05. Hanya Dugaan

1283 Kata
Yuni sedang duduk di salah satu bangku di dekat taman kampus keperawatan. Kedua matanya sibuk menatap langit biru. Panas rasanya, tapi ia merasa lebih baik. Pemandangan itu membuatnya sedikit lupa dengan apa yang dialami tadi. Bangku taman berada tepat di depan ruang kelas. Ada sebuah lorong yang menghubungkannya ke kantin. Awalnya samar-samar terdengar suara derap langkah para mahasiswa dari sana. Terasa menggema dari ujung lorong itu. Yuni mendengarnya begitu ramai dan berisik. Ia sempat menoleh ke arah lorong tersebut. Akan tetapi, yang terjadi bukan adalah. 'Kosong!' 'Tak ada siapa-siapa.' 'Tapi, ada suara derap langkah.' Yuni terpaksa menelan saliva untuk membasahi kerongkongannya yang mendadak kering. Ada perasaan tidak tenang datang tiba-tiba. Gadis itu kemudian kembali menatap langit. Sinarnya masih menyilaukan untuk kedua matanya. 'Ini masih siang.' 'Kenapa aku merasa ketakutan.' Suara derap langkah kembali muncul. Awalnya satu, membising dari ujung lorong yang sama. Lama-lama derap langkah kaki itu terdengar semakin banyak. Semakin bertambah detik, rasanya kian mendekat. Yuni memperhatikan lagi ujung lorong itu, berpindah bola matanya lagi untuk melihat langit. Tidak masuk akal baginya. Ia sama sekali tidak percaya dan tak mau berlama-lama berada di sana. 'Pergi saja dari sini,' batin Yuni lagi. Gadis itu bangun dari duduk. Sadar jika dirinya sendirian. 'Menyebalkan, aku tiba-tiba ketakutan sendiri.' .. Mencari di mana teman-temannya berada. Yuni terus menelusuri tiap ruang di bagian kampus keperawatan itu. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa dirinya sendirian seperti sekarang. Bahkan tak ada penghuni lain. Sepi sekali. Pos satpam menjadi tujuan akhir pencariannya. Ia berharap ada satpam atau siapapun. Yang penting ia bisa bertemu orang, bukan suara aneh-aneh yang membuat pikirannya tidak karuan. “Yuniii!” terdengar seseorang memanggil. Yuni spontan memutar tubuhnya, ia langsung mencari siapa yang memanggil barusan. “Semoga bukan siapa-siapa,’ batinnya. “Yunii, Yunnn!” Varo berlari sedikit cepat dari tempat parkir motor mahasiswa. Ia segera mendekati Yuni yang terlihat bingung tanpa alasan. Yuni akhirnya menemukan asal suara itu. “Ya ampun, ternyata Varo,” ucap Yuni merasa lega. Ia kemudian mendekat juga ke arah Varo. “Kamu kemana aja sih Yun?” “Aku nggak kemana-mana kok. Dari tadi aku malah cari kalian.Ternyata kalian lagi kumpul di sini.” Riyan kemudian ikut menghampiri. Diberikan sapu lidi yang masih tersisa untuk Yuni. “Udahhh, yuk kita lanjutin beres-beres. Masih ada banyak yang belum kita bersihkan.” Yuni pun menerima sapu tersebut, dilihat di sekitar tempat parkir tersebut. Terlihat sedikit berbeda. “Emang kita ngapain di sini?” tanya Yuni. “Jadi, Pak Haris mau kita bersihkan secara bertahap setiap tempat yang ada di sini. Termasuk asrama dan perpustakaan.” Riyan menjelaskan sambil melihat sekitar, meneliti bagian mana yang masih kurang bersih. Varo pun ikut mengangguk. Sedangkan Yuni tampak memasang wajah tidak percaya. ‘Yang bener aja. Perpustakaan dan asrama kan gede banget. Lagian kan udah ada tukang bersih masing-masing. Jadi, semakin capek dong.” Yuni berteriak dalam hati. Ia membayangkan bagaimana lelah dirinya. “Udahhh, jangan melamun, ayo kerja Yun!” perintah Riyan. Ia melihat Yuni melamun sesaat. “I … iya Riyan!” sahut Yuni. .. “Ahhhhhh, capeknya!” keluh Yuni sambil menjatuhkan tubuhnya di sebuah bangku panjang yang ada di dekat taman perpustakaan. Kampus tersebut memang memiliki beberapa taman kecil yang tersebar. Termasuk yang ada di halaman perpustakaan. Terdiri dari rerumputan hias dan beberapa tanaman bonsai. Tidak ada pohon besar seperti di bagian depan. Yuni dan yang lain sedang berada di salah satu sisinya. Memandang rimbunan pohon beringin bonsai yang daunnya sudah harus dirapikan. “Apa kita harus membersihkan perpustakaan juga untuk hari ini. Apa nggak ada keringanan sedikit. Kita kan baru selesai bersihkan tempat parkir,” ucap Yuni memecah keheningan. Sebenarnya bukan hanya Yuni yang merasa lelah. Namun, juga kedua temannya. Varo dan Riyan. Mereka merasa begitu haus dan lapar. Riyan kemudian memperhatikan jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Jarumnya masih pukul dua siang. Hanya lewat beberapa menit. Terdengar hembusan nafas dibuang cukup kasar. “Aku juga pengen istirahat Yuni. Tapi, aku ngerasa takut aja, kalau kita beristirahat terlalu lama. Ya, seperti sekarang.” Riyan mengatakannya sambil bangun dari duduknya. Ia kemudian memandang pintu perpustakaan yang terbuat dari kayu jati dengan warna abu-abu yang sudah sangat pudar. Varo kemudian memperhatikan Riyan. “Hey Bro, sebenarnya aku pengen bicara sesuatu. Tapi, ini cuma untuk kita bertiga aja ya.” Riyan dan Yuni menatap serius ke arah Varo, ada tanda tanya yang tersirat dari cara pandang mereka. “Imas, nggak dikasih tahu?” Yuni mencoba mengajukan pertanyaan. Wajahnya masih jelas terlihat bingung dengan ungkapan kalimat dari temannya barusan. Varo tampak ragu. Tapi, sesaat kemudian ia menggelengkan kepalanya. “Dia nggak usah dikasih tahu dulu. Aku takut dia justru nggak bisa masuk kerja lagi." Riyan memutar tubuhnya. “Ada apa sih ini sebenarnya.” Yuni tiba-tiba merasa aneh. Namun, ia coba hilangkan rasa takutnya. Lagi pula saat ini, ia sedang bersama kedua teman kerjanya. Tak mungkin akan ada halusinasi buang tadi sempat ia rasakan. “Ada apa sih Varo? Cepetan bicara! Jangan buat aku sama Riyan penasaran!” Yuni kali ini memberi perintah. Ia sontak mendekatkan tubuhnya agar bisa mendengar perkataan Varo dengan jelas. “Jadi, sebenarnya. Aku merasa akhir-akhir ini. Saat kita kerja itu, kayak ada yang mengawasi.” Varo coba menjelaskan meski harus terbata-bata. “Anehnya pas aku cari siapa yang mengawasi, ternyata nggak ada siapa-siapa.” “Deg!” Ada hati yang bergetar saat mendengar kalimat barusan. Yuni ragu untuk mengatakan apa yang sebenarnya juga dirasakan akhir-akhir ini. Apalagi jika mengingat hal yang berkaitan dengan dompet Pak Haris tadi pagi. Ia pun lebih memilih hanya diam sambil menunggu kelanjutan perkataan dari Varo. Sementara itu, Riyan mencoba menangkap maksud perkataan Varo. “Terus, menurut kamu. Siapa yang mengawasi?” Varo sejenak diam dan tampak berpikir. Ia mengamati sekeliling, cemas saja jika ada orang lain yang ikut mendengar percakapan mereka. “Mungkin nggak sih, kalau Pak Haris yang mengawasi. Secara dia bisa saja nggak percaya sama hasil kerja kita. Makanya, dia akhirnya menambah tugas kita. Tapi, itu cuma menurutku aja!” Yuni memiringkan wajah, ia mencerna apa yang dikatakan Varo. Dirinya jadi berpikir, apa mungkin dompet tadi pagi juga permainan dari pak Haris. Namun, untuk apa seorang rektor yang super sibuk melakukannya hal itu. “Ahh,” keluh Yuni tanpa sadar. Ia memijat keningnya dengan jari telunjuk seolah sedang pusing Karena memikirkan sesuatu. “Kamu kenapa Yun?” tanya Riyan. “Nggak kenapa-kenapa. Jadi mikir aja, abis dengar penuturan si Varo,” sahut Yuni. Sesaat suasana hening. Hanya ada suara angin yang berhembus halus membawa angin yang sejuk sekaligus hangat. “Gini teman-teman, sebenarnya aku juga merasakan hal yang sama dengan apa yang dikatakan Varo barusan.” Tiba-tiba Riyan mengambil alih pembicaraan. Ia kemudian memandangi satu per satu temannya. “Maksudnya apa?” Varo ikut penasaran. Riyan menarik napas dalam. Seolah apa yang ingin disampaikan sebenarnya sesuatu yang berat. Hingga ia harus memasang wajah cukup serius. “Sebenarnya, aku juga merasa diawasi.” Yuni terkejut. Ini bukan hal yang bisa dirasakan oleh setiap orang. Akan tetapi, kedua temannya sudah berkata seperti itu. Apalagi Yuni juga merasakan hal yang sama. Namun, ia belum berani berkata apa-apa. “Maksudnya diperhatikan sama pak Haris juga?” Sayangnya, mendengar pertanyaan itu Riyan menggelengkan wajahnya. “Kalau menurutku sih bukan Pak Haris.” “Terus menurut kamu, siapa yang memperhatikan. Apa mungkin Pak Haris menyuruh orang buat mengawasi kerjaan kita. Emang kita kelihatan menganggur banget ya!” ungkap Varo. Ia merasa sudah tidak sabar untuk mengambil kesimpulan. “Kayaknya sih bukan Pak Haris. Tapi, lupain ajalah. Perasaanku tiba-tiba nggak enak nih. Entah kenapa padahal hari masih siang banget,” celetuk Riyan. “Apa sih Yan, kenapa kamu bicaranya gantung sih. Tinggal bilang aja, kalau ada yang mengawasi kita selain pak Haris. Mungkin emang bukan Pak Haris sih,” ucap Yuni.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN