bc

The Destiny

book_age16+
7
IKUTI
1K
BACA
billionaire
revenge
fated
independent
brave
drama
sweet
genius
city
first love
like
intro-logo
Uraian

Almahyra Wright adalah anak dari keluarga terpandang di kota Greenville. Namun sayang hidupnya tiba tiba berubah diusianya yang ke 10, ketika orang tuanya meninggal dalam perjalanan bisnis. Dia menjadi sebatang kara dan kekayaan yang orang tuanya tinggalkan dibekukan oleh hukum karena dia belum berusia 18 tahun, kecuali ada keluarga yang mau menjadi walinya dan mengurusnya sampai dia cukup umur untuk mengurus kekayaannya sendiri. Beberapa keluarga dari pihak ayahnya silih berganti berdatangan untuk menjadi walinya tapi semuanya hanyalah penipu. berkali- kali dia ikut paman atau bibinya tapi yg dia dapatkan hanya kesengsaraan. Uang saku yang diberikan untuk kehidupannya sampai dia berusia 18 tahun selalu habis tanpa dia rasakan manfaatnya. Dan selama ini yang mengurusnya adalah kakak dari ibu kandungnya yang tidak memiliki apa apa untuk hidupnya yang layak. Mereka hidup selama 8 tahun dari gaji bibinya Amanda sebagai pembantu di rumah salah satu keluarga Kaya di greenville. Dia tidak bisa melaporkan mereka yang telah membuatnya sengsara, karena Almahyra masih belum cukup bukti untuk menyampaikan, yang ada dia selalu dijadikan kambing hitam.

Kini usianya menuju 18 tahun. Dia mulai menyiapkan segala sesuatunya untuk membalik keadan. Memang saat ini dia seakan sedang berjalan di atas kaca retak, tapi dia harus mencoba melewatinya. Dia tahu betul apa yang sedang dia hadapi di depan, tapi saat ini bukan waktunya mundur lagi.

Bibinya Amanda sudah mulai renta dan sakit-sakitan. Tapi amanda harus tetap berdiri tegak dan mengambil semua haknya.

"Alma, maafkan bibi yang tidak bisa memberikanmu kemewahan, selama kamu tinggal bersama bibi. Tapi bibi selalu berdoa semoga engkau menjadi anak yang kuat, bijak dan bisa melalui ini semua dengan baik. Nak, ada satu hadiah dari ibumu yang selalu bibi simpan hingga kau cukup usia untuk menerimanya. Hadiah itu ada di laci meja bibi, kau bisa buka setelah usiamu 18 tahun. Bibi rasa ini waktunya nak

chap-preview
Pratinjau gratis
Aku benar - benar muak dengan keadaan ini. Ingin rasanya aku membalikkan keadaan dan membalas semua perlakuan mereka kepadaku...
"Hei, alma... pulang sekolah segera ke rumah yaaa. Ada yang ingin paman bicarakan. " Pesan dari paman alex ketika alma membuka handphonenya. "Pasti masalah uang sakuku tahun ini, dan aku harus tanda tangan agar mereka bisa mencairkannya. " Batin Alma Almahyra memang diasuh oleh Bibinya Amanda, setelah Anna dan Rio orang tuanya meninggal dalam kecelakan 8 tahun yang lalu. Tapi pamannya Alex adik dari ayahnya yang mengurus semua dokumen - dokumen Alma. Alex hanya manusia penipu, karena uang saku Alma per tahun selalu dia terima tanpa diberikan sedikitpun kepada Alma. Bibi Alma yaitu Amanda tidak bisa menjadi wali secara hukum untuk Alma karena Amanda adalah kakak angkat Anna ibu Alma. Meski hanya sebagai Bibi angkatnya Alma, Amanda sangat menyayangi Alma sepenuh hati. Dia sudah mencintai Alma sejak Alma lahir. Tiap tahun, Alma harus datang ke rumah Alex untuk bertemu dengan pengacara dan menadatangani surat - surat pencairan uang saku Alma dalam setahun ke depan. Alma harus bersikap baik, seolah dia diasuh dengan baik oleh pamannya itu. Namun sayang Alex hanya memanfaatkan Alma. Uang saku yang Alma terima tiap tahun bertambah sesuai dengan usianya, semua masuk ke rekening Alex dan Alma hanya tahu dia tanda tangan saja. "Kali ini, aku tak bisa tinggal diam. sudah cukup paman, kau membuatku dan Bibi Amanda sengsara." Pikir Alma *** "Biii, Alma pulang bawa bubur. Bibi Pasti sudah lapar. " Teriak Alma ketika memasuki rumah kecil Bibinya Amanda Tidak ada suara jawaban, membuat Alma berlari menuju kamar Bibinya. Alma tahu bibinya sedang sakit dan dari pagi Amanda belum makan apa - apa. "Biii, bangun biii. Amanda bawa makan biii." isak Alma setelah sampai di sisi kasur Amanda. "Alma sayaaang, kau sudah pulang? maafkan bibi ya naak. Bibi tertidur pulas." kata Amanda dengan suara paraunya. " Bii, Alma harus membawa bibi ke rumah sakit. Hari ini paman Alex menyuruhku datang ke rumahnya untuk tanda tangan pencairan uang sakuku. Alma akan meminta sedikit bagian agar bisa dipakai untuk berobat bibi." Jelas Alma Amanda tersenyum getir. Dia tahu betul watak dari Alex. Tidak mungkin Alma mendapat bagian bahkan sesenpun, amanda yakin Alma tidak akan menerimanya dari Alex. "Alma sayang, Bibi tahu kamu begitu sayang dengan Bibi. Saat ini yang bisa kamu lakukan adalah munculkan keberanianmu nak. Kamu 3 bulan lagi berusia 18 tahun. dan Kamu bisa mengelola keuangan kamu semua sendiri. Kamu tidak perlu memikirkan bibi. " Kata Amanda "Tidak bii, Alma akan meminta bagian Alma kepada Paman Alex tidak peduli bagaimanapun caranya." kata Alma menggebu Amanda hanya bisa membalas dengan senyum yang sedih. "Bi, ayo bibi makan dulu yaaa biar ada tenaga. Alma sudah besar Bi. Sudah bisa mengurus keperluan Alma sendiri. Bibi tidak perlu khawatir lagi." Kata Alma Disuapinya Amanda oleh Alma secara perlahan. Tanpa suara, jalinan kasih sayang diantara keduanya benar - benar terlihat. Meski Alma bukan anak kandungnya sendiri melainkan anak dari adiknya Anna, tapi Amanda benar - benar menyayangi Alma dengan segenap hatinya, tak peduli dia tidak menikah sekalipun dia akan terus menjaga Alma sampai alma dewasa. "Alma sayang, bibi ada sesuatu yang ingin bibi berikan kepada kamu. tolong ambilkan kotak yang ada di laci itu. " ucap Amanda selesai makan Tanpa bertanya, Alma langsung menuju laci yang ditunjuk bibinya dan mengambil kotak yang dimaksud oleh bibinya Amanda, kemudian menyerahkan kotak itu kepada amanda. " Alma sayang, kotak ini adalah hadiah dari ibumu Anna. Entah mungkin karena firasat dia lebih kuat, maka dia sengaja menitipkan ini kepadaku agar bisa aku serahkan kepadamu langsung nak." jelas Amanda " Ini apa bi?" tanya alma ragu " Ini adalah tanda pengenal bahwa kamu pemilik sah dari Appleberrys Group yang dimiliki oleh ayah dan ibumu. Memang selama ini telah diurus oleh orang kepercayaan ayah dan ibumu yaitu tuan Stephen Bernard. Namun dia tidak memiliki kewenangan lain selain mengurus pengelolaan perusahaan. Saat usiamu 18 tahunlah semua perintah berasal darimu. Pengacara yang setiap tahun kau temui itu juga atas perintah tuan Bernard, karena wasiat dari orang tuamu adalah hanya memberimu uang saku tiap tahun untukmu sampai usiamu 18 tahun. Setelah itu kamu bisa mengurus semuanya sendiri. Jika terjadi sesuatu padamu, misalnya kamu menghilang tidak ada kabar maka kekayaan kamu akan di freeze sampai kamu kembali atau setelah ada kabar kematianmu maka semua kekayaanmu akan menjadi dana sumbangan untuk Yayasan Appleberrys" Jelas amanda panjang lebar " Bibi tau sebanyak itu?" Tanya Alma tak percaya. Amanda hanya tersenyum menahan sakit. " Bi, Kata Bibi ada Tuan Bernard yang mengurus perusahaanku. Kenapa tidak kita laporkan saja paman Alex bi, dan meminta uang untuk pengobatan Bibi kepada tuan Bernard?" tanya Alma Amanda menggelengkan kepala sambil mengusap lembut kepala Alma. " Tidak semudah itu nak, Kamu tahu betul bagaimana culasnya Pamanmu Alex. Dia bisa melakukan cara apapun untuk mencapai apa yang dia inginkan. Jika kamu melaporkan dia, pasti dia akan menyerang kita kembali. Apalagi kalau dia tahu tanda pengenal ini ada padamu, dia pasti akan melakukan berbagai cara untuk mendapatkannya." Jelas Amanda lagi "Kamu tahu kenapa selama ini dia tidak bisa mengurus perusahaan ayahmu dan hanya bisa menjadi walimu? itu karena tanda pengenal ini tidak dimilikinya atau dimilikimu. Dia berpikir jika tanda pengenal ini disimpan di safe deposit box yang hanya bisa dibuka saat kamu berusia 18 tahun nanti nak. Bibi yakin sampai sekarang dia menyuruh orang untuk mencari tanda pengenal ini dan memantau gerak gerik kamu, sambil menunggu usiamu 18 tahun agar dia bisa mengambil alih semua milikmu. " kata Amanda " Lalu apa yang harus Alma lakukan bi? " tanya Alma Amanda tersenyum kemudian berkata " Tunggu usiamu 18 tahun Alma, kemudian datangi Tuan Bernard dengan membawa ini. 3 bulan lagi nak, kamu harus bertahan." Mereka berpelukan dan tenggelam dalan pikiran masing - masing. Handphone Alma tiba - tiba berdering dan membuyarkan lamunannya. "Hei, sampai mana kamu Alma? " tanya suara disambungan seberang telepon dengan gusar "Di di jalan Bi, macet." jelas Alma terbata - bata Ia lupa harus ke rumah pamannya Alex hari ini. Setelah Alma menerima panggilan telepon dari istri pamannya Alex yaitu Ketty dia langsung menuju halte terdekat. **** Sesampainya di rumah Alex, Alma melihat kesibukan tidak seperti biasanya. Orang - orang mulai menata ruangan penuh dengan dekorasi dengan bunga - bunga. Meja - meja diisi dengan berbagai makanan. Saking terpesonanya Alma lupa tujuan awalnya datang kesini. Seharusnya dia langsung menuju ruang kerja pamannya, tapi malah berkeliling melihat dekorasi bunga - bunga itu. Yaa, dia sangat menyukai bunga - bunga itu. Jika dia memiliki uang yang cukup, dia akan memiliki sebuah toko bunga terbaik di Kota Greenville. Tapi saat ini dia belum punya uang itu. "Hei Orang miskin, ngapain kamu? cepat sana ke ruang kerja papa. udah ditungguin daritadi malah enak jalan - jalan di rumah orang. " Cibir Brenda sepupunya mengejutkan pikiran Alma Alma hanya menggeleng dan pergi menuju ruang kerja Pamannya Alex yang berada di lantai atas. Tok tok tok " iya masuk. " Jawab suara dari dalam ruangan Ketika Alma membuka pintu, telah ada beberapa orang seperti tahun - tahun sebelumnya yang menjadi saksi dalam penanda tanganan itu. Ada Pamannya Alex, Bibi Ketty, Pengacara Nala dan dua orang saksi yang Alma tidak kenal. Namun ada yang berbeda. Kali ini Alma tidak diminta memakai pakaian indah dan rapi tapi hanya disuruh masuk ke ruangan saja, sehingga membuat orang di ruangan tersebut sedikit terkejut dengan penampilan Alma yang biasa saja, bahkan bisa dibilang kurang layak untuk anak seorang pewaris orang terkaya no 2 di kota Greenville. Paman Alex langsung menatap Istrinya karena ternyata Bibi Ketty lupa menyiapkan pakaian untuk Alma, paman Alex tampak kesal melihat kearah Alma dan kepada Istrinya. "Kau darimana saja Alma?" tanya Ketty mengalihkan pandangan tanya orang - orang. Belum sempat Alma menjawab, Ketty lansung melanjutkan kata - katanya " Kamu pasti pulang dari rumah Bibimu Amanda yang miskin itu kan, makanya pakaianmu berantakan seperti ini. Bibi kan sudah bilang ke kamu, bahwa hari ini akan ada tamu penting. Kamu harusnya tampak cantik. Apalagi sebentar lagi kamu ulang tahun. Kalau seperti ini keadaanmu, Pengacara Nala akan berfikir bahwa kamu tidak kami urus dengan baik." Kata Ketty sambil menatap kesal kepada Alma dengan senyum terpaksa Alma terdiam tak berkutik, rasanya ia ingin menjawab semuanya. " Memang benarkan bahwa aku tidak diurus oleh kalian. " Batin Alma Tapi dia belum punya keberanian untuk bersikap buruk di hadapan Paman dan Bibinya. "Maafkan Alma Paman, Bibi dan semuanya. apa perlu alma ganti baju dulu agar bisa melanjutkan acaranya?" kata Alma " oo, tidak perlu Alma. yang penting kamu sudah hadir disini. " kata pengacara Nala menenangkan " Terimakasih Om nala." jawab Alma Alma duduk disebelah Pengacara Nala yang biasa dia panggil Om sejak Alma kecil. " Baik Alma, hari ini Om datang biasanya untuk menyeeahkan pemberkasan pencairan uang sakumu selama setahun kedepan. Tapi sebelumnya om juga mau bilang sesuatu ke kamu dan para hadirin semua." kata Pengacara Nala " Bicara tentang apa Om? " tanya Alma " Begini Nak, 3 bulan lagi kamu sudah berusia 18 tahun. Semua kekayaan orang tuamu otomatis bisa kamu ambil alih tanpa adanya wali. Nah saya mewakili Tuan Bernard meminta kamu untuk datang ke perusahaan diusiamu tepat yang ke 18. Dan untuk uang saku selama setahun kedepan ini mungkin akan ditangguhkan karena selain jumlahnya sangat besar, kebutuhan kamu selama 3 bulan kedepan juga tidak begitu besar, jadi kami berpikir bagaimana jika kamu mengurus sendiri semuanya saat usiamu 18 ? Namun misalkan kamu memerlukan uang tersebut untuk keperluan kamu selama 3 tahun ke depan, Om akan bantu bicarakan dengan Tuan Bernard. " jelas Nala Sejenak ruangan menjadi hening setelah Nala membeberkan apa maksud dan tujuannya datang hari ini. Paman alex dan Bibi Ketty saling berpandangan kesal. Alma hanya bisa memandang mereka sesekali tapi tidak berani beradu pandang. "Lalu untuk bekal dia selama 3 bulan kedepan dari mana Tuan Nala?" Tanya Alex tiba - tiba Semua mata langsung tertuju padanya, tak terkecuali Alma dan Nala. " Menurut Tuan Bernard, kebutuhan harian Nona Alma akan langsung kami sediakan. seperti pakaian, makanan dan kendaraan. Untuk pembayaran uang sekolah juga akan langsung dibayarkan, apalagi sekarang sudah tahun terakhir Nona Alma di Sekolah Menengah Atas. Kami akan berkoordinasi langsung dengan Sekolah untuk menyiapkan segala keperluan keuangan Nona Alma." Jelas Nala Jleeb, Alex dan Kitty seakan tersambar petir mendengar penjelasan Nala. Apa yang akan mereka lakukan jika mereka tau ternyata selama ini Alma sekolah di SMA biasa dipinggiran kota? dan bukan mereka yang mengurus? Bagaimana ini? Jelas sekali kebingungan tampak diwajah Alex dan Kitty. Uang saku Alma yang selama ini mereka terima tidak untuk keperluan Alma melainkan keperluan keluarganya. Brendalah yang sekolah di SMA favorit kota Greenville menggantikan Alma. "Kenapa tidak diberikan secara proporsional saja uang saku Alma sampai dia berusia 18 tahun? " Tanya Kitty " Hmm, untuk itu harus ada persetujuan dari Nona Alma dan Tuan Bernard Nyonya. Saya rasa perlu ada pembicaraan serius tentang pengasuhan Nona Alma selama 3 bulan kedepan jika Tuan dan Nyonya merasa keberatan." Jelas Nala lagi Jawaban Nala membuat Alex dan Kitty tidak bisa berkata - kata lagi. " Baiklah Tuan dan Nyonya, sepertinya urusan saya disini sudah selesai. Tuan Alex dan Nyonya kitty bisa langsung menyampaikan surat keberatan kepada Tuan Bernard. Nanti jawabannya akan saya bawakan secepatnya." Kata Nala menutup pembicaraan. Sebelum Nala Pamit, dia memberi kode kepada Alma untuk mengikutinya sampai ke mobil. Alma mengangguk dan mengikutinya tanpa protes. Dipikirannya kini bingung, campur aduk juga senang. Senang karena Paman dan Bibinya tidak akan mendapat sepeserpun dari uang sakunya. Tapi juga bingung bagaimana caranya agat dia bisa mendapatkan uang untuk pengobatan Bibinya Amanda. Sesampainya di depan mobil, Nala langsung mengajaknya masuk ke mobil. "Ayo, masuklah akan ku ajak kamu berkeliling." kata Nala Apa maksudnya?? pikir Alma " Keliling kemana Om?" Tanya Alma " Naik saja dulu, nanti kamu akan tahu." Kata Nala Alma menggangguk dan mengikuti Nala. Mobil berjalan meninggalkan rumah besar Keluarga Alex. Alex, Kitty dan Brenda masih tidak percaya dengan apa yang barusan mereka lihat. Apa yang sedang terjadi ini? Mereka pikir setelah tanda tangan acara hari ini selesai. Mereka bisa langsung mencairkan uang saku Alma dan bisa menikmatinya seperti biasanya. Tapi kali ini benar - benar berbeda. "Paa, ulang tahunku tetap akan berjalankan?" Rengek Brenda kepada Papanya. Seharusnya besok, setelah uang saku Alma cair, Brenda akan melaksanakan acara ulang tahunnya. Mengundang teman - teman kalangan atasnya di Greenville City. Tapi ternyata uang itu tidak bisa cair. Uang saku Alma tahun - tahun sebelumnya sudah habis tak bersisa. Alex dan Kitty benar - benar bingung harus dengan apa membayar biaya dekor dan makanan yang sudah dipesan itu. Meski melihat orang tuanya sedang kebingungan, Brenda yang terlalu sering dimanja tetap merengek tanpa henti. "Brenda, diam. " teriak Alex membuat Brenda langsung terdiam. Kitty yang sejak tadi di sebelahnya juga terkejut mendengar teriakan suaminya itu. "Tenang sayang, kita akan mencari cara agar uang saku Alma cair meski itu hanya sedikit." Kata Kitty menenangkan. "Maaf pa, Brenda bingung harus bilang apa ke teman - teman kalau acara ulang tahunku dibatalkan." tangis Brenda pecah Kedua orang tua itu dan anak itu semakin gusar. " Alma b******k. Anak tak tau diuntung. Masih untung dia hidup sampai sekarang. Kalau bukan karena uang saku dan kekayaannya aku tak akan membiarkannya tetap hidup dari dulu." Teriak Alex memaki " Sayang, kita harus meminta bantuan Frederic lagi kali ini. Agar kita semua aman. " Kata Kitty **** "Om kita mau kemana?" Tanya Alma lagi. Sebenarnya Alma tau betul, bahwa mobil ini ke arah rumah Bibinya Amanda. Tapi Alma tidak mau berspekulasi. "Bukankah kamu jelas tau ini jalan menuju kemana?" tanya Nala " Bibi Amanda?" jawab Alma mengernyit " Yaa betul." kata Nala " Om kenal Bibi Amanda? " Tanya Alma lagi " Kami sudah saling kenal sebelum kamu lahir Alma. " Jawab Nala lagi Sebenarnya banyak pertanyaan yang muncul dalam benak Alma, tapi mobil telah berhenti tepat di depan rumah Amanda. Sehingga Alma harus menahan pertanyaan - pertanyaan itu. Nala dan Amanda adalah pasangan sejoli, namun orang tua Nala tidak merestui Amanada sebagai menantunya. Meski secara sosial Amanda adalah kakak dari seorang konglomerat di Greenville tapi orang tua Nala tau betul bahwa Amanda adalah kakak angkat dari Anna. Itulah yang menyebabkan Amanda dan Nala tidak bisa bersatu sampai sekarang. Amanda memilih untuk tidak menikah seumur hidupnya dan demikian juga Nala. Mereka jarang dan bahkan tidak pernah bertemu sejak meninggalnya orang tua Alma. Tapi Nala selalu menyempatkan dirinya untuk melihat Amanda dari jauh. Sesekali Nala sengaja mengemudi kendaraannya sendiri jauh jauh dari pusat kota Greenville ke pinggiran kota tempat Amanda tinggal. " Bibii, Alma pulang. " Teriak Alma sambil masuk ke dalam rumah kecil bibinya, tapi tak ada jawaban. Ah pasti bibi di dalam kamar lagi dan tertidur batin Alma. Hari itu sore menjelang malam. Matahari mulai menunjukkan semburat oranye di langit. Alma mengetuk pintu kamar bibinya dan membuka pintu perlahan, mendekati bibir kasur tempat bibinya terbaring. " Bi, Bibii... Alma Pulang Bi. Ada tamu yang ingin bertemu dengan Bibi. " Panggil Alma perlahan. Tapi tetap tak ada jawaban. Alma kemudian mendekati wajah bibinya yang tampak pucat. Dan seketika Alma menangis sejadi - jadinya. Nala dan pak Bagio sang supir langsung berlari menuju kamar Amanda untuk melihat apa yang sebenarnya terjadi. " Bibi Om, bibi ..... " kata Alma tak mampu melanjutkan. Nala dan Pak Bagio tau betul apa yang terjadi saat ini. mereka hanya bisa ikut menangis dan segera menghubungi ambulance, untuk mengurus semuanya. Alma masih menangis tersedu di samping Amanda sampai petugas ambulance datang menjemput. Nala yang berada tidak jauh dari Alma tampak menahan tangisnya dan berusaha menenangkan Alma. Suasana sore menjelang malam hari itu, meninggalkan bekas kesedihan di hati Alma dan Nala. Tak ada kata ataupun suara yang keluar dari mulut mereka. Masing - masing tenggelam dalam kesedihan mereka. Hingga esok ketika Amanda dimakamkan di pemakaman umum di Greenville City. "Alma, besok Om akan jemput kamu jam 8.00 ya. " kata Nala Alma hanya mengangguk, tak bersuara. "Oia, siapkan pakaianmu juga dan bawa barang - barang yang penting saja. " lanjut Nala kemudian pergi meninggalkan Alma seorang diri di rumah. **** Esoknya setelah pemakaman Amanda dan sebelum Nala menjemput Alma, Dia didatangi laki - laki tinggi bertubuh besar memakai kaos hitam, kacamata hitam memakai masker dan bertopi, kulitnya putih sehingga tato naga di tangannya terlihat dengan jelas. "Maaf, tuan mencari siapa?" tanya Alma Belum sempat Alma mendengar jawaban dari laki - laki itu, tiba - tiba matanya berkunang - kunang dan dia langsung tak sadarkan diri. Laki - laki itu membawanya mengendarai mobil menuju tempat yang sudah ditentukan. Terbangun dari ketidaksadarannya, Alma melihat sekitar. Tangannya terikat dan berusaha mengingat - ingat tempat itu. " Ini bukannya loteng tempatku dulu tinggal di rumah Paman Alex? " Batin Alma Tak lama suara pintu berdecit terbuka. Alma kemudia pura pura masih tidak sadarkan diri. Kamar itu tampak benar - benar usang, banyak sarang laba - laba bertebaran di ruangan itu. Kain putih penutup furniture penuh dengan debu. Cahaya yang terpancar pun hanya dari semburat matahari dan lampu minyak yang tertempel di dinding setelah dinyalakan. Alma masih pura pura menutup mata setelah mendengar suara decitan pintu dan beberapa orang mamasuki ruangan. " Aiih, bocah ini belum bangun juga ? " kata seorang perempuan dengan tidak sabar " Bangunkan dia Frederich ! " Seru salah seorang laki - laki disana yang tidak lain adalah pamannya Alex Frederich, laki - laki yang bertubuh tinggi besar itu membangunkan Alma dengan cipratan air. Dan kemudian mendudukkan Alma di kursinya. "Paman? Apa yang paman lakukan? Kenapa paman membawaku kesini dan mengikatku? " tanya Alma beruntun " Alma sayang, kamu tau pasti apa yang kami mau. Sekarang kami minta kamu buat menanda tangani surat keberatan ini agar kami bisa serahkan kepada Tuan Bernard secepatnya. Kamu tau kan apa yang akan terjadi jika kamu menolak permintaan kami? " Jawab Kitty panjang. " Paman Alex dan Bibi Ketty, seperti yang dikatan oleh Om Nala semua itu adalah keputusan Tuan Bernard. Sepertinya Alma tidak bisa menolaknya. " Jawab Alma perlahan sambil mengumpulkan keberaniannya. Ia sudah tidak takut kehilangan apapun atau terluka lagi. Karena Bibi tercintanya saja sudah meninggalkannya, maka tidak akan ada yang bisa membuatnya menjadi lemah, meski itu adalah kematian. Amanda adalah salah satu kelemahan Alma. Karena Amanda adalah satu satunya yang menyayangi Alma. Alma tak akan membiarkan bibinya itu terluka. " Paman dan Bibi tidak akan bisa melakukan apa - apa sekarang. Jika Om Nala tidak menemukanku di rumah jam 8 nanti, aku pastikan bahwa kalian tidak akan mendapatkan apapun. " kata Alma menegaskan Alma benar benar muak dengan apa yang akan dilakukan oleh paman dan bibinya itu. Dia mulai memberanikan diri untuk melawan mereka dengan cara yang cerdas. Dia tau betul, Paman dan Bibinya memerlukan dia untuk mendapatkan kekayaannya. Jika saat ini Alma tiba - tiba menghilang atau mati, semua kekayaan Alma akan jatuh ke yayasan Appleberry. Dan mereka tidak akan mendapat sepeserpun kekayaan Alma. Seketika mereka berpikir ulang, bahwa apa yang dikatakan Alma benar adanya. Hilang atau matinya Alma hanya akan membuat kehidupan mereka semakin susah. Mereka harus memikirkan cara lain agar semua kekayaan Alma jatuh ke tangan mereka. "Frederich, kembalikan bocah ini kerumahnya dengan selamat dan aku minta tetap perhatikan setiap langkah dia kemudian laporkan kepadaku. " Perintah Alex Frederich, segera melakukan perintah Alex tanpa ucapan. Alma segera menenangkan diri dan meminta Frederich untuk melepaskan ikatannya, kemudian membiarkan Alma berjalan sendiri menuruni tangga. Waktu menunjukkan pukul 7 pagi, saat dia sampai di lantai dasar rumah pamannya Alex. Satu jam lagi Om Nala akan menjemputnya. Alma harus bisa memanfaatkan peluang ini. " Frederich, tolong antarkan aku ke rumah dan sebelum pukul 8 aku harus sudah sampai. Kamu ingat yaa, jika terjadi sesuatu padaku, maka kamu yang akan bertanggung jawab. " Perintah Alma ketika di dalam mobil Frederich memang bukan tipe orang yang banyak bicara, dia adalah tipe orang yang langsung bertindak. Ketika Alma memintanya dia langsung melajukan mobilnya dengan kecepatan penuh. " Sepertinya aku bisa memanfaatkan Frederich suatu saat nanti setelah aku memegang kendali atas hidupku. Baiklah akan kubiarkan dia memantau gerak - gerikku selama 3 bulan kedepan." Batin Alma Pukul 7.50 Alma sampai di rumahnya. Belum ada tanda - tanda kehadiran Om Nala atau pak Bagio. Alma langsung bergegas masuk kemudian mengemasi baju dan barang - barang yang perlu dia bawa sesuai perintah Om Nala, termasuk tanda pengenalnya sebagai pemilik Appleberrys Group. Tampak Frederich dari kejauhan masih memantau gerak gerik Alma. Tidak lama kemudian, Pukul 8 ada mobil berhenti di depan rumah Alma. Mobil Mercedes Bens type terbaru berhenti tepat di halaman rumah Alma, seorang laki - laki berperawakan tinggi, gagah dan berparas tampan turun dari mobil itu. Mendengar suara mobil berhenti, Alma langsung membuka pintu menuju ke halaman rumah. Om Nala sudah tiba, batin Alma " Alma sudah siap om. " Kata Alma sambil berjalan ke arah mobil " Brian? " Kata Alma kemudian Laki- laki itu hanya tersenyum manis, melihat ke arah Alma. Kemudian melepas kacamata hitamnya dan berjalan pelan ke arah Alma. " Benar kamu Brian Hawkins? " tanya Alma kembali. " Iya Almaaa, ini aku Brian. " Jawab brian Mata Alma berbinar melihat kenyataan bahwa laki - laki yang selama ini ada dalam benaknya muncul di hadapannya secara tiba - tiba. Mengagumkan Rasa senang yang membuncah mengisi seluruh d**a nya. Rasanya Alma ingin berlari dan memeluk Brian dengan erat. Alih - alih menutupi rasa senangnya, Alma hanya bisa bertanya " Kamu pergi kemana selama ini? Kamu tau aku disini dari siapa? Untuk apa kamu datang kesini? " " Hahaha, sepertinya banyak pertanyaan untukku yaaa... kira - kira aku mulai dari mana ya menjawabnya." Kata Vrian menggoda " By the Way kamu sudah siap kan buat berangkat?" Tanya Brian kemudian " Berangkat? Kemana? " Tanya Alma lagi " Lho, bukannya Om Nala udah bilang akan jemput kamu jam 8. " Kata Brian " Iya Om Nala yang jemput aku, tapi ini kan kamu yang datang. oiaa aku harus menghubungi Om Nala dulu. Eh tapi, kamu kenal Om Nala juga? " Kata Alma beruntun Brian hanya tersenyum menggoda Alma lagi. " Sudah, ayo berangkat nanti aku jelaskan di perjalanan. Kita udah telah banget ini. Nanti Om Nala bisa marah sama aku. " Kata Brian Kemudian Di kejauhan, Frederich melihat gerak gerik Alma tanpa rasa curiga. Dia tetap mengikuti Alma meski Alma sudah menaiki mobil jemputan itu. "Oke, jadi coba jelaskan apa yang sebenarnya terjadi? Aku benar - benar tidak mengerti. Atau memang cuma aku disini yang tidak tau apa - apa?" Tanya Alma melanjutkan. Brian akhirnya menjelaskan kenapa akhirnya dia yang menjemput dan bukan Om Nala. " Jadi hari ini ada pertemuan pemilik perusahaan di Greenville. Nah Om Nala cerita bakal ngenalin pemilik Appleberrys Group generasi kedua." jelas Brian " Pas Om Nala bilang Almahyra Wright aku langsung ingat kamu. Ak pastikan lagi bahwa itu adalah Alma yang aku kenal. dan ternyata benar. Makanya aku langsung minta ke Om Nala alamat kamu dan biar aku yang menjemputmu. " kata Brian menjelaskan " Kamu kok bisa kenal Om Nala? " Tanya Alma masih penasaran. " Aku sudah mulai kerja magang di Kantor Advokat om Nala. Makanya aku kenal baik dengan Beliau. Beliau adalah seniorku. Aku ingin menjadi seperti dia suatu hari nanti." Kata Brian menggebu " Hmm, aku yakin kamu pasti bisa Brian. " Kata Alma meyakinkan " Tapi aku ga habis habis pikir lho, bahwa pemilik Appleberrys Group generasi kedua tinggal di pinggir kota dengan rumah yang sangat sederhana seperti tadi." Lanjut Brian tak percaya " Hahaha, kenyataannya memang seperti itu kan." Kata Alma dengan tawa getirnya. " Iya kok bisa? " Tanya brian lagi penasaran " Iya Brian, setelah orang tuaku meninggal aku memilih tinggal bersama Bibiku Amanda dipinggir kota, jauh dari kebisingan. " Jelas Alma dengan senyumnya " Tapi bukankah seharusnya kamu tinggal di rumah Pamanmu Alex? Dia kan wali sah kamu." Tanya Brian lagi " Panjang ceritanya Brian. hmmm... kok kamu jadi tau banyak tentang aku?" tanya Alma balik " Ya tau dong, kan aku cari tau tentang kamu buat mastiin kalau kamu adalah Alma yang aku kenal. hehhe." Jelas Brian By the way, Kalau kamu tinggal dirumah pamanmu pasti kita sering ketemu. Aku sering banget berkunjung ke rumah pamanmu. Hampir tiap minggu aku kesana. " Kata Brian Alma tersipu dengan senang yang membuncah mendengar kata kata Brian. " Ah Brian, andai kamu tau apa yang kurasakan." Batin Alma Brian memang type laki laki yang disukai banyak wanita. Tidak dipungkiri banyak wanita yang rela mengantri menjadi kekasihnya, bahkan jika hanya menjadi wanita semalamnya Brian. Termasuk Brenda, sepupu Alma. Mobil melaju dengan nyaman. Mereka berdua masih asyik mengobrol secara acak tentang berbagai macam topik. Hingga akhirnya mereka sampai di Maribay Hotel di pusat kota Greenville. Hotel Maribay itu adalah hotel bintang lima kelas atas. Jadi kalau ada hotel dengan bintang lima saja masih ada hotel kelas atasnya lagi seperti hotel bintang satu kelas atas, bintang dua kelas atas dan seterusnya. Kalo diurutkan hotel bintang lima kelas atas adalah hotel bintang sepuluh. Fasilitas yang ditawarkan pun sangat beraneka macam dan tentu hanya kalangan atas yang dapat menikmatinya. Alma baru kali ini datang ke pusat kota Greenville. Dan baru kali ini dia datang ke hotel semegah ini. Ia baru menyadaru penampilannya. Rasanya ia malu dengan pakaian yang ia kenakan, apalagi melihat orang orang yang silih berganti masuk ke hotel itu dengan pakaian yang sangat menawan dan berkelas. Brian mengajaknya turun setelah membukakan pintu mobilnya. Tapi Alma tidak berani turun karena dia malu dengan penampilannya. " Ayo Alma, kita sudah sampai." Kata Brian sambil mengulurkan tangannya. Alma menggeleng dan berkata " Aku malu Brian, lihatlah penampilanku." Brian kemudian tertawa menggoda. " Mau pakai apapun kamu tetap cantik Almaa." kata Brian menenangkan Alma yang menyukai Brian, terpengaruh dengan kata kata Brian. Dan akhirnya turun berjalan mengikuti Brian dibelakang. Seperti yang dipikirkan Alma sebelumnya, orang orang di tempat itu menatapnya dengan pandangan hina. Memang Alma tidak memakai pakaian yang lusuh seperti orang di pinggir jalan. Alma hanya memakai kaos putih, celana jeans, sepatu sneaker warna senada dengan kaosnya kemudia tas selempang dengan rambut diikat kuncir kuda. Dia tidak memakai pakaian Branded dan menawan, hanya saja pakaian Alma cocok untuk bepergian untuk orang orang kalangan kelas menengah ke bawah. Sedangkan saat ini mereka memasuki tempat untuk kalangan kelas atas, sudah pasti menjadi perhatian banyak orang. Brian tidak terpikir sama sekali untuk membelikan Alma pakaian yang pantas untuk menghadiri acara itu. Sehingga kejadian itu tidak bisa dihindari. Sesampainya di ruang pertemuan, ketika Brian dan Alma memasuki ruangan, semua mata tiba tiba tertuju pada mereka. Tidak dipungkiri bahwa Brian sangat tampan dengan setelah hitam membalut tubuh atletisnya saat itu. Tapi pemandangan bertolak ketika orang orang melihat penampilan Alma yang tidak pantas untuk acara besar itu. Alma seketu menyadari keadaan tidak bersahabat itu. Ia benar benar merasa malu. Mata Alma mencari sosok Om Nala, tapi tak kunjung dia temukan. Brian tidak memperdulikan pandangan sekitar. Dia hanya merasa bahwa pandangan orang tertuju padanya yang tampil sempurna, tanpa memperhatikan perasaan Alma. Seketika Brian meminta izin untuk meninggalkan Alma sebentar untuk bertemu dengan koleganya. Belum sempat Brian beranjak, seorang wanita setengah baya mendekati Brian dan mulai berteriak menghardik Alma. " Brian, kamu menolak anak tante hanya untuk wanita seperti ini? " Kata wanita itu kepada Brian " Hei w***********g, kamu beri apa Brian sampai bisa luluh terhadapmu? " kata wanita itu kemudian Semua mata masih tertuju pada Alma, dan mulai berbisik. Mendengar kata kata tidak mengenakkan itu Brian tidak bisa berkelit. Seharusnya tadi dia ajak Alma beli pakaian dulu. Ah semuanya sudah terlanjur. Alma merasa semakin terpojok, tidak ada yang bisa melindunginya. Brian hanya diam mematung. "Om Nala, dimana om?" batin Alma " Brian, ini pacar kamu yang akan kamu kenalkan kepada Mama dan Papa?" suara gusar seorang wanita yang tiba tiba mendekat, dan ternyata itu adalah orang tua Brian yaitu Thompson dan Cecilia Hawkins. Brian tidak bisa menjelaskan secara rinci tentang keadaan Alma kepada semua orang disana termasuk orang tuanya. Karena Om Nala menyuruhnya untuk tidak membocorkan rahasia itu dan memang Alma sah menjadi pemilik Appleberrys Group 3 bulan lagi setelah usianya 18 tahun, sedangkan sekarang Alma belum menjadi pemilik sah, dia masih dianggap anak biasa yang miskin. Orang orang menganggapnya rendah dan hanya memanfaatkan Brian serta keluarganya. Perasaan Alma semakin kalut. " Briaan, kenapa kamu mempermalukan keluarga kita? " teriak seseorang dari tengah kerumunan yang ternyata adalah Adelia kakak dari Brian Brian tetap tak berkutik, tidak seperti Brian yang Alma kenal tadi. Rasa malu, terpojok dan bingung yang dihadapi Alma secara tiba tiba itu membuat Alma trauma dengan kerumunan orang orang kaya. Alma merasa terasing dan merasa ini bukan tempatnya. Brian tidak melindungi ataupub mengatakan sesuatu untuk menenangkan Alma. Brian terlanjur pergi dibawa keluarganya untuk menjauhi Alma. Alma sendirian berada di kerumunan orang orang kaya itu, yang ingin terus mengusiknya. Alma ingin pergi meninggalkan tempat itu tapi dia tak tau harus kemana dan bagaimana. Orang orang masih terus bergunjing dan memaki Alma tiada henti. Alma mundur perlahan mencoba menghindari orang orang itu, tapi tak berhasil. Seorang wanita usia 20 tahunan, tiba tiba mendatangi Alma dengan perasaan kesal karena Brian lebih memilih gadis miskin itu dibanding dia. Ketika sudah dekat tanggannya langsung mendorong Alma hingga tersungkur. Clara yaa gadis itu bernama Clara Harrison. Melihat Alma telah jatuh tersungkur, Clara masih belum puas. Dia langsung berusaha menampar Alma. Alma berusaha untuk menghindar dengan menutupi wajahnya, namun seorang laki laki misterius tiba tiba datang menyelamatkan Alma dari tamparan Clara. " Siapa kamu? berani sekali memegang tanganku? " tanya Clara Kasar Laki laki misterius itu tidak peduli dengan pertanyaan Clara. Dia hanya pedulu untuk mengulurkan tangannya kepada Alma agar Alma bisa berdiri. Setelah Alma berdiri laki laki itu menutupi tubuh Alma dengan setelan jan yang dia pakai kemudian menuntun Alma ke luar ruangan itu untuk menenangkan diri. Didalam ruangan masih ramai membicarakan Alma si gadis miskin yang berani datang ke acara orang orang kelas atas. Brian terpaku di sudut ruangan bersama keluarganya dan tak bisa membela Alma. Brian masih terus dimaki dan dicemooh karena membawa Alma ke acara itu. Keriuhan pembicaraan buruk tentang Alma masih berlangsung meski Alma telah meninggalkan tempat itu. Mereka saling bertukar pendapat dan pikiran tentang Alma. Hingga suara MC mengheningkan keriuhan. "Hadirin sekalian terimakasih atas kehadiran kalian semua dalam acara ini. Kami sangat bergembira karena acara ini masih dapat kita laksanakan dengan baik, meski sempat ada kegaduhan yang terjadi sebelum acara dimulai. " kata MC mengawali pidatonya hadirin sekalian, kita sambut...

editor-pick
Dreame-Pilihan editor

bc

TERNODA

read
199.1K
bc

B̶u̶k̶a̶n̶ Pacar Pura-Pura

read
155.9K
bc

Sentuhan Semalam Sang Mafia

read
189.3K
bc

Hasrat Meresahkan Pria Dewasa

read
30.9K
bc

Dinikahi Karena Dendam

read
234.0K
bc

Setelah 10 Tahun Berpisah

read
66.7K
bc

My Secret Little Wife

read
132.3K

Pindai untuk mengunduh app

download_iosApp Store
google icon
Google Play
Facebook