Iya tuan, ternyata mobil yang menjemput bannya pecah, saat sampai Nona Wright tidak ada." kata Nala
" Saya sedang menghubungi orang orang kita tuan. " kata Nala kemudian
***
" Ini oleskan untuk sikumu. " Kata Laki laki itu kepada Alma dengan menyodorkan plester dan salep luka
" Terimaksih tuan. " Jawab Alma mengambil plester dan salep itu
Alma mengalami luka kecil pada sikunya saat menahan dirinya terjatuh dari dorongan Clara.
Alma membuka penutup salep dan mengolesnya perlahan di luka pada sikunya dan meniupnya karena perih. Kemudian dia membuka plester untuk ia tempelkan.
Ketika alma mencoba menempelkan plester sendiri ke lukanya, tiba tiba laki laki itu mengambil plesternya dan meletakkan pada luka alma tanpa diminta.
Awalnya Alma merasa segan, tapi karena sudah terlanjur, ia hanya bisa berterimakasih.
Sejenak suasana menjadi hening.
" mmm, Saya Alma tuan. saya ucapkan terimakasih atas bantuan Tuan saat di aula tadi juga untuk salep dan plester ini." Kata membuka pembicaraan sambil menunjuk lukanya dengan tersenyum kemudian mengulurkan tangannya untuk berkenalan
Alma memiliki senyum yang begitu manis. Siapa saja yang melihat senyumnya pasti akan terpesona. Giginya yang rata kecil seperti biji mentimun dengan gigi taring sebagai pelengkap semakin mempermanis senyumnya.
Alma tidak memiliki lesung di pipinya, tapi senyumnya sangat menawan. Matanya tajam dengan warna coklat pekat tiap kali terlihat di bawah sinar matahari, dihiasi bulu mata yang lentik. Rambutnya panjang bergelombang berwarna sama dengan matanya yang coklat dengan poni menghiasi wajahnya. Hidungnya tidak terlalu mancung tapi juga tidak pesek. Dia tidak tinggi juga tidak pendek, dia juga tidak gemuk juga tidak kurus. Kulitnya bersih, tidak putih tidak juga hitam. Alma memiliki suara yang nyaring khas seperti Ibunya Anna. Kakinya jenjang, membuatnya memakai pakaian apapun tetap terlihat cocok dan cantik.
Padahal saat ini dengan pakaiannya yang hanya memakai kaos putih, celana jeans rambut terikat dan sneker sudah membuatnya tampak cantik. Hanya saja memang tidak cocok untuk acara besar di Maribay Hotel hari ini.
Senyum Alma membuat jantung laki laki itu berdesir. Jiwanya yang dingin terasa seakan hangat karena senyum Alma.
"Oh Tuhan, kenapa ini. " Batin Laki laki itu.
" Upps maaf tuan, tidak sepantasnya saya berkenalan dengan dengan Tuan." Kata Alma tiba tiba dengan menurunkan tangannya
" Sepertinya saya harus pergi Tuan, saya khawatir Tuan akan mengalami hal sama seperti laki laki yang tadi bersama saya di dalam Aula." lanjut Alma kemudian
" Mau kemana kamu? " Kata laki laki itu terbata
" Kemana saja, asal jangan disini. Saya merasa tidak pantas dan tidak nyaman berada di tempat ini. hehehe" Kata Alma kemudian dengan tersenyum manja
" Ah senyuman itu lagi." Batin laki laki itu lagi
"Mmm, ya sudah aku antar saja kalau begitu." kata laki laki itu kemudian
" Tidak usah Tuan, toh juga kita belum saling kenal. Saya tidak mengenal Tuan, Tuan juga tidak mengenal saya." Kata alma kemudian sambil beranjak dari duduknya dan pergi
" Aku sudah tidak sanggup menahannya. Cukup" batin laki laki itu lagi
" Aku Dimitri." jawab laki laki menarik tangan alma saat akan beranjak pergi.
Alma menoleh, mata bereka bertemu, Alma merasakan dadanya seakan berdesir. Jantungnya berdegup kencang. Sama halnya dengan yang dirasakan Dimitri.
" Maaf tuan," kata Alma menghentikan kecanggungan diantara mereka.
Dimitri dengan ragu melepaskan tangannya.
"Oh, ya ya maaf. " kata dimitri gugup
Telepon Dimitri kemudian berdering.
" Ya, bagaimana?" Tanya dimitri dengan nada tegas. Berbeda saat Dimitri berbicara dengan Alma.
" O, iya ada denganku. Baru saja akan pergi. Baiklah. " kata Dimitri
Dimitri baru saja mendapat telepon dari Nala. Nala bilang kalau Alma tidak ada di rumahnya. Dan sekarang Tuan Bernard marah kepadanya karena Alma tidak ada disini juga.
Dimitri dan Nala sudah kenal sejak lama. Sejak awal Dimitri memegang kendali atas atas Kingston Family, Nala adalah orang yang menjadi kepercayaannya.
Nala memang bekerja untuk Tuan Bernard, tapi Nala adalah orang kepercayaan Dimitri.
Perusahaan Kingston Family dan Appleberrys Group memang bersaing pada beberapa sektor bisnis tapi kebanyakan mereka saling support dalam bisnis lainnya. Kingston dan Appleberry seperti dua sisi mata uang yang tidak dapat dipisahkan, merek saling melengkapi dan bersama menaiki puncak bisnis. Meski jika diurutkan Kingston memang nomor satu, tapi diantara keduanya tidak pernah ada saling menjatuhkan.
Sedangkan perusahaan lain dibawah mereka, selalu bersaing saling menjatuhkan dan untuk mendapat kepercayayaan kepada dua perusahaan itu.
Tidak lama berselang setelah Dimitri menerima telepon, Nala tiba dengan beberapa bodyguard.
" Terima kasih Tuan sudah menyelamatkan Nona Wright. " kata nala dengan membungkukan badannya
Dimitri hanya membalas dengan lambaian tangan, yang berarti jangan membungkuk, cepatlah berdiri.
Alma yang berada di belakang Dimitri, merasa kebingungan dengan apa yang lakukan Nala kepada Dimitri. Dan dengan yang dilakukan Dimitri kepada Nala.
"Nona Wright, silakan ikuti saya." Kata Nala tiba tiba.
Alma merasa aneh dengan sikap Nala yang formal. Padahal biasanya nala seperti Omnya sendiri, dan dia bisa bermanjaan kepadanya.
Alma kemudian mengernyitkan dahinya.
" Kemana om?" tanya alma
"Silakan ikuti saya dulu Nona." Jawab Nala masih dengan suara formal
Alma menggeleng, dan berkata " tidak om, Alma mau pulang saja."
" Ikuti saya dulu Nona, Selanjutnya Nona akan kami antar pulang. " kata Nala
Alma masih menggeleng, dan akan beranjak pergi. Tapi para bodyguard segera menghentikannya.
" Dimitri, ah salah. Tuan Dimitri. Tolong saya Tuan. Saya tidak ingin ikut mereka. " Pinta Alma
Alma merasa ada yang aneh, oleh sebab itu dia memilih tidak mengikuti Nala. Dia juga masih takut melihat kerumunan orang di dalam Aula tadi.
Dimitri bergeming, tidak menunjukkan sikapnya sama sekali. meski sebenarnya dalam hati ia juga menginginkan Alma berada di sisinya.
Nala harus membawa Alma bertemu dengan Tuan Bernard bagaimanapun caranya.
" Nona Wright, saya mohon ikuti kaki dengan baik Jika tidak para Bodyguard akan memaksa Nona untuk mengikuti kami. " kata nala
Alma masih bersikeras tidak ingin kembali ke dalam aula. Dia tidak ingin merasakan perlakuan seperti tadi. hingga akhirnya membuat para bodyguard membawa Alma dengan paksa.
Melihat Alma merasa terancam, batin Dimitri mulai bergejolak. tanpa disadarinya ia berkata
" Biarkan ia tetap bersamaku. Katakan saja pada Tuan Bernard bahwa aku yang akan mengurusnya sendiri."
" Tapi Tuan,... "
Dimitri hanya membalas dengan tatapannya.
" Baik Tuan, akan saya sampaikan." kata nala
Alma merasa lega setelah Dimitri membantunya terlepas dari Nala. Entah kenapa perasaan Alma saat itu benar benar takut dan tidak ingin mengikuti Nala. Dia hanya ingin pergi dari keramaian orang – orang kaya itu dan tak kembali lagi.
“ Terima kasih Tuan Dimitri. “ Kata Alma sambil membungkuk dan kemudian beranjak pergi
“ Mau kemana kamu? “ Kata Dimitri
“ Saya akan pergi dari sini dan mungkin tidak akan pernah muncul lagi.” Jawab Alma polos
“ Apa maksud kamu? “ Tanya Dimitri
“ Ya, saya akan keluar dari kota ini dan menjalani kehidupan saya dengan tenang tanpa harus bertemu lagi dengan orang – orang kaya itu ataupun paman saya Alex. Saya muak dengan harta yang diperebutkan itu dan saya merasa tidak mampu jika harus mengelolanya. Saya khawatir jika saya mengelolanya kehidupan saya akan semakin buruk. “ Kata Alma panjang
Dimitri hanya terdiam tapi tampak berpikir keras untuk memberi Alma alasan agar dia tetap di kota ini. Selama ini Dimitrilah yang selalu memperhatikan Alma. Dialah yang memberi tau Nala dimana Alma tinggal dan memintanya untuk memperbaiki apa yang dia lakukan selama ini kepada Alma.
Dimitrilah yang menjadi yayasan pemberi beasiswa untuk Alma selama sekolah. Dia pula yang memberi jalan untuk Alma agar bisa mendapat kerjaan paruh waktu untuk membantu Bibinya Amanda. Dia pula yang meminta Nala agar Alma dibawa hari ini ke pertemuan agar bisa berkenalan secara baik dengannya, bukan dengan cara ini.
Semua rencananya gagal. Di Appleberrys padahal Bernard hanyalah sebagai pesuruh, Tapi belakangan ditemukan jejaknya yang melamapaui batasan. Dia tau Alma menderita tapi dia hanya menutup mata dan telinganya. Hanya Nala yang masih bisa dipercaya. Jika Alma pergi sekarang, dia tidak yakin kapan akan bisa bertemu dengan Alma lagi. Dan pasti perlu waktu lama lagi untuk menemukan Alma.
“Bisakah kau tinggal lebih lama lagi disini?” Tanya Dimitri kemudian
Alma hanya menggeleng lemah. Tidak ada yang menjadi alasan untuk dia harus bertahan di Greenville City. Orang tua dan bibinya Amanda sudah tidak ada. Apa yang harus dia perjuangkan sekarang? Harta? Untuk apa? hartanya terlalu besar untuk dirinya sendiri. Jadi Alma berpikir sudah tidak perlu lagi harta itu, apalagi membalas dendam.
“ Apa kau rela semua kekayaanmu menjadi milik Bernard? Dia sudah menyalahgunakan kewenanganmu Alma !” Tegas Dimitri
" Maksud kamu apa?" Kata Alma tanpa menyebutnya tuan lagi.
" Ayo ikut denganku, akan kujelaskan semuanya." Jawab Dimitri
" jelaskan dulu padaku, maksud kamu apa? Kamu tau, hari ini benar benar buruk untukku. Seharian ini aku mendapatkan hal hal yang tak terduga. Mulai aku yang diculik oleh pamanku, kemudian ada yang selalu mengintaiku kemanapun aku pergi, seseorang yang kupercaya ternyata tidak menolongku disaat aku tertindas, ditambah kejadian dimana para bodyguarg memaksaku ikut dengan mereka. Apa maksud dari semua ini?" tanya Alma
" Ikutlah dulu denganku dulu. Disini bukan yang tepat untukku menjelaskan semuanya." Jawab Dimitri
Alma mau tak mau mengikuti Dimitri dengan pikiran yang berkecamuk di otaknya.
Orang orang memanggil Dimitri dengan sebutan Tuan, tapi tidak ada satupun bodyguard yang menjaganya. Dimitri tampak dingin tapi begitu hangat setiap kali berinteraksi dengan Alma. Alma mulai sedikit bingung tapi kemudian menyingkirkan keingintahuannya.
Sesampainya di parkiran, Alma terkejut dengan kendaraan yang digunakan Dimitri. Awalnya Alma pikir dia hanya Tuan kaya biasa tapi sepertinya dia memiliki kekayaan dan kekuasaan yang tidak dimiliki oleh siapapun.
Alma memasuki mobil Sport mewah milik Dimitri yang desainnya begitu menawan. Ia tak pernah membayangkan bisa menaiki mobil mewah seperti itu.
Dulu pernah terpikir olehnya menaiki mobil mewah saat Bibi Amanda masih hidup. Ia ingin membuat Bibinya itu bahagia. Tapi sekarang tidak ada lagi yang bisa menjadi alasan dia.
Mobil mewah yang dikendarai Dimitri melaju kencang, membawa angan Alma jauh pergi dari Greenville. Hingga Alma tudak menyadari bahwa mereka telah sampai ke tujuan.
"Kita sudah sampai." kata Dimitri membangunkan Alma dari lamunan.
" Kita sampai dimana?" Tanya Alma
Dimitri tidak menjawab dan hanya membukakan pintu mobil, kemudian memintanya turun dan terus mengikutinya.
Alma hanya bisa mengikuti Dimitri tanpa ada pertanyaan. Alma turun dari mobil dan melihat pemandangan yang begitu indah. Layaknya surga dunia yang dijatuhkan ke bumi.
Ya seperti surga, setiap kali mata memandang hamparan tanah luas dengan bunga bunga yang bertebaran warna warni menghiasi.
Mobil yang melaju tadi ternyata melewati padang bunga yang terhampar luas. Tempat itu begitu terlihat nyaman. Alma baru tau ada tempat seperti itu di Greenville City.
Dari belakang tempat itu kita bisa melihat siluet pegunungan yang menjulang tinggi dengan hutannya yang rimbun, tak jauh dari sana kita juga bisa deburan ombak pantai yang menghantam karang dan pasir.
Alma merasa seakan berada di surga saat itu. karena ini adalah tempat yang benar benar indah dan dia sangat menyukai itu. Rasanya ia tak ingin kembali ke kota greenville lagi.
Sesampainya di tempat itu, para pelayan segera berbaris dan bersiap melayani. Semua berseragam rapi. Ruangan juga tertata rapi.
Alma sesekali tersenyum tiao kali melihat para pelayan itu. Tapi mereka tidak ada yang membalas senyuman Alma.
Dimitri tampak dingin sedingin es disana. Setiap orang yang melihatnya berjalan tak berani menatap wajahnya. Mereka hanya menundukkan kepalanya setiap kali Dimitri melewati mereka.
Pemandangan macam apa ini, batin Alma.
karena rasanya tidak sesuai dengan dengan tampilan tempat ini yang hangat dan membuat betah.
Apakah Dimitri begitu kejam? hingga membuat para pelayan ketakutan? Batin Alma lagi
Alma masih dalam keadaan bingung. sedangkan dimitri menunjukkan sikap dinginnya.
Seorang pelayan yang sepertinya adalah kepala pelayan disana, menghampiri Dimitri dan Alma. kemudian menuntun mereka ke sebuah ruangan besar yang cukup luas untuk mereka berdua.
Ruangan itu tertata dengan apik, meja penuh dengan makanan dan bunga bunga segar yang sepertinya diganti setiap hari.
Alma diarahkan menuju kursi yang berhadapan dengan Dimitri. Dan Alma hanya mengikuti.
" Makanlah dulu, aku yakin kamu pasti lapar." kata Dimitri membuka pembicaraan.
Iya, seingat Alma dia memang belun makan dari pagi. Alma dan Dimitri memakan makanan yang terhidang tanpa suara.
Selesai makan, ruangan kemudian dibersihkan oleh para pelayan. Dengan meninggalkan cemilan dan minuman untuk mereka berdua.
"Lalu, apa yang akan kamu ceritakan padaku." Kata Alma memulai pembicaraan
Alma mulai menyingkirkan rasa takutnya kepada Dimitri.
Dimitri tersenyum, Alma terpesona tapi menutupinya. Dia masih menyukai Brian dibanding Dimitri. Ya Brian adalah cinta pertamanya. Sulit untuknya berpaling meski hari ini Brian membuatnya kecewa karena tidak menolongnya.
Dimitri kemudian memberikan amplop yang bertuliskan Rahasia kepada Alma
Alma menerimanya lalu membuka amplop tersebut. Amplop itu berisi dokumen penting tentang aset Appleberrys Group yang dikelola oleh Bernard. Alma tidak mengerti dengan dokumen itu. Dia kemudian menggeleng tak mengerti kepeda Dimitri.
"Coba kamu baca, apa yang tertulis di dokumen itu perlahan." pinta Dimitri
" Aku tidak memahami itu Dimitri. bisakah kamu menjelaskan dengan singkat kepadaku? Aku tidak ingin yang berat." Kata Alma kepada Dimitri.
Dimitri akhirnya menjelaskan, bahwa dalam dokumen itu, Bernard mulai mengambil alih perusahaan Alma sedikit demi sedikit dan mengubahnya menjadi miliknya. Dan Bernard dibantu oleh pamannya Alex untuk mendapatkan semua itu. Tapi pada kenyataanya Alex juga hanya dimanfaatkan oleh Bernard sebagai wali Alma. Semua kekayaan Alma yang dipegang oleh Bernard sebenarnya bisa dikelola oleh wali Alma, tapi Bernard mengubahnya menjadi hanya dia yang bisa mengelola sampai Alma berusia 18 tahun.
Wasiat yang ditulis oleh orang tua Alma, bahwa kekayaan alma akan jatuh ke Yayasan Appleberry juga dibuat buat oleh Bernard, karena yayasan sebenarnya adalah sudah milik Bernard. Kenapa Bernard tidak mengambil dari sekarang karena semua kekayaan Alma akan cair pada usia 18 tahun.
Bernard menunggu usia itu, agar semuanya bisa dia ambil alih, baik secara paksa atau tidak. Pamanmu bertahan untuk tetap membiarkanmu hidup karena takut tidak mendapat apa apa. Pamanmu tidak tau apa apa tentang ini. Dia hanya tau jika Alma hilang atau mati semua akan jatuh ke Yayasan.
Alma seakan terpelanting jatuh ke dasar jurang yang paling dalam. Dia tidak menyadari bahwa begitu banyak orang yang jahat diluar sana. Menunggu waktu untuk bisa menerkamnya dan mengambil semuanya.
"Lalu apa yang harus aku lakukan? " tanya alma kemudian
" Ikuti perintahku dan kamu akan aman." kata dimitri
"Apa kau bisa dipercaya?" tanya alma lagi
Dimitri hanya tersenyum dan pergi meninggalkan Alma yang penuh tanya.
***
Ditempat lain Bernard memaki Nala dengan kasar, karena tidak bisa membawa Alma kepadanya. Bernard ingin segera bertemu Alma alih alih membuatnya semakin percaya padanya.
Bernard tidak tau kalau Alma dibawa pergi oleh Dimitri. Bernard hanya tau kalau Alma pergi setelah di hina di pesta dan Nala tidak bisa menemukannya di seluruh tempat di Maribay Hotel.
Nala sengaja membuat Bernard tidak tau yang sebenarnya, karena Nala juga kecewa terhadap apa yang dilakukan Bernard kepada Alma.
Nala berusaha menjaga Alma berada pada posisi aman dari Bernard ataupun Alex.
Saat ini hanya Dimitri yang dipercaya oleh Nala. Meski Nala tau Dimitri adalah orang yang keras kepala dan berhati dingin, tapi hanya dia yang kita Nala percayai saat ini.
Setelah amarah Bernard mereda, Nala izin pergi meninggalkan tempat itu. Nala pergi seorang diri mengendarai mobilnya dan melaju dengan kecepatan penuh ke suatu tempat yang jauh.
***
Alex dan Kitty semakin frustasi, karena mereka mendapat informasi dari Frederich bahwa Alma tidak pernah keluar dari Maribay Hotel sejak ia datang kesana bersama Brian Hawkins.
Frederich mengikuti Alma masuk ke dalam ruangan tapi segera dihentikan petugas karena dia tidak memiliki undangan resmi. Akhirnya Frederich menunggu di luar ruangan aula hingga acara selesai tapi tidak pernah melihat Alma keluar setelah masuk ke acara tersebut.
Dia hanya mendengar orang orang yang bergosip bahwa di dalam sempat terjadi kehebohan. Pasalnya seorang wanita yang biasa saja berani datang ke acara besar itu, dan tentu saja gadia itu banyak di cemooh dan dihina. Bahkan terjadi penganiayaan yang dilakukan oleh seorang anak perempuan dari keluarga Harrison. Awalnya Frederich ingin datang dan melihat, karena dia yakin bahwa gadis yang dimaksud adalah Alma. Hati kecilnya entah bagaimana rasanya ingin melindungi Alma. Tapi ia tidak bisa masuk ke ruangan itu.
Beberapa kali Frederich mencoba masuk, tapi tertolak. Akhirnya dia mendapatkan cara masuk ke ruangan itu dengan menjadi pramusaji. Namun saat dia bisa masuk dan melihat Alma tersungkur, tiba tiba seorang laki laki misterius datang menolongnya. Ketika Frederich akan mengejar seseorang memqnggilnya karena dia adalah pramusaji.
Frederich kemudian berusaha mencari tau keberadaan Alma dan laki laki itu, tapi tak ada yang bisa ia temukan. Semua pintu yang ada ia sambangi tapi tak menemukan keberadaan mereka.
Ia menyerah dan menunggu di luar ruangan. Ketika melihat Brian Hawkins keluar bersama rombongannya dan para orang orang kaya lainnya rasanya hatinya panas dan ingin mendatangi mereka agar nereka merasakan apa yang Alma rasakan. Tapi ia tidak mampu, dia hanyalah orang bayaran yang terikat.
Sekarang Frederich menunggu perintah untuk tindakan selanjutnya.
Alex dan kitty meminta Frederich tetap mencari tau keberadaan Alma bagaimanapun caranya. Dan segera melaporkan kepada mereka apapun yang dia dapatkan.
Frederich, memutar otak dan mencari cara.
Dia mengendari mobilnya sambil berpikir keras.